Pekikan Menolak Tunduk terhadap Tambang

Ide Utama

Mendengar rintihan dari yang terpinggirkan. Sebuah resensi dari buku Bukan Timah Hitam: Petani Dairi Melawan Tambang.

Berbagai isu terkait tambang mungkin sudah familiar di telinga masyarakat Indonesia. Begitu juga hitung-hitungan matematis dan taktis dari aktivitas pertambangannya. Namun di periferi (pinggiran), di bagian yang tak banyak orang bicarakan dan barangkali mungkin dianggap tidak penting, terdapat suara-suara yang menolak untuk tunduk. 

Meskipun derita yang dirasakan tak mampu lagi mereka pekikan, suara itu memiliki bentuk lainnya. Buku ini adalah salah satu pekikan masyarakat yang terdampak tambang dan hingga hari ini berusaha untuk menolak tunduk di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. 

Buku ini berisi kumpulan tulisan. Bukan tulisan yang kering. Justru sebaliknya, ia deras bak sungai besar yang di dalamnya arus tentang keresahan, kecemasan, kepasrahan, sekaligus terdapat persimpangan aliran deras bagi rasa keberanian, optimisme, serta perjuangan tanpa kenal lelah oleh mereka yang memperjuangkan tanah hidupnya dari kerusakan akibat pertambangan. 

Yang tak kalah menarik, hampir sebagian besar karya buku ini ditulis oleh perempuan. Mereka berasal dari masyarakat Dairi itu sendiri, terutama ibu-ibu yang mengalami penderitaan akibat berdirinya pertambangan, hingga pendamping dari Yayasan Diakonia Pelangi Kasih (YDPK) yang telah mengabdikan diri mereka untuk berjuang bersama masyarakat Dairi. 

Buku ini sangatlah intim karena mengungkap bagian terdalam dari tiap-tiap yang para penulis rasakan. Dengan kejujuran ini, membaca buku ini akan membawa kita merasakan bagaimana semangat perjuangan dan penderitaan yang dialami oleh masyarakat Dairi

Dibuka melalui perkenalan bentang alam Kabupaten Dairi beserta kekayaan alam dan keanekaragam makhluk hidup di dalam hutan-hutan Dairi, pembaca akan dengan mudah mengimajinasikan betapa asrinya lingkungan alam yang bersinggungan dengan Danau Toba itu. 

Lalu pembaca diajak memasuki ruang dimana mantra yang digaung-gaungkan bahwa pertambangan akan membawa kesejahteraan merasuki kehidupan masyarakat Dairi. Atau, jika tidak, mantra itu dijadikan arus utama untuk membuat lingkungan alam Dairi dapat dimanfaatkan, untuk tidak mengatakan dijadikan tumbal. Tentunya bagi masyarakat Dairi yang telah lama hidup menempati ruang tersebut, mantra itu adalah bualan sampah belaka. 

Itulah yang berusaha para penulis coba sampaikan kepada pembaca untuk melawan mantra jahat yang berusaha membenarkan eksploitasi lingkungan alam mereka. Sebab tanpa kehadiran pertambangan, kehidupan mereka sudah sejahtera menurut definisi mereka sejak berpuluh-puluh atau bahkan ratusan tahun yang lalu. Alam Dairi melalui pertaniannya sudah mampu mencukupi kehidupan masyarakatnya. Namun, kehadiran pertambangan seperti watak seorang yang berlagak sombong dan seakan paling mengetahui pribadi orang. Merasa bahwa kehidupan yang dijalani oleh para warga tidaklah cukup. Hingga mereka berusaha merengkuh setiap jengkal lingkungan alam termasuk juga kehidupan warganya. 

Perlawanan yang Terbungkam

Penderitaan dan kerentanan akan kehilangan tanah yang merupakan sumber penghidupan bagi tiap generasi yang lalu dan yang akan datang adalah sebuah sumber perlawanan. Tanpa bisa ditawar dan ditimbang dari mereka yang selama ini telah menderita. 

Hal ini membenarkan pernyataan dari James Scott bahwa kekuasaan akan selalu dibayangi oleh perlawanan, bahkan dalam bentuk yang paling subtil sekalipun. Buku ini adalah salah satunya. Perlawanan yang mungkin dianggap remeh namun serupa gaung yang tak pernah bisa untuk dibungkam. Mengutip juga kalimat dalam buku ini: 

“Masyarakat Dairi telah belajar untuk menjalankan strategi semut-semut kecil yang bergerak maju ke telinga sang raksasa, membuatnya pusing, dan pening karena bunyi dengungannya memecahkan telinganya, membuatnya gila dan akhirnya mati. Kami telah melatih diri menjadi semut-semut itu karena kami percaya bukan timah hitam yang akan menyejahterakan Dairi.” 

Pada akhirnya, apa yang diinginkan oleh masyarakat Dairi bukan timah hitam—seperti judul buku ini—melainkan kehidupan mereka sebelum datangnya pertambangan. Pertanian yang bagi masyarakat kota tidak banyak memberi keuntungan itu, justru menopang kebutuhan hidup masyarakat Dairi. Sebaliknya, kehadiran pertambangan di beberapa bagian wilayah Dairi justru memberikan banyak kerugian dan kemunduran. 

Barangkali klaim bahwa mantra pertambangan akan menyejahterakan masyarakat tersebut ada benarnya. Namun bukan untuk memenuhi kesejahteraan masyarakat setempat, melainkan virus kesejahteraan tersebut menyebar dan mengetuk pintu kota-kota besar. Seperti inilah yang terjadi di Dairi. Masyarakat setempat hanya disisakan remah-remah hasil dan potongan besar kerusakan-kerusakan alam. 

Meski begitu, buku ini adalah sinyalemen pada pertambangan—dan mereka yang mendukungnya—bahwa masyarakat Dairi tidak gentar dan optimis untuk bisa mengusir sang raksasa pengrusak alam mereka—pertambangan. Walaupun harus mengorbankan diri mereka.

Beni Bayu Sanjaya adalah seorang alumni dari Sosiologi Universitas Jember dan memiliki pengalaman kerja sebagai jurnalis serta fotografer di media cetak. Topik tentang ekologi dan kebudayaan manusia merupakan minat yang saya dalami. Apabila ingin berdiskusi lebih lanjut dapat mengetuk pesan di akun IG @benbay06.

Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan. 

Bagikan
WhatsApp
X
Facebook
LinkedIn
Email
Print