Ketidakpastian bukan kelemahan, melainkan bagian dari hidup yang menuntut keberanian.
“Nanti kamu jadi apa?”
Pertanyaan ini akrab banget di telinga kita sejak kecil, seolah-olah masa depan harus sudah pasti sejak usia belasan. Padahal hidup itu cair, berubah, penuh kejutan, dan nggak semua hal bisa direncanakan. Tapi kenapa, ya, kita takut banget sama yang nggak pasti?
Dalam kehidupan masyarakat modern, ketidakpastian seringkali dianggap musuh. Kita diajarkan untuk selalu memiliki rencana lima tahun ke depan, target mingguan, bahkan jam-jam produktif yang harus dipatuhi. Kita hidup dalam dunia yang makin disiplin, makin terukur, dan makin terobsesi dengan kepastian.
Menurut Zygmunt Bauman dalam bukunya Liquid Modernity, masyarakat kita telah berubah dari “padat” menjadi “cair”. Artinya, nilai-nilai, struktur, dan relasi sosial tidak lagi stabil. Semua bisa berubah dengan cepat: kerja, cinta, identitas. Tapi anehnya, justru di tengah dunia yang cair itu, manusia makin keras mencari kepastian.
Ketakutan terhadap ketidakpastian juga muncul dari cara institusi mendisiplinkan kita. Michel Foucault dalam Discipline and Punish menjelaskan bagaimana sekolah, rumah sakit, dan penjara membentuk tubuh-tubuh yang patuh.
Kita dilatih sejak kecil untuk mengikuti jadwal, mengerjakan soal ujian dengan jawaban tunggal, dan dihargai karena “tahu pasti” apa yang kita kerjakan. Ketidaktahuan jadi sesuatu yang memalukan.

Di Indonesia, fenomena ini sangat terasa. Anak SMA dituntut tahu jurusan kuliah sebelum benar-benar mengenal dirinya sendiri. Gagal dalam tes dianggap kegagalan hidup. Padahal, menurut Karl Jaspers dalam karyanya yang berjudul Philosophy of Existence menjelaskan, dalam tradisi eksistensialisme, ketidakpastian justru adalah bagian dari kebebasan manusia. Hidup yang penuh kemungkinan membuat kita bebas memilih, merespons, dan bertumbuh.
Sayangnya, dalam budaya yang sangat menekankan “kebenaran tunggal”, seperti sistem pendidikan dan relasi kuasa di Indonesia, pilihan yang berbeda sering dianggap salah. Orang-orang lebih suka jawaban pasti dibandingkan dengan memberi ruang untuk berpikir. Kita terbiasa mengejar “jawaban yang benar”, alih-alih membiasakan diri untuk bertanya.
Menurut psikolog Barry Schwartz dalam The Paradox of Choice, terlalu banyak pilihan juga bisa melumpuhkan kita. Tapi, bukan berarti solusi terbaik adalah menutup semua kemungkinan. Yang kita butuhkan bukan kepastian mutlak, tapi keberanian untuk tetap hidup meski tidak semuanya terlihat jelas.
Kalau direnungkan, kenapa merasa “nggak tahu” begitu menakutkan?
Mungkin karena kita tidak pernah diajarkan cara untuk berdamai dengan ambiguitas. Padahal, justru dari ruang abu-abu itulah kreativitas, keberanian, dan kemanusiaan lahir.
Selain ketakutan terhadap ketidakpastian yang berasal dari struktur sosial dan budaya, ada juga faktor psikologis yang memperkuat perasaan ini. Psikolog Daniel Kahneman, pemenang Nobel Ekonomi, menjelaskan dalam bukunya Thinking, Fast and Slow bahwa manusia cenderung menghindari risiko karena otak kita lebih sensitif terhadap kerugian daripada keuntungan. Ini disebut loss aversion. Dengan kata lain, kita merasa lebih sakit ketika mengalami kegagalan dibandingkan senangnya ketika berhasil. Karenanya, ketidakpastian terasa seperti ancaman besar yang membuat kita ingin segera menemukan jawaban pasti.

Fenomena ini juga berkaitan dengan bagaimana teknologi dan media sosial memengaruhi cara kita melihat dunia. Di era digital, segala sesuatu bergerak cepat dan kita disuguhkan dengan informasi yang kadang bertentangan. Kondisi ini menyebabkan information overload, di mana otak kewalahan menyaring dan memproses informasi. Psikolog asal Amerika Barry Schwartz juga menjelaskan bahwa kondisi ini membuat orang semakin bingung dan ragu dalam mengambil keputusan, sehingga semakin takut menghadapi ketidakpastian.
Dari sisi budaya Indonesia, nilai gotong royong dan harmoni sosial yang menjadi bagian penting kehidupan masyarakat mendorong kita untuk senantiasa menghindari konflik dan ketidakpastian demi menjaga kedamaian bersama. Namun, hal ini kadang menekan individu untuk tidak mengekspresikan keraguan atau ketidakpastian secara terbuka, sehingga memperkuat rasa takut pada hal yang tidak pasti.
Tantangan terbesar adalah bagaimana kita mulai menerima ketidakpastian sebagai bagian alami hidup. Filsuf Bertrand Russell lewat karyanya The Conquest of Happiness berpendapat bahwa kebahagiaan bukan berasal dari menghilangkan ketidakpastian, melainkan dari sikap menerima dan menghadapi ketidakpastian itu dengan tenang dan terbuka. Ini berarti, perlu bagi kita untuk membangun ketahanan mental agar tetap bergerak maju meski tak semua hal bisa diprediksi.
Sebagai langkah praktis, kita bisa mulai belajar bertanya tanpa takut salah dan menerima kegagalan sebagai proses pembelajaran. Pendidikan di Indonesia bisa menanamkan nilai ini agar generasi muda lebih siap menghadapi dunia penuh ketidakpastian dengan kepala dingin dan hati yang kuat.
Dengan memahami ketakutan ini dari berbagai sudut pandang, kita tidak hanya jadi lebih bijak secara pribadi, tapi juga bisa menciptakan masyarakat yang adaptif dan kreatif dalam menghadapi perubahan.
Sumber gambar: freepik.com

D. Deissya Ayu F adalah penulis opini reflektif yang aktif di dunia kepenulisan dan komunitas edukatif. Ia dikenal sebagai pemikir bebas yang gemar mempertanyakan hal-hal yang jarang disentuh orang. Lewat tulisan-tulisan jujur dan tajam, ia fokus pada isu gender, pendidikan, dan filosofis yang menggugah nalar dan membebaskan cara berpikir.
Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan.
Adding {{itemName}} to cart
Added {{itemName}} to cart