Reason and Emotion (1943), Film Pendek Disney yang Jadi Cikal Bakal Inside Out

Barisan telur dengan beragam ekspresi

Ide Utama

Disney dan Pixar pertama kali merilis Inside Out delapan tahun lalu dan jilid keduanya baru saja tayang beberapa waktu belakangan. Tapi, tahu nggak kalian kalau 72 tahun sebelumnya, Disney pernah membuat film pendek pertama mereka yang juga bertema kecerdasan emosi–mirip dengan Inside Out

Film berjudul Reason and Emotion (1943) adalah film Disney pertama yang membahas mengenai pikiran, emosi, dan alam bawah sadar. Film berdurasi delapan menit yang disutradarai oleh Bill Roberts itu bahkan berhasil masuk ke dalam nominasi Academy Awards untuk Best Animated Short Film (film pendek dengan animasi terbaik) pada tahun yang sama. 

Cerita yang dihadirkan pun cukup sederhana. Reason and Emotion berfokus pada perkembangan isi kepala seorang anak bernama Junior. Seperti judulnya, film ini hanya mengenalkan reason (pikiran, the mind) dan emotion (perasaan, the heart) sebagai dua hal yang bertolak belakang. Dalam film itu, saat Junior membiarkan dirinya dikuasai oleh emosi, dia akan melakukan hal merugikan secara terus menerus. 

Di paruh tengah film itu, hadir pula karakter seorang perempuan tanpa nama yang mengalami hal serupa dengan Junior. Pengalaman yang dialami oleh the unknown character (karakter tak diketahui) itu terasa offensive (kasar) untuk perempuan kala itu. Orang-orang yang ikut berpartisipasi dalam pembuatan Reason and Emotion menggambarkan bahwa permasalahan utama seorang perempuan adalah berat badan. 

Layaknya media populer lainnya, film selalu berhasil menjadi produk budaya yang menggambarkan segala peristiwa yang terjadi saat film diproduksi. Selain memasukan stereotip gender, Disney juga menyematkan kondisi politik dunia Utara (Global North) kala itu. Saat Reason and Emotion rilis, partai Nazi yang didalangi oleh Adolf Hitler tengah memporak-porandakan dunia Utara dengan aksi mereka yang keji. 

Sosok Hitler muncul dengan jelas dalam film Reason and Emotion dan menjadi karakter yang menyebabkan rasa takut hadir dalam diri setiap individu. Puncaknya adalah perasaan takut yang dapat dihentikan saat setiap orang menggunakan logika atau reason

Singkatnya, film animasi ini menjadi kendaraan propaganda yang menyebarkan pemahaman mengenai peran gender dan penghalau rasa takut yang perlahan melanda masyarakat Amerika karena Nazi berkuasa. Para jenius di balik film itu jelas memahami audience (penonton) mereka dan berhasil menembak tepat bubuk mesiu berisi pemahaman sederhana tentang dua perasaan di tengah kekalutan

Inside Out dan Lima Emosi Inti

Mari kita coba bandingkan film itu dengan film Inside Out yang berhasil menggambarkan lima variasi perasaan yang kompleks dalam diri seorang anak perempuan bernama Riley. Kelima perasaan yang menjadi kunci dari cerita Inside Out disebut sebagai core emotions (emosi inti) yang juga menjadi karakter di film. Mereka terdiri atas Anger (marah), Disgust (jijik), Fear (takut), Joy (senang), dan Sadness (sedih). 

Film yang berjarak 62 tahun dari Reason and Emotion itu bagi saya merupakan salah satu film terbaik yang diproduksi oleh Disney dan Pixar. Semua yang terlibat dalam produksi melakukan riset terhadap bagaimana pikiran dan perasaan bekerja. Film Inside Out sendiri bagi saya memiliki pesan sederhana, yaitu cara kerja pikiran dan kecerdasan emosi.

Dalam Inside Out, perasaan sedih dan bahagia bahkan bisa dirasakan dalam satu waktu secara bersamaan. Setiap perasaan memiliki arti masing-masing dan penting bagi setiap orang untuk bisa memahami arti perasaan tersebut serta mengungkapkannya. Film Inside Out mengajarkan pada anak-anak bahwa perasaan sedih yang dirasakan bukanlah sebuah perasaan yang buruk. 

Pete Docter, sutradara Inside Out yang juga menyutradarai film-film Disney dan Pixar yang seperti Toy Story 1 & 2, Monsters, Inc., Wall E, dan Up kali ini mengenalkan kita pada kisah Riley, anak ceria yang berusia 11 tahun. Riley memulai kisahnya di sebuah kota baru bersama kedua orangtuanya. Singkatnya, kepindahannya menorehkan luka dalam diri Riley dan menyebabkan kepribadiannya yang ceria mendadak berubah dan kita pun mengenal lima emosi yang mengontrol pikiran Riley dari dalam ruang kontrol di otaknya. 

Perjalanan emosi Riley dimulai saat Joy dan Sadness tersesat dalam pikiran saat berusaha untuk membantu Riley. Kedua perasaan yang bertolak belakang ini akan mengarungi perjalanan dalam pikiran yang Pete Docter gambarkan sebagai perjalanan di pulau theme park. Joy dan Sadness menyusuri perjalanan panjang untuk melihat core memory yang dimiliki oleh Riley. Keduanya melewati A Dream Production Company (Perusahaan Produksi Mimpi), Abstract Thought (Pikiran Abstrak), hingga Subconscious Jail (Lapas Pikiran Bawah Sadar).

Saya sejujurnya masih berharap jika Disney dan Pixar akan membuat cerita pendek maupun panjang yang menggambarkan kondisi mencekam di Palestina saat ini. Sayangnya, itu cuma jadi mimpi di siang bolong. ~ Andaris Dikarina Share on X

Saya nggak akan banyak bicara mengenai cerita film ini. Saya justru ingin menekankan bahwa karakter utama dalam film ini bukanlah Riley, melainkan Joy sebagai emosi paling kompleks yang berusaha untuk memahami bagaimana emosi lainnya bekerja. Ia terus bertanya dan berusaha untuk beradaptasi dengan segala situasi yang dipengaruhi oleh banyak hal.

Inside Out dan Teori-teori Psikologi

Film Inside Out terinspirasi dari teori emosi (theory of emotions) yang dicetuskan oleh seorang psikolog bernama Paul Ekman. Dalam teorinya, Ekman sebenarnya mengenalkan tujuh emosi dasar, yaitu anger (marah), disgust (jijik), fear (takut), joy (senang), sadness (sedih), surprised (terkejut), dan contempt (hina). Sayangnya, dalam film Inside Out, Docter terpaksa mengabaikan surprised dan contempt, mungkin untuk membuat sebuah cerita yang lebih sederhana dan mudah dipahami oleh anak-anak. 

Dalam teorinya, Ekman mengatakan jika tujuh emosi dasar tersebut dapat dilihat dan diidentifikasikan secara langsung oleh setiap orang di dunia melalui ekspresi wajah. Pemahaman tentang ekspresi wajah itu pun sama dalam setiap budaya di dunia, bahkan pemahaman ekspresi dalam software (perangkat lunak) dalam dunia digital. Ekman pun menjadi seorang psikolog yang membantu perkembangan dalam dunia marketing modern. 

Ekman sebenarnya bukanlah satu-satunya psikolog yang mempelajari perkembangan emosi dalam diri manusia, bahkan dia bukanlah yang pertama. Sebelumnya, ada bapak psikoanalisis Sigmund Freud yang dalam teorinya menuliskan jika kepribadian manusia terbagi atas tiga kesadaran, yaitu sadar (conscious), prasadar (subconscious), dan tidak sadar (unconscious). Freud percaya kalau berbagai hal dalam kehidupan, seperti emosi sampai memori, terkubur dan dikendalikan oleh pikiran tidak sadar. 

Selain Freud, ada pula Carl Jung yang terinspirasi oleh Sigmund Freud dan mengembangkan teorinya hingga membaginya menjadi tiga komponen, yaitu the ego (atau pikiran sadar, conscious), the personal unconscious, dan the collective unconscious yang dia percaya sebagai kumpulan ingatan kolektif manusia. Kemudian, ada pula Lisa Feldman Barrett yang melalui teorinya menuliskan jika emosi bukanlah hal yang sudah terprogram oleh otak manusia, tapi berasal dari pengalaman masa lalu dan ekspektasi dari seorang entitas.

Catatan Akhir

Menuliskan teori para psikolog yang menjadi inspirasi Paul Ekman adalah cara saya untuk menggambarkan bahwa ilmu pengetahuan terus berevolusi dan berkembang. Dalam konteks pembuatan film Inside Out, Docter mencari teori yang paling dekat dan mampu menggambarkan kondisi kebudayaan saat ia memproduksi karyanya. 

Inside Out dibuat saat mayoritas penduduk dunia telah menyadari bahwa kesadaran mengenai kesehatan mental menjadi hal yang penting untuk dibicarakan, terutama saat anak dalam masa pertumbuhan menuju masa remaja. 

Memahami bahwa hubungan orangtua dan anak menjadi semakin kompleks menjadikan Docter dan timnya berpikir untuk membuat film yang memberikan ide bahwa mengekspresikan diri dan menerima serta mengungkapkan perasaan adalah cara yang sehat untuk menjalin hubungan komunikasi yang lebih baik antara orang tua dan anak.

Kembali ke masa sekarang, saya sejujurnya masih berharap jika Disney dan Pixar akan membuat cerita pendek maupun panjang yang menggambarkan kondisi mencekam di Palestina saat ini. Menjadi nilai plus kalau-kalau temanya disentuh sedikit dalam cerita Inside Out 2. Sayangnya, itu cuma jadi mimpi di siang bolong.


Andaris Dikarina biasa dipanggil Daris, sudah hampir satu dekade jadi pegawai biasa, kadang-kadang rajin menulis.