Di balik stigma generasi stroberi, di tangan Gen Z, kekuasaan belajar arti takut lagi.
Jika tahun lalu kamu berkata bahwa Gen Z akan berada di garis terdepan dalam meruntuhkan pemerintahan otoriter, mungkin kamu akan ditertawakan.
Bagaimana tidak? Gen Z selama ini dikenal sebagai generasi yang manja, egois, dan tidak peduli-peduli amat soal politik. Bahkan ada yang menjuluki Gen Z sebagai generasi stroberi, alias lembek dan mudah dihancurkan. Jonathan Haidt, penulis dan psikolog sosial, menjuluki mereka sebagai generasi yang kecanduan teknologi, chronically online, dan tak lebih dari sekadar “Anxious Generation” alias generasi yang senantiasa cemas, peduli berlebih pada penilaian orang lain, serta memiliki banyak isu kesehatan mental.
Pesannya jelas: Gen Z dipandang sebagai anak-anak muda yang tidak memiliki agency-nya sendiri. Sehingga perlu dilindungi, ditatar, dan diarahkan oleh generasi-generasi yang lebih senior. Gen Z itu kalau nggak ada milenial dan boomers, duh kasihan dah… (berkata dengan nada lemah lembut nan manja ala Megawati).
Untungnya Gen Z tak seperti stigma dan stereotipe yang demikian itu. Malah mereka justru seperti pernyataan-pernyataan dari Natalius Pigai, Menteri HAM kita: tak sungkan melawan logika dan mematahkan prediksi masyarakat.
Seruan Pergerakan Gen Z di Berbagai Negara
Sebulan belakangan, gelombang perlawanan dari Gen Z bermunculan dan merobohkan segala asumsi dan prasangka. Mereka adalah anak-anak muda yang lahir di antara 1997-2012 dan di tahun 2025 berusia 13-28 tahun di tahun 2025, dengan lantang memprotes ketidakadilan di sekitar mereka. Tanpa segan mereka bersuara lantang, baik di dunia maya pun digital. Menunaikan dan merawat demokrasi di tempat mereka masing-masing.
Di Indonesia, Gen Z berperan di balik tagar Peringatan Darurat, Indonesia Gelap, pengibaran bendera One Piece, hingga aksi demonstrasi di akhir Agustus 2025 tak bisa dikesampingkan. Dari teriakan-teriakan lantang di dunia maya, meme dan poster-poster perlawanan yang kreatif, hingga aksi turun ke jalan menyuarakan pendapat mereka.
Di Nepal, gerakan Gen Z terdepan melawan tirani, korupsi, dan ketidakadilan. Mengubah kefrustrasian hari ini menjadi reformasi akan hari esok yang lebih baik. Pemerintahan lumpuh, menteri-menteri diburu warga dan memilih kabur, Perdana Menteri mundur, hingga transisi kekuasaan tak lagi terhindarkan. Bahkan, Gen Z Nepal memilih calon pemimpin interim lewat konsultasi dengan ChatGPT serta melangsungkan pemungutan suara via Discord. Sesuatu yang mungkin Boomers saja tidak pernah dengar.

Dari Indonesia hingga Nepal, kemarahan anak muda terus meluas di waktu yang bersamaan bak mendengar tiupan seruling Pied Piper di kisah Hamelin. Bergerak serentak menuju tujuan bersama. Di Kenya, protes soal kebijakan keuangan dan perpajakan dipimpin kaum muda dengan kreativitas digital.
Di Bangladesh, mahasiswa melawan represi yang terjadi di kampus hingga memicu perubahan politik. Di Peru, aksi yang dimotori Gen Z melawan pemerintah, menentang korupsi dan reformasi pensiun yang diusulkan presidennya. Di Filipina, aksi massa menentang nepotisme dan korupsi juga melibatkan Gen Z.
Polanya mirip: Gen Z menolak otoritarianisme, memperjuangkan demokrasi, melawan ketidakadilan, dan menolak tunduk pada masa depan yang tak pasti. Saat suara mereka terus diabaikan, mereka tak lagi sungkan mengambil alih panggung dan memastikan sendiri suara mereka terdengar hingga ke sudut-sudut terdalam istana.
Tanggung Jawab itu Ada di Pundak Anak Muda
Sejatinya, gerakan Gen Z dan anak-anak muda di bawah 30 tahun ini bukanlah sebuah pengecualian. Sepanjang perjalanan bangsa, sejarah telah berkali-kali membuktikan pentingnya peran anak muda. Di era kolonial, tokoh-tokoh pergerakan memulai aksi dan organisasi mereka di usia belia, umumnya di bawah 30 tahun.
Organisasi Budi Utomo dimulai oleh para pelajar Stovia (sekolah pendidikan dokter pribumi di Batavia) berusia 20-an tahun. Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda juga mayoritas digerakkan anak-anak muda, termasuk Soekarno yang aktif di Jong Java saat usianya masih muda.
Kartini mulai menulis di usia remajanya hingga akhir hayatnya di usia 25 tahun. Di rentang tersebut ia lantang bersuara soal pentingnya pendidikan, kesetaraan, juga kritik terhadap kolonialisme Belanda. Ki Hadjar Dewantara menulis ‘Als Ik Eens Nederlander Was’, kritik pedas terhadap rencana Belanda merayakan hari kemerdekaan mereka di tanah jajahan, saat masih berusia 24 tahun!
Ya, jika hidup di era sekarang, mereka masuk ke rentang usia Gen Z. Kisah soal anak-anak muda di bawah 30 tahun yang kritis terhadap kekuasaan terus berlangsung seusai Indonesia merdeka.

Soe Hok Gie mengkritik pedas Orde Lama, kelakuan menteri korup, dan aktivis-aktivis mahasiswa yang melacurkan diri ke dunia politik praktis nan kotor, sejak masih mahasiswa hingga menutup usia di umur 27 tahun.
Pada Peristiwa Malari tahun 1974, gelombang demonstrasi mahasiswa meletus saat kunjungan Kakuei Tanaka, Perdana Menteri Jepang, yang dianggap simbol modal asing yang harus dilawan. Aksi mahasiswa tersebut mengusung tiga tuntutan: pemberantasan korupsi, perubahan kebijakan ekonomi modal asing, dan pembubaran asisten pribadi presiden. Gerakan Mahasiswa 1998 yang pada akhirnya menggulingkan Soeharto dari kursi kekuasaan, juga tak lepas dari peran penting konsolidasi anak-anak muda.
Maka, sebenarnya tak perlu heran-heran amat melihat anak-anak muda berdiri di garis terdepan melawan tirani dan kebatilan. Setiap masa memiliki “Gen Z”-nya sendiri: anak-anak muda yang lantang menolak ketidakadilan, melawan korupsi, dan menginginkan negaranya bergerak ke arah yang lebih baik.
Api Idealisme
Pertanyaan besarnya: kenapa? Kenapa mereka mau repot-repot saat mereka bisa dengan mudahnya menoleh ke arah yang lain dan memilih hidup dalam gelembung nyamannya?
Jawabannya bisa jadi beragam, tergantung ke siapa kita bertanya.
Paulo Freire akan menjelaskan bahwa sebabnya anak-anak muda memiliki kesadaran kritis alias critical consciousness, yang membuat mereka melawan opresi dan segala bentuk ketidakadilan. Plato dalam The Republic akan menjelaskan bahwa anak-anak muda ini belum terkontaminasi dan terkorupsi oleh kekuasaan dan kebiasaan, sehingga secara alami memiliki kecenderungan untuk menjadi seorang idealis yang menuntut kebenaran dan keadilan.

Sejalan dengan Plato, filsuf asal Jerman Immanuel Kant menjelaskannya lewat konsep kejernihan moral alias moral clarity. Anak-anak muda dianggap masih jernih kompas moralnya, belum terkontaminasi oleh pendekatan kompromistis dan pragmatis.
”Idealisme menjadi kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh seorang pemuda,” ucap Tan Malaka puluhan tahun silam. Ya, saya setuju dengan kalimat Tan di atas. Anak muda dan idealisme tak ubahnya boomers dan pendengarannya yang tak lagi prima. Alias satu kesatuan, tak terpisahkan dan tak terelakkan.
Kepada Mereka yang Mendiskreditkan Pergerakan
“Ah, nanti juga mereka bak aktivis 1998 atau politisi muda PSI 5 tahun lalu yang idealismenya akan luntur seiring waktu, bahkan menelan ludah sendiri,” ucap mereka yang sinis terhadap Gen Z. Bagi saya, ya tak masalah jika suatu hari nanti mereka berubah, terkorupsi kenyataan pahit, dan tak seidealis hari ini. Itu bukan alasan mengecilkan apalagi merendahkan perjuangan mereka hari-hari ini.
“Gen Z dan anak muda itu cuma naif saja,” ucap mereka yang tak kalah sinis.
Lagi-lagi, saya tak peduli.
Saya bahkan tidak mau menuntut Gen Z terlalu berlebihan. Seperti menjadikan mereka sebagai lokomotif perubahan struktural, katalis perubahan sosial, bahkan lebih jauh menjadi penjaga demokrasi yang berkelanjutan. Bagi saya itu bukan hanya tugas mereka. Itu adalah tugas kita bersama sebagai rakyat Indonesia.
Kita dukung Gen Z bersuara dan menjalankan hak-hak demokrasi mereka, tanpa perlu menuntut berlebih. Biarlah mereka berproses, berkonsolidasi, dan menentukan sendiri arah perjuangan mereka. Tanpa kita bebani pundak mereka dengan ekspektasi-ekspektasi berlebih yang bisa jadi malah kontraproduktif.
Saya memilih untuk mendukung sepenuhnya anak-anak muda yang idealismenya belum terkontaminasi ini, dibanding politisi-politisi tua tak lagi memperjuangkan nilai apa pun.
Saya lebih memilih anak-anak muda yang naif tapi lantang melawan korupsi, dibanding politisi senior yang menganggap korupsi adalah oli pembangunan, kalau mau sempurna ke surga saja, atau koruptor boleh dimaafkan asal kembalikan hasil korupsinya.
Mungkin, di dunia politik yang begitu kejam, kotor, dan dipenuhi oportunis pragmatis yang mengejar jabatan dan kekuasaan dengan segala cara, kita butuh mereka-mereka yang naif. Mereka-mereka yang belum terkontaminasi pemikiran dan laku para seniornya. Mereka-mereka yang hanya tahu hal-hal sederhana berikut: bahwa kebenaran tidak bisa ditawar, keadilan adalah harga mati, dan korupsi tak perlu dibela.
Gen Z mungkin naif. Gen Z bisa jadi polos. Gen Z mungkin hanya mereka-mereka yang belum tertampar kenyataan dan pragmatisme politik nan kotor. Tapi dari generasi muda inilah tunas-tunas harapan bermekaran. Mimpi-mimpi dan idealisme kebangsaan terus terawat. Sekaligus mengingatkan penguasa bahwa kekuasaan mereka ada batasnya. Biarlah Gen Z melawan. Sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.
Sumber foto: Pexels

Okki Sutanto adalah seorang penulis yang gemar marah-marah. Tulisan dan kemarahannya bisa dinikmati di media sosial maupun media massa. Seusai meraih gelar Magister Sains Psikologi dari Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, ia sibuk membangun usaha kecil, mengurus anak, sembari menulis dan mengajar. Ia sering mengulas buku, film, isu sosial, politik, pendidikan, hingga manusia dan masyarakat. Baginya, menulis adalah cara terbaik merawat kewarasan di tengah dunia yang semakin gila.


