Lewat surat ini, aku mencoba mengurai semua yang selama ini hanya mampu kusimpan rapat.
Kepada Ibu di rumah,
Apa Ibu masih ingat hari itu?
Saat pertama kali aku datang menemuimu. Aku berjalan mendekat ke arah Ibu dengan langkah berat. Tenggorokan pun terisi penuh dengan kata yang sulit sekali untuk terucap. Kuperhatikan raut wajah Ibu yang hangat dan bersemangat menceritakan tentang hal yang telah dilaluinya kepada anak yang dirindukan setelah dua tahun merantau.
“Bu, aku diterima kerja di Jakarta. Tiga hari lagi, aku harus berangkat ke sana.” Begitu aku memulai percakapan kita dengan rasa canggung seperti biasa. Seketika Ibu diam. Ibu menunduk. Berusaha menyembunyikan air mata dan melamun dengan tatapan kosong sembari menaruh piring yang sedang dilap.
Bu, tak terasa setahun sudah anak Ibu ini tinggal di Jakarta. Mimpi apa ya, anak Ibu bisa menetap dan bekerja di sini? Kadang aku masih tak percaya, Bertahun-tahun, keluarga kita amat jarang bepergian karena kita tidak punya uang. Tapi kini, aku justru merantau jauh dari rumah, ke luar pulau yang dulu hanya ada dalam angan.
Bu, setiap langkahku keluar rumah hingga bisa bertahan di sini tak lepas dari bantuan teman-temanku. Ibu tahu nggak, siapa yang selama ini menjaga dan membantuku? Apa Ibu masih ingat? Dulu, Ibu begitu khawatir ketika tahu aku berteman dengan mereka hanya karena pilihan gaya rambut pendek dan pakaian yang berbeda dengan anak perempuan pada umumnya. Haha, lucu juga ya, Bu, waktu itu aku selalu sembunyi-sembunyi kalau mau main sama mereka.
Mereka, bukan teman-teman sekolahku, bukan pula teman yang Ibu harapkan. Tentu, karena Ibu hanya mengizinkan aku bermain dengan teman-teman yang berhijab, berambut panjang, dan berpakaian feminin karena dianggap lebih sopan dan sesuai aturan. Tapi, Bu, justru mereka lah yang kini menjadi tameng dan tempat berlindungku.

Aku merasa hidupku bukan milikku. Memutuskan untuk berani mengambil alih diriku dari milik orangtua saat itu sangatlah berat. Aku harus menjadi setengah gila karenanya. Setiap malam, aku terus berdebat hebat dengan diri sendiri hanya untuk memberitahu Ibu bahwa aku ingin pindah dan bekerja di Jakarta. Aku tahu, keputusan ini pasti membuat hati Ibu terluka.
Namun, aku sadar aku bertaruh dengan diriku sendiri. Kalau bukan sekarang kapan lagi, sampai kapan aku harus hidup berpura pura menjadi anak perempuan sesuai standar Ibu? Selama ini aku terbiasa mengalah demi menjaga harmoni keluarga dan untuk menghindari konflik. Aku tidak punya kuasa sama sekali untuk menentukan jalan hidupku. Semua hal atas diriku wajib mendapatkan persetujuan dari orang tua, terutama dari Ibu.
Aku tahu, aku tidak bisa berdiam diri tanpa melakukan apapun. Bayangan tentang bagaimana aku akan menua tanpa capaian apa-apa muncul di kepala. Aku tidak ingin menghabiskan sepanjang nafasku hanya untuk membantu kedua saudariku saja. Menjaga anak-anaknya dan mencuci baju mereka. Seolah tak ada lagi yang bisa aku lakukan. Sebenarnya aku tidak masalah ketika diminta untuk membantu untuk satu-dua kali. Tetapi lama-lama, aku merasa itu seolah menjadi kewajibanku. Alasannya, “Kan kamu nggak ngapa-ngapain di rumah!”
Setelah setahun merantau, aku mulai berpikir, ternyata menjadi setengah gila pada saat itu tidak terlalu buruk. Hahaha.
Sekarang aku berkesempatan bekerja bersama komunitas transgender, khususnya translaki-laki, di lingkungan kerja yang menerima dan menghargai ekspresiku. Aku memiliki penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, memiliki sudut kerjaku sendiri, juga komputer impian yang dulu cuma bisa aku lihat di rumah sepupuku. Bahkan, sekarang aku juga bisa ikut memberikan uang untuk Ibu dan Ayah, juga membelikan baju lebaran yang dulu tidak bisa aku berikan.
Bu, Tuhan itu sangat baik, ya. Ia menolong hamba-Nya tanpa melihat identitas gender dan orientasinya. Terima kasih, Tuhan.
Kesempatan kerja datang saat aku mulai bingung bagaimana cara untuk menyambung hidup di sini dengan pendapatan jauh di bawah Upah Minimum Regional (UMR). Saat itu, aku memiliki pendapatan satu juta rupiah per bulannya sebagai admin paruh waktu di salah satu organisasi transgender. Aku sangat bersyukur selama setahun di Jakarta, aku diberikan tempat tinggal oleh sahabatku, bahkan diberikan uang saku 800 ribu per bulan selama 6 bulan penuh.
“Adik pakai uang ini untuk biaya makan sebulan, ya. Uang gaji adik disimpan aja,” katanya begitu.
Selain bekerja sebagai admin, aku juga mencoba peruntungan lain dengan bekerja sebagai pet sitting. Pekerjaan ini aku tekuni hanya dengan berbekal pengalamanku memelihara kucing sebelumnya. Dari pet sitting, sehari aku bisa mendapatkan 100 ribu rupiah.
Karena kebutuhan kerja yang berbeda, kami memutuskan mencari tempat tinggal masing-masing. Saat itu lah, aku mulai berpikir bagaimana cara menyambung hidup di Jakarta. Apakah aku harus balik kampung lagi dan menyerahkan kebebasan diri? Karena hanya dengan uang tabungan yang tersisa dan gaji 1 juta rupiah, hampir mustahil aku bisa bertahan lama di sini.

Suatu hari, teleponku berdering dan muncul satu nama teman translaki-laki. Aku mendapat tawaran untuk bergabung menjadi salah satu dari peneliti komunitas.
“Apa aku pantas, Bu?”
“Apa aku benar-benar bisa bertanggung jawab dengan pekerjaan ini?”
“Bagaimana kalau ternyata aku gagal?”
“Jangan-jangan, aku hanya akan menjadi beban dalam proyek besar ini.”
Pertanyaan-pertanyaan itu hanyalah sebagian kecil dari banyaknya keraguan atas diriku yang muncul. Aku masih tidak bisa memberikan konfirmasi apapun. Aku berpikir keras tentang tawaran itu, menimbang segala kemungkinan juga ketakutanku sendiri. Aku ceritakan hal itu kepada sahabat dan pasanganku saat itu.
“Kamu pasti bisa, Dik.”
“Kamu pasti bisa, Yang.”
Dua kalimat sederhana itu seperti pelita yang menuntunku keluar dari keraguan dan tidak mengalah dengan rasa takutku. Sekarang, Bu, aku ingin menceritakan semuanya kepadamu, tentang bagaimana akhirnya aku menjadi peneliti komunitas.
Bu, sejak aku menerima tawaran itu, banyak hal berubah dalam hidupku. Aku bertemu dengan orang-orang yang luar biasa. Kini, aku bekerja sebagai peneliti komunitas bersama teman-teman translaki-laki dan transpuan. Ya, Bu, mereka adalah teman-teman transpuan pertamaku. Kini menjadi rekan kerja sekaligus saudara seperjalanan
Sekarang, aku mulai lebih memahami kehidupan teman-teman komunitas, tentang perjuangan mereka dan kenyataan yang jarang terlihat di permukaan. Dari hasil kerja kami, aku tahu bahwa sebanyak 28% dari 109 translaki-laki memilih untuk tinggal di rumah anggota keluarga. Tapi di balik itu, ada fakta yang lebih sunyi: 39% dari mereka terindikasi mengalami kecemasan dan depresi ringan. Sementara itu, 2% lainnya, menunjukkan gejala kecemasan dan depresi berat. Data ini bukan sekadar angka. Ini adalah potongan realitas yang tiap hari mereka hadapi.
Sebenarnya, ada yang mengganggu pikiranku, Bu, tentang tingginya angka depresi di kalangan translaki-laki. Aku merasa, tinggal di rumah bersama keluarga bisa jadi berpengaruh besar terhadap kondisi itu. Mungkin ini hanya asumsiku saja, tapi aku melihatnya berdasarkan pengalamanku pribadi.
Selama kurang lebih 30 tahun tinggal di rumah, aku tidak mendapatkan pengakuan atas identitas genderku. Aku dikondisikan untuk hidup sebagai anak perempuan yang harus menurut perkataan orangtua, tanpa ruang kebebasan untuk mengambil keputusan atas diriku. Aku terpaksa berpura pura menjadi anak perempuan seperti yang diinginkan. Itu sangat menyiksaku, Bu. Aku yakin juga banyak teman translaki-laki yang merasa demikian.
Aku tahu, pasti dari tadi Ibu bingung, kan? Aku terus-menerus menyebutkan transpuan dan translaki-laki. Jadi, Bu, transpuan adalah orang yang ditetapkan sebagai laki-laki saat lahir, tetapi mengidentifikasi dirinya sebagai perempuan. Nah, sedangkan translaki-laki itu sebaliknya. Translaki-laki adalah orang yang ditetapkan sebagai perempuan ketika lahir, tetapi mengidentifikasikan dirinya sebagai laki-laki.
Jadi, jelas kami bukan orang yang kerasukan yang harus dirukiah ustaz. Bu, aku tahu, pasti Ibu sudah merasa kalau aku berbeda dengan anak Ibu yang lainnya. Tapi, tolong… jangan anggap aku sebagai aib keluarga, ya, Bu.
Bu, bagaimana pun ekpresiku, apapun identitas genderku, semua itu sama sekali tidak mengurangi rasa sayangku pada Ibu. Sebenarnya, sudah sejak lama aku ingin memeluk Ibu, bersandar di pangkuan Ibu, dan bercerita tentang semua yang aku lalui ke Ibu. Tapi, jujur, Bu, saat itu aku takut. Aku takut jika Ibu bertanya tentang ekspresiku, tentang pekerjaanku, tentang hidupku, dan hal-hal yang belum tentu bisa aku jelaskan dengan mudah. Aku sering menghindar dan menyembunyikan diri dari Ibu. Aku takut Ibu tahu bahwa selama ini aku hanya berpura-pura menjadi anak perempuan seperti yang Ibu inginkan. Maaf, ya, Bu.
Bu, di akhir surat ini, aku, anakmu, ingin bilang terima kasih sudah membesarkanku dengan segala cinta dan kasih sayang. Pasti berat, ya, mengingat ini adalah pengalaman pertama Ibu memiliki anak translaki-laki. Terima kasih sudah melewati sampai hari ini dan sudah berproses bersama. Sekarang aku sudah tidak marah ataupun benci. Rasa benci itu berubah mekar menjadi kasih dan sayangku yang tak bisa diukur dengan kata-kata. Aku sayang Ibu. Selalu.

Another.plankton. Anak kedua dari tiga bersaudara. Lulusan S1, saat ini disibukkan sebagai admin di lingkungan kerja inklusif yang diimpikan-tempat dimana bisa menjadi diri sendiri tanpa rasa takut akan stigma. Memiliki ketertarikan besar pada videografi dan bermimpi bisa memproduksi karya film yang mengangkat cerita tentang kehidupan seorang translaki-laki dalam menghadapi dunia.


