Menembus Sekat Peran, Memperkuat Gerakan

Menembus Sekat Peran, Memperkuat Gerakan

Ide Utama

Pada awal Oktober 2025, Militer Israel mencegat iring-iringan kapal dan menahan para aktivis yang tergabung dalam gerakan Global Sumud Flotilla untuk membawa bantuan kemanusiaan menuju Gaza, di antaranya termasuk aktivis muda asal Swedia, Greta Thunberg. Selama lima hari ditahan, menurut keterangan para aktivis yang dibebaskan sebelumnya, Greta mendapatkan intimidasi dan siksaan cukup berat, mulai dari penghinaan, pemukulan, tendangan, sampai ancaman penggunaan gas beracun di dalam sel.

Namun, ketika dunia khawatir dan penasaran akan apa yang terjadi padanya, Greta memilih mengalihkan sorotan ke siapa yang seharusnya yakni orang-orang di Palestina. Dalam sebuah konferensi pers di Stockholm tanggal 7 Oktober 2025, Greta menyatakan, “Personally, I don’t want to share what I was subjected to because I don’t want it to make headlines and ‘Greta has been tortured’, because that’s not the story here.” Ia menambahkan, bahwa apa yang mereka alami tidaklah sebanding dengan yang dialami oleh orang-orang di Gaza setiap harinya. Hal ini menggambarkan bahwa perhatian publik dan sorotan kepada sosok bisa saja dengan mudah mengalihkan fokus dari apa dan siapa yang sedang diperjuangkan.

Momen serupa terjadi di Indonesia beberapa waktu lalu. Pasca gelombang aksi di bulan Agustus–September 2025, sejumlah figur publik melakukan inisiatif untuk mengumpulkan dan merangkum berbagai macam tuntutan dan desakan rakyat, yang kemudian menghasilkan apa yang disebut “Tuntutan Rakyat 17+8.” Inisiatif ini cukup berhasil menarik perhatian publik di luar ruang gema aktivis. Selain menjadi trending topic yang bertahan selama beberapa hari di media sosial seperti X, mereka yang sering kali enggan membicarakan hal politis pun turut membicarakan tuntutan 17+8, misalnya lewat status WhatsApp.

Meskipun begitu, fenomena ini juga menimbulkan perdebatan baru, dimana sorot publik lebih terang pada figur 17+8, dibanding korban atau aktor-aktor yang terlibat langsung dalam gerakan melalui advokasi. Misalnya, seperti yang dilakukan media besar seperti Tempo dengan wawancara khusus dan menampilkan sosok Afutami, salah satu inisiator kolektif 17+8, di halaman muka Tempo harian pada 14 September 2025. Perbincangan ini berlangsung berhari-hari, berfokus pada sinisme dan kritik terhadap peran influencers dalam gerakan, seperti “…jangan nyerahin kemudi ke influencer, yang kerjanya ngoceh depan kamera.” Ironisnya, ketika kita sibuk berdebat, di saat yang sama doxxing, pencarian, penangkapan sewenang-wenang pada mahasiswa dan aktivis masih terus berlangsung.

Solidaritas Antar Warga Memperkuat Gerakan

Gerakan sosial seharusnya memang bukan rangkaian aksi-aksi tunggal yang memusatkan figur sentral, melainkan ekosistem dari banyak simpul dan peran-peran, yang saling terkait dan bersifat cair. Dari perdebatan panjang yang berlarut itu, mungkin sebaiknya kita tidak hanya fokus memperbincangkan peran influencers. Sebab, banyak juga peran lain yang bisa diisi dalam gerakan sosial.

Salah satunya ditawarkan oleh Deepa Iyer,  seorang penulis, pengacara, dan aktivis keturunan Asia Selatan asal Amerika Serikat yang fokus pada isu-isu solidaritas lintas komunitas, dan pembangunan gerakan sosial. Iyer menawarkan kerangka “Social Change Ecosystem Map” yang mengidentifikasi sepuluh peran saling terhubung yang bisa dijalankan oleh individu, organisasi atau jaringan. Kerangka ini menjelaskan peran apa yang bisa kita ambil ketika merespons krisis, terlibat dalam gerakan sosial, atau berorganisasi untuk mendorong keadilan, solidaritas dan “perawatan” komunitas.

Peran-peran tersebut di antaranya adalah weavers (perajut) yang menghubungkan orang, gagasan, dan gerakan; healers (penyembuh) yang merawat luka dan trauma sosial yang lahir dari ketidakadilan struktural; atau storytellers (pencerita) yang menulis dan membagikan cerita-cerita, sejarah, pengalaman komunitas untuk menghidupkan ingatan kolektif. Selebihnya, terdapat juga peran caregivers (perawat), experimenters, frontline responders (responden garis depan), visionaries (visioner), builders (pembangun), disrupters (pengguncang), dan guides (pembimbing). Masing-masing memainkan peran krusial dalam membangun arah, aksi, serta keberlanjutan gerakan sosial.

Di kondisi yang kian menantang dan masyarakat sipil yang terus menghadapi tekanan, alih-alih saling menyingkirkan, kita perlu untuk terus memperluas jaringan, pertemanan dan menumbuhkan solidaritas antar sesama. Semakin banyak yang bergabung membangun kekuatan akan semakin baik karena banyak peran yang perlu dibagi. Berbagai peran itu bisa dimaknai tidak dengan kaku.

Misalnya, Bandung Bergerak, media independen yang secara tradisional perannya seringkali dimaknai terbatas hanya sebagai storytellers. Akan tetapi, dalam praktiknya, ia menembus sekat peran dengan kerja-kerja “beyond journalism” seperti peran builders, melalui Perpustakaan Bunga di Tembok sebagai ruang publik yang menyediakan akses bacaan dan ruang berdiskusi antar komunitas. Di sisi lain, ia juga menjadi weavers ketika merancang kolaborasi lintas sektor dalam program Kelas Liar yang mempertemukan akademisi, mahasiswa dan warga.

Selain itu, ada juga Komunitas Bareng Warga, yang di media sosial memerankan disrupters (mengganggu status quo) dengan menyuarakan dan mengamplifikasi keresahan warga. Dalam kesempatan lain, mereka juga experimenters, ketika menginisiasi Camping Bareng Warga  sebagai bentuk ekspresi atas aktivisme yang “menyenangkan” dan menjangkau siapa saja, dengan kegiatan-kegiatan baca buku, senam, belajar bahasa isyarat, sampai nail art.

Batasan dan Kesadaran

Di level individu, banyak juga akademisi-akademisi yang biasanya hadir di ruang kelas, tapi turut ikut ke jalan, mengisi ruang-ruang diskusi, konsolidasi, serta festival bersama masyarakat sipil dan warga. Kita perlu meninjau kembali kebiasaan dan batasan yang boleh jadi tanpa sadar membatasi cara kita berkontribusi, agar peran kita dalam gerakan bisa lebih fleksibel, efektif dengan tetap sadar posisi.

Semakin banyak peran bisa diisi, tentu semakin baik. Sebelum mengambil peran ada baiknya untuk perbanyak mengamati, mengobrol, menjangkau lebih banyak orang atau entitas, supaya saling terhubung dan memahami siapa telah melakukan apa saja. Lebih dari itu, semua peran pun mungkin perlu berefleksi dan mempertanyakan apa-apa yang sudah atau akan dilakukan memiliki dampak apa terhadap simpul lain.

Selain itu, agar kontribusi bisa tetap fokus pada gerakan, tujuan gerakan serta kesetiaan pada apa yang sedang diperjuangkan tetap harus menjadi pusat. Namun, yang tidak kalah penting dari itu adalah membangun solidaritas dan menguatkan antar sesama warga. Perjuangan masih panjang dan melelahkan, mungkin juga gelap dan tak ada jaminan esok pasti berhasil.

Dan di tengah pesimisme ketika demokrasi yang kian menyempit, represi terus meningkat, sedikit kabar baiknya adalah semangat perlawanan tidak pernah benar-benar hilang. Gelombang protes masih terus bermunculan, baik yang menjadi sorotan nasional seperti pada #PeringatanDarurat, #IndonesiaGelap, maupun  protes-protes yang luput dari liputan media mainstream di berbagai bagian Indonesia. Seperti yang dilakukan oleh ibu-ibu dan orang muda di Sagea, Halmahera yang menolak tambang nikel yang merusak ruang hidupnya, warga di Gunung Gede Pangrango yang berjuang menolak proyek panas bumi di wilayahnya, dan ratusan atau ribuan warga lain yang dalam kesehariannya terus berjuang dengan cara masing-masing. Perlawanan atas penindasan dan ketidakadilan terus tumbuh dan meluas, menjadi harapan yang memberi kita kekuatan dan kepercayaan untuk bertahan dan berjuang bersama-sama.

Mengutip Joko Heriadi, Pemimpin Redaksi Bandung Bergerak dalam Festival Bandung Menggugat April 2025 lalu, “Di tengah hidup berdemokrasi yang dibajak demi kepentingan para oligarki, di tengah hidup bermasyarakat yang dikekang pemenuhan hak-hak dasarnya, di tengah hidup akademik yang ditelikung oleh nafsu penguasa, menggugat dan melawan harus menjadi keseharian. Ia menjelma napas yang membuat kita mampu bertahan. Sehari, dan sehari lagi.” 


Indriyani. Indri merupakan lulusan Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada dengan minat studi pada perspektif ekofeminisme. Sejak masa kuliah, ia aktif terlibat dalam berbagai kegiatan, termasuk pengabdian masyarakat, penelitian, serta magang dan kerja sukarela bersama organisasi masyarakat sipil yang fokus pada isu perempuan, disabilitas dan orang muda. Saat ini Indri bekerja sebagai Program Officer di Yayasan Kurawal, sambil terus belajar dan berupaya berkontribusi pada penguatan gerakan sosial melalui kerja-kerja bersama media, orang muda, dan elemen gerakan lainnya.

Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan.