Ketika membicarakan Korea Selatan, yang sering muncul di benak banyak orang adalah K-pop, drama, dan industri hiburan yang mendunia. Namun, di balik citra tersebut, berlangsung perdebatan panjang mengenai kesetaraan gender dan masa depan gerakan feminis.
Di satu sisi, gerakan feminis berhasil mendorong berbagai perubahan sosial dan membuka ruang diskusi yang sebelumnya dianggap tabu. Di sisi lain, resistensi terhadap feminisme juga menguat, bahkan membuat sebagian masyarakat Korea Selatan enggan mengidentifikasi dirinya sebagai feminis.
Berdasarkan survei International Women’s Day 2026, 65% laki-laki Korea Selatan meyakini kesetaraan gender sudah bergerak cukup jauh dan 42% perempuan Korea menyetujuinya. Survei tersebut juga menunjukkan hanya 13% laki–laki dan 28% perempuan mengidentifikasi diri sebagai feminis. Data tersebut memunculkan pertanyaan: sejauh mana gerakan feminis di Korea Selatan telah menghasilkan perubahan? Bagaimana perkembangannya hingga hari ini? Inilah yang dibahas dalam buku Flowers of Fire: The Inside Story of South Korea’s Feminist Movement and What It Means for Women’s Rights Worldwide (2023) karya Hawon Jung.
Bagian 1 #MeToo, #WithYou
Bagian ini menyoroti kasus kekerasan seksual di Korea Selatan. Patriarki dan relasi kuasa yang memihak pelaku membuat mereka merasa bebas melakukan apapun terhadap korban. Juga karena kekuasaan tersebut, pelaku tidak mendapatkan konsekuensi apa-apa. Sementara itu, korban perempuan harus menahan rasa sakitnya sendirian dan menyembunyikan rasa malu sambil menyalahkan diri sendiri. Menyiarkan pelecehan yang dialaminya atau hanya memberitahu orang terdekat dapat membawa konsekuensi sosial yang fatal, seperti dianggap mengumbar aib atau dituntut karena pencemaran nama baik. Namun, gerakan #MeToo mengubah hal itu.
Gerakan #MeToo mencapai momentumnya di Korea pada tahun 2018 berkat seorang jaksa senior bernama Seo Ji-Hyun. Seo menyatakan bahwa semasa kerjanya sebagai jaksa junior, ia mengalami pelecehan seksual dari atasan dan rekan kerjanya. Memutuskan untuk menghadiri wawancara langsung di televisi, Seo menekankan bahwa apa yang terjadi bukanlah kesalahan korban dan tidak akan ada perubahan selama mereka tetap diam. Seo membangkitkan keberanian korban lainnya untuk menyuarakan kasus mereka dan menuntut pelakunya. Mereka tidak sendirian. Publik pun turut mendukung dengan tagar #WithYou.
Semakin banyak yang bersuara, semakin terlihat bahwa pelaku kekerasan seksual ada di mana-mana. Petinggi di kantor ternama, aktor, penyair, pendeta, anggota gereja, pelaku eksibisionis, hingga orang-orang asing yang “iseng” di transportasi umum. Tidak peduli apakah itu ruang privat atau publik, pelaku menerkam korban di mana pun; termasuk di dalam rumah. Terkait hal ini, Hawon Jung juga menceritakan kasus Blue Butterfly, korban inses yang dipaksa Ayahnya melakukan handjob dan seks oral dari usia 8 hingga 18 tahun.
Bagian 2 Kemana Semua Perempuan itu Pergi?
Bagian ini menceritakan perjuangan perempuan feminis di masa penjajahan Jepang dan peralihan menuju-setelah kemerdekaan melalui kisah Yoon Hye-Ryun seorang aktivis perempuan pekerja dan Jung Choun-Sook seorang politisi dan aktivis hak perempuan. Namun, perubahan zaman menuntut perjuangan yang lebih adaptif. Di sinilah, momen gerakan #MeToo menjadi penyerahan baton perjuangan ke generasi muda. Kini feminisme merambah ke dunia digital, contohnya adalah gerakan Megalia.
Pada bagian ini, Hawon Jung menyoroti kontribusi gerakan Megalia dalam pemberantasan spycam porn atau molka, yakni video vulgar yang diambil secara diam-diam. Megalia mengadakan kampanye digital melawan molka dan berupaya mematikan situs porno Soranet yang membisniskannya. Memperkuat perlawanan, anggota Megalia Park Soo-Yeon kemudian mendirikan organisasi nirlaba bernama Digital Sexual Crime Out (DSO) yang bekerja sama dengan Korea Cyber Sexual Violence Response Center (KCSVRC). Perlawanan ini berhasil menghukum salah satu pendiri Soranet dengan 4 tahun penjara dan denda 1,4 miliar won.
Bagian 3 My Life is Not Your Porn
Bagi banyak perempuan, ancaman spycam porn menghadirkan rasa waswas yang sulit dihindari. Di ruang ganti, toilet umum, penginapan, bahkan tempat kerja, selalu ada kemungkinan kamera tersembunyi merekam tubuh mereka tanpa persetujuan. Sayangnya, spycam porn bukan satu-satunya kejahatan seksual digital yang marak di Korea Selatan. Bentuk lainnya adalah revenge porn, cyber rape, deepfake porn, dan sextortion atau penggunaan foto atau video vulgar untuk mengancam serta memeras korban.
Dalam bukunya, Hawon Jung mengangkat kasus Kang Joo-Young, pekerja kantoran yang menjadi korban teror pesan teks seksual dan deepfake buatan mantan pacarnya, Jang Suk-Il. Salah satu pesan Jang berbunyi, “Hukum negara tidak akan pernah memenjarakanku hanya karena hal ini.” Memang jeratan hukum tak seberapa, bahkan cenderung permisif kepada pelaku. Hakim menjatuhi hukuman delapan bulan penjara pada Jang, namun menangguhkan penahanannya dengan alasan Jang “bertobat”, pelanggar pertama kali, dan punya keluarga untuk dinafkahi. Ia bebas, sedangkan Kang mengalami trauma.
Menangkal molka, Son Hae-Young melalui Seoyeon Security menyediakan teknologi dan jasa pelatihan pendeteksi spycam. Son menjabarkan molka sulit diberantas karena molka merupakan bisnis terorganisir dengan demand yang tinggi. Kenapa tinggi? Tentu karena budaya misogini. Tertangkap dalam forum daring, pengguna anonim mengunggah, “Tonton saja molka kalau kalian merasa terkalahkan (overpowered) oleh perempuan.”
Bagian 4 My Body Standar Kecantikan, Diet, dan Gerakan #EscapeTheCorset
Selama bertahun-tahun, K-entertainment terus menyebarluaskan standar kecantikan Korea Selatan. Pipi tirus, bentuk wajah V dan tubuh langsing hanyalah contoh. Banyak bintang dipaksa menjalani diet ekstrem untuk memenuhi standar tersebut, misalnya Han Seung-Yeon dari KARA yang pada tahun 2016 pingsan di pemandian umum karena sedang diet. Standar ini menekan berbagai kalangan dengan usia yang beragam. Anak-anak seusia delapan tahun pun sudah mulai awas dengan berat dan bentuk tubuh mereka, segelintir menolak menghabiskan makan siang karena takut tubuh mereka tidak ideal.
Hawon Jung menunjukkan bahwa standar kecantikan di Korea Selatan tidak hanya membentuk preferensi estetika, tetapi juga memengaruhi berbagai aspek kehidupan sosial. Penampilan fisik kerap menjadi pertimbangan dalam relasi sosial, dunia kerja, hingga budaya populer. Di tengah tekanan untuk memenuhi standar kecantikan yang nyaris mustahil tersebut, sejumlah perempuan Korea melancarkan kampanye #EscapeTheCorset sebagai bentuk penolakan terhadap tuntutan untuk terus-menerus menyesuaikan tubuh mereka dengan ideal kecantikan dominan.
Aborsi dan Tubuh Perempuan Korea sebagai Population Control
Aborsi memiliki sejarah panjang yang politis di Korea, terangkum di bawah ini:
Sebagaimana terlihat, aborsi di Korea lebih dekat urusannya dengan kepentingan negara. Aktivis hak reproduksi, Na-Young mengutarakan bahwa perempuan Korea tidak punya andil dalam pengambilan keputusan kebijakan aborsi yang sebenarnya berkenaan dengan national interest, bukan otonomi perempuan atau otoritas perempuan atas tubuhnya sendiri.
Kemerdekaan Perempuan Korea dari Kontrol Negara
Kontrol atas tubuh perempuan sebagai “aset nasional” tidak hanya dilegitimasi oleh negara melalui hukum, tetapi juga melalui institusi pernikahan. Hal ini memicu fenomena “birth strike”, perlawanan perempuan muda terhadap tekanan sosial untuk menikah, melahirkan, dan mengurus keluarga.
Contoh konkretnya adalah komunitas (1) no-marriage women, di mana perempuan melatih keterampilan mereka untuk bisa mandiri dan tidak bergantung kepada laki-laki; (2) Eunpyeong Sisters, komunitas bersantai dan mengobrol untuk perempuan; (3) It’s Okay to be Lazy; di ruang ini, perempuan dapat beristirahat dan menikmati waktu untuk dirinya sendiri, sekaligus menantang norma gender Konfusianis yang menuntut mereka untuk terus mengutamakan kerja, keluarga, dan kebutuhan orang lain. Memerdekakan diri dari penjara domestik dan objektifikasi, perempuan Korea juga mengampanyekan “4B”: no dating, no sex, no marriage, dan no child-rearing.
Hak-hak Perempuan Transgender dan Minoritas Gender di Korea
Dalam bukunya, Hawon Jung juga menceritakan soal tentara perempuan transgender Korea bernama Byun Hui-su. Meskipun sebelumnya Byun menempati posisi staf sersan dan pengemudi tank, Byun dipulangkan militer dengan dalih operasi pergantian kelaminnya telah membuatnya cacat (disabled) dan karenanya tidak layak untuk bertugas. Byun ditemukan meninggal dunia karena bunuh diri di kediamannya.
Kisah Byun mengungkap misogini dan transfobia sebagian besar masyarakat Korea, termasuk trans-exclusionary radical feminis (TERFs). Statistik Korea 2020 Social Indicator of Korea menunjukkan bahwa 60% masyarakat Korea tidak berkenan menerima homoseksual sebagai teman, kolega ataupun tetangga. Homoseksual menempati dua tingkat terbawah, hanya di atas kriminal. Lebih jauh, transgender mengalami pelecehan, pengucilan dan diskriminasi. 6 dari 10 individu trans mengalami depresi. Selain itu, sensus nasional dan statistik resmi hanya mengakui biological men dan biological women. Wynter Kim, transpuan dan aktivis di Seoul, mengatakan hal tersebut membuatnya merasa bahwa seluruh masyarakat mengabaikan dan menolak kehadiran komunitas trans.
Flowers of Fire: The Inside Story of South Korea’s Feminist Movement (2023) karya Hawon Jung menyajikan sejarah feminisme Korea Selatan dengan cukup komprehensif. Jung menjabarkan tiap proses dengan telaten, melengkapi deskripsinya dengan foto, dan mengutip sumber-sumber terpercaya. Jung juga meringkas konteks sosio-historis hingga mudah dipahami. Meskipun mengangkat topik yang kompleks, buku ini ramah pembaca dan feminis pemula.
Jung menghadirkan narasi humanis dan suara para perempuan yang menghidupi sejarah feminisme di Korea. Ini membuat perjuangan mereka terasa lebih dekat dan membangkitkan empati. Buku ini memupuk harapan dan membantu mengimajinasikan realitas di mana kesetaraan gender dapat diwujudkan bersama.
Buku ini tampaknya ditujukan bagi pembaca internasional yang belum akrab dengan sejarah gerakan feminis Korea. Pilihan tersebut tentu dapat dipahami. Namun, dalam beberapa bagian, upaya menjelaskan konteks Korea kepada audiens global justru menghadirkan perbandingan yang berisiko mereproduksi pandangan orientalis terhadap perempuan di kawasan lain.
Dengan nada yang terkesan superior, Jung membandingkan pengalaman perempuan Korea dengan perempuan di Asia Barat dan Afrika Utara. Ia menulis bahwa perempuan Korea “tidak perlu izin wali laki-laki untuk mengemudi atau bepergian.” Perbandingan semacam ini berisiko menempatkan pengalaman perempuan Korea sebagai tolok ukur kemajuan, sekaligus menyederhanakan keragaman pengalaman perempuan di kawasan lain.
Padahal, dalam subjudul bukunya, Jung mengisyaratkan pentingnya gerakan feminis Korea bagi perjuangan hak-hak perempuan secara global. Di titik ini, muncul pertanyaan: sejauh mana solidaritas feminis dapat dibangun jika pengalaman perempuan di berbagai belahan dunia justru ditempatkan dalam relasi yang hierarkis?
Jung lalu menegaskan keunggulan Korea sebagai negara maju (first-world country). Meskipun mengakui bahwa masalah perempuan di Korea Selatan terbilang ekstrem, Jung menuliskan bahwa masalah-masalah tersebut adalah masalah negara maju. Di sini, Jung mengelompokkan Korea Selatan hanya dengan negara-negara maju dan memisahkan negaranya dari negara berkembang. Dengan begitu, Jung turut menempatkan negaranya sebagai Barat, mengingat first-world juga bermakna “westernized”. Ini mengonfirmasi bias Jung pada feminisme Barat. Sayangnya, feminisme Barat seringkali mengesampingkan pengalaman perempuan kulit berwarna beserta latar belakang mereka yang beragam.
Maka, perlu dipertanyakan: apa signifikansi asosiasi Korea Selatan sebagai Barat dan negara maju? Apa sebenarnya tujuan mempertegas dikotomi negara maju/negara berkembang? Bagaimana posisi tersebut memengaruhi penarasian feminisme dalam buku ini? Apa permasalahannya jika konteks perempuan Korea Selatan lebih dekat dengan perempuan di negara-negara berkembang? Tanpa pembacaan yang kritis ini, sentimen Jung dapat membuat pembaca hanya menganggap penting feminisme Barat dan meremehkan tantangan yang dihadapi perempuan di belahan dunia lain.



