Melihat Dunia dari Kacamata Merah Muda

Balon dengan ragam ekspresi

Ide Utama

Kacamata berlensa merah muda. Sejumlah selebriti dunia tampak nyaman, bahkan sering mengenakannya, dari Elton John, Robert Downey Jr., Miley Cyrus, hingga Hadid bersaudara. Menariknya, sejarah penggunaan aksesori tersebut ternyata jauh dari unsur fesyen semata.

Para dokter yang bertugas di masa perang saudara atau Civil War (1861-1865) Amerika Serikat-lah yang pertama kali memopulerkan penggunaan kacamata berlensa pink. Dengan perlengkapan dan wawasan medis yang masih serba terbatas, saat itu, mereka menandai pasiennya lewat kacamata. Sebagai contoh, kacamata berlensa kuning diperuntukkan bagi para pengidap sifilis, sementara yang pink untuk tentara yang mengalami depresi 

Para dokter saat itu percaya bahwa warna merah muda yang membalut lensa kacamata tersebut akan membantu pengidap depresi lebih semangat menjalani hidupnya. Kacamata itu memang tidak bisa menyensor lingkungan yang sudah kadung porak-poranda dan korban-korban yang bergelimpangan di sekitar si pasien. Namun, setidaknya, warna pink yang membalut lensa itu bakal membuat situasi mencekam tidak melulu gelap dan suram.

Dari situlah, peribahasa dalam Bahasa Inggris ‘see the world through rose-colored glasses’ atau ‘lihatlah dunia dari kacamata berlensa pink’ muncul.

Secara kiasan, kacamata berlensa pink adalah alat bantu yang sesuai untuk melihat dunia yang sudah absurd (aneh) dan semrawut. Sebab realitas memang tidak bisa diubah, tetapi ia tidak harus selalu didefinisikan secara harfiah.

Memilih ‘Lensa Kacamata’ yang Tepat

‘Kacamata berlensa pink’ merupakan alat bantu buat pikiran kita menemukan bahan tertawaan dari kesengsaraan. Akan tetapi, andaikata saat memakainya penglihatan Anda malah blur (buram), artinya Anda membutuhkan bantuan dari ‘lensa’ lainnya.

Meminjam konsep dari filsuf David Shoemaker, dalam Wisecracks: Humor and Morality in Everyday Life (2024), menemukan humor dalam hidup bisa dilakukan siapa saja, asalkan kita mampu memilih “lensa kacamata” yang tepat. 

Dalam hidup ini, ada momennya kita tenggelam secara emosional dan turut merasa sedih atas kemalangan orang lain atau orang-orang yang tidak seberuntung kita. Ini bisa terjadi karena kita melihat kejadian itu dari ‘emotional empathy lenses’ atau ‘kacamata empati’.

Nah, humor sangat susah terlihat apabila kita terlalu lama menggunakan ‘kacamata empati’. Pasalnya, sifat humor, menurut filsuf Henri Bergson, adalah anestesia atau pembius perasaan. Alhasil, untuk bisa melihat humor, kita harus mengganti kacamata kita dengan ‘psychopath lenses’.

Psikopat? Tidakkah itu sifat yang tidak bijaksana dan bukan kualitas yang diidamkan oleh banyak orang? 

Betul. Namun, sikap nirempati punya kegunaan untuk memisahkan kita secara emosional dari sebuah kejadian. Mengenakan ‘kacamata psikopat’ di momen yang tepat justru akan menyelamatkan kita dari kadar empati yang terlalu tinggi.

Beberapa profesional dengan sengaja menggunakan ‘kacamata psikopat’-nya. Misalnya, saat di ruang operasi, dokter akan lebih memilih mengenakan ‘kacamata psikopat’ supaya tega menyayat tubuh pasiennya demi menyelamatkan nyawa yang bersangkutan. Begitu pun dengan tentara yang percaya ada kepentingan yang lebih besar ketika bisa mengalahkan lawannya di medan perang.

Di sisi lain, sebagian dari kita bisa jadi juga telah mengambil manfaat dari ‘kacamata psikopat’ ini. Contohnya, ketika tahu bahwa memberikan uang kepada pengemis di jalanan melanggar Perda (Peraturan Daerah) dan dapat membuat kita didenda, ‘kacamata psikopat’ bisa membantu kita menghindari kontak mata dengan mereka dan mengantisipasi rasa iba yang muncul berlebih. 

Lebih lanjut, David Shoemaker, yang merupakan profesor Filsafat di Cornell University, mengingatkan perlunya cakap memilih ‘lensa kacamata’ di saat yang tepat (h.165-6). Enggan melepas ‘kacamata empati’, alias terlalu peduli terhadap orang lain, ternyata juga bisa memicu depresi. Sementara dampak dari penggunaan ‘kacamata psikopat’ dalam waktu panjang dapat berujung pada sifat maniak, yang tertawa dan menikmati humor secara berlebihan.

Humor sebagai Cara Bertahan Hidup

Kadang kala, selisih pendapat antara kelompok masyarakat tertentu dengan pelaku komedi terkait suatu isu di sekitar kita pemicunya ya begini ini: keduanya terlalu lama mengenakan kacamatanya masing-masing. 

Memilih ‘lensa kacamata’ yang tepat bakal sangat membantu kita menjalani hidup lebih nikmat ~ Ulwan Fakhri Share on X

Yang satu sudah terlanjur pesimistis, kesusahan menemukan kebahagiaan akibat terlalu banyak menampung derita orang lain – semacam ada faktor kurang bermain-main. Sedangkan pihak satunya lagi malah terlalu fokus pada kelucuan saja sampai tega mengesampingkan perasaan korban atau penderita.

Singkatnya, memilih ‘lensa kacamata’ yang tepat bakal sangat membantu kita menjalani hidup lebih nikmat. Saat diri merasa sudah terlalu emosional dan menganggap banyak hal dalam hidup sebagai hal yang sangat penting sehingga tidak bisa ditertawakan sama sekali, relakanlah untuk melepas ‘kacamata empati’ sebentar saja. Silakan kenakan ‘kacamata psikopat’ sebelum tenggelam dalam empati yang berlebihan. 

Sebaliknya, kalau ego sudah mulai mengkristal dan nurani jarang terketuk lagi oleh perjuangan hidup orang lain, tanggalkan dulu ‘kacamata psikopat’ dan gantilah dengan ‘kacamata empati’.

Di tahap ini, barulah cocok ‘kacamata merah muda’ dikenakan, dengan harap momen-momen kehidupan yang sudah terlanjur kelabu tak terus-menerus mengharu-biru.


Ulwan Fakhri adalah peneliti Humor Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3) & pionir Certified Humor Professional AATH dari Indonesia.