Menjadi Transpuan: dari Ruang Privat ke Ruang Publik

Ide Utama

Menjadi transpuan adalah proses panjang memahami diri di tengah banyak batas. Di setiap langkahnya, ada pertarungan untuk menjadi utuh, terlihat, dan diterima.

Proses penerimaan diri bagi individu transpuan merupakan tahap yang krusial. Proses ini terdiri dari dua segmentasi yang saling berkaitan, yakni: coming in dan coming out. Bagaimana seorang individu dapat menerima kelebihan dan kekurangannya melalui kesadaran reflektif yang kemudian ditampakkan kepada orang banyak. Proses ini dimaknai oleh sebagian orang sebagai simbol kelahiran kembali seorang individu baru dengan segala transformasi emosional, mental, fisik, dan spiritualnya.

Mencintai Diri secara Utuh

Sebagai seorang transpuan, saya mulai menyadari jati diri saya sejak usia dini. Saya selalu merasa diri saya berbeda dari anak laki-laki lainnya. Saya selalu risih bila diasosiasikan sebagai anak laki-laki dan lebih suka mengasosiasikan diri sebagai anak perempuan. Perbedaan ini ternyata bukan hanya disadari oleh saya, tetapi juga orang di sekeliling saya. 

Beberapa upaya yang disengaja maupun tidak untuk mengikuti konstruksi sosial, telah saya lalui. Mulai dari pembulian, disiplin militer, hingga exorcism. Anehnya, hal-hal ini justru mengukuhkan identitas saya.

Kesadaran ini justru semakin masif divalidasi dan seolah diarahkan oleh semesta. Mula-mula berawal dari banyak pihak memanggil saya “Mbak” di telepon hingga akhirnya memposisikan diri saya sebagai benar-benar individu perempuan di ruang-ruang publik. Hal inilah yang akhirnya memantik saya untuk berefleksi secara magis mengenai siapa saya dan apa tujuan saya diciptakan ketika saya menginjak umur 18 tahun.

Dorongan untuk memulai transisi secara sosial akhirnya saya rasakan karena lingkungan yang tidak aman ketika saya menampilkan diri sesuai jenis kelamin saat lahir di ruang publik. Adanya ketidaksesuaian atribut fisik dengan sex atau jenis kelamin, seperti suara high-pitch serta bentuk pinggul dan bokong yang besar sering kali memposisikan saya sebagai samsak berjalan, sasaran empuk praktik pembulian. Mulai dari harassment hingga assault pernah saya alami. Pelakunya bukan hanya teman sebaya dan anak kecil, namun juga orang dewasa. Tidak melulu laki-laki, terkadang juga perempuan. Sering kali terjadi di ruang pribadi, sayangnya tak jarang juga terjadi di ruang terbuka.

Awalnya transisi ini dimulai dari perubahan kecil, seperti bagaimana saya berusaha memasukkan unsur feminin tanpa mengeluarkan sisi maskulin dari pakaian saya. Memakai blouse dan celana panjang ketat, menggunakan lipstik, ataupun memakai warna-warna yang lebih vibrant dengan potongan rambut mandarin undercut dan sepatu pantofel selalu menjadi alternatif saya. Percampuran antara unsur maskulin dan feminin yang coba saya tampilkan ini disebut androgini. 

Perubahan-perubahan ini pun berkembang menjadi semakin feminin seiring berjalannya waktu, terutama karena alasan keamanan saya di ruang publik. Dengan adanya perubahan ini, saya justru merasa agresi verbal yang biasa dilontarkan para cishet-men menjadi sangat berkurang. Tak jarang, bahkan menjadi sangat ramah dan helpful saat dibutuhkan karena mengira saya adalah seorang cis-perempuan yang secara konstruksi sosial patut untuk dibimbing dan dilindungi. 

Hal ini akhirnya menjadi strategi saya dalam berinteraksi dengan cishet-men di ruang-ruang sosial. Dengan mengambil peran sebagai perempuan justru menghindarkan saya pada praktik-praktik kekerasan, melindungi saya serta menghadirkan ruang yang aman dan nyaman bagi saya. Hal ini tanpa saya sadari akhirnya mempengaruhi bagaimana saya melihat citra diri saya. Atribut fisik yang tadinya terlihat tidak cocok secara normatif justru secara tidak langsung melindungi saya karena mendukung cara saya menampakkan diri dan berperan sebagai perempuan di muka umum. Sedari titik tersebut, saya pun memulai proses mencintai diri saya secara utuh.

Bercermin dari Pekerja Seks, Mengeksplorasi Tubuh

Proses penerimaan diri merupakan hal yang dinamis. Love-hate relationship pada atribut fisik merupakan hal yang wajar dalam dinamika penerimaan diri individu transpuan. Oleh karena itu banyak individu transpuan yang melakukan prosedur GAC (Gender Affirming Care), baik karena alasan keamanan, kenyamanan diri, maupun tuntutan pekerjaan.

Tidak semua individu transpuan menjadi pekerja seks sebagaimana banyak orang mencirikannya. Walaupun sebagian individu transpuan awalnya menjual jasa sebagai pekerja seks, alasannya lapangan dan kesempatan kerja yang kurang. Dalam perkembangan zaman, tak dipungkiri opsi pekerja seks sebagai pilihan pekerjaan yang digemari menjadi semakin marak. Ini justru menjadi bentuk perlawanan untuk hak otonomi atas tubuh. 

Menurut Juno Marc dan Molly Smith dalam bukunya yang berjudul Revolting Prostitutes The Fight for Sex Workers Rights (1917) dalam prostitutes march di San Fransisco yang disebut sebagai ‘original Women’s March’, salah seorang pembicara berseru, “Hampir setiap dari perempuan ini adalah seorang ibu atau mempunyai seseorang yang bergantung pada mereka. Mereka didorong ke dalam kehidupan ini oleh kondisi-kondisi ekonomi… Kalian tidak melakukan kebaikan dengan menyerang kami. Mengapa kalian justru tidak menyerang kondisi-kondisi tersebut?” Hal ini menunjukkan bahwa memang pada awalnya mau-tidak-mau banyak perempuan yang terjun sebagai pekerja seks disebabkan alasan-alasan ekonomi. 

Seiring berjalannya waktu, banyak individu akhirnya nyaman dan menyukai pekerjaan ini. Hanya saja, situasi lingkungan masyarakat yang konservatif membuat hal-hal seperti ini akhirnya hanya disimpan dalam hati dan tidak pernah dibicarakan dalam ruang-ruang diskusi publik. Berbeda dengan kondisi sekarang; HAM (hak asasi manusia) semakin digalakan, kebebasan berpendapat semakin dijunjung, dan banyak orang mulai mendobrak stigma untuk membuat sistem yang lebih baik. Membuat banyak orang akhirnya berani speak-up mengenai kehidupan, pekerjaannya, hal-hal tabu tentang dirinya, termasuk menjadi seorang pekerja seks.

Sebuah studi yang dikutip oleh The Perspective menyebutkan bahwa di kawasan Asia-Pasifik, termasuk Indonesia, antara 80–90% populasi transgender terlibat dalam pekerjaan seks sebagai akibat dari keterbatasan akses terhadap pekerjaan formal. Stigma pekerja seks ini dalam pengalaman saya akhirnya berdampak besar khususnya pada tuntutan eksplorasi seksual yang justru menyebabkan ketidaknyamanan bagi saya sebagai individu transpuan. 

Eksplorasi seksual yang gagal menyebabkan saya sering mempertanyakan fungsi tubuh saya dalam ranah seksualitas. Saya sering kali menghadapi situasi turn-off ketika partner seksual saya justru mulai menyentuh area pribadi saya. Walau di satu sisi, saya tahu dengan melakukan terapi hormonal secara rutin dapat mengakibatkan penurunan libido yang signifikan, namun itu bukan alasannya. 

Dalam pengalaman saya, libido yang tinggi akan tetap terjaga selama bagian private saya tidak tersentuh. Secara pribadi saya merasa tidak memiliki masalah dengan bagian private saya. Ukurannya yang cenderung di bawah rata-rata justru seolah memvalidasi keperempuanan saya. Tetapi dengan adanya stigma ini, terkadang membuat saya seakan mempertanyakan identitas saya. 

Dalam stigma perilaku seksual oleh teman-teman transpuan, role sex menjadi penting ketika bersangkutan dengan keinginan atau fantasi seksual. Dalam peran seksual yang heteronormatif, ada dua kategori peran yang dimainkan oleh pelaku seksual yakni; top (atas) dan bottom (bawah). Sedangkan, dalam dunia queer, role sex ini tidak terpaut hanya dalam dua role saja, tetapi perannya lebih cair. 

Sebagai contoh, ada role vers yang bisa memerankan keduanya mengingat proses kenikmatan seksual begitu bervariasi. Ketika berhubungan seksual dengan individu transpuan, ada ekspektasi peran seksual untuk menjadi top dan bottom. Toplady merupakan sebutan bagi individu transpuan yang mampu melakukan peran keduanya. 

Bagi saya, ini secara tidak langsung membuat stigma sekaligus isu tersendiri karena situasi ranjang juga erat berkaitan dengan situasi romansa yang dihadapi oleh teman-teman transpuan. Dalam banyak kasus, hubungan romantis dengan individu transpuan berawal dari pasangan ketika menjalankan diri sebagai pekerja seks  maupun hanya sekadar teman tidur. Ini menjadi stigma berlapis bagi saya. 

Perlu diingat bahwa tidak semua individu transpuan aktif secara seksual, apalagi mampu dan nyaman mengambil peran sebagai toplady, sehingga pola-pola hubungan romantisme di atas terasa mustahil bagi saya. Ada  rasa tidak percaya diri yang muncul akibat fungsi dan atribut fisik yang dinilai tidak sesuai dengan stigma transpuan yang ada di komunitas. 

Meskipun demikian, dari sudut pandang positif, peran seorang toplady dapat dimaknai sebagai bentuk emansipasi dan perlawanan terhadap sistem patriarki. Dalam hal ini, seorang perempuan transgender—yang juga merupakan bagian dari kelompok perempuan—mampu menantang stigma tradisional yang selama ini melekat pada perempuan yang kerap diposisikan sebagai pihak yang menerima dalam konteks penetrasi. Sebaliknya, toplady justru menunjukkan bahwa perempuan juga bisa mengambil peran sebagai pihak yang memberi dalam relasi seksual.

Komunitas sebagai Keluarga

Dalam kultur keluarga pilihan komunitas transpuan, terdapat orang tua asuh yang disebut “Mak ayam, Emak, atau Mami”. Sosok itu lah yang sering kali membimbing dan merawat transpuan-transpuan muda yang kabur dari keluarga dan butuh tempat untuk bernaung. Mak ayam biasanya memiliki lebih dari satu anak asuh. Dalam banyak kasus, individu transpuan yang kabur dari rumah sering kali belum genap berusia 18 tahun. Sekalipun sudah berusia di atas 18 tahun dan memiliki KTP (Kartu Tanda Penduduk), banyak dari mereka juga yang berakhir kabur tanpa membawa apapun, termasuk KTP. Hal inilah yang menuntut peran Mak ayam lebih jauh, untuk step up dan mengambil role sebagai orang tua. 

Ia berkoordinasi bukan hanya dengan tetangga lingkungan sekitar, tetapi juga RT dan RW demi keamanan anak-anaknya. Ia membantu untuk mengurus KTP hingga membuat KK (Kartu Keluarga) baru untuk memastikan perlindungan dan hak-hak yang didapat oleh anak-anaknya setara di mata hukum. 

Ia memberikan support moral yang belum tentu bisa diberikan oleh orangtua kandung anak-anak tersebut. Ia mengaktifkan survival mode pada diri mereka dengan memberikan kepercayaan serta pengajaran secara penuh, mulai dari bagaimana caranya bertransisi–bagi yang memerlukan–hingga cara bertahan hidup di jalanan. Termasuk mencari makan, mengamen, hingga menjadi seorang pekerja seks yang benar dengan segala edukasi “seadanya”. “Seadanya” di sini merujuk pada pengajaran proses transisi berisiko yang diturunkan. Mereka juga menurunkan pengetahuan tentang terapi hormon. 

Maraknya praktik transisi tanpa pengawasan medis ini tanpa disadari akhirnya menjadi sebuah budaya kolektif dalam komunitas transpuan. Pengalaman ini menjadi sesuatu yang diwariskan secara turun-menurun. Faktor ekonomi, kurangnya penerimaan, dan upaya perlawanan stigma dan diskriminasi dari keluarga dan lingkungan terdekat mendorong banyak individu transpuan akhirnya memilih keluar dari rumah dan membangun keluarga mereka sendiri. 

Kemudian, dalam kasus penyesuaian tubuh, sering kali teman-teman transpuan melakukan penyesuaian tubuh dengan prosedur yang tidak tepat. Membuat prosedur ini dinilai berbahaya karena tak jarang dapat meregang nyawa. Prosedur penyesuaian tubuh melalui penyuntikan silikon itu dilakukan oleh Mak Ayam tentu karena akses lainnya tidak tersedia. Ini merupakan salah ruang yang diintervensi dari transpuan, oleh transpuan, dan untuk transpuan. Prosedur ini tetap banyak diminati karena alasan ekonomi. 

Perjalanan Transisi

Saya mulai bertransisi tanpa pengawasan dokter pada usia 22 tahun dengan bantuan beberapa teman yang lebih berpengalaman. Saya dan teman-teman  transpuan lain juga membaca jurnal penelitian–sering kali dalam bahasa Inggris–dan berdiskusi dalam ruang publik internasional untuk tahu proses atau dosis transisi yang aman. Jadi, kami saling berbagi pengetahuan yang kami dapat. 

Saya menyadari bahwa ini merupakan privilese bagi sebagian transpuan. Saya mengawali transisi dengan penggunaan pil hormonal, kemudian berubah menjadi injeksi untuk mendapatkan efek yang lebih maksimal. Hal ini sejalan dengan data yang saya peroleh. Bahwa dari survei yang terdapat dalam penelitian layanan kesehatan ramah gender yang saya dan teman-teman lakukan, ditemukan dua metode terapi hormonal yang paling sering digunakan oleh kawan-kawan transpuan, yaitu oral (72,9%) dan injeksi (83,3%), diikuti 2% terapi hormonal oles, dan 2% terapi hormonal tempel.

Berdasarkan survei yang kami lakukan dalam penelitian “Layanan HIV Ramah Gender”, lebih dari 90% transpuan menggunakan hormon untuk memperlambat pertumbuhan rambut seperti facial hair, bulu kaki, bulu tangan; memperbesar payudara; dan memperhalus kulit. Sementara itu, 64% di antaranya menggunakan hormon untuk memperhalus suara, dan 76%  untuk memperbesar pinggul. Data ini sejalan dengan apa yang saya rasakan. Dengan terapi hormonal, saya merasa bulu-bulu di tubuh saya lebih lambat bertumbuh serta distribusi lemak dalam diri saya pun ditempatkan pada bagian-bagian yang memunculkan kesan feminim seperti payudara dan facial fat

Saya merasa bahwa proses transisi dan penerimaan diri yang dinamis ini sebenarnya bisa didukung secara positif apabila saya memiliki akses, support, dan kondisi finansial yang sesuai. Mengingat berdasarkan data yang saya temukan, penggunaan hormon lebih awal bahkan sejak usia 12 tahun, di bawah pengawasan endokrinologis pediatric dapat menunda efek disforia gender dengan lebih efektif dibandingkan penggunaan pada kemudian hari. 

Dalam beberapa kasus, terapi hormon dan penyesuaian bentuk tubuh tanpa pengawasan dokter bisa menjadi prosedur yang berbahaya. Hal ini akhirnya melahirkan stigma yang salah. Salah satu kekeliruan yang dianggap benar adalah semakin banyak hormon yang digunakan akan semakin feminin individu tersebut. Padahal, penggunaan hormon estrogen yang melebihi dosis justru akan membuat tubuh mengubah kelebihan estrogen tersebut menjadi testosteron. 

Proses terapi hormon tanpa pengawasan dokter tentu saja memiliki banyak risiko. Berdasarkan data yang saya peroleh, transisi tanpa pengawasan dokter memiliki risiko komplikasi, seperti pembekuan darah, peningkatan kolesterol, kerusakan hati, pengeroposan tulang, dan dapat mengakibatkan disfungsi ereksi serta penurunan libido. 

Lalu pertanyaanya, “mengapa saya masih rutin melakukan terapi hormonal?” Jawabannya, karena meskipun memiliki banyak risiko, berdasarkan pengalaman saya dan dibuktikan dalam banyak jurnal penelitian, terapi hormonal dapat meningkatkan kualitas hidup seorang transgender. 

Penolakan Pelabelan dari Pihak Medis

Kurangnya akses juga bukan menjadi penentu utama para individu transpuan melakukan transisi mandiri. Stigma dan diskriminasi oleh tenaga medis serta penentangan terhadap label “sakit” menjadi alasan-alasan lainnya yang menyebabkan individu transpuan bertransisi. 

Stigma dan diskriminasi oleh tenaga medis dinilai disebabkan karena tenaga medis yang terkapasitasi hanyalah yang bekerja di sektor-sektor terkait HIV dengan sistem penugasan yang selalu dirotasi. Hal ini menyebabkan tidak adanya pengakaran dan kurangnya penyebaran kesadaran maupun pengetahuan di layanan kesehatan. Dibuktikan dengan masih banyaknya laporan-laporan terkait stigma dan diskriminasi terjadi di sektor-sektor layanan HIV, terutama yang dilakukan oleh staf. Contohnya, masih banyak staf yang memanggil dengan nama lahir serta beberapa laporan ditertawakan dan menjadi bahan gunjingan para staf saat teman-teman transgender datang ke puskesmas.

Selain itu, pada era modern sekarang ini, banyak aktivis transpuan menyerukan penolakan terhadap pelabelan “gender disforia”. Gerakan ini merupakan bentuk perlawanan terhadap stigma yang menganggap bahwa LGBT–terutama transgender dalam kasus ini–sebagai suatu penyakit. 

Pelabelan “sakit” ini dinilai tidak memvalidasi nilai-nilai individu transpuan dikarenakan pertimbangan transisi seseorang bukan hanya dilihat dari kacamata medis dan psikologisnya saja, tetapi juga bahkan bisa dari sisi spiritualnya. Transformasi ini tidak hanya terjadi secara mekanis, tetapi juga batiniah. 

Hal tersebut juga didukung dengan data yang saya peroleh. Bahwa dalam praktiknya, teman-teman yang berusaha mengakses layanan kesehatan psikologis untuk mendapatkan akses terapi hormon justru mendapat respons, “belum cukup trans atau belum siap,” dari psikolog. Prosesnya menjadi sangat lama, bahkan ada yang mencapai tujuh tahun lamanya. 

Menurut responden, respons psikolog yang demikian itu justru membuatnya sering putus asa, kehilangan rasa percaya diri, bahkan terkadang meningkatkan pikiran untuk bunuh diri. Kemudian, dalam asumsinya pada periode asesmen, sinyal ini ditangkap oleh psikolog dan/atau psikiater yang justru diidentifikasi sebagai tanda ketidaksiapan diri seorang individu menjadi seorang transgender.

Pengalaman reflektif ini yang akhirnya menyadarkan seseorang mengenai kesejatian dirinya. Prosesnya dianggap tidak mudah karena melalui proses yang panjang, dinamis, tidak selalu bersamaan (coming in dan coming out), serta autentik pada setiap individu. Proses ini berkaitan dengan banyak aspek kehidupan dan di antaranya dalam konteks kehidupan transpuan, berkorelasi erat dengan body image serta proses transisi. Banyaknya individu transpuan yang mengalami body image disruptif akhirnya melahirkan perubahan besar pada sistem yang normatif.


Saintalensa. Seorang transgender yang bersemangat dan berkomitmen terhadap penelitian, studi gender dan industri hiburan, khususnya yang berkaitan dengan studi LGBTQ+. Saya senang dapat membawa sudut pandang dan pengetahuan khusus saya ke posisi ini. Saya berdedikasi untuk menggunakan data-data penelitian yang telah saya lakukan sebagai landasan media sosial guna memajukan visibilitas LGBTQ+, memperjuangkan hak yang sama, dan menumbangkan norma-norma masyarakat. Saya ingin menghasilkan materi yang menarik dan berpengaruh yang menginformasikan, memberdayakan, serta menginspirasi berbagai audiens menggunakan pemahaman saya tentang media seni, studi gender, dan masalah LGBTQ+. Mari bekerja sama untuk membangun lingkungan digital yang menghargai keberagaman, mendorong pemahaman, dan mengkatalisasi perubahan yang konstruktif.

Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan.