Deskripsi
Stri Antahkarana adalah cara kerja batin perempuan yang mencakup pikiran, emosi, ego, intuisi, dan ingatan, yang cenderung relasional, empatik, dan intuitif, serta memiliki kedekatan kuat dengan aspek emosional dan spiritual kehidupan, dalam karya ini dikisahkan kekuatan batin perempuan Bali:kekuatan yang lahir dari perpaduan pikiran, perasaan, dan kehendak saat menghadapi dinamika sosial dan budaya di sekeliling mereka. Di balik setiap langkah dan pilihan, perempuan Bali belajar membaca ketidakadilan, merasakan lukanya, lalu mengolahnya menjadi keberanian untuk bangkit. Inilah cerita tentang bagaimana keteguhan tumbuh dari pengalaman, dan bagaimana perempuan Bali menjadikan hatinya sebagai sumber perubahan.
Lewat karya ini, aku ingin menyampaikan bahwa, dalam perjalanan Stri Antahkarana seperti aku membaca luka yang tersembunyi dan mulai menanyakan hal-hal yang dulu tak berani aku ucapkan. Sebagai perempuan Bali, aku belajar merawat batin, menerima batas, dan menemukan cahaya yang menuntunku pulang pada diri. Sebagai perempuan Bali tidak hanya hidup untuk peran dan kewajiban, tetapi belajar kembali ke pusat dirinya, menjadikan batin sebagai ruang pulang tenang, sadar, dan bercahaya. Layaknya Stri Antahkarana memberi jalan batin yang membuat perempuan mampu merawat diri tanpa kehilangan jati diri.
Karya

Stri (स्त्री) = perempuan
Antahkarana (अन्तःकरण) = alat batin / instrumen internal kesadaran
Antahkarana sendiri adalah konsep penting dalam filsafat Hindu yang merujuk pada sistem mental internal manusia, penghubung antara Atman (jiwa) dan dunia luar.
Sunyi yang diwariskan membentuk keberanian; Strī Anṭaḥkaraṇa menjadi inti keteguhan perempuan Bali.




Gallery





Credit:
©2025 RING SUNARI PROJECT TEAM
Photo Concept, Styling/Makeup: Ni Kadek Aprianita Putri
Photografer :
1. Wzy.Photograph
2. Balilensvisual
3. Photosby.me06
Model :
1. Ni Putu Luisiana Artika Putri
2. Dewa Ayu Ghea Kania Putri
3. Ni Kadek Aprianita Putri
Refleksi
Menjadi perempuan muda di tengah hiruk pikuk standarisasi yang ada seringkali membuat kita terfokus pada hal-hal tertentu demi dapat diterima oleh masyarakat. Namun, mampukah kita benar-benar melewatinya?
Dengan terbentuknya KPPM, kita tidak hanya mendapatkan ruang untuk menuangkan gagasan, pikiran, dan perasaan, tetapi juga tempat yang aman untuk berdiskusi tanpa rasa takut atau tidak percaya. Setelah mengikuti beberapa pertemuan, saya menyadari bahwa meskipun kita berasal dari daerah yang berbeda, perasaan senasib itu nyata. Ada banyak faktor yang mendasari dan membatasi ruang gerak serta suara perempuan muda, dan lewat diskusi ini saya semakin melihat betapa luasnya tantangan dan permasalahan yang selama ini mungkin tidak saya alami secara langsung.
Saya berharap ke depannya KPPM dapat terus berkembang sehingga semakin banyak perempuan muda yang terbantu dalam menyuarakan aspirasinya. Jika memungkinkan, Anotasi juga dapat menyelenggarakan berbagai rangkaian acara yang menarik, agar isu-isu yang sensitif ini bisa dikemas dengan cara yang manis, aman, dan tetap menyampaikan pesan serta bantuan yang dibutuhkan.

Ni Kadek Aprianita Putri (Nita) adalah kolaborator Klub Pengetahuan Perempuan Muda 2025 dari Denpasar, Bali yang saat ini sedang berkuliah di Universitas Udayana mengambil program studi Fisika. Dia tertarik untuk mengambil bagian bagian dari gerakan perempuan yang berpijak pada pengetahuan, solidaritas, dan aksi nyata.