Fenomena Timnas Day: Harapan, Kajian, dan Nyanyian

Tagar #TimnasDay menunjukkan sepak bola menjadi ruang bersama yang menumbuhkan harapan kolektif publik.

Ide Utama

Tagar #TimnasDay menunjukkan sepak bola menjadi ruang bersama yang menumbuhkan harapan kolektif publik.

Siapa nih yang masih belum move on dari kekalahan Timnas kemarin dalam Kualifikasi Ronde ke-4 Piala Dunia? Sama kok. Tapi tenang, kali ini kita akan bahas poin-poin penting dalam fenomena timnas day yang selalu ramai menjadi bahan perbincangan. Yang belum tau, aku bantu ringkasin, ya.

Indonesia memasuki era baru sepak bola nasional terbaik sepanjang sejarah. Bagaimana tidak? Hari ini, Timnas Indonesia berhasil bersaing di kancah internasional hingga round 4 kualifikasi piala dunia. Pencapaian ini tidak bisa dianggap remeh, sebab Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang berhasil masuk hingga babak ini. 

Revolusi sepak bola Indonesia kini bergerak ke arah pengembangan pemain diaspora dan keturunan yang diharapkan dapat memperkuat kualitas tim nasional. Strategi ini terbukti menunjukkan kemajuan signifikan di tim nasional sepak bola Indonesia. Beberapa prestasi yang diraih, di antaranya: lolos Piala Asia U23 2024 untuk yang pertama kali, lolos 16 besar Piala Asia 2023, kenaikan peringkat FIFA ke-118, hingga lolos dalam ajang piala dunia.  

Prestasi ini tak hanya dirayakan oleh penggemar sepak bola tanah air. Euforia itu juga dirasakan oleh masyarakat luas yang selama ini merindukan kebangkitan sepak bola Indonesia. Bahkan, tagar #TimnasDay turut menggema di jagat media sosial. 

Kira-kira, apa yang membuat sepak bola memiliki tempat istimewa dalam imajinasi kolektif masyarakat Indonesia? 

Representasi Mimpi Besar Publik

Bagi masyarakat Indonesia, tim nasional sepak bola bukan sekadar sebuah kesebelasan di lapangan hijau. Ia adalah simbol harapan, kebanggaan, sekaligus ruang tempat jutaan mimpi rakyat. Di setiap pertandingan, dari anak kecil hingga orang tua, dari kota hingga pelosok desa, semua menyatukan doa yang sama: melihat Merah Putih berkibar dengan gagah di panggung dunia.

Sudah lama publik menantikan momen kebangkitan itu. Setelah bertahun-tahun terjebak dalam siklus harapan dan kekecewaan, muncul gelombang optimisme baru semenjak Shin Tae Yong didapuk untuk menahkodai sepak bola di Indonesia. Kehadiran para pemain seperti Jay Idzes (Sassuolo), Emil Audero (Cremonese), dan sederet pemain diaspora yang membawa pengalaman dari kompetisi Eropa, turut menumbuhkan keyakinan masyarakat akan peta masa depan sepak bola Indonesia.

Semangat ini tercermin dari cara masyarakat merayakan di setiap laga timnas. Harapan kolektif itu terasa begitu nyata, bukan hanya di stadion megah atau layar kaca, tetapi juga di jalan-jalan kecil dan gang sempit. 

Setiap kali timnas bertanding, kegiatan nonton bareng (nobar) seolah menjelma menjadi sebuah ritual sosial yang “hambar” jika dilewatkan. Kegiatan nobar ini tak hanya menarik perhatian pemuda-pemudi yang nongkrong di kafe-kafe pusat kota, tetapi juga semarak di tingkat RT. Warga bergotong-royong memasang layar tancap, menyiapkan kursi, hingga berbagi camilan sederhana, seolah kemenangan di lapangan juga menjadi kemenangan mereka sendiri.

Melihat Fenomena Sepak Bola dari Kacamata Emile Durkheim

Antropologi menggunakan teori solidaritas sosial untuk menganalisis bagaimana fanatisme menciptakan kebersamaan dan kepedulian di antara kelompok suporter. Teori solidaritas sosial ini  dicetuskan oleh salah satu tokoh sosiologis yang berpengaruh dari Prancis, Emile Durkheim. 

Menurut Durkheim, solidaritas masyarakat lahir dari kesadaran kolektif yaitu kesadaran untuk bersatu dan percaya terhadap satu sama lain meskipun mereka tidak saling mengenal. Dalam konteks suporter sepak bola, kesadaran ini tampak melalui loyalitas penggemar terhadap klub favorit. Identitas ini membentuk ikatan sosial yang kuat.

Lantas, bagaimana solidaritas tersebut dapat terbentuk secara kolektif? 

Kegagalan sepak bola Indonesia khususnya sebelum kepemimpinan Shin Tae Yong, telah membentuk harapan yang sama. Harapan akan kebangkitan sepak bola tanah air inilah yang menciptakan rasa kedekatan emosional. Ditambah dengan kesamaan identitas sebagai Warga Negara Indonesia (WNI), dukungan terhadap timnas sepak bola menjadi ekspresi alami. 

Fenomena serupa juga tampak pada lingkup yang lebih kecil, yakni pada klub-klub sepak bola daerah. Banyak kelompok suporter terbentuk berdasarkan kedekatan geografis dan identitas tempat asal. Tidak mengherankan jika mayoritas masyarakat Jakarta mendukung Persija, masyarakat Bandung mendukung Persib, atau warga Surabaya membela Persebaya. Kedekatan ruang hidup, pengalaman tumbuh di lingkungan yang sama, serta kebanggaan terhadap kota sendiri membentuk rasa memiliki yang kuat terhadap klub daerah. Identitas lokal ini kemudian menjadi dasar terbentuknya solidaritas di antara para suporter.

Keberadaan Timnas Indonesia merepresentasikan kurang lebih 300 juta mimpi masyarakat Indonesia untuk berlaga di Piala Dunia. Oleh karena itu, tagar #Timnasday di media sosial bukan lagi menjadi sekadar seruan, melainkan panggilan untuk seluruh elemen masyarakat Indonesia bersatu membela negara dan menciptakan sebuah solidaritas bersama. 

Tradisi Nyanyian Tanah Airku

Sebagai bagian dari solidaritas sosial yang berakar dari kesadaran kolektif, muncul pula ritual baru ketika para suporter berkumpul dan berinteraksi. Salah satu contohnya, istilah “nyetadion” yang lahir hingga populer digunakan sebagai ajakan langsung untuk mendukung timnas Indonesia saat berlaga. 

Selain melalui praktik “nyetadion”, solidaritas juga terlihat dari ritual menyanyikan lagu Tanah Airku karya Ibu Soed pada setiap pertandingan di kandang Timnas Indonesia. Secara umum, lagu kebangsaan-lah yang mestinya dinyanyikan saat ada pertandingan. Dalam hal ini, lagu Indonesia Raya yang mestinya menggema di lapangan. Namun, para pemain dan suporter Indonesia, justru menciptakan ritual tambahan yang memiliki nilai emosional tersendiri. 

Lagu Tanah Airku mulai dinyanyikan setelah kemenangan Timnas Indonesia U-19 pada pertandingan tanggal 8 Juli 2022 melawan Filipina. Saat pertandingan berakhir, para pemain dan pelatih berkumpul melingkar di tengah lapangan dan menyanyikan lagu tersebut bersama penyanyi Rita Effendy. Sejak saat itulah, tradisi ini terus berlanjut hingga sekarang. 

Lagu ini memiliki makna sebagai simbol kebanggaan, persatuan, dan rasa nasionalisme. Lagu ini menjadi pengingat bahwa perjuangan di lapangan bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk seluruh bangsa. 

Saat dinyanyikan bersama setelah pertandingan, lagu ini memperkuat ikatan antara pemain dan suporter. Momen tersebut menegaskan bahwa rasa cinta terhadap tanah air bersifat mutlak. Ia tidak ditentukan oleh menang atau kalah dalam sebuah pertandingan. 

Karena itu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan meski Indonesia gagal dalam memperebutkan Piala Dunia. Harapan masih hidup, dan mimpi kita tidak berhenti hari ini. Mimpi kita masih bisa diwujudkan empat tahun lagi. Mungkin bukan saat ini kita mencapainya, tetapi perjalanan ini yang membuat kita tetap percaya, bahwa Indonesia suatu hari nanti akan terbang lebih tinggi.

Foto: Freepik


Sang Pandu Nayenggita Pulangasih. Saya adalah mahasiswa S2 yang punya mimpi menjadi dosen. Saya sangat tertarik untuk membahas tentang sebuah fenomena dan kebudayaan yang ada di sekitar kita. Titik asiknya justru di situ, pembahasan yang melekat dengan hidup kita sehari-hari. Salam kenal semuanya.

Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan. 

Bagikan
WhatsApp
X
Facebook
LinkedIn
Email
Print