Hidup sebagai Individu Trans Laki-Laki: Komunitas dan Transisi

Ide Utama

Setiap langkah transisi adalah upaya untuk berdamai dengan diri dan dunia.

Apa yang terlintas dalam pikiranmu jika mendengar kata “trans laki-laki”? 

Jika kamu belum familiar dengan kata tersebut, izinkan saya menjelaskannya dengan singkat. Trans laki-laki adalah orang yang mengidentifikasikan dirinya sebagai laki-laki, tetapi ditetapkan sebagai perempuan saat lahir. Istilah lain yang biasa dipakai selain trans laki-laki adalah transmen, transman, transgender laki-laki, transpria, dan sebagainya. Semua istilah atau penyebutan valid digunakan apabila muncul dari trans laki-laki itu sendiri.

Memang, tidak banyak orang tahu akan keberadaan kami, bahkan mungkin istilah trans laki-laki itu sendiri amat jarang terdengar. Hal ini disebabkan sistem patriarki yang langgeng. Mayoritas masyarakat hanya mengenal gender secara biner, yaitu laki-laki atau perempuan. 

Sering kali, masyarakat lebih kenal dengan istilah transgender perempuan atau yang biasa disebut transpuan dan waria. 

Ada beberapa alasan mengapa transpuan lebih familiar bagi masyarakat dibandingkan trans laki-laki. Transpuan sering kali lebih banyak muncul di media, baik dalam film, acara TV, maupun berita. Bahkan beberapa nama transpuan bertender di jajaran para artis yang dikenal luas oleh publik. Namun, tingginya visibilitas ini tidak selalu berdampak positif.

Transpuan juga sering menjadi target stigma dan diskriminasi yang lebih intens–meskipun trans laki-laki juga mengalaminya. Cerita tentang transpuan lebih sering diangkat ke permukaan, walaupun diberitakan dalam konteks yang negatif. Visibilitas tersebut justru membuat transpuan lebih rentan terhadap penilaian dan penghakiman dari masyarakat. 

Di sisi lain, dalam banyak kasus, komunitas transpuan memiliki sejarah advokasi yang lebih kuat dan vokal. Perjuangan mereka untuk membangun ruang aman dan menuntut pengakuan telah berlangsung sejak lama. Sementara itu, edukasi tentang keberagaman gender masih sangat terbatas, yang membuat keberadaan trans laki-laki cenderung “tidak terlihat” dalam wacana umum. Akibatnya, masih banyak orang masih belum memahami identitas trans laki-laki. 

Gerakan Kelompok Trans Laki-Laki

Gerakan trans laki-laki di Indonesia relatif baru dibandingkan dengan gerakan LGBTIQ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Intersex, dan Queer) lainnya. Ini terlihat dari tidak banyaknya organisasi atau komunitas trans laki-laki yang aktif di Indonesia. 

Berdasarkan laporan penelitian Transmen Indonesia, jumlah organisasi/kolektif trans laki-laki di Indonesia hanya mencapai lima organisasi per Desember 2024. Transmen Indonesia merupakan salah satu organisasi skala nasional yang didirikan secara kolektif oleh 21 orang trans laki-laki pada 28 Juni 2022 (sebelumnya berbentuk kelompok kerja, berdiri sejak 2015). 

Perbedaan sejarah dalam gerakan menyebabkan informasi mengenai transgender laki-laki menjadi lebih terbatas jika dibandingkan dengan gerakan transpuan yang lebih terorganisir sejak tahun 80-an. Kurangnya akses informasi terhadap transgender laki-laki juga membuat individu trans laki-laki kerap mengalami kebingungan mengenai identitasnya dan berisiko mengalami gangguan kesehatan jiwa. Laporan pemantauan pemberitaan oleh Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat menunjukkan bahwa transgender juga sering digambarkan sebagai ancaman bagi bangsa, bertentangan dengan agama dan moral, dianggap sebagai penyakit jiwa, serta dikategorikan sebagai perilaku menyimpang. Padahal, penting untuk dicatat bahwa identitas transgender tidak lagi dianggap sebagai gangguan jiwa. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menghapus transgender dari kategori gangguan mental dalam Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD) pada 2019. 

Sekelibat Kehidupan Trans Laki-Laki

Berbagai tantangan dihadapi oleh individu trans laki-laki, bahkan dalam memenuhi kebutuhan dasar dirinya. Minimnya pengetahuan tentang situasi identitas diri dapat menyebabkan keresahan sosial dan frustasi serius. Proses penerimaan diri dan coming out (proses seorang transgender mengungkapkan identitas gendernya kepada orang lain) juga menjadi isu krusial. Ketika coming out (pengungkapan identitas diri kepada orang lain), trans laki-laki kerap khawatir akan penolakan dan diskriminasi. Tak jarang, mereka sering disalahpahami sebagai lesbian.

“Keluarga besar selalu menyuruh saya berpenampilan feminin, dan tidak lesbian. Saat saya SMP dan tinggal dengan om setelah papah saya meninggal, saya pernah diusir dari rumahnya. Alasannya karena takut anaknya ikut dan ketularan lesbi. Pada akhirnya saya harus ngekos sejak dini.” Trans laki-laki, Jawa Tengah (Menuntut Keadilan, Transmen Indonesia, 2025).

“Saya pernah diciduk Satpol PP di sebuah taman, saya lagi ngobrol, saya dimintai KTP. Waktu saya minta alasan, mereka bilang taman ini tempat keluarga. Mungkin karena penampilan saya, mereka kayaknya mikir ini laki-laki apa perempuan. Lalu saya diminta meninggalkan taman tersebut karena mengganggu kenyamanan orang lain.” (Partisipan Jawa Timur, Melihat Lebih Dekat Situasi Transmen di Indonesia, Transmen Indonesia, 2020).

Stigma dan diskriminasi karena identitas dan orientasi seksual yang terus terjadi ini menjadikan trans laki-laki berada pada posisi yang salah dan tidak sesuai dengan norma di masyarakat. Hal ini dapat mengakibatkan individu trans laki-laki menjadi tidak percaya diri, membenci diri sendiri merasa sendirian, dan berkembang menjadi depresi. Ketidakberdayaan dalam menghadapi stigma dan diskriminasi membuat individu trans laki-laki merasa sulit untuk bergerak dalam lingkungan sosial.

Dalam situasi seperti ini, bergabung dalam komunitas khusus trans laki-laki menjadi hal yang sangat penting. Komunitas menyediakan ruang aman dan trans laki-laki tidak perlu menghadapi stigma atau diskriminasi yang kerap ditemui di lingkungan luar. Di dalam komunitas, mereka dapat saling berbagi pengalaman, memperoleh dukungan emosional, dan merasa diterima apa adanya. 

Kehadiran komunitas juga memperkuat rasa kebersamaan, membangun kepercayaan diri, dan menjadi sumber informasi yang membantu individu trans laki-laki menavigasi identitas serta proses transisinya. Komunitas bukan hanya tempat berlindung, tetapi juga ruang tumbuh bersama.

Kebertubuhan Trans Laki-Laki

Tidak hanya perihal orientasi seksual, sebagian kawan trans laki-laki merasa frustasi dengan tubuhnya yang dirasa tidak selaras dengan identitas gender mereka. Banyak dari mereka yang mengalami body dysphoria, yaitu ketidaknyamanan atau penderitaan yang dialami transgender karena tubuh mereka tidak mencerminkan identitas gender yang mereka rasakan. Itu menjadi kendala trans laki-laki dalam hidup bersosialisasi. 

Patriarki dalam hal ini jelas sangat berpengaruh. Citra tubuh normatif laki-laki dalam konsep patriarkal dituntut untuk menjadi maskulin, berotot, dan berkumis atau berjanggut. Jika hal ini tidak didapatkan, muncul rasa ketidakpuasan akan tubuh, kecemasan, stress, hingga perilaku mengisolasi diri. 

Kebutuhan untuk menyelaraskan tubuh dengan identitas diri menjadi kebutuhan esensial sebagai bentuk afirmasi identitas gender. Hasil laporan PPH Atma Jaya yang kami kerjakan bersama pada 2024 menyebutkan, alasan trans laki-laki ingin menjalani transisi adalah keinginan untuk perubahan fisik, seperti pembentukan otot, menghentikan menstruasi, dan menumbuhkan rambut di area wajah. 

Meski begitu, tidak semua trans laki-laki menjalani transisi medis. Bagi kami yang menginginkan transisi medis, tahap awal yang dilakukan adalah mencari bantuan profesional, seperti psikolog atau psikiater. Kemudian, mereka akan mengkaji lebih dalam soal kesiapan mental sebelum melangkah lebih lanjut untuk melakukan transisi medis. 

Namun, langkah ini juga perlu direfleksikan secara kritis. Seberapa penting langkah ini dalam konteks patologisasi identitas transgender? Apakah konsultasi dengan psikolog atau psikiater sebagai langkah awal transisi memperkuat pandangan bahwa identitas transgender adalah kondisi patologis? Ataukah hal itu merupakan langkah yang diperlukan untuk memastikan kesejahteraan individu selama proses transisi? Bagaimana dampaknya terhadap individu transgender jika mereka menerima layanan dari profesional yang tidak memahami atau bahkan memiliki prasangka terhadap ragam identitas gender? 

Dalam hal ini, sangat penting memastikan bahwa psikolog/psikiater tempat berkonsultasi memiliki perspektif yang ramah gender dan bebas dari sikap diskriminatif. Diskriminasi dan stereotipe terhadap individu transgender dalam layanan kesehatan dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan menghalangi akses untuk mencari bantuan yang diperlukan. 

“Pernah juga, ketika ke psikiater, saya mengonsultasikan tentang saya yang transgender. Dokternya malah men-skip kasus itu dan berkata bahwa di Indonesia, khususnya [nama kota], hal seperti ini masih tabu.” Trans laki-laki, Jawa Timur (Menuntut Keadilan, Transmen Indonesia, 2025)

Penting untuk mempertimbangkan bahwa pendekatan terhadap transisi gender dapat bervariasi berdasarkan kebutuhan individu. Beberapa orang mungkin merasa bahwa konsultasi dengan profesional kesehatan mental adalah langkah awal yang penting untuk mendapatkan dukungan dan klarifikasi. Namun, beberapa orang lain mungkin melihatnya sebagai bentuk patologisasi identitas mereka. 

Oleh karena itu, refleksi pribadi dan pertimbangan konteks sosial serta budaya sangat penting dalam menentukan langkah awal yang paling sesuai dalam proses transisi. Menurut saya, memilih tenaga profesional kesehatan mental yang memiliki pemahaman mendalam tentang isu-isu transgender dan menunjukkan sikap inklusif itu sangat krusial untuk mendukung kesejahteraan mental dan proses transisi yang sehat.

Perjalanan Transisi Medis bagi Trans Laki-Laki

Setelah melakukan sesi konseling dan asesmen oleh psikiater/psikolog, jika individu transgender tersebut dirasa siap maka psikiater memberikan rujukan obat atau dokter sebagai tahap lanjut untuk terapi hormon testosteron. Sayangnya, tidak semua kawan trans laki-laki punya privilese atau akses dalam mencari bantuan profesional. Keterbatasan finansial, takut diskriminasi dalam layanan medis, hingga tidak ada dukungan dari lingkungan terdekat menjadi faktor kebanyakan trans laki-laki enggan datang kepada layanan profesional.

Terbatasnya akses ini juga disebabkan tidak adanya layanan afirmasi gender. Tidak semua layanan medis punya informasi terkait transisi. Layanan medis yang ada pun tidak semuanya ramah kepada transgender dan biayanya cenderung mahal, bahkan kebanyakan hanya tersedia di kota-kota besar. Asuransi swasta maupun paket asuransi kesehatan nasional tidak menanggung biayanya. 

Sebagian besar kawan trans laki-laki mengakses informasi melalui jalur medis, seperti informasi dari dokter spesialis di rumah sakit atau klinik. Banyak kawan yang juga memilih jalur mandiri, seperti mencari informasi melalui internet, melalui teman, hingga membeli hormon sendiri melalui marketplace. Namun, tanpa pengawasan profesional atau informasi yang cukup, hal ini rentan menimbulkan risiko pada kesehatan, seperti peningkatan tekanan darah, risiko penyakit jantung dan stroke, jerawat, masalah pada organ reproduksi, masalah fungsi hati, dan kolesterol.

Efek terapi hormon testosteron juga berpengaruh terhadap siklus menstruasi. Bagi kawan trans laki-laki yang rutin menjalani terapi hormon akan merasakan perubahan itu. Ini  salah satu kenyamanan untuk diri kami. Siklus menstruasi juga bisa menjadi salah satu hal yang membuat dysphoria bagi sebagian kawan trans laki-laki.

Di sini lah letak kerentanannya bagi kesehatan. Jika terapi tidak dalam pengawasan profesional, kita tidak akan tahu dosis yang aman untuk digunakan dan sejauh mana obat tersebut berdampak untuk kesehatan. Kesehatan diri menjadi terpinggirkan jika informasi itu tidak didapatkan dengan tepat. 

Bagi trans laki-laki, hysterectomy (operasi pengangkatan rahim) juga menjadi pilihan penting untuk mengurangi risiko yang bisa ditimbulkan karena penggunaan hormon dalam jangka panjang. Namun, ada pula teman-teman trans laki-laki yang merasa tidak nyaman jika mengakses layanan obgyn atau layanan USG. 

Salah satu pengalaman teman trans laki-laki yang diceritakan pada laporan studi kualitatif Layanan HIV Ramah Gender yang dilakukan kami bersama PPH Atma Jaya menyebutkan bahwa dia tidak nyaman datang ke klinik obgyn karena harus menunggu bersama pasien cis perempuan lainnya, sedangkan dirinya sendiri sudah melakukan transisi medis. 

Selain hysterectomy, salah satu transisi yang menjadi kebutuhan trans laki-laki adalah top surgery (mastectomy), yaitu operasi pengangkatan payudara atau rekonstruksi dada maskulinisasi. Ada pula bottom surgery (phalloplasty: operasi untuk menciptakan penis). Semua operasi ini dilakukan untuk menyelaraskan penampilan fisik dengan identitas gender. 

Namun perlu digarisbawahi, lagi-lagi, tidak semua kawan trans laki-laki memilih menjalani tahap ini karena terbatasnya informasi layanan, akses yang terbatas, dan harga yang cenderung tinggi. Top dan bottom surgery menjadi pilihan agar bisa mengurangi dysphoria terhadap tubuh dan meningkatkan rasa percaya diri.

Kenyamanan sebagai Individu Trans Laki-Laki

Melihat dari alur transisi sebagai seorang trans laki-laki, tidak bisa saya pungkiri bahwa kebutuhan diri lebih dari sekadar fisik. Lebih dari itu, transisi juga menyangkut penerimaan, kenyamanan, dan kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Kebutuhan akan informasi transisi yang merata, juga layanan akses kesehatan yang ramah, menjadi harapan bagi kami. 

Kebutuhan emosional dan sosial juga tidak kalah penting. Kami membutuhkan dukungan dari orang-orang sekitar yang dapat menerima dan memahami diri kami apa adanya. Rasa diterima dan dipahami menjadi sesuatu yang sangat berarti di tengah-tengah sistem patriarki yang terus melanggeng. 

Mau bagaimanapun bentuk tubuh–menjalani transisi medis atau tidak–identitas sebagai seorang laki-laki bukanlah ilusi atau angan-angan. Ini merupakan kenyataan valid dan autentik yang berakar dari perasaan dan pengalaman pribadi yang nyata. 

Saya menyadari bahwa kebutuhan-kebutuhan yang kami miliki sebagai trans laki-laki baik secara medis, sosial, maupun emosional sama pentingnya seperti kebutuhan orang lain untuk menjadi diri mereka sendiri. Perjalanan ini menantang, tetapi kebutuhan-kebutuhan ini mengingatkan saya bahwa saya dan teman-teman trans laki-laki lainnya layak untuk merasa nyaman dan damai, dengan semua hak, potensi, dan keinginan untuk hidup sebagai diri sendiri.


Ega Evans. Menghabiskan waktunnya dengan menjadi seorang peneliti. Ia juga terlibat dalam kegiatan advokasi untuk hak komunitas trans dan isu keadilan sosial lainnya. Ia kerap menjadi fasilitator untuk memperdalam konsep SOGIESC, baik bagi komunitas maupun di luar komunitas yang sudah dilakukan di Indonesia bagian barat, tengah, dan timur. Saat ini Ia tergabung dalam Transmen Indonesia, dan juga sedang mendapat mandat sebagai Sekretaris Nasional di Jaringan Transgender Indonesia (JTID).

Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan.