Filsafat sering dianggap milik mereka yang berpikir di ruang sunyi, bukan mereka yang bekerja dalam sunyi. Padahal, absurditas juga hidup di dapur, di ruang cuci, dan di sela rutinitas yang terus berulang.
“Aku membersihkan rumah hari ini. Besok akan kotor lagi. Tapi entah kenapa, aku tetap melakukannya.” Kalimat itu dilontarkan seorang ibu dalam sebuah forum daring. Tidak ada nada putus asa dalam ucapannya, tidak pula kemarahan. Ia hanya menyampaikan sebuah kenyataan, seolah sedang membaca ulang hidupnya tanpa perlu menambahkan apapun. Ujarnya terdengar seperti pengakuan biasa, padahal di dalamnya tersembunyi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar rutinitas: absurditas.
Dalam pemikiran Albert Camus, seorang filsuf asal Prancis, absurdisme lahir dari benturan antara hasrat manusia untuk mencari makna hidup dan kenyataan bahwa dunia hanya diam tanpa memberi jawaban apapun. Ketika manusia menginginkan jawaban tetapi realitas tetap sunyi, maka lahirlah absurditas itu.
Absurditas di Balik Tembok Rumah
Dalam karyanya yang berjudul The Myth of Sisyphus, Camus menggambarkan absurditas sebagai keinginan manusia akan kejelasan bertemu dengan dunia yang tidak masuk akal. Biasanya absurditas dibahas dalam konteks filsafat yang berat, dalam karakter sastra yang gelisah, juga dalam kerangka pemikiran eksistensial yang berputar di ruang-ruang akademik.
Namun, bagaimana jika absurditas itu justru paling kentara dalam ruang yang tidak dianggap penting oleh dunia filsafat laki-laki seperti dapur dan ruang keluarga?
Sisyphus, dalam mitologi Yunani, dihukum oleh para dewa untuk mendorong batu besar ke puncak bukit hanya untuk melihatnya jatuh kembali, lalu mengulanginya selamanya. Tidak ada akhir, tidak ada penyelesaian. Hanya siklus yang tak pernah berhenti. Sisyphus menjadi lambang manusia modern yang terus bergulat dengan makna dalam dunia yang absurd.
Namun mari kita bayangkan ini: setiap pagi seorang ibu bangun, menyiapkan sarapan, mencuci piring, menyapu lantai, merapikan tempat tidur, lalu mengulanginya setiap keesokan hari. Tidak ada akhir dari pekerjaan itu. Tidak ada hasil akhir yang bisa dipamerkan. Tidak ada momen klimaks. Segalanya berlangsung dalam repetisi yang tenang, seperti batu yang terus kembali menggelinding ke bawah.

Penelitian dari sosiolog Arlie Hochschild dan Anne Machung yang dituangkan dalam buku The Second Shift menunjukkan bahwa perempuan-terutama ibu rumah tangga-sering mengalami beban kerja ganda. Beban itu berupa bekerja secara profesional di luar rumah sekaligus bertanggung jawab atas pekerjaan domestik. Beban ini tidak hanya berkutat soal fisik, tapi juga emosional dan eksistensial.
Dalam artikelnya yang dimuat di Feminist Philosophy Quarterly, Elizabeth Millán menekankan bahwa pekerjaan rumah tangga sering kali merupakan ruang kontemplatif yang sarat makna eksistensial, meskipun dianggap tidak bernilai oleh masyarakat patriarkal.
Banyak orang menganggap tugas domestik sebagai bagian dari kodrat perempuan. Kata-kata seperti “pengabdian” dan “ikhlas” digunakan untuk membungkam absurditas itu. Dalam masyarakat patriarkal, tugas rumah tangga bukan hanya diabaikan, tapi juga dijustifikasi sebagai panggilan alami.
Padahal jika dibaca dengan kacamata absurdisme, kehidupan ibu rumah tangga adalah arena eksistensial yang paling purba. Di sana tidak ada akhir, tidak ada pengakuan, dan sering kali tidak ada pertanyaan apakah mereka bahagia atau tidak.
Hebatnya, mereka tetap melakukannya. Mereka menyelesaikan rutinitas itu bukan karena menemukan makna di dalamnya, tetapi karena tetap bertahan adalah satu-satunya pilihan yang masuk akal dalam dunia yang tidak masuk akal. Seperti Sisyphus, ibu-ibu ini terus mendorong batu mereka ke atas bukit dan melakukannya lagi setiap hari. Mereka adalah pemberontak paling sunyi.
Selaras dengan pernyataan Camus dalam bukunya yang berjudul The Rebel, “pemberontakan adalah penegasan terhadap absurditas, bukan jalan keluar darinya”. Dalam makna itu, para ibu rumah tangga sesungguhnya sedang memberontak diam-diam setiap hari.
Ritme Klasik Pekerjaan Domestik
Ironisnya, dunia filsafat modern sering memusatkan absurditas pada pria urban yang kehilangan arah, pada mahasiswa yang merasa kosong, atau pada seniman yang putus asa terhadap dunia. Jarang sekali absurditas dibaca dalam konteks pekerjaan domestik. Seolah-olah kekosongan hanya milik mereka yang membaca buku tebal dan memandangi langit malam sambil merokok. Padahal di balik dinding rumah yang tenang, absurditas juga hadir dalam wujud yang lebih halus dan tersembunyi.
Kita jarang bertanya bagaimana perasaan perempuan yang pekerjaannya tidak pernah selesai. Tidak banyak yang mau menyelami apa yang dirasakan ibu rumah tangga ketika bangun dan tahu bahwa hari ini akan persis sama dengan kemarin. Dunia tidak menganggap itu sebagai perenungan eksistensial, hanya rutinitas biasa. Padahal justru di sanalah letak absurditas yang paling jujur. Bukan dalam kegilaan spektakuler, tapi dalam kebiasaan yang tak pernah digugat.

Data dari UN Women mencatat bahwa perempuan di seluruh dunia rata-rata menghabiskan tiga kali lebih banyak waktu untuk pekerjaan rumah tangga dibanding laki-laki. Di Indonesia, laporan dari BPS tahun 2022 menunjukkan bahwa perempuan menyumbang 79% dari total waktu yang digunakan untuk kegiatan domestik dalam rumah tangga. Angka-angka ini tidak hanya menunjukkan ketimpangan, tetapi juga memperlihatkan betapa kerja berulang dan tak terlihat itu berlangsung dalam senyap yang lama.
Sisypus dan Perempuan
Kini saatnya mendengarkan mereka. Jika kita sepakat bahwa absurditas adalah bagian dari kondisi manusia, maka suara-suara perempuan yang bergulat dengan kekosongan sehari-hari juga layak mendapat ruang dalam percakapan filsafat.
Sudah waktunya kita berhenti membatasi filsafat hanya pada ruang diskusi formal atau buku tebal yang ditulis dari menara gading. Filsafat ada di dapur. Ia hadir saat tangan sibuk mencuci piring sambil pikiran melayang entah ke mana. Ia menyelinap di sela percakapan hening antara ibu dan dirinya sendiri. Ia tumbuh dalam kelelahan yang tak terucap, dan dalam pengabdian yang dipaksakan oleh norma sosial.
Apa yang kita anggap kecil ternyata adalah benturan paling nyata antara manusia dan kekosongan. Mungkin sudah saatnya kita membayangkan Sisyphus sebagai perempuan. Bukan laki-laki yang mendorong batu, tapi perempuan yang menyuapi anak sambil menggoreng tempe, yang mencuci baju sambil menahan kantuk, yang membersihkan rumah sambil berpikir bahwa semuanya akan berantakan lagi beberapa jam ke depan. Perempuan yang tidak diberi pujian, tapi tetap melakukan semuanya.
Camus menutup esainya dengan satu kalimat legendaris: kita harus membayangkan Sisyphus bahagia. Tapi kali ini, kita juga harus belajar membayangkan ibu rumah tangga sebagai bagian dari perjuangan eksistensial yang setara. Tidak untuk dikasihani, tidak juga untuk dipuja, tapi untuk didengar dan dipahami sebagai manusia yang tengah berdamai dengan absurditas dalam bentuk yang paling sunyi.

D. Deissya Ayu F adalah penulis opini reflektif yang aktif di dunia kepenulisan dan komunitas edukatif. Ia dikenal sebagai pemikir bebas yang gemar mempertanyakan hal-hal yang jarang disentuh orang. Lewat tulisan-tulisan jujur dan tajam, ia fokus pada isu gender, pendidikan, dan filsafat yang menggugah nalar dan membebaskan cara berpikir.


