Mengapa Kita Perlu Riset untuk Menyelamatkan Lingkungan?

Ide Utama

Di tengah kerusakan lingkungan yang kian nyata, riset menjadi pijakan penting untuk memahami akar persoalan dan menentukan langkah penyelamatan.

Mahatma Gandhi pernah berkata “apa yang kita lakukan terhadap hutan di dunia hanyalah cerminan dari apa yang kita lakukan terhadap diri kita sendiri dan satu sama lain.”

Hari ini, ucapan itu terbukti kebenarannya. Kita telah menyaksikan banyaknya kerusakan lingkungan yang terjadi, mulai dari kerusakan hutan, pencemaran laut, polusi udara, dan lain-lain. Salah satunya, bencana yang menimpa di Sumatera baru-baru ini, merupakan imbas dari kerusakan lingkungan yang terus dipupuk selama bertahun-tahun. 

Kerusakan lingkungan adalah terjadinya penurunan, perusakan, dan penghilangan mutu lingkungan yang mempengaruhi kualitas hidup manusia. 

Saat ini, sudah semakin banyak orang yang sadar akan kerusakan lingkungan, namun pertanyaannya, sudah sejauh mana upaya untuk menyelamatkan lingkungan itu dilakukan? Apakah upaya tersebut benar-benar dilakukan dengan efektif dan berdampak?

Kerusakan Lingkungan dan Solusi Jangka Pendek

Laporan Badan Pusat Statistik 2024 mencatat laju deforestasi hutan selama periode 2017-2022 berkisar 73.000-223.000 hektare per tahun. Lebih dari 60% sungai di Indonesia masuk kategori tercemar sedang hingga berat. Indeks kualitas air di Indonesia selama periode 2019-2023 mengalami fluktuasi dengan kisaran 50,00-55,00 yang artinya berada dalam kategori tercemar ringan. 

Sejalan dengan data di atas, Katadata juga merilis data terkait pencemaran laut di Indonesia yang hasilnya menunjukkan kalau laut Indonesia tercemar hingga 398-615 juta ton sampah sepanjang 2018-2022. Data di atas menjadi bukti adanya kerusakan lingkungan yang cukup masif di banyak area, baik hutan, sungai, maupun laut.

Indonesia diterpa dengan banyak masalah kerusakan lingkungan, lantas bagaimana dengan penanganan yang sudah dilakukan? 

Sejauh ini, solusi yang berkaitan dengan upaya penyelamatan ataupun pemulihan lingkungan masih belum efektif dan kurang menyelesaikan akar masalahnya. Misalnya, pemilahan sampah di rumah atau di tempat pembuangan akhir (TPA), sedangkan industri yang menghasilkan banyak sekali limbah justru masih banyak yang membuangnya ke sungai. 

Pemilahan sampah bukanlah solusi yang tidak baik, namun jangan sampai kita lupa pada esensi permasalahan dari kerusakan lingkungan ini sendiri. Masalah-masalah seperti limbah industri-lah yang seharusnya dituntaskan terlebih dahulu. Jangan sampai solusi yang ditawarkan hanya sebatas jangka pendek untuk meminimalisir kerusakan lingkungan atau mengurangi dampak negatifnya sedangkan akar masalahnya tidak teratasi. 

Solusi yang bersifat jangka pendek ini, tentu hanya akan bertahan sementara dan tidak akan pernah bisa menyelesaikan akar masalah kerusakan lingkungan. Kita butuh solusi dan upaya konkret untuk mengatasi kerusakan lingkungan.

Riset dan Upaya Penyelamatan Lingkungan Jangka Panjang

Upaya menyelamatkan kerusakan lingkungan perlu solusi yang bersifat jangka panjang. Kita memerlukan solusi yang tidak hanya mengurangi dampak kerusakan lingkungan, namun bisa mengatasi masalah kerusakan lingkungan dengan efektif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, kita butuh dorongan riset untuk menemukan atau merancang solusi bagi permasalahan kerusakan lingkungan hari ini. 

Riset akan membantu kita mengidentifikasi penyebab, akar masalah, dan dampak dari kerusakan lingkungan yang terjadi, sehingga meningkatkan kemampuan kita memecahkan masalah. 

Bagi pemerintah, riset bisa digunakan untuk merumuskan kebijakan berbasis ilmu pengetahuan dan data serta menghadirkan solusi yang berkelanjutan. 

Lebih lanjut, riset dapat menjadi edukasi bagi masyarakat tentang kerusakan lingkungan dan meningkatkan kesadaran publik mengenai lingkungan di sekitar mereka. 

Oleh karena itu, peran riset penting sekali untuk menyelesaikan masalah kerusakan lingkungan yang makin hari makin kompleks.

Dari Ide Menjadi Dampak

Riset bermula dari ide, menjadi solusi dan kemudian dieksekusi menjadi dampak. Kita tidak seharusnya memendam ide yang ada di dalam otak kita untuk menyelamatkan lingkungan. Ide sederhana kita bisa jadi berdampak secara nyata bagi masyarakat luas. Ide haruslah diolah di tempat di mana ia bisa bertumbuh menjadi sebuah solusi yang disebut sebagai riset. 

Hasil riset juga harus dibagikan agar manfaatnya meluas dan dampaknya lebih besar. Hasil riset akan lebih bermanfaat apabila digunakan untuk mendorong perubahan. Melalui diseminasi, hasil riset bisa dibagikan kepada masyarakat lebih luas agar manfaatnya semakin besar. 

Diseminasi bisa berbentuk publikasi artikel ilmiah, seminar, media sosial, hingga konferensi. Semakin sering kita menggunakan riset dan membagikannya, maka kita akan mendorong masyarakat untuk mempunyai wawasan dan kesadaran terhadap kerusakan lingkungan di sekitar mereka. Hal ini juga akan menciptakan masyarakat yang berbasis data dan saintifik dalam menghadapi kerusakan lingkungan. 

Interdisipliner sebagai Pendekatan Komprehensif

Masalah kerusakan lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab dari pemerintah, aktivis, dan peneliti di bidang lingkungan saja. Kita tidak bisa hanya melihat kerusakan lingkungan dalam satu kotak perspektif karena masalah kerusakan lingkungan saat ini bersifat kompleks dan saling terkait. Dampaknya pun sudah masuk ke dalam banyak sendi-sendi kehidupan sosial, kesehatan, ekonomi, dan budaya masyarakat. 

Oleh karena itu, kita butuh pendekatan yang bisa melibatkan banyak disiplin ilmu untuk menghasilkan solusi yang komprehensif. Riset interdisipliner akan melibatkan pemerintah, peneliti, masyarakat adat, masyarakat terdampak, organisasi, bahkan swasta atau industri untuk bersama-sama merancang solusi yang efektif dan adil secara sosial. 

Riset interdisipliner ini penting sekali untuk dilakukan guna menghasilkan solusi dan keputusan yang lebih bijak dan holistik. Ke depan, kita berharap agar riset interdisipliner terus didorong dan dilakukan oleh banyak pihak terutama pemerintah sebagai policy maker atau pengambil kebijakan. 

Penerapan Riset di Indonesia

Riset memang penting, tetapi tidak otomatis selalu diterapkan. 

Saat ini di Indonesia riset tentang lingkungan atau isu lingkungan masih belum dipandang sebagai prioritas jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi. Meskipun pemerintah sekarang ini sedang mengkampanyekan tentang energi ramah lingkungan, namun pertumbuhan ekonomi masih menjadi prioritas utama nasional. 

Di sisi lain, sumber pendanaan untuk riset lingkungan hingga penerapannya juga masih terpusat pada pemerintah sedangkan sektor swasta masih belum mengambil inisiatif lebih untuk membantu menyelesaikan masalah kerusakan lingkungan. Hingga tahun 2030, Indonesia setidaknya butuh pendanaan sekitar 3.461 triliun untuk menyelesaikan masalah lingkungan.

Selain itu, riset lingkungan di Indonesia masih berjalan secara terfragmentasi. Pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan sektor swasta bekerja dalam silo masing-masing tanpa koordinasi yang kuat. Akibatnya, banyak hasil penelitian tidak pernah sampai ke meja pengambil kebijakan, atau dianggap tidak relevan karena tidak disinkronkan dengan kebutuhan lapangan.

Padahal, jika riset-riset yang ada benar-benar diintegrasikan ke dalam kebijakan dan praktik pembangunan, Indonesia tidak kekurangan ilmu pengetahuan untuk mencegah kerusakan lingkungan. Yang kurang adalah kolaborasi, komitmen, dan keberanian politik untuk menjalankannya. Tanpa itu, sebanyak apa pun riset akan tetap menjadi tumpukan data—bukan solusi.

Sumber gambar: Freepik


Adiva Wildan Pratama merupakan alumnus dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta jurusan Sejarah dengan fokus subjek pada sejarah lingkungan. Ketertarikan penulis pada isu-isu sosial-lingkungan yang mempengaruhi kehidupan masyarakat luas.

Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan.