Bumi tidak sakit karena hukum alam. Ia dirampok oleh sebuah sistem yang menukar kehidupan demi keuntungan.
Krisis ekologi yang terjadi saat ini tidak terjadi secara alamiah. Ada aspek historis yang dapat menjelaskan bagaimana relasi manusia terhadap alam hingga membentuk krisis ekologi. John Bellamy Foster menguraikannya secara mendalam lewat karyanya yang berjudul Perampokan Alam: Kapitalisme dan Krisis Ekologi.
Dalam bukunya, Foster sengaja mengakomodasi pemikiran Karl Marx, tokoh yang dijuluki sebagai Bapak Sosiologi. Marx melihat relasi produksi kapitalisme telah berkontribusi dalam mengondisikan bumi ini menjadi rapuh untuk berdampingan dengan manusia. Ia mengembangkan konsep metabolic rift atau “keretakan metabolisme” antara masyarakat dan alam akibat logika produksi kapitalis.
Kapitalisme tidak menghasilkan limbah dan kerusakan sebagai penyimpangan, tetapi sebagai syarat utama akumulasi. Ia menguras tanah, memutus daur ulang hara, dan memindahkan unsur alam dari desa ke kota tanpa pengembalian. Ini bukan sekadar masalah konsumsi berlebih, melainkan mode produksi destruktif.
Ilusi Kapitalisme Hijau
Buku ini juga memperkenalkan corporeal rift, istilah yang merujuk pada keterputusan antara kerja manusia dan kebutuhan biologisnya. Buruh direduksi menjadi tenaga yang bisa dikuras, sementara kerja reproduktif—terutama yang dilakukan perempuan—diposisikan sebagai sumber daya gratis. Alam dan lingkungan sama-sama jadi substrat akumulasi yang menopang kapitalisme.
Foster mengintervensi klaim bahwa Marx abai terhadap persoalan ekologi. Ia menunjukkan bahwa sejak awal, Marx memahami alam bukan sebagai eksternalitas, melainkan sebagai bagian inheren dari kehidupan sosial manusia. Bahkan, Foster menegaskan bahwa sosialisme hanya mungkin jika ia berlandaskan pada perencanaan ekologis yang menghormati hukum-hukum metabolisme alamiah.

Meskipun buku ini kaya akan kontribusi teoritik, ilustrasi konkret dari dunia kontemporer akan memperkaya pendalaman teori tersebut. Ia gagal menjembatani konsep besar dengan praksis politik di abad ke-21.
Sebagai contoh, di tengah kebangkitan “kapitalisme hijau” dan green grabbing (praktik perampasan tanah dan sumber daya untuk tujuan lingkungan), absennya studi kasus membuat seruan revolusi ekologis kehilangan bobot strategis. Beberapa kritik bahkan menyebut Foster terlalu normatif dan tidak cukup menanggapi dinamika gerakan sosial aktual, terutama dari Selatan global.
Harga yang Dibayar dari Kapitalisme
Meski demikian, Perampokan Alam: Kapitalisme dan Krisis Ekologi tetap relevan dan mendesak. Ia memaksa kita berhenti mencari solusi ekologis dari dalam sistem yang menciptakan krisis itu sendiri. Ia memperluas cakrawala gerakan ekologi dari sekadar moral konsumsi ke perjuangan kelas dan perubahan mode produksi. Buku ini menegaskan bahwa tak ada jalan hijau dalam sistem yang dibangun dari eksploitasi.

Dalam lanskap pemikiran ekososialis, Foster bukan hanya mengulang Marx, tapi memperdalamnya. Perampokan Alam: Kapitalisme dan Krisis Ekologi adalah ajakan untuk melihat krisis ekologis bukan sebagai bencana alamiah, melainkan sebagai konsekuensi historis dari kapitalisme. Ia mengajukan tesis keras: penyembuhan biosfer hanya mungkin melalui revolusi sosial.

Leorana Sihotang. Lima tahun terakhir sedang menggeluti isu-isu sosial khususnya advokasi masyarakat adat, perempuan dan petani, di Toba. Saya suka es kopi pahit yang di seruput langsung di depan Danau Toba.


