Propaganda bukan sekadar alat kekuasaan, tetapi mesin yang bisa memproduksi kebencian kolektif.
Pernah kepikiran nggak, apa yang membuat seseorang dianggap jahat? Tindakannya atau cerita yang disebarkan tentang dirinya? Nah, pertanyaan itu menjadi pintu masuk yang relevan ketika menyaksikan Wicked: For Good, film musikal yang nggak hanya menyuguhkan cerita sihir dengan komposisi visual dan vokal yang memukau, tetapi juga menyingkap bagaimana opini publik bisa dibentuk dengan begitu halus.
Film ini melanjutkan kisah dari Wicked: Part One dan membawa penonton kembali ke Oz, negeri yang tampak memesona, estetis, dan penuh sihir, tetapi menyimpan struktur kekuasaan yang manipulatif. Disutradarai oleh Jon M. Chu dan diperankan oleh Cynthia Erivo (Elphaba) serta Ariana Grande (Glinda), sekuel ini memperluas fokus pada dinamika sosial-politik mengenai produksi opini publik sebagai alat stabilisasi kekuasaan. Musuh bersama dianggap sebagai strategi efektif untuk mempertahankan kendali.
Sebuah Propaganda Musikal
Narasi film dibuka dengan kritik sosial, bukan lewat adegan sihir atau pertempuran fisik, tetapi melalui propaganda musikal dalam lagu “Thank Goodness/I Couldn’t Be Happier”. Musik di sini berfungsi sebagai instrumen ideologi. Hal ini tampak dalam lirik: “In the face of the terrifying Wicked Witch of the West… Pure Water can melt her! Please, somebody go and melt her!” Selain itu, ada juga klaim hiperbolik bahwa Elphaba memiliki mata tambahan dan kemampuan mengganti kulit seperti ular menunjukkan proses normalisasi rumor yang dibangun melalui pengulangan.

Konsep ini pernah dijelaskan oleh Edward Bernays, salah satu tokoh penting dalam kajian propaganda modern. Dalam bukunya bertajuk Propaganda, Bernays menyebutkan bahwa publik dapat diarahkan melalui repetisi pesan, simbol, dan permainan emosi. Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa efektivitas propaganda tidak bertumpu pada bukti yang dapat diverifikasi.
Pola itulah yang tampak dalam film Wicked: For Good, yakni ketika citra Elphaba dibentuk sebagai sosok yang berbahaya berdasarkan narasi dari pemerintahan OZ. Tanpa bukti yang dapat diverifikasi, repetisi pesan dan simbol tentang “ancaman” yang ia wakili sudah cukup untuk menanamkan ketakutan kolektif, hingga publik menerima konstruksi itu sebagai kebenaran.
Propaganda Lewat Pesan Visual
Film kemudian menunjukkan bahwa propaganda bukan cuma hadir dalam dialog atau lagu. Ia juga muncul lewat visual, simbol, dan pesan publik yang dikemas rapi. Poster bertuliskan “DON’T LET HER WATCH OZ BURN!”, “SHE HIDES YOUR CHILDREN”, sampai “REPORT ANY SIGHTINGS TO GALE FORCE!” bertebaran di mana-mana.
Wajah Elphaba digambarkan dengan ekspresi keras dan menyeramkan agar publik merasa takut. Madame Morrible melengkapi semuanya lewat pidato yang disampaikan dengan nada percaya diri, seolah-olah tidak ada satu pun kata yang perlu dipertanyakan. Di titik ini, teknik propaganda berjalan mulus: ulangi pesan, sederhanakan, aktifkan ketakutan, dan buat publik merasa tidak perlu berpikir ulang.

Pendekatan semiotika Ferdinand de Saussure dalam buku Pengantar Ilmu Linguistik terjemahan dari Course in General Linguistics dapat digunakan untuk membantu memahami cara kerja propaganda dalam film tersebut secara lebih efektif. Saussure menyatakan bahwa tanda terbentuk atas dua unsur, yakni penanda (signifier) sebagai bentuk yang dapat diamati dan petanda (signified) sebagai makna yang dilekatkan pada bentuk tersebut.
Kasus Elphaba bisa menjadi contoh yang paling jelas. Kulitnya yang berwarna hijau, tatapannya yang tegas, kekuatan magis yang powerfull, dan sikap kritisnya terhadap pemerintah, telah melekat sebagai ciri unik yang dimaknai dengan keberanian moral, dan empati terhadap makhluk hidup.
Terlebih, Elphaba juga kerap dimunculkan dengan narasi membela hak-hak binatang, juga menolak eksploitasi monyet bersayap yang dipaksa bekerja sebagai alat intelijen. Sayangnya, pemerintahan Oz berhasil memelintir tanda-tanda itu menjadi persoalan baru: ancaman, kekacauan, dan pengkhianatan.
Ketika Kebenaran Terbungkam oleh Narasi Propaganda
Peran Glinda bikin dinamika cerita semakin tajam. Glinda bukan lagi sekadar karakter yang polos dan tidak tahu menahu, tetapi tokoh yang sadar akan kebohongan sistem dan tetap memilih berada di dalamnya. Status sosial, penghargaan publik, dan posisi moral yang diberikan rezim menjadi alasan kenapa ia sulit keluar. Kehilangan posisi itu berarti kehilangan identitas. Glinda memilih nyaman di dalam kebohongan daripada menghadapi risiko seperti Elphaba.
Pertengkaran keduanya tergambar dalam salah satu scene. Elphaba berkata, “You’re too busy telling everyone how wonderful everything is” yang kemudian dijawab oleh Glinda, “I’m a public figure now, people expect me to—”, lalu ditanggapi lagi oleh Elphaba: “To lie?!” Menurutku, adegan ini bener-bener gong! Saat melihat adegan itu, aku sadar bahwa masalahnya bukan sekadar siapa yang baik atau jahat, tetapi siapa yang berani menanggung konsekuensi dari kebenaran.

Pesan film ini terasa semakin kuat ketika narasi besar dalam ceritanya mulai terbaca, bahwa “kejahatan” nggak selalu lahir dari tindakan seseorang, tetapi bisa muncul dari cerita tentang dirinya. Publik percaya bukan karena melihat fakta, tetapi karena mendengar narasi yang diulang-ulang.
Wicked: For Good gak hanya bercerita soal sihir, kerajaan, atau persahabatan dua penyihir yang sangat melekat dengan cerita kanak-kanak. Film ini jadi cermin tentang kekuasaan yang bisa menentukan siapa pahlawan dan siapa penjahat.
Film ini mengupas lebih dalam tentang bagaimana kebenaran bisa tenggelam ketika mayoritas sudah disepakati secara kolektif. Kalau Oz terasa familiar, mungkin bukan karena kita pernah ke OZ, tetapi karena pola yang sama hidup di dunia nyata, di berita, di politik, di media sosial, dan bahkan kadang di kehidupan sehari-hari.
Film ini recommended banget buat ditonton, musikal yang disajikan nggak main-main. Cocok sekali ditonton untuk refreshing biar gak mumet sama tugas semester 3 yang udah numpuk seabrek. Aku kasih rating 9/10 deh!

Mario. Aku mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Jember semester muda banget. Hobiku prokeran sana-sini dan suka banget nulis puisi humanis maupun kritik sosial. Salam sastra, salam kenal ya!


