“Tirani apa saja yang kamu telan hari demi hari, kamu jadikan milikmu sendiri, sampai akhirnya kamu akan sakit dan mati karenanya, tetap dalam diam?”
Pertanyaan Audre Lorde ini lama menempel, dan setiap kali aku mendengar cerita kawan-kawan aktivis feminis, gema pertanyaan ini muncul lagi. Di balik tuntunan kerja untuk keadilan dan HAM, ada sesuatu yang pelan-pelan menggerogoti gerakan dari dalam, yaitu tirani ketidakpedulian.
Bukan ketidakpedulian negara atau publik, melainkan ketidakpedulian yang kami sesama aktivis pelihara tanpa sadar dalam cara kita bekerja, berelasi, dan merawat satu sama lain. Jika aktivisme ingin berketerusan dan sehat, kami perlu menamai tirani ini dan mengubahnya.
Dari obrolan dan pengamatan selama ini, aku melihat tirani ketidakpedulian ini memiliki setidaknya tiga wajah. Pertama, dinamika relasional yang tidak sehat. Kedua, tekanan yang diciptakan dan dinormalisasi oleh para aktivis sendiri. Ketiga, ketegangan antaraktivis yang berujung pada pengucilan dan perpecahan. Wajah ketiga inilah yang paling jarang kami rundingkan. Ketiga wajah ini saling menguatkan dalam siklus yang tidak mudah untuk diputus.
Menumbuhkan Doxa dan Habitus
Tirani ini tumbuh dari sesuatu yang tampaknya “wajar”, yaitu doxa dan habitus. Menurut sosiolog Karen O’Reilly yang merangkum pemikiran teori sosial Bourdieu, doxa adalah keyakinan yang tidak dipertanyakan dan terasa seperti akal sehat, sedangkan habitus adalah kebiasaan-kebiasaan yang terbentuk dan dibentuk oleh lingkungan.
Dalam dunia HAM, doxa “kerja perjuangan harus sampai babak belur” menempel pada banyak aktivis. Belum lagi ada anggapan kalau “kamu bukan aktivis kalau kamu tidak kewalahan, stres, diforsir, dan kebanyakan tugas.”
Padahal, beban kerja aktivis, terutama aktivis perempuan, berlapis-lapis: dari mendampingi korban, memberdayakan komunitas, lalu advokasi. Selain itu ada juga tugas investigasi dan dokumentasi kasus, administrasi dan juga tanggung jawab rumah tangga yang sering kali berbasis gender.
Salah satu kawan aktivis yang bekerja mengkoordinasikan layanan bagi perempuan korban kekerasan mengamini kalau pekerjaan sebagai aktivis sifatnya penuh tekanan, termasuk juga risiko sebagai aktivis. Banyak dari kami menganggap hal ini tak terelakan, meski tubuh dan pikiran memberi sinyal sebaliknya.
Yang membuat makin berbahaya adalah bagaimana gagasan “tahan banting” dipakai untuk menstigmatisasi perawatan. Seorang kawan aktivis yang fokus di isu buruh, bercerita kalau dia sering mendengar ungkapan seperti ini: “Kalau kamu nggak kuat mental, mungkin memang kamu tidak cocok di gerakan.”
Pengalaman serupa juga dialami oleh satu kawanku namanya Annisa yang beraktivisme di isu lingkungan. Ia mengungkapkan acapkali menerima komentar: “Skip aja makannya, jangan makan terlalu banyak, itu akan bikin kamu mengantuk.” Padahal saat itu, ia baru tidur selama 3 jam. Bahkan, saat tengah dirawat di rumah sakit pun, ia masih tetap dipaksa untuk menghadiri rapat melalui Zoom. Budaya “kerja-kerja-kerja” dianggap normal. Lebih parahnya, satu kawan aktivis Dhyta yang juga cerita tentang stigmatisasi perawatan dalam gerakan, “Kalau kita beristirahat, kita dicap malas, tidak produktif, dan tidak berkontribusi.”
Tentu ini menunjukkan bagaimana budaya korporasi merembes ke tubuh gerakan. Produktivitas dihargai di atas praktik relasional seperti perawatan. Hasilnya? Lingkungan yang kasar, hipermaskulin, memuja performa individu, tapi mengucilkan mengakui tantangan yang dihadapi individu.
Gerakan menjadi lebih individualistik, terkotak-kotak, dan terfragmentasi. Koneksi antaraktivis terputus seiring dengan penyisihan perawatan. Sayangnya, nilai patriarki dan kapitalisme yang kami lawan justru bersemayam dalam cara kami bekerja.
Mitos Aktivis Sempurna
Dalam konteks Indonesia yang penuh dengan nilai cis-heteropatriarki, tirani ini paling menyakitkan dirasakan aktivis queer. Kawanku Echa seorang transpuan bercerita betapa penuh tantangannya masuk ke dunia aktivisme HAM dengan latar sebagai pekerja seks. “Aku sering diremehkan, takut dan minder datang ke pertemuan konsolidasi karena aku overthinking gimana aku bisa dihina, di-bully, dan direndahkan karena aku transgender.” Hingga kini, aktivis queer masih sering mengingatkan lingkaran gerakan untuk tidak menjadikan komunitas queer sebagai token gerakan.
Aktivisme HAM juga dapat memicu trauma. Bagi kawan perempuan yang pernah mengalami kekerasan seksual, seperti kawanku Vivi, terlibat dalam advokasi kasus serupa kerap memicu kembali trauma, sementara sistem yang seharusnya bisa mendukungnya saat itu, hampir tidak tersedia. Interseksionalitas dan ruang aman sering digaungkan di lingkaran aktivis, namun sayangnya praktiknya masih tertinggal jauh.
Di balik semua itu, tumbuh subur mitos “aktivis yang sempurna.” Seperti yang diceritkan kawanku Fildzah, di gerakan ada nalar umum seperti: “kalau kamu masuk gerakan sosial, ya sudah, kamu nggak usah self-care. Pikirkan rakyat, perjuangan, kalau dirimu? Kamu stress atau ada hal lain, Itu tidak penting” yang tumbuh di benak dan terus menerus diyakini di lingkaran aktivis. Budaya pengorbanan diri berlebihan membuat kami merasa bersalah dan malu saat memprioritaskan kesejahteraan.

Lalu menurut Dhyta, ada logika kapitalis yang menyelinap dalam bahasa pengabdian, “Jika kamu ingin HAM terpenuhi, kamu tidak boleh berhenti bekerja. Aktivis kok istirahat?” Selain itu, ada juga sisi kompetisi yang ada dalam gerakan yang diceritakan Vivi, “Kita bersaing tentang siapa yang paling aktivis berdasarkan seberapa menderita kamu… kita meromantisasi penderitaan… ini bicara tentang savior complex.”
Dalam budaya seperti ini, penderitaan jadi mata uang untuk legitimasi dan istirahat dibingkai sebagai pengkhianatan, sementara perawatan sebagai sebuah kemewahan. Kewarasan dan kesejahteraan dibebankan sebagai tanggung jawab individu, tapi budaya dalam gerakan justru menghalangi kami untuk memenuhi tanggung jawab itu. Singkatnya, tirani ketidakpedulian secara aktif memastikan kesejahteraan aktivis sebagai sesuatu yang selalu terabaikan dan tidak dihiraukan.
Ketika Sesama Aktivis Saling Menyalahkan
Wajah ketiga tirani ketidakpedulian muncul paling jelas saat konflik. Aku teringat poster di Women’s March Jakarta: “Dialog, bukan saling ngatain goblok!”. Ungkapan itu merupakan bentuk frustasi yang dirasakan oleh salah satu aktivis yang lelah karena sesama feminis pun bisa saling menjatuhkan.
Konflik tentunya tak terelakkan karena kami datang dari beragam latar dan isme-isme. Tapi cara normatif yang kami pakai seringkali adalah bahasa kekerasan, hukuman, dan eksklusi. Bahasa-bahasa yang sebetulnya kami lawan, tapi ironisnya malah kami internalisasi.
Banyak aktivis feminis sudah melihat bahaya dari ketegangan yang berubah menjadi konflik tak terselesaikan yang berujung pada pengasingan dan pelemahan gerakan. Pendekatan yang menghukum adalah hal yang memutus hubungan, mereproduksi kekerasan, dan berakar pada cara pikir kolonial. Kami kehilangan rujukan pada pendekatan yang memusatkan kehidupan seperti transformasi, komunitas, dan akuntabilitas yang memulihkan.
Ketidakperhatianan Mendorong Ketidakpedulian
Bagaimana tirani ketidakpedulian bekerja? Ketidakpedulian tumbuh karena adanya sistem dan budaya menjaga ketidakperhatianan (inattention) secara tidak sengaja, seperti yang dibahas di atas. Namun, aku juga melihat strategi lain, yaitu disattention atau pengalihan perhatian.
Menurut Joan C. Tronto, seorang pemikir yang fokus pada diskusi care, perawatan bisa dimulai dengan kepedulian dan perhatian. Karena itu, kemampuan melihat secara kritis bagaimana perhatian bekerja menjadi sangat penting. Pengalihan perhatian adalah strategi ketika kita secara sengaja memindahkan perhatian dari sesuatu yang kita anggap penting ke hal lain yang justru mengaburkannya.
Banyak kritik terhadap gerakan yang dibungkam hanya dengan sebuah argumen. Misalnya, kejadian yang pernah dialami oleh kawanku aktivis di Maumere, Tika, yang dipaksa untuk terlibat dalam satu kegiatan oleh saudari feminis dari Indonesia Barat. Dia sudah menolak namun penolakan ini diabaikan dengan alasan “demi representasi Indonesia Timur.”
Yang dilakukan oleh saudari feminis ini bukan hanya acuh, tapi juga memproduksi ketiadaan. Concern dan penolakan dipindahkan ke sudut yang “seolah-olah tidak ada.”
Lalu, ada kawanku aktivis HAM queer bernama Lini yang belakangan ini bahkan harus berelokasi karena adanya backlash terhadap aktivismenya. Prosedur proteksi dalam aktivisme HAM mendorong “penghapusan diri”. Tindakan yang terkesan cepat dan aman, tetapi justru mencabut aktivis dari akar dukungan dan jaringan perawatan komunitasnya. Mekanisme ini terasa kolonial karena fokus pada peniadaan, mengekstrasi, dan bukan membangun proteksi yang tertambat pada komunitas dan relasi.
Di beberapa organisasi feminis, pengakuan akan pentingnya waktu untuk istirahat semakin meningkat, yakni dengan adanya cuti berbayar 12 hari. Tapi yang kawan-kawan rasakan, semangat ini terasa dingin. Dhyta mencontohkan, setelah cuti seminggu, kotak masuknya bisa sampai 1.300 pesan. Waktu cuti itu berubah jadi penunda stres, bukan pemulih. Walau perawatan diakui, tapi mengerjakan tugas tetap diutamakan. Alih-alih memperhatikan aktivis yang melakukan kerja-kerja, yang menjadi perhatian utama adalah kerja-kerja aktivisme.
Cerita klasik lain datang dari kalangan aktivis feminis yang menyuarakan tentang 16HAKTP atau 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, yang diperingati dari tanggal 25 November hingga 10 Desember setiap tahunnya. Kami mengejar target, menumpuk program, menulis laporan akhir tahun, menuntaskan proyek sisa, dan di periode yang sama juga harus “menciptakan momentum” sembari memperparah kelelahan. Pengabaian terhadap perawatan terjadi dengan dalih memajukan HAM.
Begitulah desattention bekerja. Kami tahu perawatan perlu, tetapi fokus selalu dialihkan ke hal yang “lebih penting”, seperti angka, output, dan momentum, sembari berharap tubuh–tubuh aktivis yang menanggungnya tetap kuat di akhir tahun.
Butuh Perawatan Bersama
Jika diringkas, ada jejak kapitalisme, cis-heteropatriarki, penghukuman dan kolonialitas dalam aktivisme yang membangun tirani ketidakpedulian dalam dua cara, yaitu inattention dan desattention.
Para aktivis memproduksi praktik-praktik ketidakpedulianan ini sebagai norma yang bertumpu pada doxa dan habitus yang sudah lama terbawa dan terserap dari lingkungan sekitar aktivis. Siklusnya sesimpel mengabaikan kesejahteraan aktivis sehingga kelelahan menumpuk dan gerakan aktivisme semakin melemah.
Bagiku dan kawan-kawan aktivis feminis, kami perlu menamai tirani ketidakpedulian dan merombak apa yang kami anggap penting dalam kerja HAM melalui perawatan bersama. Kami melihat perawatan bersama adalah strategi politik karena melihat perawatan bukan sebagai suatu tambahan atau sampingan. Pada akhirnya, tirani ketidakpedulian adalah sesuatu yang kami telan hari demi hari, kami adopsi, dan kami internalisasi yang lambat laun mulai mereproduksi budaya yang membuat kami sakit, semakin rapuh, dan terpecah.
Jika Audre Lorde dalam bukunya The Cancer Journals mengingatkan bahaya kebisuan saat mempertanyakan pertanyaan soal tirani, kali ini aku menambahkan bahaya dari ketidakpedulian yang kami anggap wajar. Mengubahnya melalui perawatan bersama menuntut lebih dari sekadar “lebih banyak” perawatan. Yang dibutuhkan adalah reorientasi nilai yang menempatkan perawatan sebagai jantung perjuangan. Tujuannya agar kami, para aktivis, bisa terus hidup dan berjuang dengan lebih baik, bersama.
Sumber gambar: Flickr

Rastra adalah seorang aktivis HAM feminis dan queer dari pulau Sumatera dan dibesarkan oleh daun pandan (pandanus), buah letup (physalis), dan pohon seri (muntingia). Rastra menerima gelar magister dalam ranah HAM dengan tesis tentang perawatan bersama dalam aktivisme HAM. Sejak 2012, dia terlibat dalam berbagai inisiatif pengembangan masyarakat dan memulai aktivisme di tahun 2016 bersama Lentera Sintas Indonesia yang fokus pada isu kekerasan seksual. Saat ini fokus bekerja bersama penyintas kekerasan seksual. Rastra memperjuangkan HAM di berbagai ruang termasuk level regional Asia Tenggara. Dia menemukan kekuatan dalam perjuangan komunitas di akar rumput dan perlawanan feminis rakyat jelita.


