Pendidikan dan Mimpi: Bukan Soal Kemauan, tapi Soal Akses

Ide Utama

Tidak semua anak bisa bermimpi dengan bebas. Sebab bagi sebagian orang, akses ke pendidikan masih menjadi perjuangan yang sangat dasar.

Sejak duduk di bangku sekolah, kita selalu diajarkan bahwa belajar itu penting agar pandai dan sukses di masa depan. Pendidikan akan membawa kita keluar dari kemunduran dan kemiskinan. Sebab pendidikan adalah gerbang emas menuju tangga ke langit tempat mimpi dan cita-cita berada. Oleh karenanya, kita selalu dituntut untuk belajar dengan giat dan bersungguh-sungguh.

Tetapi ada yang aneh dari narasi ini. Realitanya banyak anak pintar dari keluarga miskin yang tidak melanjutkan pendidikan karena terhalang akses dan biaya. Banyak anak-anak dari keluarga kaya dengan mudah melanjutkan pendidikan mereka ke perguruan tinggi meskipun mungkin mereka tidak terlalu pandai.

Kita sering mendengar kalimat “Ah, dia sukses karena bekerja keras!” Namun apakah kita benar-benar mengetahui seberapa intens usaha yang telah dilakukannya, serta bagaimana latar belakang yang dimilikinya turut berperan dalam pencapaian itu? 

Tentunya kerja keras yang dilakukan setiap orang dalam meraih kesuksesan tidaklah sama, mengingat mereka menghadapi kondisi dan masalah yang berbeda-beda. Pandangan ini berkaitan erat dengan konsep meritokasi yang menganggap bahwa setiap orang bisa sukses asalkan berusaha keras, terlepas dari latar belakang yang dia miliki. 

Tetapi, benarkah realitasnya demikian?

Apa itu Meritokasi?

Meritokasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang memberikan kesempatan kepada seseorang untuk memimpin berdasarkan kemampuan atau prestasi, bukan kekayaan, senioritas, dan sebagainya. 

Istilah meritokasi sendiri pada awalnya dicetuskan oleh sosiolog asal Inggris bernama Michael Dunlop Young dalam buku distopia politik dan satirenya yang berjudul The Rise of the Meritocracy yang terbit di tahun 1958. 

Dalam bukunya, Young menjelaskan bahwa meritokasi adalah sebuah sistem di mana orang-orang yang cerdas dan mampu diberikan kekuasaan dan status, tanpa memandang latar belakang sosial mereka. Young menggunakan istilah meritokasi sebagai kritik sosial, bukan pujian. Dia menganggap sistem yang tampak adil ini justru menciptakan hierarki sosial baru yang lebih legitim dan mengakar kuat karena terkesan natural dan earned.

Namun, seperti yang dijelaskan oleh sosiolog asal Prancis Pierre Bourdieu, anggapan bahwa setiap individu memulai garis start yang sama adalah ilusi. Hal ini dijelaskan secara rinci dalam karyanya yang berjudul The Forms of Capital mengenai teori “modal budaya”, yakni pengetahuan dan kebiasaan yang didapat seseorang dari keluarganya. 

Sebagai contoh, anak yang lahir dari keluarga terdidik biasanya sudah tau cara berdiskusi yang benar dan menyampaikan pendapat. Mereka mengenal situasi dengan baik, kemampuan public speaking yang benar saat ikut orang tuanya bekerja atau menghadiri konferensi. Berbeda dengan anak yang lahir dari keluarga yang tidak terdidik, mereka harus belajar sendiri dari awal ketika menghadapi beberapa situasi seperti di atas.

Pandangan yang lebih ekstrem dipaparkan oleh ekonom Samuel Bowles dan Herbert Gintis. Mereka berpendapat bahwa sekolah ada untuk mempertahankan kelas sosial yang sudah ada, bukan untuk menciptakan kesetaraan. Sekolah-sekolah yang ada di pinggiran akan menanamkan kedisiplinan dan kepatuhan pada anak didiknya, sementara sekolah-sekolah unggul di kota akan mengajarkan kreativitas, kepemimpinan, dan berpikir kritis. 

Kondisi ini seolah-olah menunjukkan bahwa sekolah pinggiran akan mencetak buruh pabrik, sedangkan sekolah unggul di kota akan mencetak bos dan manajer. Dengan kata lain, Bowles dan Gintis mengatakan bahwa sistem pendidikan sebenarnya melatih anak-anak sesuai dengan kelas sosialnya, sehingga hierarki sosial yang sudah ada bisa dipertahankan untuk kepentingan tertentu. Mirisnya, ini semua didoktrin dengan embel-embel “siapa yang rajin belajar akan sukses di masa depan. 

Realitas di Lapangan

Penelitian oleh Seonkyung Choi dan Insik Min mengkaji dampak status sosial ekonomi orang tua terhadap perkembangan kognitif dan non-kognitif (kepribadian/karakter) remaja di Indonesia yang berusia 14-20 tahun. Menggunakan data dari Indonesian Family Life Survey (IFLS), penelitian ini memperoleh dua temuan penting. 

Pertama, pendidikan orang tua sangat berpengaruh dalam meningkatkan keterampilan kognitif remaja dibandingkan pendapatan atau status pekerjaan orang tua. Selain itu, lingkungan tumbuh kembang anak juga sangat berpengaruh dalam perkembangan kemampuan kognitif anak, dalam hal ini yaitu anak yang tinggal di perkotaan berpengaruh positif terhadap kemampuan kognitifnya. 

Temuan ini sekaligus membuktikan bahwa status pekerjaan ibu sangat berpengaruh terhadap keterampilan non-kognitif anak, di mana anak-anak yang ibunya bekerja akan cenderung memiliki sifat keterbukaan (openness) dan mudah setuju (agreeableness) dibanding dengan anak yang ibunya tida bekerja. Dari data survei tersebut dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan dan status pekerjaan orang tua berpengaruh terhadap perkembangan kognitif dan non-kognitif anak. 

Kedua, akses juga berperan penting terhadap perkembangan individu. Orang yang tinggal di kota, jauh lebih diuntungkan karena aksesibilitas segala fasilitas yang baik dibandingkan mereka yang tinggal di desa.

Mengapa sistem yang demikian ini bertahan? 

Pertama, disebabkan adanya narasi yang bertebaran di media sosial mengenai kesuksesan anak miskin yang menjadi pengusaha di kota besar. Narasi yang muncul kadangkala cukup ekstrem, misalnya “Sukses dengan Trading setelah Drop Out dari Sekolah” yang menunjukkan bahwa sekolah bukanlah hal yang penting dan krusial untuk mencapai kesuksesan.

Kedua, adanya perasaan bersalah. Beberapa orang mungkin akan merasa lebih baik dengan menarasikan kisah hidupnya seolah-olah dirinya sukses dari nol tanpa bantuan orang lain seperti latar belakang keluarga dan jaringan teman. Padahal sebenarnya mengakui privilege bukanlah sesuatu yang memalukan tetapi justru membuat tingkat kesadaran kita meningkat untuk membantu orang lain.

Ketiga, menyalahkan individu terasa lebih mudah daripada menyalahkan sistem yang ada. Akan lebih mudah mengatakan “dia gagal karena malas” daripada mengatakan “sistem ini tidak adil”. Dengan menganggap orang lain malas, kita bisa tetap pasif dan tidak harus berbuat apa-apa, sementara jika menyalahkan sistem yang tidak adil ini, seolah-olah kita dituntut untuk aktif berpartisipasi untuk mengubah sistem.

Dampak dan Solusi

Dengan adanya sistem seperti ini, orang-orang yang belum berhasil akan merasa bodoh dan menyalahkan diri sendiri atas kondisi yang di luar kendali mereka. Mereka juga akan mudah menyerah karena kurangnya rasa percaya diri. Sementara bagi mereka yang berhasil akan merasa superior dan layak mendapat penghormatan. Hal ini juga akan menuju ke stres berlebihan karena takut tersaingi dan kehilangan jabatan.

Lalu, bagaimana solusi untuk dapat mengentaskan permasalahan ini? 

Jawabannya ada pada redistribusi. Artinya, pendidikan bukan menghapus kompetisi atau menurunkan standar, tetapi memastikan semua orang memulai dari tempat yang sama. Sama dalam konteks ini yaitu dengan pemerataan kualitas pendidikan dan memastikan semua orang mendapatkan akses yang sama. 

Hal ini dapat dilakukan dengan sekolah gratis, peningkatan kualitas tenaga pendidik, perbaikan infrastruktur sekolah, dan beasiswa untuk anak kurang mampu. 

Selain itu perlu juga menanamkan pola pikir bahwa kesuksesan itu bersifat kolektif, bukan individual. Juga penting untuk melihat bahwa privilege itu nyata dan bukan aib, sehingga harus dimanfaatkan sebaik mungkin.

Meritokasi adalah mitos di negeri ini. Bukan berarti usaha dan kerja keras itu tidak penting, tetapi sistem pendidikan kita-yang katanya adil-justru menampilkan ketimpangan di mana-mana. Anak yang putus sekolah untuk bekerja bukan berarti dia malas, anak yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi belum tentu dia tidak mau, dan anak yang berhasil masuk ke perguruan tinggi bergengsi bukan melulu karena dia pintar. 

Dengan menerima fakta ini, kita bisa sadar bahwa masalah ketimpangan di negeri ini adalah nyata. Bukan berarti kita harus pesimis dan berpangku tangan. Hal yang bisa kita lakukan adalah turut berpartisipasi untuk memperbaiki sistem pendidikan agar semua anak memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses pendidikan sehingga kita bisa memberikan tangga-tangga kepada generasi muda untuk menuju kesuksesan. 

Karena sejatinya, bangsa yang berhasil bukanlah bangsa yang berhasil mencetak orang-orang sukses, tetapi bangsa yang berhasil membangun fondasi dasar yang merata bagi setiap anak yang lahir. 


Kiki Styo Wati Raharjo adalah mahasiswa Antropologi Budaya yang tak sekadar mengamati—tapi menyelami. Terpikat pada isu-isu pengembangan masyarakat dan kesejahteraan sosial, sambil aktif menulis dan mengulik perspektif antropologis demi satu tujuan: memberdayakan, bukan sekadar mencatat.

Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan. 

Bagikan
WhatsApp
X
Facebook
LinkedIn
Email
Print