Musik pun Bisa Berpetualang

Ide Utama

Musik bukan cuma soal nada dan irama. Ia juga bisa menjadi cara paling jujur untuk bercerita.

Dari buku fiksi bagus yang telah selesai kita baca, terkadang tercuat sebuah pertanyaan tentang bagaimana penulis menyusun ceritanya secara apik. Bagaimana penulis mampu mengubah keadaan cerita yang sedari awal diam bergeming menjadi beriak hingga berombak, sekaligus bagaimana sistematika penulis dalam memilih plot-plot cerita hingga mengantarkannya ke keadaan klimaks dan anti klimaks yang berkesan? 

Ini pula yang terjadi pada novel Timun Jelita: Volume 2 yang telah “diaransemenkan” dengan matang oleh Bang Radit. 

Jika di halaman awal, ia berkata tidak membutuhkan banyak waktu untuk novel lanjutan dari volume pertamanya selesai dirilis, saya pun memercayai bahwa di kalimat selanjutnya tokoh-tokoh dalam novel-lah yang menulis ceritanya sendiri. 

Bercerita Lewat Nada

Telisik-menelisik, Timun Jelita: Volume 2 merupakan sebuah buku bersetting besar dari musik dan segala kehidupan tokoh yang bersangkutan di dalamnya. Pada buku dengan setting yang sama dan umur lebih tua darinya, novel ini seakan menambah warna baru dari karya yang telah ada. 

Buku dengan konsep cerita yang senada juga pernah ditulis sebelumnya oleh Prabu Pramyougha berjudul Don’t read This! Catatan Melodi Punk Bandung dari Masa ke Masa. Terlepas dari perbedaan antara fiksi dengan non fiksi, kedua buku yang saya sebut di atas adalah sebuah implementasi bagaimana musik dapat diceritakan. 

Novel yang akan saya bahas ini berisi kritikan musik zaman sekarang didominasi oleh pendengar generasi Z dan Milenial. Sama halnya yang terdapat pada Industri Musik yang Menjelajah karya Galih Nugraha, yang merupakan pelopor kritik sekaligus pembahasan dekolonisasi industri musik di Indonesia. Dalam hal ini, nampaknya secara sadar ataupun tidak, Bang Radit telah memposisikan karyanya di antara kedua buku berlatar musik pendahulunya. 

Bagi pembaca bebas yang tidak memedulikan volume sebelumnya seperti saya, maka kita akan langsung disuguhkan dengan duo band yang sedang merintis karier musiknya. Karakter Timun, pria paruh baya sekaligus tokoh utama pada cerita ini mengambil peran sebagai gitaris. Sementara itu, keponakan Timun yang bernama Jelita tengah memasuki fase sebagai mahasiswa tingkat akhir yang berperan sebagai vokalis. Dilengkapi pula dengan adanya Robert, manajer magang dari band tersebut yang kemudian naik pangkat menjadi manajer sesungguhnya. 

Ketiga tokoh ini berangkat dari masalah kehidupan yang berbeda-beda. Timun, merupakan pekerja tekun yang senantiasa menemani istrinya yang sedang hamil. Lalu Jelita yang pada akhirnya bermain aplikasi kencan online meski sedari awal tidak mempercayai aplikasi yang demikian. Kemudian Robert yang terhanyut dengan dunianya sendiri. Perjalanan kehidupan itulah yang menginspirasi ketiganya untuk melahirkan album lagu hingga meledak di pasaran.

Berkaca pada Timun Jelita: Volume 2 ini, sesungguhnya dunia dari para tokoh terlanskap sedemikian realistis, namun tetap dengan pembawaan Bang Radit yang santer dengan nuansa kocak dan komedi. Beberapa hal yang menjadi sorotan adalah penggunaan istilah-istilah pada musik, seperti chord dan bridge. Ragam istilah tersebut merupakan teknik dasar atau untuk memaksimalkan pertunjukkan.

Makna Sebuah Perjalanan

Timun Jelita: Volume 2 menceritakan persahabatan dan perjuangan dari para tokoh yang dibalut dengan alunan musik sebagai perantara. Beberapa hal yang perlu diingat, bahwa novel ini tidak sepenuhnya membahas cerita mengenai musik secara mendalam, sebagaimana yang sering dituangkan oleh Dee Lestari di karya-karyanya. 

Novel garapan Raditya Dika ini termasuk dalam kategori novel remaja popular. Sebab, pendekatan yang digunakan untuk menarasikan cerita terkesan ringan, dan mudah dipahami. 

Dari Timun Jelita: Volume 2, pembaca dapat menyerap makna tentang hobi, pekerjaan, kewajiban, dan kemampuan multitasking dalam bekerja. Dalam perjalanan kehidupan, kita pasti akan menjumpai banyak orang baru dengan sikap dan watak yang berbeda-beda. Tetapi dari sinilah, Timun mengajarkan kita untuk selalu memiliki ketenangan diri dan kelapangan dada. 

Timun juga menjadi representasi akan pernyataan “umur hanyalah angka”. Umur bukanlah pembatas juga bukan kendala. Seringkali, masalah itu justru ada pada pribadi setiap individu, apakah berhasil menaklukannya atau tidak. Oleh karena itu Timun Jelita: Volume 2 sangat cocok untuk dibaca kaum remaja dan generasi muda yang tengah menghadapi dan belajar untuk menuju dewasa.


Miftahul Abidin. Saya mahasiswa semester 6 yang biasa menghabiskan waktu di dunia maya.

Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan.