1. Pengalaman Estetik
Pengalaman yang melibatkan kesadaran terhadap persepsi indrawi yang diterima dan penilaian yang mengikuti, tidak terbatas pada hal-hal yang indah saja, tetapi mencakup segala bentuk sensasi indrawi yang dapat menimbulkan respons emosional, baik positif maupun negatif.
2. Sublimasi
Perasaan yang muncul ketika seseorang menghadapi sesuatu yang megah atau melampaui kemampuan indra untuk menangkap secara keseluruhan, sebagaimana yang dijelaskan oleh Immanuel Kant. Perasaan sublim ini seringkali melibatkan campuran kekaguman dan ketakutan.
3. Katarsis
Pelepasan emosional yang intens yang menghasilkan rasa lega atau pembersihan batin. Konsep ini sering dikaitkan dengan pengalaman emosional yang kuat.
Di kehidupan sehari-hari, estetika umum diartikan sebagai sesuatu yang indah. Apa benar estetika hanya tentang keindahan visual saja?
Pernahkah kalian menemukan artikel atau konten di media sosial yang membahas tentang โ10 tempat makan yang estetikโ? Atau mungkin rekomendasi โdekorasi estetik untuk menghias kamarโ? Umumnya, artikel atau konten โtawaran estetikโ semacam itu akan mengarahkan pada tempat atau benda-benda yang โtampak indahโ untuk dijadikan tempat foto-foto atau memperindah ruangan. Istilah estetik dalam percakapan keseharian mengalami perluasan makna. Kata estetik muncul dalam percakapan yang menjadi penanda sifat, seperti โGaya pakaianmu estetik sekaliโ; โIni desainnya kurang estetikโ; โDia anaknya estetik bangetโ.
Dari beberapa contoh percakapan yang muncul dalam keseharian tersebut, muncul penyederhanaan makna dari estetika sebagai โkeindahanโ. Persoalannya, apakah iya estetika hanya tentang sesuatu yang indah? Lalu, tolak ukur siapa yang kita gunakan untuk mendefinisikan keindahan yang estetik tersebut? Misal kita ambil contoh dari rekomendasi restoran yang estetik. Dalam kebanyakan artikel atau konten, tempat-tempat tersebut digambarkan begitu indah hingga dapat diabadikan untuk foto-foto atau membuat konten โcakepโ. Detail mengenai hal-hal visual seperti pemandangan, style interior, atau penyajian makanan lebih tersorot dalam rekomendasi tersebut mengatasnamakan โyang estetikโ. Bukan pada pembahasan mengenai sensasi paduan rasa asam manis atau tingkat kepedasan yang estetik pada oseng-oseng mercon. Padahal selain tempat dan visualisasi penyajian makanannya, ada hal lain yang lebih dekat dengan penggambaran estetika makanan, yaitu tentang rasa dan juga bau.
[bctt tweet=”Memahami nilai dan tindakan estetik kita tidak terlepas dari proses pengalaman indrawi. ~ Ikhaputri Widiantini”]
Lho, kok rasa dan bau? Iya. Rasa, atau pengecapan dan juga penghiduan dari bau juga merupakan tindakan estetik. Memahami nilai dan tindakan estetik kita tidak terlepas dari proses pengalaman indrawi. Kata estetika sendiri jika dirunut akar etimologisnya, berasal dari bahasa Yunani yakni aisthetikos yang berarti mengetahui atau mengalami dari persepsi indrawi. Seorang filsuf dari Jerman yang bernama Alexander Gottlieb Baumgarten merumuskan pemahaman estetika lewat bukunya yang berjudul Aesthetica di tahun 1750. Sebenarnya, pemahaman tentang teori keindahan sudah muncul dalam banyak teori filsafat sebelum era Baumgarten. Pada perkembangan tersebut, kata tersebut lebih sering dikaitkan dengan respons rangsangan dan sensibilitas indrawi. Baumgarten kemudian merumuskan konsep estetika sebagai studi filsafat yang secara khusus membahas mengenai rasa yang terkait keindahan; positif atau negatifnya. Pemikiran Baumgarten inilah yang memberikan dorongan pada perkembangan filsafat estetika. Estetika menjadi kerja kognisi kita dalam memahami sensasi atas rasa yang dialami secara indrawi.
Mengutamakan visualisasi sebagai tolok ukur untuk mengatakan sesuatu hal tersebut estetik atau tidak memang lebih mudah. Namun, kembali pada pernyataan di paragraf sebelumnya: bukan berarti tindakan indrawi lain tidak diperhitungkan. Jika membicarakan tentang โrestoran yang estetikโ hanya pada tampilan visual semata, artinya kita melupakan tujuan utama kita ke restoran: untuk makan. Tentu akan lebih menarik jika konten pada artikel tersebut juga menceritakan pengalaman sensasi atas bau atau rasa masakannya sebagai referensi untuk para pembaca.

Pertanyaan berikutnya adalah: apakah kemudian โyang estetikโ harus selalu yang indah-indah saja? Tentu tidak. Jika kita hanya mengaitkan โyang estetikโ pada hal yang indah-indah saja, tentu ini artinya kita mengabaikan persepsi dan sensasi lain yang ditimbulkan secara indrawi. Bagaimana dengan sensasi ketakutan yang muncul ketika menonton film horor?; kepedihan yang menyayat perasaan ketika mendengarkan lagu bertema patah hati?; atau rasa jijik dan mual ketika tidak sengaja meminum susu yang sudah basi? Perasaan-perasaan menjijikkan ini juga merupakan bagian dari sensasi estetik yang tidak dapat kita abaikan dalam pemahaman kita. Sayangnya, kalau menilik ulang penggunaan istilah estetik dalam keseharian, kita dibuat lebih menerima pemahaman bahwa estetik itu yang indah-indah saja. Padahal, ketika kita membaca artikel mengenai bencana alam, berita kriminal, atau bahkan mendengarkan podcast cerita horor, kita pun mengalami proses penilaian estetik.
Kita coba ambil satu contoh mengenai maraknya konten foto makanan yang dibagikan di media sosial. Dengan cepat kita akan bereaksi, โSepertinya enakโ. Penghargaan atas pengalaman โkeindahanโ lebih mudah kita hadirkan sebagai โyang estetikโ. Namun, pernahkan terpikir untuk mengapresiasi tahi yang keluar dari tubuh kita sebagai bagian dari proses makanan tersebutโyang tadi kita katakan estetik? Bukan berarti kemudian kita harus mengabadikan tahi tersebut. Kegiatan mengenali bau dan bentuk misalnya, justru membuat kita memahami kejijikan atas tahi yang keluar dari diri. Ketika kita menceritakan bentuk tahi kita pada orang lain, reaksi kejijikan merekaโbahkan ada yang mungkin langsung tidak berselera untuk makanโadalah bentuk reaksi estetika negatif.
[bctt tweet=”Baik reaksi positif maupun negatif dalam estetika menunjukkan bahwa tidak pernah ada yang biasa saja ketika kita berbicara tentang pengalaman estetik. ~ Ikhaputri Widiantini”]
Baik reaksi positif maupun negatif dalam estetika menunjukkan bahwa tidak pernah ada yang biasa saja ketika kita berbicara tentang pengalaman estetik. Konsep sublimasi dan katarsis bahkan akan menguatkan bagaimana kita mengenali proses pengalaman estetik yang dialami. Immanuel Kant, seorang filsuf dari Jerman, menyebutkan konsep sublimasi sebagai sesuatu yang sangat megah, yang melampaui tangkapan indrawi kita hingga memunculkan kengerian sekaligus kekaguman. Kita dapat mengilustrasikannya lewat rasa yang hadir ketika melewati kabut: ada kemisteriusan alam yang membuat kita penasaran sekaligus takut karena tidak tahu apa yang ada di balik kabut tersebut. Sementara katarsis yang hadir dalam proses penilaian estetik kita hadir layaknya keharuan luar biasa yang secara meditatif membebaskan batin. Misal dengan mendengarkan lagu sedih ketika patah hati, kita meluapkan tangisan hingga memunculkan kelegaan.
Kondisi โyang luar biasaโ itu pun akan muncul ketika kita muak pada satu hal. Kita tentu pernah mendengar perdebatan mengenai suka atau tidak pada satu makanan. Baik yang menyukai maupun yang tidak, berada dalam level penilaian estetik yang senada, hanya saja pada titik yang beroposisi. Misal tentang durian. Coba saja tanyakan apakah ada yang suka atau mau makan durian? Mereka yang bereaksi tentu berada dalam spektrum โmenyukai dan mauโ atau โjijik dan tidak mauโ. Jika tidak ada yang bereaksi, artinya durian itu tidak menggugah kesadaran estetik mereka. Inilah yang membuat estetika tidak pernah biasa-biasa saja. Proses pengalaman estetik kita akan membawa kita dalam kesadaran untuk mengatakan bahwa kita menyukai atau tidak. Ketika rasa yang dihadirkan tidak adaโhingga seringkali kita sebut โah, biasa sajaโ, bahkan terabaikan kemudianโmaka kita tidak melibatkan kerja penilaian estetik kita dalam proses persepsi indrawi yang diterima.
Dalam perjalanannya sebagai teori, tentu ada upaya untuk mencari yang objektif dalam pengetahuan estetika. Namun, perkembangan teori estetika pada akhirnya menempatkan penilaian estetik sebagai hal yang subjektif. Hanya saja kita tidak dapat dengan sederhana menganggap bahwa teori estetika tidak memiliki rasionalitas. Justru kalau kita kembali pada tawaran Baumgarten, memahami proses estetika memerlukan logika. Perdebatan estetika bukan sekadar pada ranah โsuka atau tidakโ, melainkan pada konsep yang mendefinisikan jarak hingga pembentukan persepsi indrawi atas apa yang kita pahami sebagai keindahan (bahkan kamar yang berantakan pun punya โkeindahannyaโ sendiri). Jika nantinya menemukan pendapat yang mengatakan, โAh, seleramu buruk!โ, jangan berkecil hati. Mungkin batasan keindahan yang dijadikan patokan oleh orang itu berbeda dengan seleramu. Selama kita dapat mengenali proses persepsi indrawi kita bekerja hingga dapat menghadirkan sebuah penilaian estetik, artinya kita tetap terlibat penuh dalam kesadaran estetik.
Akhir kata, semoga kalian terganggu secara estetik setelah membaca artikel ini. Karena jika biasa-biasa saja, maka artikel ini gagal menghadirkan proses estetik kalian sebagai pembacanya.
Bacaan Lebih Lanjut
| Kivy, Peter (ed.). (2004). The Blackwell Guide to Aesthetics. USA: Blackwell Publishing. Korsmeyer, Carolyn. (2004). Gender and Aesthetic, An Introduction. New York: Routledge. Light, Andrew dan Smith, Jonathan (eds.). (2005). The Aesthetics of Everyday Life. New York: Columbia University Press. Nanay, Bence. (2016). Aesthetics as Philosophy of Perception. UK: Oxford University Press. |

Ikhaputri Widiantini, akrab dipanggil Upi adalah pengajar filsafat di Departemen Filsafat, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Memiliki minat khusus pada isu-isu feminisme posmodern, seni surealisme, dan estetika abjeksi. Beberapa riset dan artikel yang telah dipublikasi banyak terkait dengan tema feminisme, estetika, dan seni kontemporer.


