Pelajaran dari Gerakan Rimpang Soviet

Ide Utama

Sejarah memperlihatkan bahwa kekuatan paling revolusioner kerap lahir dari gerakan rimpang, sporadis, tanpa terpusat.

Soviet lahir dari pergulatan panjang revolusi yang mengguncang Rusia. Tepatnya pada tahun 1905, Soviet lahir tak lama setelah peristiwa Bloody Sunday

Kemunculannya ditandai dengan terbentuknya dewan yang beranggotakan masyarakat, buruh pabrik, dan petani. Tak lama kemudian, terbentuklah Soviet pertama di kalangan tentara atau peasant with uniform dalam istilah Pendiri Partai Komunis Rusia Vladimir Ilyich Lenin, meski struktur dan fungsinya tidak sama dengan militer modern.

Perlu diketahui, bahwa Russian Social Democratic Labour Party (RSDLP) yang terbentuk pada tahun 1898, sebelum mengalami perpecahan, merupakan organisasi revolusioner. Setelahnya, RSDLP terbelah menjadi dua faksi, yaitu Bolshevik dan Menshevik.

Media Bukan Sekadar Alat Propaganda

Pada awalnya, Lenin yang berada di pihak Bolshevik tidak terlalu memperhatikan apalagi mengorganisir Soviet yang telah muncul pasca peristiwa tahun 1905. Lenin lebih menekankan pengorganisasian berbasis partai yang secara langsung melibatkan massa dari buruh pabrik maupun buruh individual dalam struktur dan keanggotaan partai. 

Justru Menshevik-lah yang lebih awal berupaya mengorganisir Soviet. Menshevik menempatkan Soviet sebagai salah satu fokus utama dalam program kampanye politik mereka dengan koran-koran yang mereka miliki. 

Pada saat yang sama, Bolshevik maupun Menshevik memiliki organ pers masing-masing. Hal ini sejalan dengan gagasan Lenin di RSDLP bahwa koran bukan sekadar alat propaganda, melainkan sarana pengorganisasian kolektif. 

Melalui jaringan distribusi dan pertukaran literatur revolusioner, koran berfungsi sebagai medium jangka panjang untuk membangun kesadaran dan koordinasi revolusioner. Koran menjadi alat strategis menuju revolusi. Sebab lewat media ini, mereka dapat menarik kader baru sekaligus meyakinkan masyarakat Rusia akan realitas sosial yang dihadapi serta urgensi perjuangan politik untuk mengubahnya.

Dual Power

Bagaimana Soviet itu sendiri adalah sebuah bentuk rimpang? Hal ini disebabkan karena kemunculannya yang spontan dan tidak terkoordinasi secara terpusat. 

Namun perlu dicatat, bahwa kemunculan Soviet bukan berasal dari ruang hampa. Ini merupakan hasil dari proses panjang penyebaran koran dan literatur revolusioner Rusia sebelumnya. 

Dengan demikian, Soviet yang muncul pada tahun 1905 dapat dilihat sebagai bentuk pengorganisasian endemik khas Rusia, yang lahir dari kesadaran politis dan dorongan internal massa untuk mengorganisir diri mereka sendiri. 

Dengan menempatkan Soviet sebagai bentuk rimpang pengorganisasian politis, kita dapat menggunakan pandangan sosiolog sekaligus filsuf politik Marxis, Antonio Negri yang melihat bahwa Soviet memiliki dual power.. 

Pertama, sebagai kekuatan yang mendorong proses proses demokratisasi di tengah iklim autokrasi politik Rusia pada saat itu. Kedua, sebagai upaya menuju transisi revolusi sosialisme. 

Dual power menempatkan Soviet pada posisi yang ambigu karena berada di antara dua arah kemampuan politik. Selain itu, Soviet-Soviet ini terpisah, tidak terhubung dalam satu struktur pusat. Soviet bisa muncul, tumbuh, maupun tenggelam sesuai dengan dinamika massa. 

Pola ini terlihat jelas pada setelah revolusi 1917, Soviet muncul secara masif dan sporadis di berbagai basis pekerja, petani, hingga kalangan tentara. Perkembangan Soviet sebagai fenomena politik yang menjalar luas dan mustahil untuk diabaikan.

Membaca Sejarah Rusia

Pada tahun 1914-1916, meminjam istilah filsuf asal Slovenia Slavoj Zizek, Bolshevik berada pada posisi titik nol. Suatu masa di mana pengorganisasian tidak dapat dijalankan, dan koordinasi partai runtuh akibat kekacauan, serta berbagai kegagalan politik yang menimpa. 

Padahal di tahun-tahun sebelumnya, Bolshevik sempat mengubah program partai dan memutuskan untuk masuk ke Duma (parlemen). Tujuannya untuk memanfaatkan setiap celah dalam sistem untuk memperjuangkan perubahan. Upaya itu terhenti setelah banyak kader Bolshevik diserang dan ditangkap, sementara kekalahan demi kekalahan terus terjadi.

Dalam masa stagnasi inilah, koran-koran Menshevik justru berperan dalam menyuburkan kembali diskursus tentang Soviet. Di tengah situasi titik nol itu, Lenin dalam masa pengasingannya memilih untuk mendalami Science of Logic karya Georg Wilhelm Friedrich Hegel. Sebuah keputusan intelektual yang kelak mempengaruhi arah refleksi teoritis dan strategi politiknya setelah 1917.

Menuju Revolusi Rusia

Kondisi Rusia di tahun 1917 semakin memburuk. Keterlibatannya dalam perang dunia pertama membuat kondisi Rusia dilanda krisis ekonomi, sosial, dan politik. Situasi tersebut memicu revolusi Februari yang menumbangkan kekuasaan autokrasi Tsar dan melahirkan pemerintahan sementara yang didominasi oleh kaum Kadet, sebuah bentuk transisi menuju parlemen borjuis. 

Pada momen inilah, ungkapan terkenal “there are decades when nothing happens and there are weeks where decades happen” menemukan relevansinya. Kesadaran politik massa meningkat tajam, dan Soviet bermunculan di berbagai wilayah sebagai wadah baru pengorganisasian rakyat. 

Di tengah kekacauan itu, Lenin yang masih berada dalam pengasingan melakukan perjalanan pulang ke Rusia dengan kereta tertutup melewati Jerman. Dalam perjalanannya, ia bernegosiasi dengan pemerintah Jerman yang akan memberikan Lenin uang untuk melemahkan kondisi Rusia agar Rusia keluar dari perang. 

Setibanya di Rusia, Lenin segera mengajukan Tesis April yang menyerukan perlunya revolusi sosial. Gagasan itu awalnya dianggap gila oleh banyak pihak, termasuk kalangan revolusioner sendiri. Namun, justru dari “kegilaan” itulah, arah sejarah Rusia segera berubah.

Namun Lenin akhirnya berhasil merebut kembali kepercayaan Bolshevik dan menyusun rencana untuk melakukan kampanye massal kepada berbagai Soviet yang telah terbentuk. Dalam momen ini, Lenin menyadari bahwa melalui Soviet, pengambilalihan kekuasaan mungkin bisa terjadi. 

Ia melihat bagaimana Soviet menjamur di seluruh Rusia dan atas kalkulasinya, Lenin menganggap bahwa Soviet dapat bertransformasi menjadi pemerintahan baru yang menggantikan Duma dan aristokrasi lama. 

Dengan demikian, situasi dual power yang sebelumnya ada, perlahan menghilang. Soviet sepenuhnya menjadi organ revolusi sosialisme Rusia. Upaya pernorganisasian ini berhasil melalui kampanye yang menarik dukungan luas dari massa, terutama lewat program tuntutan, yakni bread, land, and peace. Tiga janji yang langsung menyentuh kebutuhan dan harapan rakyat di tengah krisis perang.

Pengorganisasian yang dilakukan oleh Bolshevik menjadikan mereka sebagai kekuatan terpusat yang mengkoordinasikan Soviet-Soviet di seluruh Rusia. Menjelang Oktober 1917, dilakukan voting massal di antara para perwakilan Soviet, Menshevik, dan Bolshevik untuk menentukan apakah revolusi perlu segera dilakukan. 

Hasilnya, mayoritas suara menyatakan setuju. Sejak itulah, revolusi pecah dan mengubah arah sejarah Rusia selamanya. 

Pengorganisasian Bolshevik dengan komando terpusat terhadap berbagai Soviet serta keberhasilan mereka meyakinkan seluruh elemen untuk mengambil alih kekuasaan merupakan salah satu aspek penting yang patut dicatat. 

Keberhasilan ini tidak muncul tiba-tiba. Bolshevik telah memiliki pengalaman panjang dalam melakukan kampanye politik seperti ketika mereka memutuskan untuk bergabung dalam Duma. Pengalaman itu menjadi modal berharga dalam membangun strategi perorganisasian massa yang efektif menjelang revolusi.

Selain itu, faktor logistik dan pendanaan juga memainkan peran penting. Dukungan dana yang diterima Lenin dari pemerintah Jerman, memungkinkan penyebaran pamflet dan literatur revolusioner secara luas. Hal ini mendorong semakin banyak massa untuk berpihak pada agenda revolusi. 

Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Dari pola gerakan rimbang yang terjadi di Soviet, ada satu hal penting yang dapat dipelajari. Meskipun partai-partai haluan kiri di Rusia kala itu memiliki program politik yang terencana, kemunculan Soviet justru menjadi sesuatu yang mengejutkan. Ia tidak lahir dari rancangan partai, melainkan inisiatif spontanitas massa.

Melalui kerangka dual power yang dikemukakan oleh Antonio Negri, kita harus mulai merefleksikan dan memperhitungkan pengorganisasian gerakan khususnya menilik era sekarang. Yang tidak hanya memiliki kekuatan untuk mempengaruhi politik, tetapi juga arah politik apa yang hendak dituju. Tentu saja, partai masih dibutuhkan. Keberadaanya tetap penting karena lawan yang dihadapi adalah partai-partai dengan mesin politik yang kuat. Baik melalui tokoh politik, identitas, agama, maupun kepentingan borjuis. 

Keberadaan partai-partai lain dengan “haluan kiri” juga perlu diperbanyak. Dengan begini, di dalamnya dapat terjadi pertarungan program yang sehat maupun kemungkinan aliansi strategis. Di luar ranah pembahasan tulisan ini, penulis hanya ingin menegaskan bahwa bentuk rimpang memiliki kemampuan politis dalam sejarah, seringkali disubordinasi oleh partai. 

Hal lain yang tak kalah penting, adalah soal hasrat mesin sosial. Merujuk pada pemikiran Gilles Deleuze yang mana adalah asal dari kata rimpang, hasrat merupakan elemen utama dalam proses pembentukan organ-organ baru yang revolusioner. 

Namun, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, tulisan ini hanya berupaya membaca rimpang dalam dimensi politik. Adapun pembahasan mengenai hasrat dan kaitannya dengan produksi sosial, barangkali bisa menjadi ruang diskusi baru yang menarik untuk dieksplorasi di kesempatan lain. 

Foto: unsplash.com


Muhammad Aufa R P. Seorang freelance writer, editor, dan penerjemah buku.

Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan. 

Bagikan
WhatsApp
X
Facebook
LinkedIn
Email
Print