Galder Gaztelu-Urrutia, sutradara, David Desola and Pedro Rivero, penulis. Spanyol, 2019, 94 menit. Film ini pertama kali tayang di Festival Film Toronto tahun 2019 dan memenangkan penghargaan People’s Choice Award for Midnight Madness.
John Adams, pada tahun 1763 menulis esai singkat berjudul “All Men would be Tyrants if They Could,” meski esai itu tidak pernah ia publikasikan secara resmi. Tesis dari esai itu menggambarkan bahwa apa yang ada dalam diri manusia—kemampuan intelektual, kekuatan, kekayaan, kecantikan, seni, dan ilmu pengetahuan—tidak dapat menjadi bukti terhadap keinginan egois yang berkecamuk di hati manusia dan menghasilkan kekejaman dan tirani. Nafsu egoisme, kenyataannya lebih kuat daripada nafsu sosial. Pada akhirnya, orang yang pertama akan selalu mengalahkan yang terakhir.
Kita bisa menguji tesis Adams di atas pada film The Platform. Film asal Spanyol yang disutradarai oleh Galder Gaztelu-Urrutia ini menggambarkan sebuah penjara vertikal dengan total 333 lantai. Para narapidana ditempatkan di tingkat-tingkat yang berbeda dengan makanan yang disediakan dari atas ke bawah.
Setiap lantai atau selnya ditinggali oleh dua orang. Sementara itu, lantai teratas yaitu lantai 0 adalah tempat di mana makanan untuk para tahanan dibuat. Makanan tersebut disajikan di atas sebuah meja batu yang bertindak sebagai elevator. Meja tersebut diturunkan lantai demi lantai hingga mencapai lantai paling bawah. Mereka yang berada di tingkat atas tentu mendapat makanan lebih banyak dan lebih baik. Sementara narapidana yang di bawah hanya bisa gigit jari.
Goreng sebagai karakter utama film tersebut menempati lantai 48. Ia dipasangkan dengan tahanan lain yang bernama Trimagasi, tahanan kriminal yang sudah menjalani masa hukuman satu tahun.
Gaztelu-Urrutia menggambarkan Goreng sebagai manusia yang bermoral yang dihadapkan dengan realitas brutal dari sistem hierarkis penjara tersebut. Ketika meja berisi makanan tersebut sampai ke lantai Goreng dan Trimagasi, makanan sudah berada dalam kondisi yang tidak layak makan, berantakan, berserakan, bahkan menjijikkan.
Di awal, Goreng menunjukkan niat baik dengan mencoba berbagi makanan secara adil kepada mereka yang berada di bawah. Namun, Trimagasi yang sudah lebih lama berada di platform memperingatkannya bahwa tindakan altruistik seperti itu hampir tidak mungkin dilakukan dalam kondisi yang penuh tekanan.
Film ini menyoroti perjuangan internal Goreng saat ia berusaha mempertahankan integritas moralnya di tengah-tengah lingkungan yang kejam dan tidak manusiawi. Meskipun Goreng ingin berpegang pada nilai-nilai keadilan dan solidaritas, tekanan untuk bertahan hidup dan egoisme yang ditunjukkan oleh tahanan lain sering kali memaksa dia untuk melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan prinsipnya.

Film ini secara efektif memperlihatkan bahwa dalam kondisi ekstrem, manusia bisa berubah menjadi tirani demi kepentingan pribadinya. Persis seperti yang diuraikan John Adams dalam esainya. Pada akhirnya, The Platform adalah refleksi kuat dari tesis Adams tentang manusia dan kecenderungannya menuju tirani ketika diberi kekuasaan dan peluang untuk memanfaatkannya tanpa batas.
Cerita Goreng dan kondisi di penjara vertikal ini menjadi alegori yang tajam tentang bagaimana struktur sosial dan ekonomi yang tidak adil dapat menggiring individu-individu menuju perilaku egois dan destruktif. Kisah ini menyoroti pentingnya regulasi serta solidaritas untuk menciptakan masyarakat yang lebih beradab dan manusiawi.
The Platform memberikan gambaran jelas, bagaimana individualisme posesif atau Leviathan dalam narasi Thomas Hobbes muncul. The Platform, menjelaskan premis dasar bahwa setiap orang memiliki keinginan tak terbatas untuk mengamankan kepentingannya sendiri. Konflik muncul disebabkan adanya kekuatan/penolakan antarindividu yang menghalangi efek kekuatan orang lain.
Film ini mencoba menggugat kembali konsep dasar tentang kemanusiaan dan moralitas dalam diri kita. Melalui karakter Goreng, film ini menantang kita untuk mempertimbangkan bagaimana kita sendiri akan bertindak dalam situasi serupa. Ini bukan hanya tentang kritik terhadap sistem sosial yang tidak adil, tetapi juga introspeksi mendalam tentang sifat dasar manusia ketika dihadapkan pada kondisi ekstrem.
Wujud Kapitalisme
The Platform juga menggambarkan bagaimana struktur kekuasaan dan ketidaksetaraan dapat memperburuk kondisi manusia. Dalam penjara vertikal tersebut, kita melihat bagaimana kekuasaan dan kontrol terhadap sumber daya dapat menyebabkan kekacauan dan ketidakmanusiawian. Ini adalah kritik tajam terhadap kapitalisme dan bagaimana sistem ekonomi yang tidak adil dapat memengaruhi perilaku manusia.
Selain itu, film ini juga menyentuh aspek filosofis tentang kebebasan dan kendali diri. Dalam usahanya untuk tetap bermoral, Goreng dihadapkan pada tantangan untuk mempertahankan kebebasan pribadinya dalam sistem yang mengontrol hampir setiap aspek kehidupan. Ini mengajak penonton untuk merenungkan tentang pentingnya keseimbangan antara kebebasan individu dan tanggung jawab sosial.
Film ini bertempo lambat namun penuh ketegangan, memungkinkan penonton merasakan tekanan psikologis dan fisik yang dialami oleh para karakter. Melalui penggambaran yang detail dan intens, The Platform menyajikan pengalaman mendalam tentang ketakutan, kelaparan, dan keputusasaan yang dirasakan para tahanan. Setiap lantai yang dituruni oleh platform makanan adalah representasi visual yang kuat tentang hierarki sosial dan ketidakadilan yang ada dalam masyarakat.

Film yang berdurasi 94 menit ini mampu mempertahankan intensitas serta ketegangannya sepanjang alur cerita. Durasi yang relatif singkat ini memungkinkan penonton untuk terlibat penuh dalam narasi tanpa merasa bosan. Alur cerita yang padat memberikan cukup ruang bagi eksplorasi tema-tema mendalam tentang kemanusiaan, moralitas, dan ketidakadilan. Penonton diajak untuk merenungkan bukan hanya tindakan dan keputusan karakter-karakter di dalam film, tetapi juga implikasi sosial dan filosofis yang lebih luas.
The Platform berhasil menyampaikan pertanyaan tajam kepada penonton: Siapakah aku? Homo homini lupus atau homo homini socius? Film ini mengajak kita untuk berpikir lebih dalam tentang struktur sosial dan ekonomi yang ada di dunia nyata, serta bagaimana kita sebagai individu dapat berkontribusi untuk perubahan yang lebih baik.
Pada akhirnya, film yang rilis pada tahun 2019 ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga sebuah ajakan untuk merenung ke dalam diri sendiri tentang nilai-nilai moral dan etika yang kita pegang. Untuk menegaskan pesan ini, film ini ditutup dengan gambar yang simbolis dan penuh makna. Ivan Massague, pemeran Goreng berjalan menuju kegelapan, meninggalkan platform.
Adegan ini menggambarkan harapan untuk perubahan dan perlawanan terhadap sistem yang tidak adil, serta mengajak penonton untuk merenungkan peran mereka dalam menciptakan dunia yang lebih baik. Dengan demikian, The Platform menjadi lebih dari sekadar film; ia menjadi cerminan tajam dari realitas yang sering kali kita hadapi.

Moh Faiz Maulana. Saya sedang menempuh studi doktoral di program Antropologi Universitas Indonesia dan sehari-hari mengajar di Program Studi Sosiologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Jakarta. Ia banyak menulis tentang gender, feminisme, dan budaya—beberapa bukunya antara lain, Sosiologi Gender: Pengantar Isu Gender dan Feminisme dalam Sosiologi (2024), Konco Wingking dari Waktu ke Waktu (2021), Membincang Hegemoni Maskulinitas (2025), dan Sosiologi Budaya (2025).
Di luar dunia akademik, saya suka menonton film, menulis puisi, dan—meski kadang malu mengakuinya—saya mudah sekali menangis. Kadang karena film, kadang karena kalimat sederhana yang menyentuh. Bagi saya, menulis dan menangis, adalah dua hal yang saling melengkapi: sama-sama cara untuk merawat perasaan. Beberapa buku puisi saya antara lain di perempatan plaza sarinah, jalan thamrin (2023), Kau Boleh Tidak Mencintaiku Hari Ini (2019), dan Hari Ini (2019).
