Tidak semua yang dinobatkan negara layak disebut pahlawan, dan tidak semua yang dilupakan sejarah kehilangan makna kepahlawanannya.
Peringatan Hari Pahlawan tahun 2025 menyajikan nuansa berbeda. Terasa ambivalen. Ngambang dan bimbang.
Ada secuil rasa haru saat melihat pahlawan asal daerah seperti Syaikhona Kholil dari Bangkalan diakui sebagai pahlawan nasional. Rasa bangga yang sama, saya yakin juga dirasakan oleh para aktivis ketika melihat foto Marsinah turut terjejer di antara deretan tokoh yang mendapat penghargaan serupa.
Meskipun, agaknya, kita lebih peduli pada pengungkapan kasusnya daripada gelar kepahlawanannya. Tentu ada curiga, semacam terselip upaya meredam perjuangan dengan iming-iming gelar pahlawan.
Kecurigaan itu menguat dan membuka luka besar yang menyibak kontroversi, yaitu hadirnya sosok presiden kedua RI yang dilengserkan oleh rakyatnya karena dianggap korup dan memonopoli kekuasaan selama 32 tahun di daftar nama pahlawan nasional. Lebih-lebih, Soeharto memiliki catatan pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) terbesar sekaligus tertua bangsa ini. Peristiwa yang terjadi di tahun 1965, juga petrus (penembak misterius) masih lekat dengan sosoknya.
Di tengah kebimbangan ambyar di benak publik pada peringatan hari pahlawan tahun ini, muncul secuil pertanyaan gelisah: Sebenarnya siapa yang disebut pahlawan itu?
Superhero: Pahlawan Putih
Walaupun ini sedikit nyeleneh, jika merujuk pada karangan fiksi, kita mudah menebak definisi pahlawan dalam film bertema superhero. Misalnya, Superman. Mengapa Superman disebut pahlawan? Sederhana saja, karena ia melindungi masyarakat luas dari musuh berbahayaa.
Lebih jelas lagi nampak pada serial film Spiderman. Di film Spiderman 2 misalnya, Spiderman dianggap sebagai pahlawan karena berusaha menyelamatkan para penumpang kereta dari kedengkian doctor Octopus.
Di level fiksi superhero, sosok yang dinilai sebagai pahlawan, mudah terdeteksi. Tokoh yang tidak punya niat mencelakai banyak orang dengan kekuatan supernya, itulah pahlawan. Medannya hitam dan putih. Musuhnya hitam, superhero-nya putih.

One Punch Man: Pahlawan Anti-Pahlawan
Di sisi lain, ada penggambaran lain tentang pahlawan yang anti mainstream. Pahlawan yang diakui penonton sebagai pahlawan, tetapi tidak diakui di ekosistem filmnya.
Tokoh utama dalam anime One Punch Man adalah Saitama. Berbeda dengan karakter pahlawan pada umumnya yang keren dan bergaya, Saitama justru tampil konyol dengan kepala botaknya.
Secara penampilan, Saitama sudah menjadi pahlawan anti pahlawan. Selain penampilannya yang ngebanyol, sikapnya pun tampak konyol. Tidak seperti pahlawan yang cool dan memancarkan aura kebenaran, Saitama justru comedic dan ceroboh.
Di luar penampilan dan tingkahnya yang konyol, rupanya kekuatan Saitama melampaui superhero pada umumnya. Jika superhero biasanya digambarkan dengan berdarah-darah dan dramatis untuk memenangkan pertarungan, Saitama hanya butuh satu pukulan saja untuk menumbangkan musuhnya: One Punch Man.

Meski memiliki kekuatan yang dahsyat, Saitama hanya dianggap sebagai pahlawan kelas rendahan. Kelas C. Sungguh ironis. Mengapa demikian? Karena setiap aksinya tidak pernah dilihat siapa pun. Terlebih karena selalu berhasil menumpaskan lawan hanya dengan sekali pukul, sehingga tidak terdeteksi pertarungan epiknya oleh orang awam.
Namun, poinnya, kita sebagai penonton dari sudut pandang orang ketiga serba tahu, paham dan sadar bahwa Saitama-lah pahlawan yang sebenarnya. Meskipun dalam film tersebut, tokoh-tokoh lain tidak menganggap Saitama sebagai pahlawan.
Soeharto: Pahlawan ala Rezim?
Lalu, sebagai refleksi, sekarang kita melihat pahlawan dari sudut yang mana? Masihkah hitam-putih seperti tontonan masa kecil superhero umum Superman dan Spiderman? Atau sedikit lebih kompleks pada pahlawan anti-pahlawan seperti Saitama?
Jika kita coba memahami pahlawan dalam definisi anti pahlawan ala Saitama, maka narasi formalitas pahlawan nasional dari rezim hari ini tidaklah berarti. Marsinah, Gus Dur, Syaikhona Kholil, dan pahlawan lokal lainnya tetap sah di benak masyarakat yang mengerti jalan panjang dan sejarah perjuangan mereka.
Soeharto pun demikian. Jejak buruknya abadi melintas generasi yang akan terus menggugurkan formalitas kepahlawanannya. Soeharto memang sudah resmi diangkat sebagai pahlawan nasional oleh negara, tetapi tidak berarti diakui secara substansial oleh rakyat dalam kesadarannya yang paling mendalam.

Pahlawan di dunia riil lebih dari sekadar hitam dan putih. Jika ukurannya berhasil menjadi presiden 32 tahun, maka standar itu kontradiktif dengan gelar Gus Dur yang hanya menjabat tidak lebih dari 2 tahun. Pada titik ini, pahlawan anti pahlawan dari Saitama menjadi relevan untuk Gus Dur.
Terdapat satu adegan di mana Saitama berusaha menyelamatkan kota dari serangan meteor. Saitama lalu menghancurkan batu meteor tersebut dengan pukulan tangannya. Tapi hasilnya, ia malah dihujat dan dibenci oleh penduduk kota karena rumah-rumah warga menjadi rusak sebab tertimpa serpihan-serpihan meteor tersebut.
Seperti halnya Saitama, tindakan Gus Dur dalam upaya pembubaran DPR mendapatkan kecaman hebat yang membuatnya dilengserkan. Tapi sebagai penonton dengan sudut pandang orang ketiga serba tahu, kita bisa melihat fakta sejarah dan paham mana yang benar-benar menjadi pahlawan.
Membongkar kelit keputusan rezim yang berkuasa memang tidak mudah. Sebab, mereka punya segalanya. Mereka punya kuasa atas statistik, politik, dan ekonomi. Sebagai insan yang kritis, maka kita perlu membaca ulang pemahaman tentang pahlawan.
Alih-alih membacanya sebagai hitam dan putih, kita perlu membacanya lebih kompleks. Ada pahlawan yang memang dicitrakan sebagai pahlawan sejak awal seperti Superman dan Spiderman. Ada pula sosok pahlawan anti pahlawan seperti Saitama, tetapi tetap diakui oleh penonton yang mengerti citra sebenarnya.

Lalu, kategori berikutnya, ada pahlawan yang dipaksa-paksa menjadi pahlawan. Di antara tumpukan tindakan anti humanis dan jejak kelamnya, Soeharto sepantasnya ada di kolom ini. Soeharto merupakan pahlawan ala rezim yang paling utuh. Masyarakat melakukan protes, kritikan tersebut nyaring disuarakan, namun tetap saja, Soeharto mendapat penghargaan. Maka, perlawanan terakhir yang dapat kita lakukan adalah tidak mengakui secara substantif dan membangun pengetahuan alternatif.
Alih-alih mendasari tulisan dengan bukti tidak layaknya gelar kepahlawanan Soeharto, tulisan ini justru ingin merefleksi dan mengolok-olok lebih jauh. Sebab, terlalu banyak bukti untuk menyebut Soeharto tidak layak. Hanya saja, sudah menjadi tabiat rezim untuk berkelit dengan dalih “tidak ada bukti”.
Sekarang, semua daftar nama pahlawan yang diusulkan telah resmi diangkat sebagai pahlawan nasional secara administratif. Akan tetapi, memaknai setiap tokoh yang dinobatkan sebagai pahlawan nasional dalam klasifikasi jenis pahlawan yang seperti apa, mutlak menjadi hak personal rakyat. Soeharto: pahlawan putih, pahlawan anti-pahlawan, atau pahlawan ala rezim? Silakan refleksikan sendiri.
Selamat hari pahlawan untuk semua yang tidak berambisi disebut pahlawan.
Sumber foto: Picryl

Naufalul Ihya’ Ulumuddin adalah mahasiswa Sosiologi penikmat rokok Surya yang tertarik mengkaji bidang sosiologi dan kebijakan sosial, sosiologi pendidikan, sosiologi kritis, dan sosiologi pengetahuan.
