Activist Burnout: Ketika Aktivisme Melelahkan

Ide Utama

Activist burnout bukan sekadar mitos, melainkan tantangan nyata yang mengancam keberlanjutan gerakan sosial.

Hingar bingar aktivisme selalu memberikan warna yang positif. Aksi-aksi keren yang penuh poster, kostum kreatif, barisan yang bersemangat dan pekikan-pekikan penggugah kesadaran menjadi satu ciri yang tidak bisa dipisahkan dalam aktivisme hari ini. Bahkan, banyak yang mengelu-elukan aksi-aksi kreatif, sebagai warna baru dalam gerakan sosial. Menjadi aktivis pun tak sesuram dan menakutkan, sebagaimana cerita-cerita generasi baby boomer atau Gen-X.

Namun di balik itu semua, terselip satu kenyataan yang jarang dibicarakan. Banyak aktivis yang sebenarnya mengalami kelelahan, bukan hanya lelah secara fisik tapi juga secara psikis. 

Kelelahan itu perlahan menggerogoti motivasi, semangat, bahkan makna dari perjuangan itu sendiri. Kondisi ini dikenal sebagai burnout aktivis yang menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan gerakan sosial. 

Buku The Psychology of Collective Climate Action secara khusus mengangkat isu ini dalam satu bab penuh, dan menyebutnya sebagai salah satu tantangan terbesar dalam perjuangan jangka panjang menyuarakan dan melawan krisis iklim.

Activist Burnout dan Tekanan

Activist burnout tentu istilah yang cukup asing dan relatif baru. Namun sebenarnya, frasa ini tidak jauh berbeda dengan definisi burnout dalam ranah psikologi industri dan organisasi. Istilah ini secara khusus merujuk pada kondisi kelelahan emosional, mental, dan fisik akibat tekanan berkepanjangan dalam gerakan sosial, terutama dalam melakukan advokasi. 

Gejala activist burnout ini meliputi hilangnya motivasi, rasa hampa, sinisme terhadap sesama aktivis, bahkan keinginan untuk mundur total. Ini bukan tanda kelemahan pribadi, melainkan reaksi alami terhadap sistem kerja yang tidak berkelanjutan—baik dari dalam maupun luar gerakan itu sendiri.

Penyebab dari activist burnout bukan sekadar beban kerja yang melelahkan atau tanggung jawab yang menumpuk. Ada pula beban tak kasat mata berupa ekspektasi yang diam-diam menekan di segala arah.

Sebagai contoh di banyak kelompok yang menyuarakan isu lingkungan, terdapat budaya tak tertulis atau jamak disebut norma yang mengatakan bahwa aktivis “harus selalu siap” atau “kalau benar-benar peduli, kamu akan hadir di setiap aksi.” Norma tersebut tanpa disadari telah menciptakan tekanan tidak sehat. 

Paling tidak, ada dua faktor utama yang mendorong activist burnout. Pertama, berasal dari faktor internal, yang mana penyebab stress muncul dari persoalan internal organisasi. Faktor ini terjadi ketika kontribusi kerja-kerja administratif dan lainnya sering kali tidak dihargai secara setara. Kepemimpinan yang tidak kuat serta tidak jelas juga menjadi salah satu alasannya.

Kedua, faktor eksternal berupa tekanan dari luar, seperti kritik publik. Sebagai contoh, saat aktivis menyuarakan pendapatnya terutama di media sosial, tak jarang mereka diserang oleh warganet. Tindakan ini seringkali berubah dari sekadar kritik menjadi kekerasan digital. Seperti doxing sampai narasi yang dibuat untuk menjatuhkan aktivis maupun organisasi tempatnya bergerak. 

Lalu, tekanan juga seringkali muncul justru dari para oknum aparat yang berwenang. Tindakan kekerasan ini bermacam-macam bentuknya, mulai dari kekerasan fisik sampai psikis, seperti tindakan memata-matai. Di tengah semua ini, banyak aktivis merasa terisolasi dan kelelahan, meskipun berada dalam gerakan kolektif.

Apakah Harus Berhenti?

Pertanyaan ini mungkin kerap menghantui para aktivis di luar sana. Saya hanya bisa katakan, “tidak harus berhenti.” Sebab, yang perlu dilakukan saat ini adalah perubahan dan tentunya mengambil jeda dalam gerakan. Karena pada dasarnya, burnout bisa dicegah dan ditangani jika kita berani merombak budaya kerja dalam gerakan, serta benar-benar mengimplementasikan secara bersama-sama. 

Terdapat dua langkah penting untuk mengatasi burnout. Di level kelompok, penting menciptakan ruang aman untuk berbagi, merayakan kontribusi kecil, merotasi peran agar tidak ada yang terlalu terbebani, serta melegitimasi waktu istirahat sebagai bagian dari strategi jangka panjang.

Lalu di level individu, aktivis perlu belajar mengenali batas diri, menolak rasa bersalah saat istirahat, dan kembali terhubung dengan makna personal dari perjuangan mereka. Merawat diri bukan bentuk pengkhianatan terhadap gerakan—justru kunci untuk bertahan di dalamnya.

Merawat Diri Adalah Bagian dari Gerakan

Dalam dunia kerja-tak terkecuali dalam dunia aktivis, ada kebiasaan mendorong orang hingga ke titik terendah, bahkan tanpa disadari menjadi hal yang lumrah. Sebab, kebanyakan dari mereka menganggap bahwa aktivisme adalah kerja-kerja sosial yang harus melampaui diri. Padahal semestinya tidak begitu. 

Memilih untuk beristirahat sejenak, merawat diri sendiri dan saling peduli acapkali dianggap sebagai tindakan radikal, terutama bagi gerakan yang ingin mengubah dunia menjadi lebih adil dan manusiawi. Karena jika dunia yang kita impikan adalah dunia yang peduli, sehat, dan berkelanjutan—bukankah perjuangannya juga harus dilakukan dengan cara yang peduli, sehat, dan berkelanjutan?

Banyak di antara kita sering menganggap aktivisme sebagai bentuk keberanian, seperti berteriak lantang, berhadapan dengan aparat, dan berdiri di garis depan. Tapi ada satu bentuk keberanian yang tak kalah penting, yakni keberanian untuk bertahan. Bertahan bukan dalam diam, tapi dengan cara yang memungkinkan kita untuk terus menyala, tanpa harus hangus terbakar.


Wahyu Eka Styawan. Pernah belajar Psikologi di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga dan Sosiologi Pedesaan di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Sehari-hari bergiat di Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), serta menjadi peneliti lepas. Sangat tertarik dengan Sosiologi Pedesaan dan Lingkungan khususnya pendekatan Human Ecology, Psikologi Komunitas, dan Kajian Gender. Hobi mendengarkan musik, membaca dan menjelajahi kampung-kampung, serta kuliner.

Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan.