Mahasiswi Teknik Ideal yang Tak Tertulis

Ide Utama

Deskripsi

Karya berjudul “Mahasiswi Teknik Ideal yang Tak Tertulis” ini membongkar konstruksi idealisme mahasiswi teknik di lingkungan akademik yang dibentuk dari keterlibatan sosial, bukan dari kompetensi teknis. Melalui pengalaman personal, karya ini menelusuri bagaimana mahasiswi yang memilih untuk tidak terlibat aktif dalam kegiatan jurusan menghadapi perlakuan yang berbeda seperti pertanyaan berulang yang mempertanyakan keseriusan mereka dengan dunia teknik, akses informasi yang tidak setara, serta validasi capaian akademik yang berbeda.

Dikaitkan dengan penelitian Cheryan et al. (2017) yang menjelaskan bahwa engineering secara kultural dikonstruksi dengan stereotip tertentu, bukan berbasis kompetensi teknis melainkan ekspektasi sosial, karya ini mengundang refleksi bahwa ada banyak cara berkontribusi dalam dunia engineering, dan kultur yang memaksakan satu bentuk keterlibatan sebagai standar adalah bentuk diskriminasi yang tidak adil terhadap pilihan pribadi.

Karya

Gallery

Refleksi

Saya tidak pernah berpikir bahwa ketidaknyamanan yang saya rasakan selama ini memiliki nama, sampai Klub Pengetahuan Perempuan Muda 2025 memberi saya ruang untuk melihatnya dengan lebih jernih tanpa menyalahkan atau menjatuhkan salah satu pihak. Saya merasa bahwa tidak mengikuti organisasi tertentu adalah bentuk pembangkangan dan tidak membutuhkan orang lain dalam proses berkembang di kampus. Hal ini tidak langsung dikatakan namun dibentuk melalui tradisi-tradisi yang tidak jelas asal usulnya, brainwash merupakan hal yang wajar dilakukan agar mencintai organisasi tertentu dengan segenap jiwa dan raga.

Melalui proses di Klub Pengetahuan Perempuan Muda, saya belajar membaca ulang pengalaman-pengalaman kecil yang selama ini saya anggap normal atau bahkan salah saya sendiri. Saya belajar bahwa ketidakadilan tidak selalu datang dalam bentuk diskriminasi secara langsung, tapi melalui akumulasi interaksi kecil yang secara konsisten mengirim pesan kamu bukan mahasiswi teknik ideal yang mereka bayangkan. Saya belajar bahwa netralitas yang diklaim kampus seringkali hanya berarti mengikuti norma yang sudah ada tanpa pernah mempertanyakan apakah norma itu sendiri netral. Dan yang paling penting adalah saya belajar bahwa mempertanyakan sistem bukan berarti saya tidak bisa beradaptasi, tapi berarti saya cukup kritis untuk melihat bahwa sistemnya yang perlu berubah.

Anotasi memberi saya bahasa untuk mengartikulasikan apa yang selama ini hanya saya rasakan sebagai sesuatu yang tidak pas. Ruang ini mengajarkan saya bahwa pengalaman personal saya adalah bagian dari pola yang lebih besar dan bahwa diam bukan netralitas, tapi pembiaran. Untuk setiap mahasiswi yang pernah merasa “tidak cocok” di ruang yang seharusnya untuk semua orang saya hanya ingin berpesan, masalahnya bukan pada kita.


Grace Sheila Simbolon (Grace) adalah kolaborator Klub Pengetahuan Perempuan Muda 2025 dari Lampung. Saat ini dia sedang menempuh pendidikan Teknik Geofisika di Institut Teknologi Sumatera. Grace percaya perempuan muda memiliki peran besar dalam membentuk masa depan.

Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan. 

Bagikan

Khusus buatmu