Beberapa waktu yang lalu kami mengalami momen yang (lagi dan lagi) sangat berarti dalam merenungi kehidupan fana ini. Ketika salah satu dari kami menerbitkan sebuah tulisan di platform semutapi.com, tanpa disadari terdapat satu pilihan diksi yang akhirnya membawa kami pada percakapan yang panjang.
Dalam tulisan tersebut, semula terdapat kalimat “Bayangan ruang-ruang kelas sebagai rahim bagi pemikiran “radikal” kini mulai tereduksi”.
Penggunaan kata “rahim” ternyata cukup mengusik salah satu dari kami. Dan setelah obrolan panjang, kami sampai pada suatu konklusi: penggunaan diksi tersebut merupakan bentuk apropriasi atas tubuh perempuan yang dilakukan oleh laki-laki. Padahal, ada banyak pilihan kata lain yang bisa digunakan. Dalam konteks kalimat tersebut, kami akhirnya memilih kata “persemaian”.
Sebagian pembaca mungkin menganggap persoalan ini sepele. Bukankah itu hanya sebuah kata? Lagi pula, penggunaan metafora tubuh perempuan bukanlah sesuatu yang baru dalam dunia sastra maupun tulisan populer.
Begitu pula yang terlintas dalam benak salah satu dari kami saat itu. Tidak ada intensi untuk merendahkan ataupun memanfaatkan tubuh perempuan sebagai objek. Pilihan diksi tersebut semata digunakan untuk menyampaikan maksud tertentu dalam sebuah kalimat.
Namun, justru dari situlah kami belajar bahwa niat baik tidak selalu berbanding lurus dengan dampak yang ditimbulkan. Akan selalu ada ruang kosong yang tidak dapat dipahami apabila hanya menggunakan kacamata pribadi—dalam konteks ini, laki-laki—sebagai penulis. Terlebih ketika persoalan itu berkaitan dengan (tubuh) perempuan, di tengah masyarakat yang hingga hari ini masih dibentuk oleh relasi patriarki.
Percakapan kami kemudian bergeser dari sekadar memperdebatkan pilihan kata menuju pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa sesuatu yang terasa biasa bagi satu orang justru terasa problematik bagi yang lain? Mengapa sebuah diksi yang ditulis tanpa niat buruk tetap dapat menyimpan persoalan?
Barangkali persoalannya bukan semata terletak pada pilihan katanya, melainkan pada cara pengetahuan itu dibentuk.
Perihal Ketidaktahuan dan Kemanjaan
Bisa jadi inilah yang dimaksud Brian C. Barnett dalam Pengantar Filsafat Epistemologi ketika membahas apa yang ia sebut sebagai ketidaktahuan berbasis kekuasaan (power-based ignorance). Barnett menjelaskan bahwa sebagaimana pengalaman ditindas dapat membentuk pengetahuan seseorang, memiliki posisi yang diuntungkan dalam struktur sosial juga dapat menghasilkan bentuk ketidaktahuan tertentu.
Dengan kata lain, privilese tidak hanya memberikan keuntungan, tetapi juga menciptakan titik-titik buta dalam cara seseorang memahami dunia. Untuk menjelaskan bagaimana ketidaktahuan itu bekerja, Barnett kemudian mengutip filsuf José Medina yang menyebutnya sebagai kemanjaan epistemik (epistemic insouciance).
Ibarat seorang anak yang selalu dituruti keinginannya, kelompok dominan mengalami semacam kelumpuhan empati kognitif. Mereka tidak pernah dipaksa untuk beradaptasi dengan cara berpikir yang asing bagi dirinya.
Lagi pula, untuk apa bersusah payah memahami kenyataan kelompok lain jika dunia terus-menerus memvalidasi cara pandang dan pengalaman mereka sendiri?
Ketidaktahuan berbasis kekuasaan ini dapat muncul dalam berbagai bentuk: ketidaktahuan kulit putih terhadap pengalaman rasial, ketidaktahuan laki-laki terhadap pengalaman perempuan, ketidaktahuan kelompok heteroseksual terhadap pengalaman kelompok queer, ketidaktahuan orang kaya terhadap kemiskinan, hingga ketidaktahuan mereka yang tidak hidup dengan disabilitas terhadap pengalaman penyandang disabilitas.
Dalam hal ini, pilihan diksi “rahim” dalam salah satu tulisan kami merupakan contoh kecil dari ketidaktahuan laki-laki. Bukan karena ada niat merendahkan perempuan, melainkan karena terlalu lama tumbuh dalam struktur sosial yang begitu sering meminjam tubuh perempuan sebagai metafora, simbol, maupun alat retoris; sehingga praktik tersebut terasa biasa dan luput untuk dipersoalkan.
Kesadaran itulah yang kemudian mengubah arah percakapan kami. Yang dibutuhkan ternyata bukan sekadar keberanian untuk berbicara, melainkan juga kerendahan hati untuk mempertanyakan kembali cara kami mengetahui sesuatu. Sebab mungkin persoalannya adalah tentang apa yang selama ini tidak pernah kami sadari sebagai sesuatu yang perlu diketahui.
Laki-laki dan Privilesenya
Jika Barnett membantu kami memahami bagaimana posisi sosial yang dominan dapat menghasilkan ketidaktahuan, maka Lorraine Code membantu kami melihat mengapa ketidaktahuan itu dapat terus dipertahankan sebagai sesuatu yang tampak wajar.
Dalam What Can She Know? Feminist Theory and the Construction of Knowledge merujuk khusus pada bab dua (Knowledge and Subjectivity), Code mengingatkan bahwa pengetahuan tidak pernah lahir dari ruang yang netral. Selalu ada posisi yang membentuk siapa yang dianggap mengetahui dan siapa yang sekadar dianggap memiliki pengalaman pribadi.
Selama berabad-abad, laki-laki menempati posisi sebagai subjek utama dalam produksi pengetahuan, sementara pengalaman perempuan berkali-kali dipinggirkan sebagai sesuatu yang terlalu emosional, terlalu subjektif, atau tidak cukup universal untuk menjadi pengetahuan.
Akibatnya, laki-laki tumbuh dalam dunia yang terus memvalidasi cara pandangnya sendiri tanpa pernah benar-benar dituntut memahami pengalaman perempuan dari posisi perempuan itu sendiri.
Di titik inilah kami mulai memahami bahwa persoalannya tidak berhenti pada pilihan diksi “rahim”. Persoalan yang lebih mendasar adalah bahwa kami hidup dalam tradisi pengetahuan yang sejak lama terbiasa menjadikan pengalaman laki-laki sebagai ukuran umum dalam memahami dunia.
Tidak mengherankan apabila ada begitu banyak hal yang terasa lumrah bagi laki-laki, tetapi pada saat yang sama menyisakan kegelisahan bagi perempuan. Kesadaran inilah yang kemudian membawa kami pada sebuah pertanyaan yang mungkin terdengar tidak nyaman, agak melenceng, tetapi ingin kami ajukan: apakah seorang laki-laki dapat menyebut dirinya feminis?
Pertanyaan ini bukan dimaksudkan untuk menutup kemungkinan laki-laki belajar feminisme ataupun terlibat dalam perjuangan kesetaraan gender. Sebaliknya, pertanyaan ini lahir sebagai bentuk kewaspadaan agar laki-laki tidak terlalu cepat merasa telah memahami pengalaman (dunia, atau segala yang menyoal) perempuan hanya karena telah membaca teori, menghadiri diskusi, atau menggunakan istilah-istilah feminisme dalam percakapan sehari-hari.
Bagaimanapun juga, laki-laki tetap hidup dalam struktur yang memberinya privilese sebagai laki-laki. Sekalipun ia berusaha menolak privilese tersebut, ia tidak pernah benar-benar mengalami bagaimana tubuhnya terus-menerus diawasi, bagaimana keselamatannya selalu dinegosiasikan ketika berjalan sendirian pada malam hari, atau bagaimana pengalamannya berkali-kali diragukan hanya karena ia perempuan.
Tidak mengalami semua itu sendiri sudah merupakan sebuah privilese. Karena itu, kami sama-sama merasa dekat dengan tulisan Sidney Alvionita Saputra berjudul Bunuh Laki-laki dalam Jiwamu. Namun, kami membacanya dari posisi yang berbeda. Salah satu dari kami membacanya sebagai perempuan yang selama ini hidup di tengah berbagai pengalaman yang sering kali harus dijelaskan agar dianggap nyata.
Sementara salah satu dari kami membacanya sebagai laki-laki yang menyadari bahwa mempelajari feminisme tidak serta-merta menghapus posisi sosial yang selama ini menguntungkannya. Barangkali karena itulah, istilah yang lebih tepat bagi laki-laki bukanlah menjadi feminis, melainkan menjadi sekutu.
Menjadi sekutu berarti bersedia mengakui bahwa ada batas yang tidak dapat dilewati. Ada pengalaman yang tidak dapat dipinjam, tidak dapat diwakilkan, dan tidak dapat diklaim sebagai pengetahuan miliknya sendiri. Menjadi sekutu justru dimulai ketika seorang laki-laki bersedia mengakui bahwa ada batas-batas pengetahuan yang tidak dapat ia lampaui sendiri.
Lebih dari Menjadi Sekutu
Menyebut laki-laki sebagai sekutu juga tidak berarti persoalannya selesai. Sebab menjadi sekutu bukanlah identitas yang sekali disematkan lalu selesai dikerjakan. Ia merupakan kerja yang terus-menerus menuntut kesediaan untuk keluar dari cara pandang yang selama ini terasa paling wajar.
Mungkin karena itu pula David Graeber, ketika mengutip Virginia Woolf, menjelaskan bahwa perempuan selama ini dibebani apa yang ia sebut sebagai interpretive labor—kerja interpretatif. Perempuan dituntut untuk terus-menerus membayangkan dunia dari sudut pandang laki-laki, memahami ego laki-laki, merawatnya, menyesuaikan diri dengannya, bahkan mengantisipasi reaksinya.
Sebaliknya, laki-laki hampir tidak pernah dituntut melakukan kerja yang sama terhadap perempuan. Ketimpangan ini begitu mengakar sehingga banyak laki-laki merasa terusik ketika diminta keluar dari dirinya sendiri untuk benar-benar mendengarkan pengalaman perempuan. Padahal justru di sanalah letak persoalannya.
Ketika hanya satu pihak yang terus-menerus melakukan kerja interpretatif, sementara pihak lainnya dapat hidup tanpa pernah melakukan hal tersebut, ketidaktahuan berbasis kekuasaan akan terus direproduksi. Dalam percakapan kami, kami mulai menyadari bahwa pola tersebut diam-diam ikut hadir.
Salah satu dari kami sebagai perempuan lebih mudah memahami mengapa penggunaan kata “rahim” terasa problematik. Sebaliknya, salah satu dari kami sebagai laki-laki memerlukan waktu, dialog, dan kesediaan untuk melihat bahwa persoalannya tidak berhenti pada pilihan kata, melainkan menyentuh cara pengetahuan dibentuk oleh relasi kuasa.
Bukan tidak mau memahami, namun lebih karena (selama ini) tidak pernah benar-benar dituntut untuk mencoba memahami dari posisi tersebut. Barangkali di situlah kerja seorang sekutu bermula; dengan bersedia melakukan kerja interpretatif yang selama ini lebih banyak dibebankan kepada perempuan.
Belajar mendengar lebih lama, mempertanyakan kembali apa yang selama ini terasa wajar, dan membuka kemungkinan bahwa cara kita mengetahui–atau pengetahuan yang kita miliki–masih menyimpan banyak titik buta.
(Mencoba) Menutup Percakapan Panjang
Ketika percakapan itu selesai, kata “rahim” sebenarnya tetaplah kata yang sama. Tidak ada yang berubah pada susunan hurufnya. Yang berubah justru kami. Salah satu dari kami belajar bahwa privilese tidak selalu tampak sebagai tindakan yang disengaja; kadang ia hadir sebagai sesuatu yang begitu biasa hingga tidak lagi dipertanyakan.
Sementara salah satu dari kami belajar bahwa menunjukkan titik buta tidak selalu harus dilakukan dengan kemarahan. Kadang ia cukup dimulai dari kesediaan untuk mengajak orang lain melihat dunia dari tempat yang belum pernah ia pijak.
Mungkin pada akhirnya, itulah yang paling kami syukuri dari percakapan tersebut. Kami menemukan sesuatu yang lebih penting selain mencapai suatu konklusi, yaitu: pengetahuan tidak hanya tumbuh dari membaca lebih banyak teori, tetapi juga dari keberanian membiarkan diri dikoreksi oleh orang lain.
Barangkali seorang laki-laki tidak akan pernah benar-benar mengetahui dunia sebagaimana perempuan menghidupinya. Sebaliknya, seorang perempuan pun tidak sedang memegang pengetahuan yang sepenuhnya bebas dari titik buta.
Namun, justru karena itulah percakapan menjadi penting. Ia memungkinkan kami saling memperlihatkan apa yang tidak dapat kami lihat sendirian. Jika ada satu hal yang kami pelajari dari seluruh percakapan ini, mungkin bukan tentang bagaimana menjadi laki-laki yang paling memahami perempuan ataupun perempuan yang paling benar memahami patriarki.
Lebih dari itu, menyoal bagaimana tetap rendah hati di hadapan pengetahuan. Sebab mungkin, sekutu yang baik adalah mereka yang tidak berhenti bertanya ketika menyadari bahwa pengetahuannya memiliki batas.
Sumber foto: Magnific.com

Charistya Herandy dan Beni Bayu Sanjaya sedang menempuh studi Magister Antropologi sambil belajar membaca dunia melalui hal-hal yang sering dianggap sepele: tubuh, media, memori, dan keseharian.


