Melalui kacamata antropologi indra, peristiwa keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) menunjukkan bagaimana tubuh sebenarnya telah “berbicara”, namun tetap diabaikan.
Makanan yang sejatinya memberikan kenikmatan bagi yang menyantapnya, kini menjadi prasyarat yang sulit untuk dipenuhi. Khususnya bagi para siswa sekolah yang menjadi sasaran dari kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG). Ribuan korban berjatuhan hingga dilarikan ke rumah sakit, imbas dari program ini.
Ironis, namun begitulah adanya. Banyaknya korban yang berjatuhan ternyata belum cukup menjadi alarm bagi pemerintah untuk berbenah. “Prabowo soal Keberhasilan Makan Bergizi Gratis Capai 99,99%: Bukti Niat Baik dan Tekad”, judul siaran pers yang dikutip laman resmi Partai Gerindra (partai pengusung Prabowo Subianto), terdengar kontras di lapangan. Frasa tersebut seolah mengagungkan keberhasilan program di atas rintihan penderitaan korban keracunan.
Narasi tersebut memperlihatkan bahwa tubuh-tubuh manusia hanyalah objek untuk mengukur keberhasilan suatu kebijakan. Mereka tidak diperhitungkan sebagai entitas yang memiliki kehendak.
Menurut pemikir ilmu sosial terkemuka asal Prancis, Michel Foucault, tubuh tidak saja ditundukkan atau dipengaruhi, tetapi juga dibentuk melalui kekuasaan dan pengetahuan.
Apakah konsep ini juga berlaku dalam konteks MBG?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya akan menggunakan antropologi indra (anthropology of senses) yang dicetuskan oleh David Howes.
Perlu ditekankan, tulisan ini tidak berusaha mengurai penyebab kimiawi yang menimbulkan racun dalam MBG–sebab hal itu merupakan ranah toksikologi, tidak pula untuk menentukan siapa yang bersalah dan bertanggung jawab atas masalah ini–sebab ini merupakan ranah hukum. Sebaliknya, tulisan ini bertujuan untuk memahami bagaimana peristiwa keracunan MBG akan dimaknai dan diingat melalui tubuh dan indra oleh komunitas yang terdampak (siswa, guru, dan wali murid).

Kata “tubuh” dalam pandangan Howes, tidak dimaknai secara sempit sebagai objek biologis yang terpisah dari pikiran dan budaya, sebagaimana pemikiran filsuf René Descartes dengan dualisme pikiran-tubuh. Howes berpendapat bahwa pengalaman, pengetahuan, dan ingatan, tidak hanya ada di “pikiran” saja, tetapi juga termanifestasi dalam “kebertubuhan” (embodied). Menurutnya, tubuh bukanlah wadah pasif bagi pikiran, melainkan subjek aktif yang merasakan, mengetahui, dan berinteraksi dengan dunia.
Jika mengacu pada tradisi pengetahuan Barat, dualisme pikiran-tubuh adalah suatu hierarki yang semu. Ia menempatkan “pikiran” (rasio, logika, intelektual) sebagai sesuatu yang superior, beradab, dan manusiawi. Sementara di posisi lainnya, “tubuh” (selain indra penglihatan, emosi, insting) ditempatkan sebagai sesuatu yang inferior, hewani, dan tidak dapat diandalkan. Hal itulah yang ditentang oleh antropologi indra, Howes.
Saya akan mengajak pembaca untuk merenungkan masalah MBG ini lewat wawancara salah satu korban yang dipublikasikan oleh Detik.com. Dalam pemberitaan itu, korban mengatakan: “Agak bau juga, asem gitu. Enggak enak rasanya, cuma enggak tahu dari mana sumbernya. Makanya enggak dihabiskan.”
Lewat pernyataan korban di atas, kita dapat membedah masalah MBG dari sudut pandang Howes.
Pertama, pernyataan korban menunjukkan adanya dominasi indra penglihatan atau visual. Howes menjelaskannya lewat istilah okularsentrisme (ocularcentrism). Istilah tersebut menggambarkan bahwa hanya dengan penglihatan, kita sudah cukup untuk memperoleh pengetahuan yang dianggap “benar” dan “objektif”. Singkatnya, terdapat metafora visual yang telah mengakar dalam cara kita memahami kenyataan: “melihat berarti dapat dipercaya”. Apa yang tidak tampak di mata kerap dianggap tidak ada, atau setidaknya tidak penting.
Lewat pernyataan itu pula, kita dapat mengetahui bahwa indra penciuman korban telah memberikan sinyal lewat bau tak sedap. Namun, sinyal tersebut dianggap tidak penting.
Hal tersebut dapat terjadi karena kebudayaan dan praktik keseharian kita didominasi oleh indra penglihatan. Namun, persoalan utamanya bukan terletak pada fakta bahwa korbannya adalah anak-anak. Tetapi, orang dewasa sekalipun (guru yang mencicipi MBG) yang secara sosial dianggap memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kepekaan lebih tinggi dalam membedakan makanan yang “baik” dan “buruk,” tetap mengalami keracunan.

Penekanannya ada pada posisi indra penglihatan sebagai “indra jauh” yang memberi legitimasi awal bahwa makanan tersebut “aman” berdasarkan tampilan luar. Sementara itu, indra penciuman, perasa, dan peraba yang bekerja dalam jarak dekat baru berfungsi setelah penglihatan memberikan persetujuan tersebut.
Inilah sebabnya mengapa meskipun makanan itu “agak bau”, para korban tetap memakannya. Indra penglihatan telah lebih dulu mengesahkan bahwa tidak ada yang mencurigakan, sehingga indra lain seakan harus tunduk padanya. Namun justru indra yang kerap dianggap “primitif” itu—penciuman dan perasa—menjadi penanda bahaya yang paling awal dan krusial. Tubuh sebenarnya sudah memperingatkan, tetap sinyal itu diabaikan.
Kedua, pernyataan korban juga menunjukkan adanya “pengetahuan” yang mendahului “pemahaman kognitif”. Dalam Buku Empire of The Senses: The Sensual Culture Reader, Howes berulang kali menekankan bahwa budaya tidak hanya berfungsi sebagai seperangkat aturan yang ada di kepala atau dipelajari, melainkan untuk dihayati dan dipraktikkan.
Pengetahuan budaya–seperti penilaian “makanan ini busuk”, merupakan pengetahuan yang tertanam dalam praktik tubuh (mencium, merasa) sebelum ia menjadi pemahaman kognitif. Artinya, bukan “pikiran” korban yang memutuskan makanan itu berbahaya, melainkan “tubuh-subjek”-nya.
Itu menunjukkan kepada kita adanya kecerdasan dalam indra yang dapat dijadikan contoh sempurna sebagai penolakan dualisme pikiran-tubuh. Hemat kata, pengetahuan tidak dapat dilepaskan dari praktik ke-tubuh-an, justru terkadang tubuh melampaui apa yang pikiran mampu lakukan.
Dalam konteks keracunan MBG, tubuh kita adalah pengetahuan yang membentuk kita untuk memaknainya. Apakah makanan tersebut beracun, berbahaya atau tidak. Dengan tubuh, kita juga bisa menentukan sejauh mana kita akan memakan makanan tersebut.
Tulisan ini tentunya tidak bertujuan untuk menelusuri reaksi kimia yang menyebabkan keracunan. Tidak pula bertujuan untuk membuat sadar pemerintah agar menghentikan program MBG, sebab mustahil dilakukan.
Tulisan ini barangkali hanya sekadar memberi warna baru dalam memahami secara kritis fenomena MBG dari kacamata antropologi Indra. Selain itu dapat juga sebagai upaya untuk mengembalikan tubuh korban menjadi subjek yang “bersuara”, bukan sekadar objek statistik kebijakan. Di balik peristiwa ini, ada pengetahuan inderawi yang tertubuhkan (embodied). Indra penciuman dan perasa–yang sering dianggap ‘primitif’, justru menjadi saksi kunci, penjaga gerbang terakhir terhadap bahaya, dan penyingkap kebenaran di tengah dominasi visual.
Sumber foto: Traders Union

Beni Bayu Sanjaya adalah alumni dari Sosiologi yang kini “murtad” dan melanjutkan pendidikan di Jurusan Antropologi di salah satu kampus di Jogja. Topik tentang ekologi dan kebudayaan manusia merupakan minat yang di dalami. Sedikitnya juga meracau tentang isu sosial terkini. Apabila ingin berdiskusi lebih lanjut dapat mengetuk pesan di akun ig @benbay06
Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan.
Adding {{itemName}} to cart
Added {{itemName}} to cart