Dulu, saya bekerja di pinggiran. Menyaksikan langsung kesenjangan yang dialami komunitas saya tanpa banyak ruang untuk bersuara. Kini, menjadi peneliti komunitas memberi saya harapan baru.
Kenalkan, saya Resty, begitulah kawan-kawan transgender biasa memanggil saya. Ketika menulis ini, usia saya 46 tahun. Usia ini biasa dianggap kawan-kawan transgender sebagai emak-emakan, senior, atau sebutan yang dituakan, disegani, bahkan dianggap kakak-kakakan. Ada di fase ini, saya diharapkan mampu memberikan solusi ketika ada masalah di satu titik kumpul (hotspot) atau tempat tinggal kawan-kawan transgender yang bermukim bersamaan.
Eksistensi saya tidak lagi seperti sebelumnya. Dulu, hampir tiap malam, aktivitas saya habiskan secara rutin bersama mereka di antara rimbunnya Taman Sumenep, diikuti bisingnya motor dan mobil anak-anak Menteng. Lalu, terdengar suara-suara memuji akan kecantikan saya pada saat itu dengan setelan heels dan dress yang menutupi body slim ini layaknya peragawati. Kenangan itu akan selalu ada dalam ingatan.
Namun kini, saya sudah tidak tinggal bersama kawan-kawan transgender lagi. Tepat pada tahun 2025 ini, saya kembali tinggal satu rumah bersama ibu, adik, dan keponakan di Depok. Hari-hari saya lalui dengan rutinitas sebagai peneliti komunitas transpuan periode April sampai Desember 2024.
Menjadi peneliti komunitas merupakan hal yang baru saya tekuni dan kerjakan. Saya masih perlu banyak belajar dan beradaptasi. Di sini, saya bertemu dengan banyak orang yang berasal dari berbagai latar belakang. Hal itu mendorong saya untuk terus berkembang dan belajar bersama. Di usia yang tak lagi muda, mendapatkan kepercayaan untuk terlibat langsung dalam proyek penelitian merupakan anugerah yang tak terkira.

Pengalaman pertama saya di lapangan adalah menangani program penjangkauan dan pendampingan untuk komunitas transgender di wilayah Jakarta pada 2000-an. Awalnya, saya bekerja sebagai petugas lapangan (outreach worker) untuk wilayah Jakarta Pusat. Beberapa kegiatan saya pada saat itu adalah memberikan penyuluhan kesehatan tentang penularan dan pencegahan (IMS, HIV/AIDS), mendistribusikan kondom dan pelicin, dan mengajak kawan-kawan transpuan ke layanan untuk pemeriksaan dan VCT (Voluntary Counseling and Testing atau Layanan Konseling dan Tes Sukarela) HIV.
Selang beberapa tahun, saya dipercaya untuk menduduki jabatan baru, yakni menjadi koordinator lapangan. Tanggung jawab saya saat itu mengkoordinasi semua kegiatan di lapangan, membuat laporan kegiatan, dan memastikan setiap programnya dapat mencapai target. Lalu, pada tahun 2016–2019, saya mendapat kepercayaan menjadi Program Manajer untuk menjalankan program HIV. Tugas dan tanggung jawabnya menjadi lebih besar. Pengalaman dan pembelajaran itu lah yang membentuk saya sampai di titik ini.
Menjadi salah satu peneliti komunitas memberi saya kesempatan untuk berkontribusi dalam menghadirkan layanan HIV ramah gender. Bagi saya, penelitian ini bisa menjadi alternatif solusi penting atas berbagai tantangan akses pelayanan kesehatan yang kerap saya temui dari pekerjaan sebelumnya bersama kawan-kawan transgender.
Sebuah Perjalanan Panjang
Penelitian yang tengah kami jalankan ini berfokus pada layanan HIV ramah gender untuk komunitas transgender. Kami memulainya sejak April 2024. Enam peneliti komunitas–tiga translaki-laki dan tiga transpuan, termasuk saya–sudah terlibat sejak awal. Dalam proses penelitian itu, kami dihadapkan dengan serangkaian proses panjang.
Hal pertama yang kami lakukan adalah kegiatan pengembangan instrumen penelitian. Kami belajar menyusun dan menguji formulir penting untuk keperluan pengumpulan data. Proses ini memberikan pengalaman baru bagi saya dalam mengkritisi dan memperbaiki kuesioner, seperti memastikan bahasa yang digunakan agar mudah dipahami oleh komunitas.
Proses selanjutnya adalah rekrutmen enumerator. Pada tahapan ini, kami diminta untuk memilih sepuluh enumerator dari sejumlah kandidat komunitas transgender yang dinilai memahami area pemukiman dan memiliki pengaruh di komunitas. Lima transpuan dan lima translaki-laki yang kami pilih selanjutnya akan mengikuti bimbingan yang dikemas secara nonformal bersama dengan PPH Unika Atma Jaya.

Tahapan berikutnya sekaligus menjadi yang ketiga adalah proses pengumpulan data. Data kuantitatif dikumpulkan melalui survei dengan aplikasi KoboToolbox. Sementara itu, data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara mendalam. Dalam pengumpulan data kuantitatif ini, 10 enumerator yang telah dipilih pada tahap sebelumnya akan menjangkau 13-14 responden setiap hari untuk mengisi survei.
Kemudian dalam pengisian data kualitatif, saya bersama dengan peneliti komunitas lain terlibat langsung sebagai pewawancara (interviewer). Wawancara dilakukan secara tatap muka maupun daring. Meski mengalami sejumlah kendala khususnya dalam proses pengumpulan data kuantitatif seperti kurangnya ruang yang kondusif dan cuaca buruk, proses ini tetap menjadi pengalaman berharga bagi saya. Melalui kegiatan wawancara, saya belajar untuk menjadi pendengar aktif yang mampu menggali informasi tanpa menggurui.
Setelah proses wawancara, pengumpulan data dilanjutkan dengan kegiatan Diskusi Kelompok Terarah (DKT). Ada dua sesi DKT yang kami lakukan, yakni DKT 1 dan DKT 2. Kegiatan ini melibatkan dua jenis peserta. Pertama, DKT yang diikuti oleh 15-25 peserta dari penyedia layanan, seperti tenaga kesehatan dan pengelola program HIV-AIDS. Kedua, DKT melibatkan 30-50 anggota komunitas transgender.
Sesi DKT ini dibagi ke dalam dua kelompok kecil untuk mempermudah proses diskusi. Dalam kegiatan ini, peneliti komunitas ditetapkan sebagai fasilitator. Saat itu, saya ditugaskan sebagai pencatat diskusi dalam dokumen matriks sekaligus dokumentasi teknis, transportasi, dan konsumsi peserta.
Tahapan yang keempat sekaligus yang paling ditunggu-tunggu adalah proses analisis data. Saya belajar mengelola dan koding dengan menggunakan aplikasi NVivo, khususnya terkait materi terapi hormon. Proses ini mengasah kemampuan analitis saya dalam memahami transkripsi wawancara.
Memasuki tahapan kelima yakni penulisan laporan. Saya dan satu rekan saya sesama peneliti komunitas bertanggung jawab untuk menyusun laporan terapi hormon. Proses ini mengembangkan kemampuan berpikir kritis, khususnya dalam menyatukan persepsi antara pengalaman di lapangan dan analisis data.
Presentasi hasil penelitian menjadi tahapan yang terakhir. Kami berbagi dan memberikan masukan antarpeneliti. Presentasi ini sekaligus memperkuat dan melengkapi tiap-tiap hasil kerja kami sebagai peneliti komunitas. Pengalaman ini mengajarkan saya pentingnya meredam ego dan menerima perubahan kecil sebagai langkah maju.
Selama meneliti, tentu saya intens berinteraksi dengan kelompok transgender, baik transpuan maupun translaki-laki. Ada kesimpulan menarik yang saya pelajari di setiap interaksi itu. Dari pengalaman saya, transpuan cenderung lebih mengutamakan ego masing-masing. Sikap ini kontras dengan yang ditunjukkan oleh kelompok translaki-laki. Kebanyakan dari mereka menunjukkan sikap saling mendukung, membantu, dan mencari solusi bersama.
Mungkin ini disebabkan oleh perbedaan latar belakang pendidikan. Kebanyakan translaki-laki lebih tertutup, tapi kaya ilmu dan informasi. Sementara itu, transpuan lebih terbuka, apa adanya, dan hidup berkelompok.
Perjuangan Belum Selesai
Sebagai peneliti komunitas yang juga menjadi bagian dari komunitas itu sendiri, saya berharap kontribusi ini dapat menjadi tombak dari ujung kebutuhan dan isu-isu keras yang dihadapi komunitas transgender. Kebutuhan akan akses layanan HIV yang benar-benar ramah gender seharusnya tidak berhenti di meja laporan. Diperlukan keberlanjutan yang nyata, tindak lanjut yang melibatkan lintas sektor, jaringan organisasi berbasis gender, serta komitmen dari pihak penyedia layanan. Catatan penting yang perlu diingat, jangan sampai komunitas hanya dijadikan objek penelitian, lalu dilupakan tanpa perubahan.
Hasil dari program layanan HIV ramah gender masih menggantung. Salah satu kebutuhan paling mendesak adalah layanan kesehatan yang inklusif di mana seluruh tenaga kesehatan memahami keberagaman identitas gender dan orientasi seksual (Sexual Orientation, Gender Identity, Gender Expression, Sex Characteristics atau SOGIESC). Termasuk dalam hal ini memberikan pelayanan tanpa stigma dan diskriminasi terhadap komunitas transgender.
Temuan kami menunjukkan bahwa hal ini masih jauh dari ideal. Maka, perjuangan ini bukan hanya tentang membuka akses layanan, tetapi juga memastikan komunitas transgender bisa mendapatkan layanan yang layak, aman, dan setara. Dengan demikian, visi “Menuju Indonesia Bebas AIDS 2030” tak lagi menjadi harapan yang semu.

Resty merupakan aktivis LSM sejak 2000-2009 di Yayasan Srikandi Sejati sebagai petugas lapangan wilayah Jakarta Pusat dan sekitarnya. Selama periode itu, Resty kerap mengikuti berbagai pelatihan. Salah satunya, Communication Behavior Change Fasilitator for Outreach Officer SHI ASIA 2001. Tahun 2011 dipercaya sebagai Program Manager SUM2. Tahun 2020-2022 bekerja sebagai Monitoring dan Evaluasi untuk Project Global Fund di Yayasan Gaya Patriot Bekasi. Kini aktif sebagai Peneliti Komunitas di Jaringan Transformasi Indonesia.


