New Beginnings of Phinisi 

Ide Utama

Pada 29 Agustus 2025, Makassar dipenuhi gelombang demonstrasi. Mahasiswa, buruh, dan berbagai kelompok masyarakat turun ke jalan membawa beragam tuntutan, mulai dari keadilan atas tewasnya seorang pengemudi ojek online hingga penolakan terhadap kebijakan tunjangan anggota DPRD. Di tengah riuhnya kota yang dipenuhi teriakan dan kemacetan, saya justru merasa lelah. Malam itu, tepat pukul 12.00, saya bersama teman-teman Unit Kegiatan Mahasiswa memilih meninggalkan Makassar menuju Tanah Beru, Bonto Bahari, Bulukumba.  

Selepas tiba menjelang subuh, kami beristirahat hingga siang sebelum melanjutkan perjalanan menuju Tanah Beru, sebuah kawasan yang dikenal sebagai jantung tradisi pembuatan kapal pinisi. Di tempat inilah para panrita lopi, sebutan dalam bahasa setempat untuk ahli pembuat kapal, dari kata panrita yang berarti ahli atau pengrajin dan lopi yang berarti kapal, mewariskan pengetahuan membangun pinisi dari generasi ke generasi. Tradisi inilah yang kemudian menjadikan Bonto Bahari dikenal sebagai Bumi Panrita Lopi 

Foto oleh: Ahmad Rifaldi

Sebagai seorang antropolog yang gemar mendokumentasikan kehidupan melalui lensa kamera, saya berjalan ke laut hingga air setinggi dada untuk memperoleh sudut pandang yang utuh atas prosesi peluncuran kapal. Perlahan, pinisi mulai bergerak meninggalkan daratan menuju samudra. Di hadapan saya bukan sekadar sebuah kapal, melainkan sebuah mahakarya yang lahir dari pengetahuan, ketekunan, dan kerja kolektif para panrita lopi. Meski baru berupa rangka, kapal itu telah memancarkan wibawa dan kebanggaan.

Dari sudut pandang antropologi, kapal itu bukan sekadar hasil kerja pertukangan, melainkan manifestasi hidup dari pengetahuan leluhur yang diwariskan lintas generasi. Bagi saya, prosesi itu menandai sebuah awal baru bagi pinisi, kelahiran kembali tradisi bahari yang akan kembali mengarungi lautan sekaligus meneruskan warisan budaya. Setiap denting palu dan setiap pahatan pada kayu menghadirkan jejak masa lalu yang terus hidup, seolah berjanji bahwa tradisi ini akan selalu menemukan jalannya menuju masa depan.

Foto oleh: Ahmad Rifaldi
Foto oleh: Ahmad Rifaldi
Foto oleh: Ahmad Rifaldi

Keahlian para Panrita Lopi merupakan manifestasi nyata dari apa yang oleh Clifford Geertz disebut sebagai local knowledge. Pengetahuan ini bukan sekadar keterampilan teknis dalam membangun kapal, melainkan sistem pengetahuan yang terbentuk melalui pengalaman hidup, pengamatan, dan pembelajaran yang diwariskan lintas generasi. Tanpa bantuan teknologi modern, para Panrita Lopi mampu merancang kapal Pinisi yang kokoh hanya dengan mengandalkan pengalaman empiris, intuisi, serta pengetahuan yang terus direproduksi selama berabad-abad.

Proses pembuatan Pinisi yang dapat berlangsung hingga sebelas bulan menunjukkan bahwa membangun kapal bukan semata-mata pekerjaan teknis. Di balik setiap tahapan terdapat ketelitian, kesabaran, dan serangkaian praktik budaya yang memberi makna pada proses tersebut. Kapal tidak hanya “dibuat”, tetapi juga dilahirkan melalui kerja yang menuntut keterampilan sekaligus penghormatan terhadap pengetahuan leluhur.

Momen peluncuran kapal membuka mata saya terhadap bentuk relasi sosial yang hidup di masyarakat pesisir Bulukumba. Di bawah langit yang cerah, puluhan orang menarik tambang secara serempak agar kapal perlahan meluncur menuju laut. Pemandangan itu memperlihatkan bahwa peluncuran Pinisi tidak pernah menjadi kerja individual. Sebaliknya, ia hanya mungkin terjadi melalui kerja kolektif yang melibatkan banyak tangan dan kepercayaan di antara mereka.

Kerja kolektif tersebut berakar pada relasi Punggawa-Sawi yang telah lama menjadi fondasi kehidupan maritim masyarakat Bugis-Makassar. Hubungan ini tidak semata-mata dibangun melalui pembagian kerja, tetapi juga oleh rasa saling percaya, resiprositas, dan tanggung jawab moral. Tidak ada kontrak formal yang mengatur setiap gerakan mereka hari itu. Yang mengikat adalah komitmen bersama untuk memastikan kapal dapat berlayar dengan selamat.

Dalam konteks inilah local knowledge tidak hanya hadir sebagai pengetahuan tentang cara membangun kapal, tetapi juga sebagai mekanisme yang menjaga kohesi sosial. Setiap orang memahami perannya, mengetahui kapan harus membantu, dan menyadari bahwa keberhasilan peluncuran kapal merupakan tanggung jawab bersama. Pengetahuan lokal, dengan demikian, bekerja sebagai perekat komunitas sekaligus fondasi bagi keberlangsungan tradisi.

Pinisi bukan sekadar alat transportasi laut. Ia merupakan perwujudan dari pengetahuan lokal, kerja kolektif, dan identitas bahari masyarakat Bulukumba yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Ketika kapal itu akhirnya menyentuh laut, yang berlayar bukan hanya rangkaian kayu yang telah dirakit selama berbulan-bulan, melainkan juga memori kolektif, nilai-nilai kebersamaan, dan warisan budaya yang terus hidup di tengah perubahan zaman.

Foto oleh: Ahmad Rifaldi

Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan. 

Bagikan
WhatsApp
X
Facebook
LinkedIn
Email
Print

Khusus buatmu