Mengenal Sosok Pramoedya Ananta Toer, Sang Pemantik Ke-Rebel-an Muda-Mudi Indonesia

Ide Utama

Lewat tulisannya, Pram seperti gema yang tak pernah padam, suara yang menembus waktu dan menjelma menjadi keberanian.

Tanpa kehadiran tulisan dan cerita sang maestro Pramoedya Ananta Toer, mungkin banyak pemuda-pemudi Indonesia menjadi “kosong”. Tak punya panutan dan contoh sosok pejuang sesungguhnya, yang berjuang untuk prinsip yang diyakini. Kosong sama saja dengan nihilnya amunisi untuk berontak ketika prinsip dan harga diri dikangkangi.  

Mengikuti Jejak Pram

Saya mulai membaca buku-buku Pram, panggilan Pramoedya, saat saya masih duduk di bangku perkuliahan. Buku itu saya beli dengan menyisihkan uang saku yang tidak seberapa. Jika tidak mampu membelinya, saya akan meminjam di perpustakaan atau rekanan yang mengoleksinya. Keinginan keras untuk membaca buku-buku Pram hanyalah agar saya bisa memenuhi kebutuhan otak dan jiwa akan asupan intelektual.

Setiap kali membaca setiap bukunya, saya merasa menjadi seseorang pemuda rebel yang bisa percaya diri untuk melakukan sesuatu. Memperjuangkan mereka yang lemah dan melawan segala bentuk kesewenang-wenangan. Bukan untuk sok-sokan sebetulnya, tapi setidaknya saya merasa tidak dapat dibodohi. Selain itu, saya juga tak lagi rendah diri ketika  bercengkerama dengan seseorang yang usianya jauh di atas saya.

Novel fenomenal Bumi Manusia tentu saja menjadi buku karya Pram yang pertama kali saya baca. Saya ingat betul, pertama kali membacanya di pertengahan tahun 2011. Buku ini bahkan menjadi teman setia saya di tengah gelora muda membara. Saat kuliah di jurusan Komunikasi, karya-karya Pram lebih banyak memberatkan isi tas saya ketimbang buku perkuliahan. Membawa buku sastra terasa lebih keren daripada membawa modul dan seabrek buku kuliah yang membosankan itu.

Kisah tentang buku-buku Pram yang dicekal pada masa orde baru-lah yang memantik rasa penasaran. Membaca buku-buku terlarang milik Pram ini ibarat pemberontakan kecil.  

Meski karyanya masuk dalam kategori angkatan ‘45 dalam pembabakan sastra di Indonesia, memahami tulisan-tulisan Pram tak membutuhkan waktu yang lama. 

Karyanya ditulis dalam kalimat yang lugas, namun tetap deskriptif. Terlebih, karya Pram ini juga acap menyisipkan kutipan-kutipan ciamik yang mampu mendobrak dogma dan nalar pikir baru. Seperti misalnya kalimat “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.” 

Yang saya sukai dari Pram barangkali adalah caranya menaruh perhatian pada sosok-sosok yang kalah. Dari Minke, Midah, Kartini, Mangir, Calon Arang, Arok Dedes, hingga keluarganya sendiri, semua ia kisahkan dengan memukau. Mereka yang kerap dipinggirkan sejarah justru mendapat ruang, suara, dan martabat dalam tulisannya. Pram seolah ingin mengingatkan bahwa sejarah bukan hanya milik para pemenang, melainkan juga mereka yang remuk namun tetap bertahan dalam ingatan. 

Makna Perjuangan

Perjuangan Pram yang terus berkarya lewat tulisan ketika di penjara di Pulau Buru adalah sesuatu yang bernilai tinggi. Sel memang telah memenjarakannya raganya namun tidak pernah berhasil membelenggu pikirannya. Justru di balik jeruji itulah lahir mahakarya-mahakarya yang begitu agung. Bagi kaum muda, kisah ini memberi pelajaran penting tentang arti berjuang: bahwa setiap halangan bukanlah alasan untuk berhenti mengejar sesuatu, melainkan tantangan untuk terus melampauinya. 

Pram merupakan sosok yang mampu memotret kejadian di zamannya yang menjadi cerita klasik di masa kita sekarang. Kita bisa membaca itu di banyak karya Pram, seperti Mereka yang Dilumpuhkan, Dari Tepi Kali Bekasi, Cerita Dari Blora, dan Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Pram mampu memotret dengan canggih kondisi sosial Masyarakat saat itu hingga menjadi seperti dongeng di masa kita sekarang. Kondisi di zaman Pram rasanya memang tidak jauh beda dengan zaman kita sekarang. Masih ada permasalahan sosial ekonomi dan politik yang terus terjadi.

Masalah sosial ekonomi yang terjadi di Indonesia belakangan ini sudah selayaknya juga menjadi perhatian setiap insan. Perlu ada sosok Pram-Pram yang baru yang mampu merekam setiap kejadian pilu itu. Kalau mencari konflik kemanusiaan, rasanya di Indonesia itu tidak pernah kurang. Misalnya, kasus Pagar Laut, Rembang, Wadas, Tumpang Pitu, Pakel, Kendeng, Sangihe, dan lain sebagainya. Namun, dengan tidak adanya pencerita andal yang mengisahkan konflik berdarah itu, kisah perjuangan ini hanya akan menguap begitu saja. 

“Karena kau menulis. Suaramu takkan padam di telan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” Begitu kata Pram di buku Anak Semua Bangsa.  

Tahun ini usia Pramoedya Ananta Toer telah menginjak satu abad. Berbagai acara telah dibuat untuk merayakan sosok yang lahir pada 6 Februari 1925 ini. Banyak sekali unggahan di media sosial yang turut memperingatinya. Saya pun ikut mengenang mengenangnya lewat tulisan pendek ini. 

Semoga semua yang telah diperjuangkan Pram mampu menjadi kebaikan untuk kita semua. Selamat jalan, Pramoedya Ananta Toer. Karyamu abadi, perjuanganmu terus hidup di setiap generasi. 


Ismail Noer Surendra adalah penulis lepas yang suka kelepasan menulis. Menulis apa saja hingga susah ditebak. Bisa disapa di akun @mailboxx_

Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan. 

Bagikan
WhatsApp
X
Facebook
LinkedIn
Email
Print