Neurodiversity

Neurodiversity atau keragaman dalam fungsi otak adalah pemahaman bahwa otak manusia memiliki cara berpikir dan merasa yang berbeda, dan variasi ini natural. Neurodiversity juga dapat diterjemahkan sebagai “keragaman saraf” dalam bahasa Indonesia.

Ide Utama

Sejarah Neurodiversity

Judy Singer menemukan dan mempopulerkan istilah neurodiversity bukan dari ruang laboratorium atau konferensi ilmiah, tapi dari ruang hidup dari pergulatan personalnya sebagai seorang perempuan autistik yang merasa tidak punya bahasa untuk menjelaskan keberadaannya di dunia yang tidak memahaminya.

Judy Singer, penggagas Neurodiversity
Judy singer, sumber Wikipedia

Pada tahun 1990-an, Judy mulai menyadari bahwa anak perempuannya menunjukkan ciri-ciri autisme. Hal ini mendorongnya untuk mencari tahu lebih dalam dan di sanalah ia mulai melihat pola: banyak orang dengan cara berpikir seperti dirinya dan anaknya yang sering dianggap “bermasalah”, padahal mereka hanya berbeda.

Ketika Judy melanjutkan studi Sosiologi di University of Technology Sydney, ia memutuskan untuk menulis tentang perbedaan neurologis sebagai bagian dari keragaman manusia. Ia melihat bagaimana orang-orang autistik, disleksik, dan ADHD sering dijelaskan dengan istilah medis penuh label, gangguan, dan “intervensi”. Tapi tidak ada istilah untuk menggambarkan realitas mereka secara positif dan utuh. Dari sinilah, ia menciptakan istilah neurodiversity, sebuah kata yang bisa merangkul cara berpikir dan merasakan yang berbeda, tanpa langsung menyebutnya sebagai “gangguan”.

Sebuah istilah yang memantik gerakan

Judy tidak pernah berniat menciptakan gerakan besar, tapi istilah “neurodiversity” segera menyebar ke komunitas autistik online yang waktu itu sedang berkembang. Di simbolkan oleh logo spektrum infinity, mereka menemukan bahasa baru untuk menyebut diri mereka. Bukan sebagai pasien, tapi sebagai bagian dari keragaman manusia. Istilah ini lalu melebar ke ADHD, Autisme, Disleksia, Dyspraxia, Tourette Syndrome, Dyscalculia, Dysgraphia dan lain-lain. Konsep neurodiversity menantang asumsi negatif yang telah umum beredar tentang variasi–variasi yang bukan seperti otak orang kebanyakan (neurotipikal). Kalau ada begitu banyak variasi fungsi kerja otak, bagaimana bisa ada satu saja yang “normal”?

Setiap bentuk ragam fungsi otak memiliki pengalaman uniknya sendiri. Kami bekerja sama dengan Project Lima untuk membawa kisah dan mengupas stigma yang ada melalui pengalaman interaktif ini

ilustrasi spektrum susunan saraf autis (kiri) dan dyslexia (kanan) berdasarkan study dari Dr. Manuel Casanova diadopsi dari illustrasi Jennifer Plosz, University of Calgary

Kebutuhan dan Tantangan Neurodivergent

Ragam fungsi otak yang tidak umum biasanya direduksi masyarakat sebagai kecacatan. Padahal pengalaman yang dijalani oleh individu neurodivergent jauh lebih kompleks dan kaya dari sekadar label medis. Mereka merasakan dunia dengan cara yang berbeda dengan sensitivitas, intuisi, atau pola pikir yang tidak selalu dipahami oleh standar umum.

Dalam banyak kasus, justru dari perbedaan itulah muncul kekuatan. Orang dengan disleksia bisa menjadi pemikir visual yang luar biasa. Mereka yang hidup dengan ADHD kerap punya energi kreatif dan spontanitas yang memecah kebuntuan. Mereka yang autistik sering melihat dunia dengan kejujuran dan kedalaman yang jarang ditemukan. Namun kekuatan ini tidak akan tumbuh bila lingkungan terus memaksa mereka untuk menyesuaikan diri secara kaku.

Dengan adanya dukungan dan akomodasi yang tepat, individu neurodivergent bisa mengembangkan diri dan kemampuan dengan baik. Karena itu, pemahaman tentang pengalaman individu neurodivergent menjadi penting. 

Autisme adalah ragam fungsi otak yang berdampak terutama pada cara berkomunikasi dan berinteraksi. Memproses komunikasi non-verbal (bahasa tubuh, raut muka, dan kontak mata), serta menginterpretasikan pikiran dan perasaan orang lain bisa terasa cukup sulit.

Proses kognitif individu autistik yang intens membuat mereka merasa lebih nyaman dengan hal-hal yang sudah menjadi rutinitas. dan juga biasa menaruh minat besar dan berfokus sangat dalam pada suatu hal tertentu. Dimana tingkat kedalamannya bisa jauh berbeda dengan orang kebanyakan. Karena itu, walaupun individu autistik cenderung kesulitan menghadapi hal-hal baru atau tidak terduga, ketika sudah fokus dengan 1 hal bisa sangat excel di hal itu.

Selain itu, sensitivitas terhadap stimulus membuatnya kerap tidak nyaman bersosialisasi. Contohnya tidak nyaman menatap muka atau disentuh. Akibatnya, mereka dianggap aneh.

Disleksia adalah kesulitan belajar spesifik yang terutama memengaruhi perkembangan keterampilan literasi dan bahasa, tetapi juga bisa berdampak pada ingatan dan keterampilan organisasi. Ini disebabkan karena otak disleksia di desain untuk memproses hal-hal non linear contohnya seperti visual dan audio. 

Mereka mungkin kesulitan dalam baca-tulis, tapi justru unggul dalam melihat gambaran besar, menemukan pola tersembunyi, dan menciptakan ide-ide baru. Jadi, ini bukan kekurangan tapi bentuk kecerdasan yang berbeda.

Oleh karena itu ada sebuah istilah yang disebut dyslexic thinking. Yang berarti adalah gaya berpikir khas orang dengan disleksia yang kuat di kreativitas, pemikiran visual, intuisi, dan pemecahan masalah.

ADHD adalah kondisi neurologis yang memengaruhi cara seseorang memusatkan perhatian, mengatur impuls, dan mengelola energi atau aktivitas fisik. ADHD bukan soal “kurang fokus” semata, tapi soal bagaimana otak memproses perhatian dan kontrol diri dengan cara yang berbeda.

Dari kacamata neuroscience, otak dengan ADHD bekerja dengan sistem dopamin yang berbeda—zat kimia yang ngatur motivasi, fokus, dan rasa puas. Bagian otak seperti prefrontal cortex (yang ngatur planning, konsentrasi, kontrol impuls) cenderung lebih aktif atau kurang stabil, bikin seseorang jadi cepat teralihkan, impulsif, atau sangat aktif.

ADHD bukan gangguan, tapi cara berpikir yang beda. Orang ADHD sering punya imajinasi liar, spontanitas, empati tinggi, dan kemampuan hyperfocus (fokus dalam banget ke hal yang mereka suka). Tantangannya muncul bukan karena mereka “salah”, tapi karena lingkungan terlalu kaku atau terlalu menuntut cara kerja otak yang seragam.

Dispraksia (atau Developmental Coordination Disorder / DCD) adalah kondisi neurologis yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam merencanakan dan mengoordinasikan gerakan tubuh. Bukan karena ototnya lemah, tapi karena otaknya kesulitan mengatur bagaimana dan kapan tubuh bergerak.

Dari lensa neuroscience, pada orang dengan dispraksia, ada gangguan dalam jalur komunikasi antara otak dan tubuh—terutama di bagian otak yang mengatur motorik halus dan kasar. Hal ini bikin aktivitas seperti menulis, mengancingkan baju, atau bermain olahraga jadi terasa lebih sulit dan butuh usaha ekstra.

Dispraksia bukan soal ceroboh atau “malas gerak”. Ini cara tubuh bekerja yang berbeda. Orang dengan dispraksia sering punya kemampuan kognitif yang kuat, pemikiran strategis, dan sensitivitas tinggi—mereka hanya butuh waktu dan pendekatan yang sesuai untuk kegiatan fisik atau organisasi sehari-hari.

Sindrom Tourrette adalah kondisi neurologis yang menyebabkan seseorang melakukan gerakan atau suara berulang yang tidak bisa mereka kendalikan, yang disebut tics. Ini bukan karena mereka ingin, tapi karena dorongan dari dalam tubuh dan otak yang sulit ditahan.

Dari lensa neuroscience, tourette berhubungan dengan gangguan pada sistem saraf pusat, terutama di area basal ganglia, bagian otak yang ngatur gerakan dan kontrol impuls. Sistem ini memroses sinyal secara berlebihan, bikin muncul gerakan spontan atau suara tiba-tiba (seperti berkedip cepat, mengangkat bahu, batuk, atau bersuara aneh).

Tourette bukan soal “sengaja” atau “cari perhatian”. Banyak orang dengan Tourette tetap cerdas, kreatif, dan peka secara sosial. Tantangan terbesar sering datang dari stigma—bukan dari kondisi itu sendiri. Dalam lingkungan yang suportif, mereka bisa berkembang tanpa harus menyembunyikan tics-nya.

Karena itu, dukungan, akomodasi, dan pemahaman yang menyeluruh menjadi kunci. Kita perlu mendengarkan langsung cerita dan kebutuhan mereka, bukan untuk mengasihani, tapi untuk menciptakan ruang hidup yang adil dan ramah bagi semua jenis cara berpikir. Memahami pengalaman neurodivergent bukan sekadar tentang empati, tapi tentang membayangkan ulang dunia yang lebih terbuka terhadap keragaman manusia itu sendiri.

Melawan Stigma, Membongkar Konstruksi Sosial

Setiap masyarakat memiliki konsep apa yang baik dan buruk, apa yang normal dan tidak normal. 3 dari 10 orang adalah neurodivergent. Meski begitu, memiliki ragam fungsi otak yang “berbeda” masih dianggap tidak normal. 

Tapi, perlu kita ingat bahwa konsep ‘tidak normal’ dan ‘normal’ dibentuk oleh masyarakat; sebuah konstruksi sosial yang dirancang dan bisa dibentuk ulang. Sama halnya dengan bagaimana dulu wanita karier dianggap sesuatu yang tidak normal, sementara kini wanita karier menjadi sesuatu yang normal.

Model Disabilitas

Dalam kesehariannya, individu neurodivergent bisa menemukan berbagai hambatan. Ketika sampai jadi penghalang dalam berkegiatan, hambatan tersebut dapat dibilang memunculkan disabilitas. Tapi apa itu disabilitas? Tergantung lensa yang digunakan, ada berbagai cara mendefinisikan disabilitas.

Model medis disabilitas melihat ragam fungsi otak yang tidak umum sebagai kondisi medis yang perlu disembuhkan. Karena itu, individu yang menggunakan lensa ini secara aktif mencari solusi medis untuk menyembuhkan/mengelolanya.

Model holistik mengakui bahwa pengalaman individu dengan disabilitas berbeda-beda. Meski hambatan sosial memiliki dampak besar, ada juga kekurangan yang secara langsung membuat individu jadi tidak mampu (disabling).

Lensa ini muncul sebagai kritik untuk model sosial yang dirasa kurang merepresentasikan pengalaman individu dengan situasi yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan dukungan masyarakat, tapi juga memerlukan bantuan medis.

Menurut model sosial, kondisi seseorang bukanlah disabilitas. Kondisi tersebut menjadi disabilitas ketika bertemu dengan hambatan-hambatan yang dibuat oleh masyarakat.

Model ini hadir sebagai kritik untuk model medis, dari individu-individu neurodivergent yang menemukan bahwa saat diakomodasi oleh masyarakat dengan baik, ragam fungsi otak mereka bukanlah suatu kekurangan.

Bagaimana gerakan neurodiversity di Indonesia?

Sayangnya, kesadaran seputar neurodiversity di Indonesia masih sangat rendah. Jika pun ada, biasanya kesadaran dan dukungan yang tersedia hanya berfokus pada anak-anak. Tak hanya itu, representasi neurodivergent di media juga terus mempertegas stigma buruk. 
 
Neurodiversity
 
Pembingkaian ragam fungsi otak sebagai penyakit mengabaikan kompleksnya pengalaman seorang neurodivergent.
Neurodiversity
 
Ragam fungsi otak berbeda dengan penyakit. Individu neurodivergent memiliki tantangan dan kelebihan yang berbeda dengan individu neurotipikal. Karena itu, diperlukan dukungan yang sesuai dengan tantangan yang dihadapi. Kadang, tantangan ini bersifat sosial seperti diskriminasi. Kadang juga, tantangan bisa bersifat medis seperti kecemasan, masalah pencernaan, atau sakit kepala berlebih.
Neurodiversity
 
Penggunaan ragam fungsi otak sebagai sinonim untuk sifat-sifat negatif datang dari stigma yang ditempelkan masyarakat pada individu neurodivergent. Stigma ini sering kali tidak benar dan sangat berbahaya. Sayangnya istilah-istilah ini secara umum diterima oleh masyarakat, sehingga bahkan bisa digunakan di ranah formal.

Tantangan di tempat kerja

Meski neurodiversity diketahui membawa perspektif baru yang menguntungkan untuk perusahaan, data International Labour Organization menunjukkan bahwa 80% individu neurodivergent menjadi pengangguran. Di dunia kerja, individu neurodivergent tetap menemukan tantangan; mulai dari sistem rekrutmen yang tradisional hingga lingkungan yang tidak suportif. Beberapa diantaranya:
 
Wawancara sebagai penentu rekrutmen

Individu neurodivergent memiliki kemungkinan berhasil yang kecil dalam wawancara. Baik itu karena kesulitan menjaga kontak mata, kepercayaan diri yang rendah karena pengalaman buruk di wawancara, atau cara mengkomunikasikan kelemahan dan kekuatan yang kurang strategis.

Padahal, belum tentu orang yang dianggap berhasil di wawancara bisa bekerja dengan lebih baik.

Meski seseorang dengan keragaman syaraf berhasil melewati proses rekrutmen, kriteria tradisional untuk mendefinisikan pegawai yang baik (komunikasi, kerjasama tim, kecerdasan emosional, kemampuan persuasi dan berjejaring, serta kemampuan menyesuaikan diri dengan praktek standard) tetap dapat menyingkirkan orang dengan keragaman syaraf. Padahal, belum tentu orang yang dianggap berhasil di wawancara bisa bekerja dengan lebih baik.

Sebagian individu neurodivergent seperti mereka dengan Autisme dan ADHD memiliki proses sensorik yang berbeda dengan neurotypical. Karena itu, mereka memiliki respons dan kebutuhan sensorik yang berbeda pula. Hal ini dapat mempengaruhi keseharian di tempat kerja – misalnya, bekerja di ruang yang terang dan berisik bisa membuat individu tersebut kewalahan secara sensorik sehingga tidak bisa menunjukkan performa yang maksimal.

Individu autistik, misalnya, berpikir secara spesifik. Karena itu, individu autistik terbantu oleh cara komunikasi yang spesifik dan lugas. Instruksi yang diberikan dengan jelas, spesifik, dan lugas membantu performa individu autistik. Sementara, instruksi yang tidak spesifik menyebabkan individu autistik kesulitan untuk mengerjakan tugas secara optimal.

Individu dengan autisme, ADHD, atau bipolar, misalnya, cenderung memiliki fungsi eksekutif yang lebih lemah. Tanpa fungsi eksekutif yang baik, mengerjakan tugas berdasarkan tenggat waktu yang telah diberikan menjadi sulit. Karena itu, individu neurodivergent kadang memerlukan akomodasi agar dapat menyelesaikan pekerjaan seoptimal mungkin.

Individu autistik memiliki proses kognitif yang berbeda dengan neurotypical. Proses kognitif individu autistik yang intens membuat mereka merasa lebih nyaman dengan hal-hal yang sudah menjadi rutinitas. Karena itu, individu autistik cenderung kesulitan menghadapi hal-hal baru atau tidak terduga.

Keragaman Perspektif

Banyaknya stigma dan kuatnya konstruksi sosial tentang apa yang dianggap ‘normal’ membuat masyarakat tidak menyadari bahwa individu neurodivergent punya sumbangan perspektif tersendiri. Cara berpikir mereka yang berbeda menawarkan kontribusi baru dalam melihat masalah, mengerjakan tugas, dan mencari solusi.

Buat perubahan di sekitarmu.

Untuk membuat ruang keluarga, ruang sosial, dan ruang kerja menjadi lebih inklusif bagi neurodiversity, perlu ada dukungan dari keluarga, teman, dan tempat kerja. Tentunya, perubahan perlu dimulai dari hal kecil dan dimulai dari sekarang. Jadi, apa yang bisa kamu lakukan?
Pemberi Kerja

Karena pengalaman mereka yang berbeda dengan individu neurotypical, Individu neurodivergent membawa perspektif unik ke dalam perusahaan dan organisasi. Ketika didukung untuk berkembang, perspektif-perspektif baru ini bisa menjadi kekuatan untuk tim Anda.

Pemberi kerja memiliki peran besar dalam membentuk ruang kerja yang inklusif dan mendukung pekerja neurodivergent. Diantaranya dengan;

  • Mengadakan perubahan-perubahan pada sistem yang menjadikannya lebih ramah untuk neurodivergent seperti memberikan pilihan wawancara tatap muka, zoom, dan panggilan suara pada proses rekrutmen.
  • Membangun kultur yang suportif di tempat kerja melalui edukasi tentang neurodiversity.
  • Membuka dialog tentang cara terbaik mendukung tim dengan neurodiversity

Teman sekantor berperan membentuk budaya dan suasana di tempat kerja. Karenanya, mereka juga punya peran besar dalam membangun tempat kerja yang lebih inklusif dan nyaman. Sebagai teman sekantor, ada banyak hal yang bisa kamu lakukan.

  • Mengedukasi diri dan berkomunikasi dengan individu neurodivergent di sekitar. Dukungan seperti apa yang mereka butuhkan? Setiap kondisi memerlukan strategi support yang berbeda.
  • Bersikap proaktif dalam menciptakan tempat kerja yang inklusif, misalnya dengan membantu rekan kerja lain belajar tentang neurodiversity.
  • Menggunakan suara dan bantu meluruskan saat ada tindakan atau ucapan diskriminatif di lingkungan kantor.
  • Manyakan teman di sekitarmu format komunikasi apa yang mereka sukai. Mungkin ada yang menyukai email, ukuran huruf yang besar, dil.

Kamu tidak sendiri. Kalau kamu adalah individu neurodivergent yang sedang menghadapi tantangan di tempat kerja, kamu bisa coba lakukan beberapa hal ini:

  • Mencari bantuan pelatih atau psikolog untuk tahu cara terbaik mendukung dirimu.
  • Berterus terang soal kebutuhanmu kepada atasan. Edukasi atasan dan rekan-rekanmu tentang pengalaman neurodivergent dan kebutuhanmu.
  • Membentuk strategi kerja yang bisa mengamplifikasi kekuatanmu mendukung kekuranganmu dengan orang sekitar.
  • Menemukan komunitas dan dukungan dari ahli untuk kamu dapat mengembangkan diri, karier atau memperoleh dukungan di tempat

Dengan Ahli

  • Melinda Child Development Center
  • Mindseeds.id

Dengan Komunitas

  • Neuminds.id
  • Pemuda Autisme Indonesia
  • Asosiasi Disleksia Indonesia
  • Neurodiversity as a Competitive Advantage oleh Robert D. Austin dan Gary P. Pisano
  • Neuro-diversity and the workplace – positive or negative? oleh Neil Barnett, Dr Nancy Doyle, dan Sophy Fisher
  • Strengths associated with Neurodiversity in the workplace oleh ACGAS Disability Task Group
  • ADHD, Neurodiversity, and Bias oleh Harvard Business Review
  • What is ADHD? oleh Exceptional Individuals
  • Neurodiversity and Co-occurring difficulties: Dyspraxia (DCD) oleh British Dyslexia Association
  • What is dyspraxia? oleh Medical News Today
  • Tourette Syndrome Is (Almost) As Prevalent As Autism: Where Is The Support? oleh Nancy Doyle
  • Tourette Syndrome oleh Different Brains
  • Neurodiverse or Neurodivergent? It’s more than just grammar oleh Sue Fletcher-Watson
  • Introducing the Holistic Model of Disability oleh Autistictic

Terimakasih kepada expert yang telah bersama-sama berkolaborasi membantu membangun konten Neurodiversity campaign ini.

  • Dina Djunaedi – Mindseed.id
  • Ireisha Anindya dan Tim Pemuda Autisme Indonesia
  • Dr. Kristiantini Dewi, Sp.A – Asosiasi Disleksia Indonesia
  • Hersinta, M.Si
  • Anastasia Satriyo, M.Psi., Psi.

Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan. 

Bagikan
WhatsApp
X
Facebook
LinkedIn
Email
Print