Bunga Tidur yang Melawan

Ide Utama

Bagi orang Yanomami, mimpi bukan sekadar bunga tidur, melainkan ruang bersama untuk merawat kehidupan.

Mimpi sesungguhnya bersifat politis. Begitulah salah satu dari banyak sifat mimpi yang dipercayai oleh kelompok etnis Yanomami di negara bagian Roraima, Brasil. Dalam buku O desejo dos outros: Uma etnografia dos sonhos Yanomami atau jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah Kehendak yang Liyan: Etnografi Mimpi Yanomami, Hanna Limulja selaku penulis mengungkapkan bahwa mimpi dianggap sebagai jembatan manusia dengan langit. Mimpi juga berfungsi memperkuat komunitas untuk bisa melawan ketidakadilan.

Pendekatan etnografi yang dilakukan oleh Hanna Limulja pada penelitiannya begitu spesifik. Ia menelaah berbagai mimpi dalam tidur orang Yanomami. Sebelum menyelesaikan disertasi doktoralnya, Limulja memang telah banyak terjun bersama lembaga swadaya masyarakat untuk mengadvokasi hak masyarakat pribumi Yanomami bersama salah satu dukun dan tetua adat yang bernama Davi Kopenawa. 

Orang Yanomami percaya bahwa mimpi mampu melampaui kekuatan penindasan kulit putih dan kapitalisme. Mereka juga meyakini bahwa para penindas sebenarnya tidak memiliki mimpi.

Kolektivitas Mimpi

Keterlibatan Limulja dengan orang Yanomami menunjukkan relasi yang personal dan tulus. Dalam buku ini, Limulja tidak segan menceritakan hubungannya dengan mimpi. Ia pernah memimpikan Davi Kopenawa akan masuk ke kantor perkumpulan adat dengan disambut. Kopenawa kemudian mengonfirmasi bahwa mimpi itu benar adanya.

Limulja juga mengalami kesulitan fisik saat pertama kali turun ke lapangan ke tanah adat bermedan berat. Ia sempat hampir pingsan dan diobati secara adat. 

“Kamu terlalu sering bermimpi, itu sebabnya kamu menjadi lemah,” begitu kata tabib yang mengobatinya. Sejak saat itu, Limulja mulai menyelami pentingnya mimpi dalam membentuk keseharian Yanomami. 

Bagi orang Yanomami, mimpi adalah sebuah tempat yang sakral dan didatangi oleh semua orang. Orang Yanomami saling mengetahui satu sama lain dan percaya bahwa mereka disatukan oleh mimpi saat tidur. Mimpi adalah bentuk ruang dan waktu, di mana masa lalu, sekarang dan yang akan datang bersatu; suatu tempat harus dihormati keberadaannya. 

Orang Yanomami percaya bahwa apa yang ada di dalam mimpi adalah pesan langit yang mengingatkan hubungan kita dengan alam, kelompok sosial, dan kebutuhan alamiah kita. Menurut Kopenawa, mimpi adalah sebuah tanda kepedulian. Orang yang mampu bermimpi adalah mereka yang memikirkan orang lain dan alam di sekitarnya.

Limulja melakukan penelitian ini dengan metode holistik. Sebelum melakukan penelitian, ia meminta izin kepada semua orang yang ada dalam tanah adat dalam sebuah pertemuan besar, tepatnya di desa Pya ú, untuk meneliti mimpi mereka; dan para penduduk setuju. 

Ia kemudian mendata lebih dari 100 mimpi selama 3 minggu, dan mengumpulkan lebih dari 30 jam rekaman audio kesaksian mimpi yang dijabarkan dalam bahasa Yanomae. Setelah selesai melakukan pengumpulan data, ia mempresentasikannya kepada anggota masyarakat adat sebelum ia melakukan peninjauan ulang untuk membaca ulang mimpi-mimpi tersebut. 

Masyarakat adat dari berbagai generasi yang hadir dalam pertemuan itu, mengungkapkan hal yang sama. Hampir setiap hari, mereka tidur dengan bermimpi. Namun bagi mereka yang masih muda, mereka mengakui kecenderungan melupakan mimpi di esok pagi. 

Dalam pengenalan penelitiannya, Limulja mengakui bahwa data mimpinya masih didominasi oleh responden laki-laki dewasa. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya budaya malu dan/atau kesopanan dalam mengungkapkan pendapat yang diterapkan pada anak muda dan perempuan.

Dalam lima bab di buku ini, Limulja banyak membahas bagaimana mimpi adalah hal yang menggerakkan Yanomami sebagai sebuah alat membangun kehidupan komunitas adat yang lebih kuat dan solid. Limulja memberi perkenalan yang utuh tentang komunitas Yanomami tempat ia tinggal. Ia juga menggarisbawahi bahwa pemikiran Davi Kopenawa yang tertulis maupun sumber-sumber pidatonya adalah salah satu landasan teoretis penting dalam penelitian.

Pohon Mimpi Orang Yanomami

Pada bab pertama, Limulja membedah pemikiran dan kontribusi Davi Kopenawa terhadap studi pribumi di Brasil. Lewat buku A Queda do Ceu yang ia tuliskan bersama antropolog Prancis Bruce Albert, Kopenawa menjelaskan bahwa apa yang disebut mitologi dan metafisika oleh orang kulit putih sesungguhnya adalah kenyataan yang dihidupi manusia bersama alam. 

Di bab kedua, Limulja membedah perihal kosmos kepercayaan orang Yanomami, bahwa mimpi adalah sebuah pohon besar. Jika begitu, hutan tempat mereka tinggal adalah sebuah semesta yang dibangun dari bermacam-macam mimpi. 

Sama seperti orang Indonesia, orang Yanomami juga berpikir bahwa mimpi adalah bunga tidur. Jika mimpi adalah bunga, maka mekarnya perlu dirawat untuk keseimbangan alam. 

Limulja kemudian menjabarkan kehidupan sehari-hari orang Yanomami pada bab tiga. Penjabaran itu dimulai dari aktivitas di pagi hingga sore hari dan bersiap untuk bermimpi ketika bintang-bintang mulai terlihat di langit. Lebih jauh, di bab yang sama, Limulja menyajikan data tentang kejadian atau adegan yang diimpikan oleh orang Yanomami tiap malam. 

Setidaknya terdapat enam kategorisasi mimpi. Di antaranya, mimpi pertanda (sonhos premonitórios) yang umum dialami oleh dukun kampung, mimpi dengan barang atau orang yang ditemui di keseharian (sonhos cotidianos), mimpi para pemburu (sonhos do caçadores), mimpi dengan orang yang lama tak bertemu (sonhos com os ausentes), mimpi dengan orang yang sudah meninggal (sonhos com os mortos), dan mimpi dengan binatang buas atau yang membuat ketakutan. Mimpi dengan binatang buas ini seringkali direpresentasikan oleh sosok ular besar yang bergerak di air (sonhos com tëpërësiki). Siapapun yang bermimpi tentang aspek dan gejala alam, mereka dianggap memiliki hubungan dengan ruh alam dan dipercaya mampu menjaganya. 

Pada akhirnya, semua mimpi sebenarnya adalah wujud kerinduan yang terproyeksi saat tidur. Kerinduan orang Yanomami bermacam-macam subjeknya. Bisa jadi soal alam, orang terkasih, dan bahkan dalam mimpi menakutkan. Semuanya menggambarkan kerinduan akan hidup yang tak terganggu oleh orang-orang yang hendak merusak rumah mereka. Mimpi dan kerinduan bagi orang Yanomami tetap bersifat kolektif. 

Dekolonisasi Ketidaksadaran

Kita perlu mengenal pentingnya mimpi pada masyarakat Yanomami untuk mengetahui bagaimana mimpi dapat menjadi alat perlawanan. Dalam bab empat, Limulja menceritakan bagaimana mimpi-yang merupakan bagian dari kepercayaan mereka-saling dibagikan dan dihidupi dalam kegiatan bersama. 

Setiap penduduk di desa Pya ú akan memiliki waktu untuk membagikan mimpi mereka, dipimpin oleh seorang dukun mimpi dan/atau tetua adat. Kegiatan sosial ini dilakukan dengan menari bersama. 

Orang Yanomami percaya bahwa mimpi adalah bentuk perlawanan, sebab kehadiran dan bentuk mimpi tidak bisa diatur. Setiap kita tidur, kita akan bertemu pertanda apapun yang alam berikan dalam ketidaksadaran dan bebas dari pemaksaan kehendak. 

Mimpi adalah pertanda bahwa orang Yanomami memiliki agensi atas konservasi ruang hidup mereka. Menghormati leluhur atau keluarga yang sudah lama meninggal itu juga merupakan bagian dari perlawanan Yanomami, sebab mereka masih datang di mimpi dan memberikan pesan tertentu. Bahkan jiwa yang sudah mendahului juga mampu melawan melalui kerabatnya yang masih hidup.

Pada bab akhir, Limulja membaca ulang mitos Yanomami dan menghubungkannya dengan pola mimpi yang ia dengarkan ceritanya di Pya ú. Orang Yanomami dekat dengan cerita penciptaan yang kosmologis dan ruh universal yang dipercaya menaungi kehidupan mereka. 

Limulja mewawancarai dukun kampung dan mengobservasi lebih jauh tentang bagaimana mereka mewujudkan mimpi mereka dalam tindakan sehari-hari. Mitos Yanomami ternyata banyak dihasilkan dari pola mimpi yang dirangkum oleh dukun kampung. Dengan kata lain, dukun kampung adalah pemegang peran penting dalam menarasikan apa yang terjadi pada masyarakat Yanomami dan menyusunnya dalam cerita yang diturunkan dari generasi ke generasi. Termasuk di dalamnya, apa yang perlu dipertahankan dan apa yang perlu dilawan bersama. 

Limulja menarasikan buku ini dengan cair layaknya buku cerita. Bahasa yang digunakan, walau tetap dengan bahasa akademik dan sudut pandang etnografi yang kuat, adalah diksi Portugis Brasil yang mudah dimengerti untuk pembaca non-fiksi. 

Limulja bercerita tentang proses penelitian dan pertemuannya dengan orang Yanomami di kampung Pya ú dengan keberpihakan yang jela. Ia memposisikan kesadaran (dan ketidaksadaran yang ia latih); bahwa ia datang dari kota untuk mendengarkan kisah, keluh kesah, orang Yanomami yang hutan dan hidup masyarakatnya masih diusik walau sudah dilindungi undang-undang.

Sikap adat orang Yanomami semuanya berasal dari mimpi yang dikumpulkan bersama di tiap generasi. Keberadaan orang kulit putih, orang kota, dan tuan tanah merusak tatanan kehidupan orang adat Yanomami dan juga orang adat lain di seluruh Brasil sejak ratusan tahun lalu. 

Tak mengherankan, perlawanan mereka terhadap bangsa Barat serta kulit putih Brasil pemodal telah menjadi bagian dari ketidaksadaran mereka, yakni untuk mencegah musibah yang pernah mereka timbulkan terhadap komunitas. Deforestasi yang dilakukan para penjajah menimbulkan kerusakan tidak hanya pada alam tetapi juga merangsek hingga siklus hidup, bahkan ke ketidaksadaran tiap individu orang pribumi. 

Oleh sebab itu, penelitian oleh Hanna Limulja ini berkontribusi untuk memperlihatkan metode dekolonisasi ke taraf bawah sadar yang telah dilakukan oleh orang Yanomami. Bahwa sebenarnya, kita bisa adil sejak dalam pikiran, adil sejak dalam ketidaksadaran.


Gladhys Elliona adalah seorang penulis, peneliti seni multidisiplin, dan penerjemah sastra Brasil.

Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan. 

Bagikan
WhatsApp
X
Facebook
LinkedIn
Email
Print