Medical Gaslighting, Ketika Sains Gagal Membaca Tubuh Perempuan

Ide Utama

Mari kita bayangkan, ada seorang perempuan yang sudah lima hari berturut-turut merasakan sakit tak berkesudahan di perutnya. Siklus menstruasinya memang berjalan normal, tetapi rasa sakit itu tidak kunjung berhenti, melainkan kian menyiksa. Dengan harapan memperoleh jawaban atas rasa sakit yang dialaminya, ia pun memutuskan untuk datang ke tenaga medis. Baginya, ruang periksa bukan hanya tempat mencari jawaban, melainkan ruang untuk memperoleh kepastian tentang apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya.

Namun, alih-alih mendapatkan penjelasan ilmiah mengenai kemungkinan kondisi tertentu, ia justru mendengar kalimat seperti, “Oh, ini wajar. Hanya masalah hormon.” atau bahkan, “Nanti kalau sudah menikah tidak akan sesakit ini, kok.” Situasi semacam ini kerap dialami perempuan, baik secara langsung maupun melalui cerita orang-orang di sekitarnya. 

Persoalannya bukan sekadar apakah pasien memperoleh pengobatan, melainkan apakah pengalaman terhadap rasa sakit yang mereka sampaikan dipercaya dan diperlakukan sebagai informasi medis yang layak dipertimbangkan. Ketika keluhan perempuan dianggap ‘wajar’, maka pengalaman mereka pun berisiko tidak lagi dipandang sebagai sumber pengetahuan yang penting dalam memahami tubuhnya sendiri.

Fenomena tersebut dikenal sebagai medical gaslighting, yakni kondisi di mana rasa sakit pasien diremehkan, diabaikan, atau dianggap berlebihan oleh tenaga medis. Shapiro dan Hayburn menjelaskan bahwa sebagian besar layanan kesehatan masih terjebak dalam pola respons yang menyudutkan pengalaman pasien perempuan, mulai dari penolakan terhadap gejala yang dilaporkan pasien, keterlambatan diagnosis, hingga kecenderungan mengaitkan keluhan fisik dengan persoalan emosional atau psikologis semata. 

Kenyataan ini pun memunculkan beberapa pertanyaan besar: mengapa bias semacam ini terus terjadi? Apakah tubuh perempuan memang dirancang sedemikian rumit hingga keluhannya kerap tidak dianggap serius? Atau persoalannya justru terletak pada bagaimana cara dunia medis membangun pengetahuan mengenai tubuh perempuan itu sendiri?

Akar Ketimpangan dalam Fondasi Pengetahuan Biologis

Bias tersebut tidak serta-merta berhenti di ruang periksa. Ia berakar lebih jauh pada fondasi pengetahuan ilmiah itu sendiri. Dalam Invisible Women: Data Bias in a World Designed for Men, Caroline Criado Perez menjabarkan bahwa dunia medis sejak lama dibangun di atas asumsi bahwa tubuh laki-laki merupakan model biologis universal. Sebaliknya, tubuh perempuan sering kali kurang dilibatkan dalam penelitian karena variasi hormonal yang berkaitan dengan siklus menstruasi, kehamilan, dan menopause dianggap dapat mempersulit proses pengendalian variabel penelitian.

Keputusan tersebut mungkin mempermudah penelitian. Namun, pengetahuan biologis yang dihasilkan pada akhirnya lebih banyak merepresentasikan satu kelompok dibandingkan keragaman pengalaman biologis manusia. Ketika data ilmiah tidak cukup merepresentasikan tubuh perempuan, maka pemahaman medis yang dihasilkan pun berisiko gagal mengenali pola biologis rasa sakit yang mereka alami. Dengan kata lain, pengalaman biologis perempuan tidak cukup terwakilkan. 

Persoalan ini menjadi semakin menarik jika ditelusuri melalui perspektif biologi molekuler. Sebagai cabang ilmu yang mempelajari kehidupan pada level paling mendasar—mulai dari DNA, RNA, genom, protein, hingga interaksi antarsel—biologi molekuler berperan penting dalam membentuk cara dunia medis memahami tubuh manusia.

Pada level molekuler, tubuh laki-laki dan perempuan tidak hanya berbeda pada organ reproduksi. Penelitian Klein dan Flanagan menunjukkan bahwa perbedaan biologis berbasis jenis kelamin memengaruhi respons imun melalui regulasi hormonal, ekspresi gen, dan mekanisme fisiologis lain yang menentukan bagaimana tubuh merespons penyakit. 

Apabila perbedaan biologis ini tidak terakomodasi dalam basis pengetahuan medis, gejala yang muncul pada tubuh perempuan berpotensi dibaca sebagai penyimpangan dari “standar normal” yang sesungguhnya dibangun dari tubuh laki-laki. Ketimpangan tersebut tidak hanya terlihat pada data yang diproduksi, tetapi juga pada siapa yang diberi ruang sekaligus diakui dalam proses produksi pengetahuan ilmiah. 

Salah satu contoh paling dikenal adalah Rosalind Franklin, ilmuwan yang menghasilkan citra difraksi sinar-X dalam pengungkapan struktur heliks ganda DNA. Walaupun kontribusinya sangat penting, pengakuan ilmiah pada masanya justru lebih banyak diarahkan kepada beberapa rekan laki-lakinya.

Hal serupa juga tercermin dalam kisah Henrietta Lacks, perempuan Afrika-Amerika yang sel kankernya diambil tanpa persetujuannya dan menjadi fondasi penting bagi berbagai riset biomedis modern. Keduanya menunjukkan bahwa persoalan representasi yang minim dan adanya ketidakadilan telah lama menjadi bagian dari perkembangan sekaligus distribusi ilmu pengetahuan. 

Dengan kata lain, sejarah perkembangan sains tidak sepenuhnya netral. Pengetahuan selalu diproduksi dalam relasi sosial tertentu, termasuk relasi gender yang membentuk siapa yang didengar, siapa yang memperoleh pengakuan, dan siapa yang terpinggirkan dari sejarah sains.

Paradoks Kemajuan Biologi Molekuler

Salah satu implikasi penting dari perkembangan biologi molekuler adalah lahirnya precision medicine atau kedokteran presisi, sebuah pendekatan medis yang menyesuaikan diagnosis dan terapi berdasarkan karakteristik biologis unik setiap individu. Pendekatan ini berangkat dari pemahaman bahwa setiap manusia memiliki susunan genetik yang berbeda, sehingga respons tubuh terhadap pengobatan pun tidak selalu sama. 

Sebagai contoh, kita bisa melihat penerapannya dalam penanganan kanker payudara. Dalam artikelnya, Collins dan Varmus menjelaskan bahwa pemahaman mengenai mekanisme genetik dan molekuler yang mendasari kanker telah mengubah cara dokter memahami dan menangani penyakit tersebut. 

Jika sebelumnya pasien dengan jenis kanker yang sama cenderung menerima pengobatan serupa, kini karakteristik molekuler pada sel kanker dapat digunakan untuk menentukan terapi yang lebih sesuai bagi masing-masing pasien. Alhasil, pengobatan tidak hanya berfokus pada penyakitnya, tetapi juga pada karakteristik biologis individu yang mengalaminya. 

Dengan memahami urutan genom serta respons biologis tubuh terhadap pengobatan tertentu, obat maupun metode penyembuhan dapat dikembangkan secara lebih personal dan efektif. Meskipun begitu, pendekatan yang menjanjikan pengobatan lebih personal ini hanya dapat berjalan apabila didukung oleh data biologis yang beragam dan representatif.

Pada akhir abad ke-20, proyek pemetaan genom manusia menandai lompatan besar dalam sejarah biologi molekuler. Melalui proyek ini, sains berhasil memetakan miliaran pasangan basa DNA manusia dan membuka jalan bagi perkembangan pengobatan yang lebih presisi. Akan tetapi, basis data genomik awal masih didominasi kelompok tertentu, terutama populasi keturunan Eropa. 

Kemajuan tersebut pun memunculkan pertanyaan mendasar: sejauh mana pengetahuan biologis benar-benar merepresentasikan keragaman tubuh manusia? Apabila fondasi data yang digunakan untuk membangun pemahaman biologis masih bertumpu pada bias representasi, maka manfaat precision medicine berisiko tidak dirasakan secara setara oleh seluruh kelompok masyarakat. 

Ketika kelompok tertentu lebih banyak terwakili dalam penelitian dibanding kelompok lainnya, maka pengetahuan medis yang dihasilkan pun tidak dapat sepenuhnya mencerminkan keragaman pengalaman biologis manusia. Dalam konteks yang lebih luas, persoalan ini juga berkaitan dengan bagaimana tubuh perempuan selama ini kerap ditempatkan di luar standar utama penelitian dan praktik medis.

Membuka Ruang Sains yang Lebih Inklusif

Kita perlu mengingat bahwa medical gaslighting tidak semata lahir dari keterbatasan data biologis. Faktor budaya, relasi kuasa dalam praktik klinis, dan bias gender dalam komunikasi medis juga turut berperan. Akan tetapi, fondasi pengetahuan ilmiah yang timpang tetap menjadi persoalan mendasar yang perlu disorot.

Karena itu, setiap temuan ilmiah patut ditinjau secara kritis, mulai dari mana sampel penelitian berasal, siapa dan kelompok mana yang direpresentasikan, dan sejauh mana hasilnya dapat diterapkan pada pengalaman biologis suatu kelompok, termasuk perempuan. Ketika tubuh perempuan menunjukkan gejala yang berbeda dari standar tersebut, pengalaman itu dianggap sebagai sesuatu yang abnormal, sulit dijelaskan, atau bahkan dilebih-lebihkan. 

Padahal, pengalaman biologis perempuan semestinya diperlakukan sebagai bagian dari pengetahuan medis, bukan sebagai penyimpangan dari standar yang selama ini dibangun berdasarkan tubuh laki-laki. Tidak sedikit perempuan yang mengalami kecemasan, trauma, atau bahkan kehilangan kepercayaan terhadap sistem kesehatan. 

Di sisi lain, membangun sains yang lebih inklusif bukan berarti menciptakan sekat baru antara laki-laki dan perempuan, melainkan membuka ruang bagi kompleksitas biologis yang selama ini kerap terpinggirkan. Jika pengalaman biologis yang beragam diakomodasi sejak proses penelitian, pengembangan, hingga penerapan ilmu pengetahuan, maka peluang terciptanya diagnosis dan layanan kesehatan yang lebih akurat pun akan semakin besar.

 Semakin bertambahnya kehadiran perempuan dalam dunia sains juga memberi harapan baru akan lahirnya perspektif yang lebih beragam dalam proses meramu sebuah pengetahuan. Pada akhirnya, kesetaraan dalam sains bukan perkara menjadikan satu tubuh tertentu sebagai acuan utama, melainkan memastikan bahwa setiap tubuh berhak dipahami dalam keunikannya masing-masing. Jika sains tidak menempatkan keberagaman sebagai dasar pengembangannya, maka bias dalam penelitian maupun praktik klinis akan terus direproduksi.

Sumber foto: Pexels.com

Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan. 

Bagikan
WhatsApp
X
Facebook
LinkedIn
Email
Print

Khusus buatmu