Di tengah badai ketidakpastian ekonomi yang tak bisa kita kendalikan, kemampuan mengelola uang menjadi jangkar yang bisa kita pegang erat.
Pernah kah saat membuka media sosial kalian melihat konten viral soal harga sembako yang melonjak atau kabar pegawai yang terpaksa dirumahkan? Atau mungkin, obrolan di kantor yang dulu isinya bahas film, drama baru, dan promo e-commerce sekarang beralih jadi cerita soal gaji yang nggak naik-naik, cicilan yang semakin berat, atau kabar PHK di perusahaan sebelah. Rasanya setiap momen seperti itu membuat kita jadi ikut khawatir, “Besok gimana, ya?”.
Menjelang akhir tahun 2025 ini, kecemasan soal kondisi ekonomi memang sudah menjadi bagian dari keseharian. Istilah “ketidakpastian ekonomi” di berita tak lagi menjadi sekadar isu. Siapa pun dapat merasakannya, mulai dari pegawai kantoran, pedagang kaki lima, sampai ibu rumah tangga.
Kini, kita mulai berpikir dua kali sebelum membelanjakan uang, menahan keinginan untuk jajan, bahkan bingung bagaimana menyiapkan dana sekolah anak. Rasa cemas ini terasa begitu nyata, terlebih bagi mereka yang perekonomiannya ada di kelas menengah dan menengah ke bawah.
Kenapa Kondisi Sekarang Terasa Lebih Berat?
Harga pangan yang naik-turun seperti roller coaster sementara daya beli justru merosot, membuat kita lebih selektif dalam membeli berbagai kebutuhan. Prinsip berhemat yang selama ini diemban oleh masyarakat kini telah bergeser. Jangankan memikirkan gizi di setiap makanan yang dikonsumsi, bisa makan kenyang esok hari pun kadang masih menjadi misteri.
Penurunan perekonomian ini bukan hanya disebabkan oleh kondisi dalam negeri. Faktor global ikut berperan. Pasca-liberation days yang dicetuskan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, pasar keuangan dunia sempat goyah. Hal ini dapat dilihat dari indeks saham yang menurun, imbal hasil obligasi melonjak, dan dolar AS yang melemah.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2025 pun diperkirakan melambat karena ketegangan dagang dan geopolitik. Harga komoditas energi seperti minyak dan batu bara juga cenderung turun, berbanding terbalik dengan harga logam yang justru naik yang membuat banyak pelaku usaha dan konsumen harus lebih berhitung.
Sementara itu di Indonesia, insight data makro ekonomi menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi di tahun ini memang sedang melambat. Nilainya hanya 4,87% pada Kuartal I. Angka ini turun dari tahun 2024 yang mencapai 5,11%. Proyeksi akhir tahun pun telah direvisi ke angka 4,7–5,0%.
Selain itu kelas menengah menyusut 20% dalam 6 tahun terakhir (dari 60 juta ke 48 juta orang). Kemudian, konsumsi rumah tangga pun hanya tumbuh 4,89% YoY di Q1 2025. Angka ini termasuk yang terendah dalam 5 kuartal. Nilai rupiah tertekan, harga komoditas berfluktuasi, dan belanja pemerintah berkontraksi akibat efisiensi anggaran sebesar Rp306 triliun menurut Instruksi Presiden RI Nomor 1 tahun 2025.
Dari laporan yang sama, kita juga bisa melihat bahwa makin banyak orang yang masuk sektor informal dengan penghasilan tidak pasti, sekitar 59% pada 2023. Meski pemerintah telah meluncurkan stimulus sebesar $1,5 miliar, namun upaya ini masih terbatas dan hanya menyasar kelompok paling rentan.

Di sisi lain, badai PHK telah menjadi momok di banyak perusahaan swasta. Berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Ketenagakerjaan RI, sejak Januari 2024 hingga Februari 2025, jumlah pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) mencapai 96.575 orang. Kondisi ini juga sejalan dengan data yang ditulis oleh Tempo yang merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya kenaikan jumlah pengangguran dari 7,2 juta orang pada Februari 2024 menjadi 7,28 juta orang pada Februari 2025.
Tak hanya di sektor swasta, institusi milik pemerintah pun terpaksa menahan rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2025 yang biasanya rutin dibuka tiap tahun. Kebijakan sebelumnya lebih membuat gigit jari. Pasalnya, para kandidat CPNS 2024 yang telah dinyatakan lolos seleksi harus menerima penundaan pengangkatan yang semula dilakukan pada Maret 2025 berubah menjadi Oktober 2025. Walau akhirnya pengangkatan ini dipercepat setelah menimbulkan polemik dan kegaduhan di masyarakat.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Kita memang tidak bisa mengendalikan perekonomian global maupun nasional, namun kita masih bisa mengelola uang dan membangun ketahanan pribadi. Ada beberapa langkah adaptif yang paling sederhana yang bisa kita aplikasikan dalam mengelola keuangan.
Pertama, mengatur prioritas belanja. Penting bagi kita untuk membuat daftar kebutuhan. Pisahkan mana yang termasuk dalam kebutuhan primer (wajib), dan mana yang sekunder (bisa ditunda).
Kedua, mengelola utang secara bertahap. Jika kamu masih memiliki utang dan cicilan, prioritaskan keuangan untuk melunasi utang dengan bunga tertinggi dahulu. Pertimbangkan baik-baik sebelum mengambil utang baru.
Ketiga, manfaatkan teknologi finansial. Fintech (financial technology) telah memberikan kemudahan bagi siapapun untuk berinvestasi dan menabung secara otomatis. Tapi pastikan platform tersebut sudah diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jangan tergiur iming-iming cuan cepat tanpa riset mendalam.
Keempat, memahami pola konsumsi pribadi. Kadang kita nggak sadar uang bocor di langganan streaming yang jarang ditonton, belanja impulsif, atau promo online. Coba catat pengeluaran harian pakai aplikasi keuangan.

Kelima, tambah penghasilan dan skill. Manfaatkan potensi ekonomi digital seperti berjualan, dropship, maupun bekerja dengan sistem freelance untuk menambah pundi-pundi keuangan. Sisihkan sedikit untuk mengikuti les privat maupun pelatihan gratis yang banyak difasilitasi pemerintah/LSM agar dapat tetap bersaing.
Keenam, edukasi finansial berkelanjutan. Perbanyak membaca artikel tentang keuangan, menonton konten soal keuangan, maupun berdiskusi dengan teman yang paham finansial. Semakin kita paham, makin kita bijak dalam mengambil keputusan.
Solusi untuk Gen Z
Rasa cemas tak hanya mendera bagi mereka yang sudah berkeluarga. Gen Z juga perlu mawas diri.
Pikiran impulsif seperti “mumpung masih punya, beli aja deh daripada nyesel” justru membuat kondisi keuangan makin rapuh. Tekanan dari lingkungan bahkan media sosial juga memperkuat godaan itu. Melihat teman tetap bisa liburan dan membeli barang branded, kita menjadi ikut-ikutan atau istilah sekarang adalah FOMO (Fear of Missing Out).
Padahal mungkin, kondisi finansial kita tidak sama dengan teman yang kita bandingkan. Akhirnya, muncul rasa bersalah, bahkan takut dicap sebagai orang yang ketinggalan zaman. Jika tak dikendalikan, gaya hidup konsumtif ini berisiko menyeret generasi muda ke lingkaran utang dan ketidakpastian finansial di masa depan.

Terakhir, meskipun data makro menyebut ekonomi Indonesia masih “tumbuh positif”, kenyataannya kelas menengah mulai tertekan dan makin banyak yang jatuh ke kelompok rentan. Maka dari itu, dibutuhkan strategi keuangan yang realistis dan adaptif, bukan reaktif.
Kita tidak bisa mengendalikan semua hal. Tapi kita bisa belajar mengelola risiko, membedakan kebutuhan vs keinginan, dan menyiapkan bantalan keuangan untuk masa depan. Kondisi ekonomi 2025 mungkin tidak ideal, tapi dengan penyesuaian cerdas dan langkah kecil yang konsisten, kita bisa membangun kembali rasa aman finansial bukan dari seberapa besar penghasilan, tapi dari seberapa bijak kita mengelolanya.

Sultan dilahirkan di Sidenreng Rappang, Sidrap, 07 Agustus 1972. Ia menyelesaikan pendidikannya pada S1 di Program Studi Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (FE UGM) tahun 1996, lulus S2 Magister Sains pada UGM Yogyakarta tahun 2003. lulus S3 Program Doktor Ilmu Ekonomi pada Universitas Sebelas Maret Surakarta tahun 2022. Asisten Dosen FE UGM tahun 1995-2000. Karier dosen dimulai pada tahun 1997-sekarang sebagai dosen tetap di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. E-mail : sultan@upnyk.ac.id


