Kenakalan pada anak tidak bisa diperbaiki hanya dengan barisan dan aba-aba. Disiplin tanpa empati hanya menghasilkan kepatuhan semu.
Kita mencabut tunas dari tanah karena kita melihat tanah terlalu lemah. Lalu kita menegakkannya di atas besi yang keras dan kokoh. Namun belakangan, kita justru heran mengapa tunas itu perlahan-lahan layu.
Analogi ini menggambarkan bahwa acapkali kita melihat sebuah fenomena secara dangkal meskipun dengan motif yang positif. Sama halnya dengan yang baru-baru ini kita lihat. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi membuat kebijakan untuk memasukkan anak-anak bermasalah ke barak militer. Anak-anak yang terlibat dalam perundungan, tawuran, dan kenakalan-kenakalan lain, dikumpulkan dan dikirim ke markas TNI di Subang untuk dididik oleh anggota TNI dengan harapan perilaku mereka bisa diperbaiki.
Mari kita kaji bersama secara kritis. Apakah kebijakan non-struktural ini serupa dengan analogi meletakkan tunas di atas besi tadi?
Military-Style Behavioral Intervention (MSBI)
Program yang digagas oleh mantan Bupati Purwakarta ini berupa mengirimkan anak bermasalah ke barak militer selama 6 bulan. Pada 2 pekan pertama, mereka akan menjalani pembinaan insentif dan dilanjutkan dengan pemantauan selama 1 tahun penuh. Program semacam ini dalam istilah global dikenal dengan Military-Style Behavioral Intervention (MSBI).
Ini merupakan program yang menggunakan prinsip-prinsip militer seperti pelatihan fisik, aturan yang tegas dan ketat, hukuman dan penghargaan. Tujuan utamanya adalah mengubah perilaku individu yang dianggap bermasalah. Kegiatan ini memang biasanya menyasar pada usia anak-anak. Karena program ini adalah bentuk intervensi perilaku, maka hasil dari program ini menargetkan adanya transformasi perilaku negatif menjadi perilaku positif.
Di beberapa negara, program ini memang sudah dilakukan. Misalnya di Amerika Serikat, program ini dinamai dengan Military Teen Ambassadors. Menariknya, program ini tidak ditujukan untuk menghukum anak nakal seperti halnya program pendidikan militer yang lain, melainkan berfokus untuk meningkatkan berbagai kompetensi anak. Di antaranya, menumbuhkan kepercayaan diri, kepemimpinan, dan kedisiplinan. Military Teen Ambassadors juga dilengkapi dengan indikator penilaian yang jelas.
Sayangnya, manfaat dari program Military Teen Ambassadors ini hanya bertahan sampai enam bulan pascaprogram. Hal ini diperkuat dengan analisis yang dilakukan oleh Youth Endowment Fund (UK). Dalam laporannya, program bergaya militer untuk mengatasi anak-anak bermasalah seperti yang dilakukan oleh Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Australia, menunjukkan hasil yang kurang tidak efektif. Beberapa di antaranya bahkan menunjukkan efek jangka panjang berupa peningkatan risiko kenakalan hingga 6%.
Kegagalan dalam program ini tidak lain karena kegiatan yang digalakan hanya berfokus pada pendisiplinan perilaku anak. Padahal yang sebenarnya dibutuhkan adalah meningkatkan pemahaman internal anak. Anak-anak yang dilabeli dengan stigma “anak nakal” justru cenderung menginternalisasi label tersebut, yang pada akhirnya dapat menurunkan harga diri mereka. Hal ini jelas mengganggu proses pembentukan identitas diri pada anak.
Jika ditarik garis merahnya, maka kita perlu memberikan pertanyaan ulang. Apakah program pendisiplinan anak di barak militer yang saat ini digencarkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat ini telah memiliki rancangan yang jelas-termasuk mempertimbangkan berbagai aspek psikologis anak? Apakah program ini memiliki indikator capaian yang terukur berkaitan dengan perubahan perilaku maupun kesehatan mental anak?
Risiko Psikologis dari Intervensi Bergaya Militer
Sebelum menelaah lebih lanjut tentang dampak psikologis yang terjadi atas program ini, mari kita pahami dulu mengapa anak menunjukkan perilaku “nakal”.
Dalam kajian psikologi, terdapat konsep perilaku yang disebut dengan Analisis Perilaku Fungsional (Functional Behavioral Analysis). Ketika kita melihat perilaku kenakalan anak (misalkan perundungan, tawuran, dan membolos) maka ada dua hal penting yang perlu dipahami, yakni pemicu kenakalan tersebut, serta dampak langsung dari kenakalan mereka.
Pemicu merupakan faktor yang menjadi kondisi awal atau latar belakang sebelum perilaku nakal itu muncul. Pada konteks ini, biasanya pemicu yang sering terjadi adalah adanya tekanan yang didapatkan oleh anak.
Tekanan bisa datang dari lingkungan terdekat anak, seperti keluarga. Tekanan ini bisa muncul karena situasi keluarga yang tidak kondusif, kekerasan dalam keluarga, orang tua yg terlalu keras, atau sebaliknya keluarga yang mengabaikan, dan tidak menunjukkan perhatian.
Tekanan pada anak dapat pula muncul dari sekolah. Perasaan tertekan pada anak muncul karena mereka secara kognitif tidak mampu beradaptasi dengan tuntutan dan tugas-tugas di sekolah.

Pemicu lainnya bisa dari kebutuhan emosional anak yang tidak terpenuhi, maupun pengaruh negatif dari teman sebaya. Faktor inilah yang memunculkan respons aktual berupa perilaku-perilaku kenakalan. Akibatnya, anak yang menunjukkan perilaku kenakalan ini akan mendapatkan berbagai bentuk konsekuensi. Menempatkan anak di barak militer menjadi salah satu konsekuensi/hukuman yang diterima oleh anak dengan perilaku nakal.
Sebenarnya sudah menjadi hal yang lumrah ketika anak-anak yang bermasalah mengikuti program barak militer ini, mereka akan terlihat lebih patuh selama program berlangsung, bahkan mungkin beberapa saat setelahnya. Namun, kepatuhan ini bukan karena mereka benar-benar berubah atau jera, melainkan karena mereka belajar cara menghindari hukuman.
Tanpa disadari, program semacam ini justru mengasah kemampuan anak untuk berkelit dan memanipulasi situasi agar lolos dari hukuman. Akibatnya, perubahan perilaku yang muncul hanya bersifat sementara, karena tidak disertai dengan pemahaman atau kesadaran dari dalam diri mereka sendiri.
Risiko Cedera Moral
Sungguh ironis ketika kita berupaya mengubah perilaku negatif pada anak dengan mengabaikan pemicu kenapa perilaku itu muncul, dan hanya berfokus pada memberi konsekuensi langsung. Risiko terbesar yang mungkin muncul adalah anak akan mengalami disfungsional kognitif. Ini merupakan kondisi di mana anak dipaksa untuk disiplin dan berperilaku baik tanpa menghayati mengapa mereka harus melakukan itu. Mereka tidak memiliki kecakapan untuk mengidentifikasi problem internal mereka.
Perkembangan moral versi Lawrence Kohlberg, seorang psikolog dari Amerika Serikat, menyebutkan bahwa kondisi semacam ini justru berada pada level paling rendah. Mereka tidak paham alasan moral dan sosial dari perilaku baik yang diharapkan. Lalu, apa perlu kita mempertahankan pendidikan yang tampaknya memberi pelatihan moral yang baik, tapi sebenarnya sedang membentuk moralitas mereka seperti robot dengan tombol “on” dan “off”.
Anak-anak yang menggunakan perilaku nakal sebagai komunikasi untuk menunjukkan ketidakberhargaan diri mereka akan menumbuhkan kepercayaan irasional. Stigma sebagai anak nakal, yang diamini oleh banyak pihak-bahkan orang tua-akan memperkuat perasaan bahwa aku tidak berguna. Kepercayaan irasional ini yang justru akan meningkatkan perilaku nakal itu sendiri.
Alih-alih menghilangkan kenakalan, kebijakan ini justru memperkuat pemicu yang membentuk kenakalan itu terjadi. Dari sini, kita melihat bahwa masing-masing anak ini unik. Mungkin mereka bisa memunculkan bentuk kenakalan yang sama, namun bisa jadi pemicunya sangat berbeda. Intervensi yang salah justru bisa berdampak fatal.
Potensi yang Baik Jika Terintegrasi dengan Pendekatan Psikologi
Pendidikan di barak militer ini akan menjadi potensi yang baik jika fokus utamanya adalah membangun makna, bukan sekadar kepatuhan tanpa refleksi. Anak perlu memahami mengapa mereka harus berperilaku baik.
Pendidikan militer ini sebaiknya hanya berfungsi sebagai peran sekunder yang dapat menekan perilaku negatif dengan cepat namun singkat. Sementara itu, peran primernya ada pada pendekatan psikologis dan relasional yang berfokus pada kebutuhan individu dan tentu melibatkan banyak pihak.

Anak bukan robot yang bisa “diprogram” secara instan. Mereka memiliki emosi, pengalaman masa lalu, dan dinamika psikologi yang kompleks. Pendekatan yang efektif adalah yang mampu mengenali dan menghormati keunikan setiap anak.
Menyelesaikan masalah perilaku anak tidak bisa dilakukan secara dangkal tanpa memahami dinamika perkembangan anak, apalagi hanya demi citra atau euforia viral. Perubahan sejati memerlukan proses panjang yang kolaboratif dan konsisten, melibatkan sekolah, keluarga, praktisi psikologi, dan komunitas.

Izza Himawanti adalah seorang dosen psikologi dan mahasiwa doktoral psikologi di Universitas Indonesia. Sudah 14 tahun terakhir aktif melakukan penelitian, kampanye sosial dan menjadi narasumber terkait perkembangan dan pendidikan anak, juga tentang pengasuhan anak. Aktif juga sebagai mental health influencer pada platform instagram Tanya Bu Dosen (@izza_himawanti).


