Mengubah Dunia Lewat Sebutir Telur

Ide Utama

Mengubah dunia ternyata tidak selalu butuh tokoh besar. Kadang, sebutir telur polos bisa memberi pengaruh dan dampak yang tak terduga.

Lionel Messi, sang legenda sepak bola, kini memegang rekor unggahan dengan jumlah suka terbanyak di Instagram lewat momen ikonik saat mengangkat trofi Piala Dunia 2022. Tapi tahukah kalian, siapa yang dulu sempat jadi pemegang rekor itu? Bukan selebriti, bukan pula atlet dunia, melainkan foto sederhana: sebutir telur polos. Lalu, apa menariknya telur itu?

Foto sebutir telur polos dengan cangkang berwarna cokelat dan background putih ini diunggah oleh akun @world_record_egg pada 4 Januari 2019. Foto ini mampu meraup jumlah suka terbanyak kedua setelah Lionel Messi, yakni sebanyak 60,9 juta. Foto ini tercatat oleh Guiness World Record 30,5 juta suka hanya dalam waktu 10 hari. Bahkan foto telur ini muncul dalam majalah TIME tahun 2019 di kategori 25 Most Influential People on the Internet.

Makna Sebuah Telur

Foto telur ini merupakan hasil karya Chris Godfrey bersama dengan dua rekan kerjanya, Alissa Khan-Whelan dan C.J. Brown di perusahaan The & Partnership di London, Inggris. Foto ini mereka gunakan sebagai simbol untuk membagikan kisah tentang apapun yang viral di platform digital, bisa mempengaruhi kesehatan mental. 

Telur ini diberi nama Eugene. Godfrey seperti dilansir dari TIME menyebutkan, foto ini dibuat karena dia beranggapan bahwa telur tidak memiliki gender, tidak memiliki ras ataupun agama, dan jauh dari bahan kontroversi. Telur hanyalah telur, yang bersifat universal.

Foto telur ini sepertinya jauh dari kata indah ataupun estetik dengan elemen-elemen foto yang bisa mendukung kesan istimewa bagi orang yang melihatnya. Seno Gumira Ajidarma menjelaskan bahwa fotografi pada dasarnya dilepaskan dari seni dalam fungsi estetikanya, menjadi tidak penting apakah fotografi itu seni atau bukan seni, meskipun fotografi akan selalu bisa menjadi seni. 

Foto telur ini bisa dilihat melalui kacamata postmodernisme. Menurut Stephen Bull, postmodernisme memandang fotografi tidak atau kurang memperhatikan sama sekali konten estetika, malah berfokus pada konteks budaya foto. Foto-foto yang secara estetika menarik hanya mereproduksi ideologi kapitalis. Dalam pandangannya, foto-foto seharusnya digunakan dalam konteks yang revolusioner seperti marxisme, feminisme dan psikoanalisis untuk memeriksa konteks gambar tersebut. 

Aliran postmodernisme berarti mempertanyakan universalitas dan progresivitas ide-ide modern. Postmodernisme menawarkan pandangan dunia yang lebih terfragmentasi, dan sering berfokus pada isu-isu sosial. 

Dengan demikian, fokus kritik para postmodernis berada di luar foto. Apa yang ada dalam gambar diabaikan. Sebaliknya, konteks budaya dari gambar itu dianggap sebagai hal yang utama. 

Menantang Hiper-Realitas

Unggahan telur sebagai bagian dari kampanye kesehatan mental.

Tampilan visual yang sangat sederhana namun meraih jutaan like, rasanya tidak bisa hanya menjadi faktor tunggal alasan foto ini menjadi viral. Godfrey mencoba untuk berkontestasi mengalahkan hiper-realitas dan menantang celebrity culture yang kerap hadir dalam ruang media sosial. 

Media kerap kali terlalu mengagungkan sosok selebriti yang seolah harus menjadi panutan bagi masyarakat. Foto telur unggahan Godfrey juga terlihat menjadi ejekan atas fenomena celebrity culture itu. Ia melawannya hanya dengan sebuah benda mati yang kehadirannya mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Ia melawan dengan bahan makanan yang menjadi bagian dari masakan seluruh ras manusia. Hal remeh temeh secara paradoks melawan selebritas yang high-end. 

Popularitas unggahan foto telur ini merambah ke iklan pada gelaran final kejuaraan sepak bola Amerika Serikat, National Football League, Super Bowl melalui kerjasamanya dengan Hulu. Figur telur ini pun mengalami perubahan peran yang awalnya hanya sebagai unggahan biasa, menjadi alat kampanye untuk memperjuangkan isu kesehatan mental di Amerika. 

Hal ini tampak pada transformasi gambar kondisi telur yang awalnya mulus, menjadi retak secara perlahan-lahan, hingga akhirnya diikat dengan jahitan benang. Untuk lebih menonjolkan pesan yang ingin disampaikan, pihak pengiklan menggunakan permainan bahasa “cracked” yang maknanya: “berhasil keluar” dari semua tekanan media sosial. 

Eugene, si telur yang ramah ini mengarahkan audiens ke situs web nirlaba Mental Health America. Eugene menjadi pengingat untuk semua orang agar bersedia untuk “berbicara pada seseorang” jika sedang merasa stres maupun ketika mengalami masalah kesehatan mental lainnya.

Dukungan untuk Palestina

Unggahan telur sebagai dukungan terhadap Palestina.

Popularitas foto telur untuk kampanye kesehatan mental itu membuat Godfrey mencoba untuk melakukan hal serupa dengan intensi yang berbeda. Kali ini, Godfrey mengunggah foto telur dengan motif bendera Palestina sebagai respons atas memanasnya konflik Israel-Palestina yang terjadi sejak 7 Oktober 2023. 

Godfrey lantas membubuhkan caption:Let’s set a new world record together and get the most liked post on Instagram for a good cause. Beating the current world record held by Leo Messi (70 Million)! Egg for Peace #EggGang.” 

Unggahan telur ini dimaksudkan sebagai dukungan terhadap Palestina dan bertujuan untuk mengajak warganet bersimpati atas apa yang terjadi di Gaza. Sayangnya, gambar telur kali ini gagal meraih atensi publik. Konten ini hanya mendapatkan jumlah suka sebanyak 193 ribu.

Perlawanan Godfrey kali ini dipengaruhi oleh sensor Instagram. Platform ini sengaja menyembunyikan atau memunculkan lebih jarang konten yang berisikan tentang konflik Israel-Palestina. Seperti dikutip dari Human Rights Watch, mereka mengidentifikasi ada enam pola kunci sensor dalam Instagram.Keenam pola tersebut antara lain: penghapusan post, story, dan comment; penangguhan atau penonaktifan akun secara permanen; pembatasan kemampuan untuk berinteraksi dengan konten-seperti menyukai, mengomentari, berbagi dan mengirim ulang kiriman pada story selama periode tertentu mulai dari 24 jam sampai dengan tiga bulan; pembatasan kemampuan untuk mengikuti atau menandai akun; pembatasan penggunaan fitur tertentu, seperti siaran langsung, monetisasi, dan rekomendasi akun kepada non-pengikut; serta shadow banning yang akan berefek pada penurunan secara signifikan dalam visibilitas post, story, dan akun seseorang.

Efektif atau Tidak?

Perlawanan untuk mengalahkan jumlah like agaknya merupakan persaingan yang pseudo (palsu) dan sia-sia di ruang digital. Sebab, pihak yang dilawan bukan lagi sebatas selebritas, melainkan sensor sistemis dan global di Instagram

Dari kedua contoh unggahan Godfrey, kita dapat menyimpulkan bahwa aktivisme di ruang digital melalui foto bisa dilakukan oleh siapa pun. Namun perlu diingat, langkah ini tidak selamanya menjadi efektif. Konteks politik juga sangat berpengaruh pada visibilitas konten yang mengudara dalam suatu platform. 

Pada akhirnya, masyarakat digital hanyalah konsumen. Meski bisa memproduksi makna baru, masyarakat digital tetap menjadi pihak powerless dibandingkan dengan mereka yang duduk di balik platform media sosial. 

Sumber gambar: Instagram @world_record_egg


Deni Indra Lesmana. Deni merupakan lulusan S1 Sastra Inggris di Universitas Negeri Jakarta, dan sedang menjalani pendidikan S2 Cultural Studies di Universitas Indonesia. Deni bekerja sebagai payroll consultant di salah satu firma akuntansi Big 4. Di waktu luangnya, Deni gemar menggambar, membaca, belajar bahasa asing (Prancis, Spanyol, Jepang, Belanda), mengeksplorasi tentang Vedic Astrology, memasak dan gym.

Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan.