Menelusuri Jejak Berdarah Rezim Orde Baru

Ide Utama

Merawat ingatan kejahatan Orde Baru lewat buku Mereka Hilang Tak Kembali: Sejarah Kekerasan Orde Baru 1966-1998.

Mungkin kita sudah terbiasa melihat gambar wajah Soeharto tersenyum dengan quote Piye Kabare? Isih penak jamanku to?” yang berseliweran mulai dari bak truk, t-shirt, hingga meme di dunia digital. Gambar itu seolah mengolok-olok reformasi yang dianggap tidak mengubah keadaan menjadi lebih baik dari era Orde Baru (Orba). Meme yang telanjur viral itu seolah menyingkirkan jejak-jejak berdarah rezim militeristik yang mulai dilupakan publik.

Ironisnya, humor yang sama sekali tidak lucu itu seolah bersambut dengan upaya negara dalam menuliskan ulang buku sejarah nasional resmi yang terbaru. Penggunaan kata PKI setelah penulisan G 30 S untuk menyebut peristiwa 30 September 1965 dan penyangkalan terhadap peristiwa perkosaan massal yang dialami etnis Tionghoa tahun 1998 adalah indikasi pengaburan fakta-fakta kekejaman Orba.

Dalam kondisi ini, buku Mereka Hilang Tak Kembali: Sejarah kekerasan Orde Baru 1966-1998 terbitan EA Books menjadi sebuah oase yang menyegarkan ingatan kita. Dengan mengumpulkan arsip-arsip yang tercecer di berbagai media massa, terbitan jurnal, dan buku-buku sejarah, keempat penulis mencoba menyajikan jejak-jejak kronologis kekerasan yang dilakukan oleh Orba, mulai dari awal berdiri hingga runtuhnya pemerintahan pada masa itu. 

Aristayanu Bagus (sosiolog), AS Rimbawana (jurnalis), Deby Hermawan (sejarawan), dan Putro Wasista (sejarawan) cukup jeli memunculkan fakta-fakta yang coba disembunyikan Orba dan para pemujanya yang masih bercokol di berbagai jabatan publik hingga kini. Beragam peristiwa seperti Malari, Tanjung Priok, Talangsari, Petrus (penembakan misterius), operasi militer di perbatasan, hingga huru-hara di tahun 1998 yang samar-samar tersisa dalam ingatan publik, kembali disegarkan oleh data. Tak terlewat pula, peristiwa pembunuhan dan penghilangan beberapa aktivis kemanusiaan, dibahas dengan kritis dan komprehensif.

Lumuran Darah Rezim Tangan Besi

Buku ini diawali dengan menceritakan bagaimana rezim Orba merebut kekuasaan dan meletakkan dasar-dasar politiknya. Kudeta merangkak. Militer yang dipimpin Mayor Jenderal Soeharto berhasil menggulingkan Presiden Soekarno dan mengubah konstelasi politik Indonesia untuk selama-lamanya. PKI dan seluruh gerakan kiri ditumpas. Kader-kader PKI dibantai, diasingkan, dan dilarang muncul dalam seluruh gelanggang perpolitikan Indonesia. Orba menghapus seluruh kiprah PKI dari lembar sejarah politik Indonesia, dan menggantinya dengan mitos bahaya laten komunis.

Atas dasar Surat Perintah Sebelas Maret, Soeharto memulai operasi berdarah pembantaian kader-kader PKI dengan memanfaatkan kekuatan massa anti-komunis. Melalui kesaksian Tedjabayu, putra Sudjojono dan Mia Bustam yang bergiat di CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia), kita diajak secara lebih dekat untuk memahami betapa serampangannya proses penangkapan, interogasi, dan eksekusi orang-orang yang dianggap komunis. Tentu saja proses penyiksaan, pembuangan, dan juga pembantaian yang menyasar ratusan ribu hingga jutaan orang-orang kiri itu tidak tercatat dalam buku sejarah resmi negara. 

Peristiwa pembantaian yang dianggap wajar ini menjadi pembentuk dasar moral baru pemerintah Indonesia. Hak Asasi Manusia (HAM) dengan mudahnya dikangkangi dengan tradisi impunitas yang bertahan hingga kini. Tepat seperti pendapat Pramoedya Ananta Toer yang dikutip dalam buku ini: “Orde Baru menerobos prinsip moral yang paling dasar: membantai manusia demi terciptanya kekuasaan.”

Brutalitas dan penggunaan kekuatan berlebihan seolah menjadi standar dalam penyelesaian konflik vertikal maupun horizontal. Peristiwa Tanjung Priok, Talangsari, dan pembasmian preman dengan metode Petrus (penembakan misterius) memperlihatkan bahwa negara menunjukkan keangkuhan dan kesombongannya dengan dalih pengendalian ketertiban umum. Semua proses eksekusi itu menerabas mekanisme hukum nasional maupun internasional. 

Bahasa kekerasan juga menjadi opsi favorit Orba dalam menangani permasalahan di perbatasan. Buku ini berhasil mendokumentasikan beragam operasi militer yang terjadi di Aceh, Papua, dan Timor Leste. Mulai dari nama hingga tahun operasi militer di tiga tempat tersebut, disusun secara kronologis sehingga memudahkan pembaca untuk mereka-reka kejadian aslinya. 

Buku ini ditutup dengan pembahasan sejarah tahun 1998. Tahun yang diyakini menjadi titik nadir runtuhnya Orba. Peristiwa Semanggi I dan II, penculikan aktivis, Sidang Istimewa MPR yang dijaga pasukan bersenjata dan gerombolan preman binaan militer bernama Pam Swakarsa itu dituliskan secara runut dengan melampirkan data valid. Tak luput, peristiwa pembunuhan dukun santet dan isu ninja di Jawa Timur, juga diurai benang kusutnya untuk menemukan keterkaitannya dengan peristiwa politik nasional yang pada saat itu sedang bergejolak.

Upaya Melawan Lupa

Hingga detik ini, beragam pelanggaran HAM besar yang dilakukan Orba belum ada satu pun yang masuk proses pengadilan. Beberapa pelakunya bahkan masih bebas dan aktif menjabat di berbagai institusi dan lembaga pemerintahan. Negara seolah memfasilitasi impunitas bagi aktor-aktor pelaku kejahatan HAM sembari mengajak masyarakat untuk “move on” dari peristiwa-peristiwa berdarah itu.

Di sinilah buku Mereka Hilang Tak Kembali: Sejarah Kekerasan Orde Baru 1966-1998 ini menemukan posisi penting. Naskah setebal 209 halaman ini menjadi piranti bagi kita untuk mengingat, mempelajari, dan menggali sejarah. Sebagaimana tuntutan yang konsisten diperjuangkan dalam tiap Aksi Kamisan, bau anyir darah yang ditumpahkan Orde Baru tak boleh sirna begitu saja tanpa hukuman yang setimpal.

Ketika penguasa mengajak masyarakat untuk mengabaikan kejahatan HAM, maka membaca sejarah adalah upaya paling kecil kita untuk memperjuangkan nilai keadilan. Tepat seperti apa yang dituliskan sastrawan Ceko Milan Kundera dalam novelnya yang berjudul The Book of Laughter and Forgetting: “Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa.”


Kukuh Basuki Rahmat. Saya merupakan alumni Magister Psikologi UGM. Saat sedang bergiat di komunitas literasi Radio Buku dan toko buku indie Warung Sastra. Saya pemain biola dan tertarik di bidang alih wahana riset-riset ilmiah ke media seni musik

Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan.