Surat untuk Gen Z
Dear Gen Z, izinkan aku memperkenalkan diri. Aku buruh perempuan generasi milenial kelahiran 90an, bekerja di sebuah kontraktor pertambangan, kerap berada di area terisolir, terdiskriminasi baik secara jumlah, gender, posisi, maupun gaji. Dunia begitu sempit di tengah ketidakberdayaan serta kehendak penguasa dan pengusaha yang kerap punya hubungan baik. Tidak ada yang berani bersuara atau sekadar merasa keberatan di lokasi kerja di mana seseorang dapat mati kapan saja dan hilang tanpa berita. Karena itulah bagi buruh pertambangan, area kerja dan penjara adalah dua wajah yang sama, yakni militeristik dan otoriter. Keadilan tidak punya tempat di antaranya.
Diam-diam aku menulis tentang perasaan dan penderitaan yang perihnya tidak berbeda menimpa buruh laki-laki, dan menjadi berlipat ganda dialami oleh buruh perempuan. Melalui sebuah novel yang kuberi judul Perempuan Batu, kuceritakan keseharian buruh pertambangan bekerja, tak punya keberanian mengeluh, dan sudah pasti tak dapat pilihan. Dengan sadar, aku tahu tulisan yang lahir di bawah terik, direndam peluh siang malam, merecup di penghujung tekanan tanpa pengetahuan, dan 24 jam kerja tak berkesudahan tanpa jaminan kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan, tidak akan mengeluarkanku dari jerat kemiskinan atau membebaskanku dari amuk makian dunia pertambangan. Aku sudah pasti mati muda dan tidak punya tempat di masa depan; ini isi kepalaku yang menyisakan sakit permanen di dada. Karena itulah kubuai luka dan laraku dalam sastra. Ruang yang tak memberi batas dan penghakiman itulah tempatku menyimpan suara, merekam nyanyian keji pengusaha dan penguasa, dan nasib tragis jadi buruh. Sastra adalah pertarungan yang membiarkanku menang sebelum kelak tiada tak terselamatkan.
Oktober 2024 lalu, anak mantan presiden dilantik jadi wakil presiden. Itu bulan pertamanya bekerja dan bulan pertamaku jadi pengangguran. Di layar kaca, media sosial, kita disuguhkan PHK besar-besaran terjadi di mana-mana. Ada banyak buruh tak menerima hak sepadan dan bahkan tidak dibayar. Inilah buah pahit dan racun mematikan dari Undang Undang Cipta Kerja buatan bapaknya. Janji kampanyenya tentang 19 juta lapangan kerja terbukti omong kosong. Tapi ia tetap duduk tenang di istana menambah koleksi lego dan tamiya. Jelas sekali aku bukan bagian dari anak muda yang punya hak istimewa itu. Juga bukan kalian Gen Z yang menempati peringkat pertama dari statistik pengangguran atau bekerja tanpa sentuhan keadilan. Kalian bergerombol putus sekolah, lulus tanpa jaminan pekerjaan, dan bekerja di ruang-ruang eksplotatif.
Dari generasi berbeda, kita mengalami penderitaan yang persis sama: kemiskinan dan ketimpangan. Dadamu pasti sesak bukan main di bawah tekanan foreman pabrik, dibasuh uap panas mesin kopi, dipaku bartender dengan ratusan gelas minuman, daftar panjang materi konten, dan dunia palsu media sosial. Tidak akan ada yang datang membawa angin segar agar kalian dapat beristirahat dengan jam kerja dan dan upah layak, kecuali memaksa diri untuk bertahan dan tetap hidup.
Tempo hari aku bertemu dengan seorang kawan muda kelahiran 2000-an, di Solo. Sebut saja Tangkai, salah satu wajah kawan kalian yang akrab memodernisasi kata untuk perusahaan IT dalam dan luar negeri. Sekilas tampak keren dengan nama dan jabatan yang seakan menjanjikan. Akan tetapi tidak ada manusia yang mampu menyelamatkan masa muda tanpa jam tidur yang cukup dan waktu istirahat yang hilang diberangus target kerja. Aku merasa seperti bukan manusia, ucapnya suatu kali padaku. Masa depan tiba-tiba menjadi bom waktu yang menakutkan karena tidak ada aba-aba yang pasti kapan ia akan meledakkan diri.
Kehilangan kesehatan dan terus bertarung berdarah-darah untuk sekadar hidup itu sudah pasti. Lantas mengapa tak mencoba melawan? Atau bersuara? Membuat dengung beramai-ramai? Menguji kemungkinan sebelum banyak di antara kalian mati muda tak terselamatkan.
Gen Z tersayang, mari bersastra beramai-ramai, beritahu dunia ini berapa jam lamanya kalian berdiri mencoba menjadi barista hanya sekadar menghafal jenis minuman untuk dipadukan dan disajikan pada pelanggan. Ceritakan berulang-ulang tentang tangan dan jari kalian yang melepuh terkena air panas dari mesin kopi, ditambah keharusan untuk selalu tampil menarik, keren, dan terlihat rapi. Semua yang menyiksa itu kalian hadapi tanpa jaminan pasti. Begitulah rezim membunuh perlahan anak muda dalam ritme khas outsourcing. Membuat semua lelah, serba tak sempat, jangankan melawan, sekadar membayangkan untuk hadir di masa depan – serba tak ada tempat.
Dunia kalian adalah memori sosial yang menjadi pijakan bernafasnya sastra. Dengan segala hormat, tenaga, waktu, dan pikiran kalian dimanfaatkan kekejaman rezim yang tidak pernah berniat mencerdaskan apalagi mensejahterakan. Karena itu diriku berkirim harapan padamu untuk: bersastralah. Rebut dan rengkuh ruang sastra-mu sebagai alat dan jalan pembebasan generasimu.
Kalian pasti terus bertanya, mungkinkah buruh muda Gen Z menulis? Dapatkah menggeser posisi berlawan di atas kertas elitis sastra, di mana buruh lumrah menjadi objek? Dapatkah kita beralih menjadi subjek, dari representasi penderitaan, menjadi bagian dari partisipasi perlawanan? Mampukah sastra menjadi senjata pembebasan bagi buruh muda? Suara yang tidak ada satuan harganya: tidak terbeli.
Dalam dunia buruh Wiji Thukul sudah membuktikannya lewat sebuah puisi yang sakral, menjadi gaung perlawanan lintas generasi tua dan muda, ditulis dengan lugas, tegas, dan amarah yang jelas.
Peringatan
jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa
kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar
bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam
apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!
Solo, 1986
Baris terakhir puisi ini menjadi penutup di banyak orasi demonstrasi yang tumpah ruah ke jalan dan meruntuhkan kekuasaan. Ruhnya abadi dan demikianlah seharusnya sastra harus hidup. Membawa sebuah pesan dari luka yang dirasakan, tidak sekadar dikisahkan.
Izinkan kuperkenalkan kawan kalian, lewat sebuah puisi, tentang perempuan muda yang ditangkap hanya karena kemarahannya tertulis tegas, yang ditangkap mata penguasa yang tidak suka membaca. Namanya Laras Faizati.
Laras Faizati
Dalam kenangan merawat ingatkan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan.
Sehari sebelum Mirabal bersaudara di bunuh rezim Rafael Trujilo,
Kau dan kebebasan perempuan dijeruji rezim Prabowo.
Nasib baik memang selalu jadi tahanan.
Karena itulah kita terus berisik,
Menyeruak pekik menolak diam.
Maaf tak akan jatuh di ujung bibir – biar berdarah, biar dihajar sampai pecah.
Laras, Laras, Laras Faizati.
Kugaung-gaung,
Berulang-ulang,
Saudari perempuan kami digiring,
Digelang rantai besi.
Dialah satu dari sekian wajah kekerasan,
Kebiadaban negara terhadap perempuan.
Sejak kolonial bercita-cita,
Mengubah wajah jadi bangsa,
Penderitaan perempuan tidak berbeda.
Tak ada ruang berdamai.
Keji,
Dibantai berkali-kali,
Di mana-mana,
Kapan saja.
Omong kosong kebebasan dalam kandang.
Niat busuk penguasa menertibkan perempuan,
Agar tak jadi setan, hantu, dan penyihir yang menyayat-nyayat penis jendral.
Laras, Laras, Laras Faizati.
Mantra jeruji adalah kesaktian perempuan,
Tuah perlawanan tak akan bungkam.
Dari tangan Pekerja Rumah Tangga yang terus dianggap budak,
Kita ramu racun kematian buat penguasa.
Bukan bisa,
Bukan senjata,
Bukan bahan peledak.
Tapi suara! – suara perempuan sepanjang zaman.
Laras, Laras, Laras Faizati.
Di balik tahanan kebebasan disemai,
Akar-akarnya akan tumbuh, bertunas, rimbun,
Semakin besar, dan tinggi meruntuhkan tembok kurungan.
Musim berkembang kita akan tiba,
Di situ tak ada lagi pintu,
Semua jadi taman bunga,
Dan aku akan memanggilmu –
Laras, Laras, Laras Faizati.
November 2025
Dalam aturan rezim yang saat ini rentan berganti hitungan hari, kita dapat menjadi Wiji Thukul atau Laras Faizati yang lain, berikutnya, dan berulang kali. Semua bisa kena. Kita bagaikan sedang menunggu hari sial yang tidak datang memberi aba-aba.
“Sebagai pengarang saya masih lebih percaya kepada kekuatan kata daripada kekuatan peluru yang gaungnya hanya akan berlangsung sekian bagian dari menit, bahkan detik.”
Pramoedya Ananta Toer
Seperti kata Pram, sebagai buruh perempuan yang mencoba bergaung dalam sastra, diriku setuju dan percaya bahwa anak muda berhak atas masa depan berkeadilan. Maka gaungkan bertalu-talu sumpahmu dari balik tirai besi, papan bartender, mesin pembuat kopi, pajangan laptop, dan jaringan internet super kejam.
Berhentilah takut. Sastra bukan kerangka tanpa jiwa. Ia lahir dari keberanian dan ketulusan. Gaungnya akan abadi jika dirawat seperti rumput. Beramai-ramai kita tumbuh, beramai-ramai kita dipangkas, beramai-ramai kita tunggu musim kemarau berakhir, dan beramai-ramai pula kita menununaskan diri. Tidak perlu ragu mengkristalisasikannya ke dalam bahasa tulis. Tidak ada sastra yang seharusnya ditempatkan lebih elit daripada suara hati. Jadilah nurani ukuran tegaknya nilai dan keadilan dalam tuturan di atas kertas.
Seruan Sastra Buruh Kepada Gen Z
Salam dan bahagia,
Iroy Mahyuni

Iroy Mahyuni adalah perempuan yang lahir di Indragiri Hilir, Riau. Akhir 2024 lalu ia membuat keputusan berani untuk keluar dari site kerja yang mengeksploitasi sebagai buruh perempuan di sebuah kontraktor pertambangan Batubara. Sisa waktu dan tenaga ia dedikasikan membuka rumahbaca di kampung halaman yang sebelumnya tidak pernah berdiri bangunan perpustakaan sebagai media alternatif di luar pendidikan formal. Dirinya turut menulis beberapa novel dan kumpulan puisi reflektif tentang menjadi perempuan, buruh, dan hidup di akar rumput.


