Teori feminisme hanya sekadar jadi bahan bacaan. Kampus menyembunyikan patriarki di balik tawa ringan.
Di ruang kelas, saya mengajarkan berpikir kritis kepada mahasiswa tentang keadilan dan kesetaraan gender. Tapi begitu pintu kelas tertutup, dunia akademik sering kali berubah menjadi panggung yang berbeda: penuh bisik-bisik, gurauan yang menusuk, bahkan tatapan yang membuat saya sadar bahwa status saya—perempuan lajang—bukan sekadar fakta pribadi, melainkan label sosial yang mengikuti.
Sebagai dosen perempuan yang belum menikah di sebuah universitas negeri di daerah, saya kerap diperlakukan seolah-olah “janggal”. Chat kerja di antara kolega bisa dianggap kode asmara, makan siang bareng kolega pria bisa memicu gosip, bahkan sekadar ngobrol di kantin saja bisa memunculkan senyum-senyum penuh praduga. Tiba-tiba saya bukan lagi seorang akademisi, tapi sebuah “ancaman potensial”.
Ironisnya, kampus yang mengajarkan teori kritis justru gagal menghapus pola pikir patriarkis yang menganggap perempuan lajang itu “tak lengkap”. Perempuan lajang juga dianggap sebagai sebuah masalah yang harus diselesaikan.
Tekanan Sosial: dari Candaan hingga Jodoh-jodohan
Awalnya semua terasa sepele. “Eh, dosen kita satu ini masih single, lho,” celetuk seorang kolega disambut tawa yang lain. Tapi mulai saat itulah identitas saya berubah: dari profesional menjadi objek olok-olokan.
Kalau pun bukan gosip, bentuk lain dari kontrol itu adalah matchmaking. “Aku kenal cowok cocok banget buat kamu,” kata seorang teman sejawat, seolah-olah gelar akademik yang saya raih masih belum cukup tanpa kehadiran cincin di jari. Bahkan ada mahasiswa yang dengan penuh niat baik menawarkan “calon”.
Saya teringat kritik Adrienne Rich soal compulsory heterosexuality—keyakinan sosial bahwa semua perempuan pada akhirnya “harus” menikah dengan laki-laki. Kalau menolak, wajah mereka mendadak kikuk: “Lho, kok nolak? Kan kasihan kalau sendirian terus.” Padahal yang kasihan justru mereka yang tak bisa melihat hidup perempuan sebagai sesuatu yang utuh tanpa harus berada dalam pernikahan.

Fenomena ini ternyata bukan sekadar perasaan saya. Beberapa data menunjukkan hal yang sama, bahwa partisipasi akademisi perempuan di Indonesia memang meningkat, tapi masih timpang. Data Pendidikan Tinggi di Indonesia di tahun 2024 menunjukkan hanya 46% dosen di Indonesia adalah perempuan, dan yang menduduki jabatan profesor lebih kecil lagi.
Penelitian yang dilakukan oleh Riyana Miyanti, Eny Sulistyaningrum, dan Tri Mulyaningsih di tahun 2022 mencatat bahwa perempuan pekerja sering menghadapi “double burden”, dituntut profesional sekaligus dihakimi, salah satunya karena status perkawinan mereka.
Survei SMERU pada tahun 2019 menunjukkan bahwa 80% perempuan Indonesia usia 25–34 tahun merasa ditekan untuk segera menikah, termasuk mereka yang sudah mapan secara ekonomi dan karier. Artinya, stigma terhadap perempuan lajang bukan sekadar cerita pribadi yang saya alami. Ia berakar dari norma sosial yang melekat sampai ke ruang akademik—ruang yang seharusnya paling terbuka untuk keberagaman pilihan hidup. Salah satu alasan saya untuk menekuni dunia akademik.
Teori Feminisme di Lorong Fakultas
Apa yang saya alami sejatinya adalah pelajaran praktis dari teori feminis yang selama ini diajarkan di kampus. Tokoh feminis sekaligus filsuf asal Prancis Simone de Beauvoir menyebut perempuan sebagai “the Other”, selalu didefinisikan berdasarkan laki-laki. Dalam kasus saya, saya bukan sekadar “dosen perempuan”, tapi “perempuan yang belum jadi istri”.
Aktivis dan penulis asal Amerika Serikat bell hooks menegaskan patriarki bertahan bukan hanya lewat hukum, tapi juga lewat obrolan, candaan, hingga tatapan. Persis seperti gurauan di ruang dosen yang membuat status saya jadi bahan konsumsi publik.
Filsuf Judith Butler bicara soal performativitas gender—perempuan diharapkan tampil “pantas”: profesional tapi jangan terlalu ambisius melebihi kolega pria, ramah tapi jangan kelewat akrab dengan mereka. Karena saya gagal memenuhi peran “istri/ibu” yang normal di lingkungan ini, saya dianggap mengganggu skenario yang sudah ada di dalam kehidupan akademis.
Penulis asal Negeri Kanguru Sara Ahmed memperkenalkan konsep feminist killjoy—perempuan yang dianggap “merusak suasana” karena berani menamai diskriminasi. Ya, sering kali saya dilabeli sensitif atau kurang humoris saat menolak candaan terkait status saya.
Dengan kata lain, teori feminis itu bukan sekadar teks yang dipelajari saat kuliah, tapi kenyataan sehari-hari di koridor kampus.

Beban Emosional yang Tak Kasat Mata
Hidup dalam situasi ini berarti selalu waspada bagi saya. Saya harus hati-hati dengan siapa saya duduk di kantin, bagaimana membuat pesan WhatsApp, atau dengan siapa saya pulang selepas kegiatan kampus. Semua untuk menghindari gosip.
Ini bukan sekadar profesionalisme, tapi bentuk self-protection yang terpaksa harus saya lakukan. Anehnya, beban ini hampir tak pernah ditanggung kolega pria saya, baik yang single maupun yang telah menikah.
Konsekuensinya nyata: saya pernah menolak kolaborasi riset hanya karena takut dianggap “terlalu dekat” dengan rekan pria. Saya absen di acara kampus demi menghindari omongan. Padahal, jejaring informal inilah yang sering jadi pintu naiknya karier akademik. Jadi, stigma terhadap perempuan lajang bukan cuma soal perasaan tidak nyaman—ia berdampak langsung pada mobilitas akademik.
Akademia: Canggih di Teori, Gagal di Praktik
Kampus sering tampil progresif: mengadakan seminar dengan isu-isu keadilan gender, memiliki mata kuliah feminisme, dan membuat workshop kesetaraan. Tapi di balik itu, lorong fakultas masih jadi ladang subur patriarki.
Sara Ahmed menulis dalam buku Living a Feminist Life bahwa institusi bisa saja mengutip teori feminis tanpa benar-benar mengubah praktiknya. Persis seperti yang saya alami: de Beauvoir bisa dibacakan di kelas, tapi perempuan lajang tetap jadi “anomali” di ruang dosen.

Mungkin lebih mudah bagi saya untuk diam. Menerima usaha matchmaking dengan senyum, atau membiarkan gosip berlalu. Tapi diam juga berarti ikut melanggengkan. Dengan menamai pengalaman ini, saya menolak narasi bahwa hidup saya “belum lengkap” atau sebuah “masalah” yang harus diselesaikan bersama-sama.
Lebih jauh, saya ingin perempuan lain tahu: kalau kamu merasa tidak nyaman dengan stigma itu, kamu tidak sendirian. Itu bukan “baper”, tapi bias struktural yang nyata. Saya tidak butuh “dicarikan jodoh”. Saya butuh rekan kerja yang bisa menilai profesionalisme saya tanpa kacamata status pernikahan. Saya butuh ruang akademik yang konsisten dengan nilai progresif yang selalu dikhotbahkan di kelas.
Dan yang paling penting: saya ingin kita sama-sama sadar bahwa gangguan terbesar bagi akademia bukanlah dosen perempuan yang single—melainkan bias patriarkis yang membuat mereka terus-menerus dianggap “janggal”.
Foto: Pexels.com

Resty Widyanti atau yang biasa dipanggil Rere merupakan seorang dosen muda yang percaya hidup tak melulu soal kelas dan jurnal. Ia suka berkendara tanpa tujuan jelas, membaca buku sambil mendengar debur ombak, dan tenggelam dalam obrolan tentang new media, budaya digital, hingga komunikasi lingkungan. Kadang ia menulis tentang feminisme dan fandom—karena hidup terlalu seru kalau hanya dijalani satu genre saja.


