Upaya menciptakan dunia yang adil dan setara lewat KAA telah lahir sejak tujuh dekade silam. Tetapi napas “Semangat Bandung” masih tetap hidup hingga kini.
Nun di belahan bumi tropis lain, tepatnya di negeri Samba, nama Bandung kembali menyapa kuping pemimpin dunia ketiga. Presiden Prabowo Subianto melafalkan “Semangat Bandung” di KTT BRICS 2025, Rio de Janeiro, Brazil. Kehadirannya ikut menandai keanggotaan resmi Indonesia dalam forum multilateral ekonomi itu.
Gayung bersambut. Presiden Brazil, Lula da Silva mengatakan, “BRICS menghidupi semangat Bandung.” Ia ikut menyinggung sinyal keruntuhan multilateralisme, bil khusus pasca Donald Trump mengumumkan penetapan tarif resiprokal ke lebih dari 100 negara. Tindakan Trump didorong hasrat mengukuhkan kembali kebesaran Amerika di dunia.
KAA Tiang Panca Politik
Syahdan. Tujuh puluh tahun lalu, benih multilateralisme baru disemai lewat Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung. Dasasila Bandung lahir sebagai manifestasi semangat 29 bangsa baru merdeka dari dua benua itu. Mereka menuntut pemenuhan hak menentukan nasib sendiri bagi semua bangsa di planet bumi. Disepakati pula prinsip untuk hidup berdampingan secara damai (koeksistensi).
Semangat Bandung termanifestasikan dalam komunike peserta KAA, yaitu Dasasila Bandung. Pernyataan itu mencakup kerja sama bidang ekonomi, kebudayaan, hak menentukan nasib sendiri, dan usaha mewujudkan perdamaian dunia lewat prinsip hidup berdampingan bersama atau koeksistensi. Itu bermuara ke kutukan mereka terhadap ketidakadilan tatanan global dan keterbelahan dunia akibat bipolaritas Perang Dingin. PBB dijadikan kendaraan bersama untuk mewujudkannya.
Vijay Prashad dalam Bangsa-Bangsa Kulit Berwarna: Sejarah Masyarakat Dunia Ketiga, menyoroti pentingnya KAA sebagai tiang pancang politik dunia ketiga. Ia menunjukkan pencapaian utama KAA dengan hadirnya prinsip koeksistensi dan tawaran model alternatif kerja sama ekonomi dan budaya. Dua elemen terakhir adalah tumpuan utama imperialisme untuk mendominasi bangsa-bangsa baru merdeka.

Dunia ketiga dipinjam Vijay dari konsep pembagian dunia yang dicetuskan oleh ekonom sekaligus demografer Prancis Alfred Sauvy lewat majalah L’Observateur. Sauvy mengiris planet jadi tiga: pertama (blok kapitalis), kedua (blok sosialis), dan ketiga (pinggiran). Alih-alih dipisah sekat geografis, posisi politik jadi pembatas masing-masing. Pimpinan dua blok utama, yakni Amerika Serikat dan Uni Soviet, memainkan peran aktif guna menabalkan identitas sebagai penguasa dunia.
Vijay enggan menyebut dunia ketiga sebagai subjek pinggiran, dan sebatas sasaran perebutan pengaruh adidaya. Ia menunjukkan aktifnya negara-negara dunia ketiga melakukan penentangan terhadap segala bentuk neokolonialisme dan imperialisme (nekolim). Salah satunya lewat KAA. Kemudian hari, semangat Bandung memudahkan jalan pembentukan blok politik baru dalam PBB. Vijay menulis:
“Pembentukan blok PBB ini seiring bergulirnya waktu bakal menjadi pencapaian tertinggi KAA Bandung––terutama karena blok ini bakal, bersama dengan blok sosialis, menjadi benteng dari “imperialisme dolar” dan menawarkan sebuah model alternatif untuk pembangunan.”
Vijay memperlihatkan langkah dunia ketiga menjadikan PBB kendaraan politik utama di panggung global. Salah satunya lewat tuntutan demokratisasi lembaga itu yang dibahas serius dalam pertemuan Gerakan Non-Blok. Jalan terkait adalah beragitasi untuk demokrasi lebih luas dalam lembaga-lembaga PBB, khususnya dalam Dewan Keamanan yang maha berkuasa.

“…Dorongan strategis utama GNB adalah demokratisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa dan cipta ulang badan itu menjadi sebuah instrumen untuk keadilan.”
Bukan hanya politik, sistem ekonomi internasional wajib diubah agar berjalan adil. Menurut Vijay, langkah awal dilakukan lewat tuntutan penghapusan tarif perdagangan diskriminatif yang dibebankan dunia pertama. G-77 dibentuk sebagai sarana praktis untuk memperjuangkannya. Penghilangan perintangan aturan penting dilakukan guna mendongkrak pemasukan ekspor untuk pembangunan dalam negeri dunia ketiga.
Imperialisme Menolak Koeksistensi
Imperialisme tentu tak diam saja menghadapi manuver dunia ketiga. Vijay merangkum berbagai peristiwa kudeta dan perang yang disponsori titan dunia pertama: Amerika Serikat. Dari Indonesia sampai Brazil, dari Kuba sampai Vietnam. Pelaksana lapangan AS, CIA, bekerja sama dengan elite-elite lokal yang antipati dengan gerakan pembebasan nasional. Beberapa resisten, tetapi mayoritas kalah. Uni Soviet yang menaruh simpati pada proyek perjuangan dunia ketiga ternyata hanya menonton rangkaian kudeta kamerad mereka.
Kudeta melahirkan elite-elite baru yang mempererat hubungan dengan dunia pertama dan lembaga-lembaga penunjangnya. Mereka tak lagi memimpikan kedaulatan dan kemandirian dunia ketiga lewat usaha mengubah aturan main sistem politik dan ekonomi internasional. Buruknya lagi, mereka tak segan menarik utang, meski sumber daya nasional jadi jaminan. Vijay mengomentari statistik hutang dunia ketiga dekade 90an:
“…Selama tiga dekade ini, 60 puluh negara membayar AS$550 miliar pokok dan bunga utang senilai AS$540 miliar. Namun mereka masih berhutang AS523 miliar. Kimia Riba yang mengikat negeri-negeri dunia ketiga.”

Meski begitu, kesimpulan Vijay soal serangkaian proyek tadi sebagai proyek bersama dunia ketiga juga menyimpan kritik. Pertama, fokus utama ke pimpinan dunia ketiga menghilangkan pandangan kita terhadap posisi masyarakat umum di dalamnya dalam menanggapi inisiatif itu. Kedua, komitmen pimpinan mereka juga kurang disoroti secara lebih luas dalam merekognisi proyek politik dunia ketiga.
Hemat kata, buku Vijay Prashad menampilkan babak-babak perjuangan dunia ketiga demi mewujudkan keadilan sistem ekonomi-politik dunia. Ia mengantarkan kita mengenal proyek-proyek penciptaan dunia tanpa penindasan serta eksploitasi satu sama lain. Dari Bandung sampai Havana, sebuah pelajaran bisa dipetik. Mimpi menciptakan dunia yang adil dan setara bukan sekadar slogan retoris belaka, dunia ketiga mengerjakannya, dan itu belumlah selesai.

Mukhtar Abdullah. Sehari-hari aktif di Departemen Pendidikan, Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI).
