Aktivitas klub buku bukan hanya soal isi bacaan, tapi tentang relasi dan solidaritas yang tumbuh di dalamnya.
Membaca buku sering dipandang sebagai aktivitas sunyi, seolah hanya melibatkan hubungan antara pembaca dan teks. Namun, bagi saya, membaca selalu menemukan maknanya yang lebih luas ketika dibagikan dalam ruang diskusi.
Sejak masih duduk di bangku kuliah hingga kini, saya kerap mencari dan mengikuti kegiatan yang diadakan oleh komunitas atau klub buku untuk merayakan pengalaman itu. Akan tetapi, pengalaman saya dalam dua fase ini sangat berbeda.
Relasi Kuasa dan Gender
Semasa kuliah, kebanyakan forum diskusi atau klub buku yang saya ikuti terasa begitu maskulin, dihadiri dan dipenuhi suara-suara para pria yang mendominasi. Sebaliknya, perempuan, termasuk saya, seolah menjadi anomali di tengah kerumunan pria. Tak jarang, perasaan dan tekanan untuk membuktikan diri dan gagasan agar dianggap “ada” dan “hadir” dalam diskusi terasa cukup membebani.
Saya masih ingat, suasana forum diskusi sastra dan sejarah kala itu berlangsung kaku, bahkan kompetitif. Para pria berbicara panjang lebar, kadang hingga 30–45 menit untuk menyampaikan pendapatnya sendiri, lengkap dengan kutipan teori-teori besar. Diskusi sering bergeser menjadi arena adu intelektualitas, yakni siapa yang lebih tahu dan siapa yang lebih berwibawa.
Kehadiran perempuan justru kerap dilekatkan dengan label, misalnya sebagai “perempuan keren” atau “perempuan yang mau diajak berpikir”. Seakan kehadiran kami sendiri adalah sesuatu yang luar biasa, alih-alih sesuatu yang biasa saja. Sebagai mahasiswai yang ingin menyumbang gagasan, saya merasa harus menyiapkan diri dua kali lipat dengan membaca lebih banyak, mencatat detail secara lebih cermat, hingga menyusun poin-poin agar tak salah ucap.
Tekanan itu nyata. Setiap kalimat yang saya sampaikan terasa seperti ujian, bukan percakapan.

Fenomena ini mungkin bukan pengalaman personal semata. Penelitian Evans, Alvermann, dan Anders menunjukkan bahwa dalam kelompok diskusi literatur, “gendered talk” kerap muncul. Situasi ini memperlihatkan bahwa suara laki-laki lebih banyak terdengar dan dihargai, sedangkan suara perempuan cenderung terpinggirkan.
Riset tersebut menggambarkan pengalaman saya semasa kuliah. Ada pola tak kasat mata yang membuat ruang diskusi dikuasai satu gender, sementara gender lain harus berjuang lebih keras hanya untuk diakui.
Tentu pengalaman saya tidak bisa dijadikan tolok ukur tunggal, apalagi digeneralisasi untuk semua klub buku. Namun, pengalaman itu cukup untuk menegaskan bahwa ada ruang diskusi yang tidak netral di luar sana. Ruang itu dibentuk oleh relasi kuasa, termasuk relasi gender, yang memengaruhi siapa yang terdengar dan siapa yang tidak.
Pengalaman Berkesan
Berbeda jauh dengan suasana itu, Buibu Baca Buku Book Club (BBB Book Club) menawarkan ruang yang sama sekali berbeda. Pada November 2024, saya menghadiri kegiatan bertajuk “Stories of Us: Intimate Discussion about Women’s Life and Hope” yang digelar BBB Book Club bersama Popopo Magazine, penerbit asal Korea Selatan yang banyak mempublikasikan tulisan tentang pemberdayaan perempuan, peran ayah, hingga pentingnya support system dalam tumbuh kembang anak.
Sejak awal, saya langsung merasakan kehangatan, suasana cair, tawa lepas, dan cerita-cerita personal yang mengalir dengan bebas. Tidak ada yang berlomba-lomba menunjukkan siapa paling tahu. Semua orang punya ruang menyampaikan pandangannya, bahkan jika hanya berupa pengalaman sederhana yang dipantik oleh bacaan. Justru pengalaman-pengalaman personal itulah yang membuat diskusi terasa kaya, relevan, dan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Editor Popopo, Youme, misalnya, berbagi tentang beban ganda yang ditanggung perempuan di Korea Selatan, yakni berkarier sekaligus tetap mengurus rumah tangga. Ia bercerita bagaimana ia kerap menawarkan bantuan kepada teman-teman perempuannya agar mereka bisa beristirahat sejenak dari pekerjaan domestik.
Ada juga kisah Allison, remaja asal Korea Selatan yang kini tinggal di Amerika Serikat, yang menceritakan perjalanan hidupnya sebagai skater profesional dan peran keluarganya sebagai support system terbesar.
Seorang peserta lain, Mawar (nama samaran), seorang diaspora WNI yang menikah dengan warga Korea Selatan, membagikan pengalamannya juggling antara mengasuh anak, mengurus rumah, kursus bahasa Korea, dan bekerja freelance. Semuanya dilakukan sendirian kala suaminya ditugaskan bekerja di Indonesia. Ia menyoroti perbedaan pola pengasuhan antara Indonesia dan Korea, terutama soal dukungan keluarga besar. Jika di Indonesia pepatah “it takes a village to raise a child” terasa nyata, di Korea Selatan, menitipkan anak pada keluarga bukan hal lumrah, sehingga ia harus menyiasati biaya daycare.

Di kolom chat, banyak perempuan lain (termasuk saya), baik yang sudah menikah maupun belum, turut berbagi suka-duka kehidupan mereka. Sambil menyimak dengan saksama, saya pun membagikan refleksi pribadi atas cerita para peserta tentang beban yang kerap ditanggung perempuan.
Saat itu, saya teringat pada ibu saya yang juga seorang wanita karier, dan saya berharap bisa memutar waktu untuk lebih memahami lapisan beban yang dulu ia pikul. Dahulu, saya sering kesal ketika ia pulang kerja dengan marah-marah hanya karena hal-hal yang tampak sepele, seperti ada sedikit cucian piring yang belum tersentuh karena saya dan kakak adik sibuk les, atau jemuran yang terlupa diangkat.
Kini saya sadar, hal-hal kecil itu hanyalah pintu masuk menuju kerumitan beban domestik yang menumpuk di pundaknya, apalagi ditambah dengan peran ayah yang minim, atau bahkan tak pernah terlibat dalam urusan rumah tangga. Beberapa peserta di kolom chat merekomendasikan buku yang memberi mereka kekuatan menjalani hidup atau sekadar menjadi teman jeda di tengah rutinitas yang padat.
Perempuan dan Titik Temu
Diskusi yang berlangsung telah memperlihatkan bahwa identitas sebagai perempuan bukanlah beban atau anomali, melainkan justru titik temu. Mayoritas peserta adalah perempuan, sehingga percakapan pun dipandu oleh sensibilitas perempuan dalam membicarakan pengalaman personal, relasi dengan pasangan dan keluarga, pekerjaan domestik, hingga lelucon-lelucon kecil yang jarang muncul di forum diskusi akademik.
Di ruang ini, saya merasa bebas dari tatapan menghakimi, bebas dari ekspektasi untuk selalu terdengar “cerdas” atau teoretis. Saya bisa hadir apa adanya, dengan segala kekurangan dan ketidaksempurnaan.
Yang menarik, pengalaman ini sejalan dengan apa yang disebut Heather Fotheringham tentang women’s reading groups. Menurutnya, klub buku semacam ini bukan sekadar ruang literasi, tetapi juga ruang sosial dan politik–tempat perempuan bisa mengartikulasikan dirinya dengan bebas.
BBB Book Club memberi saya pengalaman itu. Membaca tidak lagi sekadar latihan intelektual, tetapi juga praktik kolektif untuk saling mendengar, memahami, dan menguatkan.
Membaca hanyalah pintu masuk, sementara yang lebih penting adalah relasi dan solidaritas yang lahir di dalamnya. Tak kalah penting, perasaan tidak sendirian, pengalaman keseharian yang bergema di kehidupan perempuan lain, dan dukungan dari sesama perempuan memberi harapan baru.

Bagi saya, perbedaan mendasar antara pengalaman semasa kuliah dan pengalaman di BBB Book Club adalah rasa aman. Dulu, forum diskusi dan klub buku terasa seperti arena adu wacana dan penuh tekanan untuk membuktikan diri. Kini, forum diskusi justru menjadi ruang intim, tempat setiap pengalaman, sesederhana atau sepraktis apapun itu, dianggap berharga. Ia menjadi ruang lintas usia dan latar belakang yang menyembuhkan.
Kegiatan ini menyadarkan saya bahwa membaca memang lebih dari sekadar aktivitas sunyi. Ia bisa menjadi praktik kebersamaan, solidaritas, dan bahkan alternatif terhadap struktur kuasa yang kerap menghadirkan tekanan, asal diiringi kesediaan untuk benar-benar saling mendengar tanpa menghakimi.
Sumber foto: Freepik

Regina Nopia Helnaz menamatkan studi pascasarjana Ilmu Susastra dengan peminatan Cultural Studies di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia pada tahun 2025. Sebelumnya pernah bekerja sebagai editor di penerbit buku anak. Memiliki minat penulisan seputar sastra dan budaya populer..


