Panggil Aku dengan Namaku

Ide Utama

Bagiku, nama bukan sekadar sebutan. Ia adalah identitas, penghargaan, dan bentuk penerimaan.

Om, bagi duit, dong!”

Panggilan ini sering aku dengar setiap kali pulang ke rumah. Hati kecilku menangis, saat memandang Dyna, keponakanku yang masih berusia tiga tahun menghampiriku. Gaun panjang yang aku kenakan dan perona merah di bibir seakan tidak cukup untuk menegaskan identitasku. Sambil meremas tangan dan mencoba untuk tidak menangis di depan gadis lugu itu, aku pun mengeluarkan dua lembar duit dari dompet. Seketika Dyna pergi. Samar masih terdengar ucapannya, “Makasih, ya, Om!” 

Keluargaku masih belum sepenuhnya memahami konsep gender. Itu sebabnya aku dan banyak teman transpuan lainnya sering mengalami yang namanya misgender. Alasan ini yang membuat aku merasa tidak nyaman tiap kali pulang ke rumah. Meskipun aku tampil dengan ekspresi feminin yang mencerminkan identitas genderku, aku masih saja dipanggil Om. Sebuah panggilan yang terasa asing, seolah menolak keberadaanku yang sesungguhnya.

Bekerja di Bayang-Bayang Stigma

Aku memutuskan untuk hijrah ke ibukota semenjak kedua orang tuaku tiada. Namun rupanya, berbekal ijazah SMA saja tak cukup untuk aku bisa memperoleh pekerjaan yang layak. Sama halnya dengan perantau lainnya, setiap hari adalah pergulatan antara perut yang lapar dan atap yang harus dibayar. 

Aku selalu mendapati pola yang berulang setiap kali aku mencoba melamar pekerjaan. Hal pertama yang dilakukan oleh pemilik toko atau perusahaan tempat aku melamar adalah melihat KTP dan ijazah yang aku bawa, lalu memandangku dengan tatapan sinis. Penolakan dengan alasan “di sini tidak menerima laki-laki yang berpenampilan seperti perempuan” sudah bukan lagi hal yang asing di telinga.

Nasib ini bukan hanya aku yang menanggungnya. Banyak teman-teman trans di sekitarku yang mengalami hal serupa. Di lingkungan tempatku tinggal, banyak dari kami yang akhirnya memilih menjadi pekerja seks atau mengamen. Aku pun ikut jalan itu. Bukan karena ingin, tetapi karena pintu-pintu lain tertutup rapat.

Meskipun demikian, ada rasa bangga setiap kali aku berangkat mengamen dan mejeng di jalanan. Di tengah hiruk-pikuk dan stigma yang menempel, aku masih menemukan hangatnya penerimaan. Aku selalu disambut oleh tetangga sekitar dengan sapaan yang menyenangkan. “Mau ke mana, Teh?” dan bahkan, beberapa di antaranya, dengan senang hati menawarkan “Mbak, mau diantar?” 

Sapaan kecil semacam itu mungkin terdengar sepele bagi orang lain. Tetapi bagiku, itu adalah bentuk pengakuan yang berarti. Mereka memanggil dengan nama yang aku inginkan. Tidak ada penolakan karena ekspresi gender.

Berteduh bersama Komunitas Transpuan

Di Jakarta, aku tinggal bersama dengan teman-teman komunitas transpuan lain. Di sini, aku mendapatkan ruang yang nyaman sebab aku bebas mengekspresikan diri. Di ruang sempit itu, aku belajar bahwa keluarga bisa saja tercipta meski tak memiliki ikatan darah yang sama.

Kehidupan yang jauh dari keluarga membuatku aktif di organisasi komunitas transpuan. Aku bersyukur karena dari sini lah aku mendapatkan peluang untuk penghidupan yang lebih baik. Pada satu kesempatan, seorang teman transpuan menawarkan aku untuk bekerja sebagai peneliti komunitas. 

Saat itu aku berpikir, “Apakah aku pantas dan bisa bekerja formal dengan ekspresi aku?” Meski ragu, aku memutuskan untuk mencoba kesempatan ini. Kami melakukan penelitian bagi komunitas transgender laki-laki dan transgender perempuan tentang terapi hormon yang banyak dilakukan oleh mereka.

Menggapai Inklusi

Setelah kurang lebih satu tahun berkecimpung sebagai peneliti komunitas, aku menjadi semakin mengerti bahwa hidup sebagai transgender harus menghadapi banyak tantangan. Salah satunya, tindakan diskriminatif dari para oknum di layanan kesehatan. Alih-alih berobat dengan nyaman, pengalaman deadnaming (tindakan memanggil seseorang dengan nama lamanya) justru yang kami dapatkan. Kami merasa, setiap kali nama itu disebut, ruangan langsung terasa berbeda. Pengunjung lain akan menoleh dengan tatapan bingung dan cibiran lainnya. 

Sebagai peneliti komunitas, aku sudah mencoba melakukan advokasi ke instansi terkait agar diberlakukan panggilan pasien yang bisa menghormati identitas. Aku menyarankan agar disediakan kolom khusus untuk mencantumkan nama yang diinginkan. Alternatif lainnya, pemanggilan pasien bisa dilakukan dengan nomor antrian. Lewat sistem ini, mereka tidak perlu lagi memanggil berdasarkan nama yang tertera dalam KTP. 

Beberapa fasilitas kesehatan sudah menerapkan kebijakan ini, namun sayang masih banyak yang belum mengikuti. Tapi kami tak akan berhenti. Bersama dengan peneliti komunitas lainnya, aku akan terus berupaya untuk mewujudkan pelayanan yang dapat mengakomodasi berbagai identitas gender. Hal ini tidak hanya berlaku di ruang pelayanan kesehatan, tetapi juga administratif lainnya. 


Titin Wahab adalah seorang transgender perempuan yang saat ini menetap di Jakarta. Pernah bekerja di Organisasi Berbasis Komunitas yang fokus pada isu HIV/AIDS di Indonesia dan kini aktif sebagai peneliti komunitas. Telah menerbitkan berbagai penelitian khususnya terkait layanan ramah gender untuk komunitas transgender laki-laki dan transgender perempuan. Saat ini terlibat dalam projek penelitian tentang kekerasan terhadap transgender perempuan dalam Program T-Wings yang bekerja sama dengan Monash University.

Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan.