Ada musik jazz yang dengan bangga kita unggah ke media sosial. Ada pula musik dangdut yang hanya berani kita dengarkan diam-diam dangdut, seolah terlalu memalukan untuk diakui sebagai bagian dari diri. Padahal keduanya sama-sama kita nikmati. Sebenarnya, dari mana rasa malu itu datang? Mengapa sebagian selera kita terasa lebih terhormat daripada yang lain?
Tulisan ini berangkat dari pertanyaan tersebut: Tentang bagaimana selera dibentuk diam-diam oleh hal lain di luar diri, oleh asal usul, oleh lingkungan tempat kita tumbuh, oleh pergaulan, dan oleh keinginan untuk berada di kelas sosial yang ingin kita masuki.
Rasa Bangga yang Datang Terlambat Dipahami
Kampus tempat saya dulu kuliah punya festival jazz. Salah satu yang tertua di Indonesia, katanya. Saya memang tidak pernah menjadi panitia, tidak juga selalu datang untuk menonton, tapi anehnya tetap ada rasa bangga yang ikut menempel. Agak susah dijelaskan sebenarnya perasaan semacam itu. Baru belakangan terasa, festival dan musiknya sebenarnya hanya menjadi latar. Yang membuat bangga waktu itu adalah nama besar dan status sosial yang ikut datang bersama kata “jazz” itu sendiri.
Ada cerita lain yang justru lebih lama tersimpan di hati, saya tumbuh besar dengan dangdut, dalam bentuknya yang paling sederhana. Saya sering menyaksikan bapak-bapak tetangga menyetel instrumen untuk latihan rutin orkes lokal kampung setiap malam Minggu, juga musik dangdut yang berputar dari pagi sampai malam di Hajatan tetangga. Lalu kaset-kaset penyanyi dangdut ternama pada masanya yang diputar di warung.
Kita bisa menghafal lagu dangdut itu dengan ketidaksengajaan karena terlalu sering lewat di telinga. Berbeda dengan musik-musik yang datang kemudian, yang biasanya didengarkan setelah melalui berbagai pertimbangan, termasuk apakah musik tersebut sesuai dengan citra diri yang ingin ditampilkan. Dangdut tidak melewati proses semacam itu. Ia sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari jauh sebelum muncul kesadaran tentang selera, sebelum ada anggapan mengenai musik yang dianggap berkelas atau memalukan. Sebelum sempat memilih untuk menyukainya atau tidak, dangdut sudah lebih dahulu hadir dalam pengalaman hidup.
Di lingkungan seperti itu, dangdut bekerja sebagai bahasa sosial. Cara orang berkumpul, cara orang merayakan, cara orang melepas penat. Dangdut hadir di momen-momen yang sederhana, kadang berkeringat dan tidak rapi, dan disitulah letak kedekatannya. Menariknya, hal-hal yang paling dekat dengan pengalaman hidup sehari-hari justru pernah menjadi wilayah yang sulit dibicarakan secara terbuka di lingkungan kampus tersebut.
Kita bisa bayangkan ada dua foto yang disejajarkan. Foto pertama diambil saat festival Jazz Goes to Campus dengan lampu panggung keemasan sebagai latar belakang dan nama musisi besar terpampang di layar. Foto yang kedua diambil di depan panggung New Pallapa, memperlihatkan dirinya berada di tengah kerumunan penonton yang rela berpanas-panasan demi menyaksikan pertunjukan. Lalu, keduanya diunggah ke Instagram Story.
Di kepala, dua gambar itu selalu memunculkan respons yang berbeda, yang lebih mengganggu, perbedaan itu juga muncul dalam cara saya memandang diri sendiri. Mengapa ada jenis musik yang terasa aman untuk dipamerkan, sementara yang lain seolah perlu disertai penjelasan atau pembelaan? Padahal keduanya didengarkan oleh tubuh yang sama.
Sejarah yang Sengaja Dilupakan
Dangdut lahir dari pertemuan yang tidak sederhana. Ada musik Melayu pesisir, pengaruh Bollywood, langgam Arab, ritme yang akrab dengan ruang hidup masyarakat pekerja. Pendengarnya buruh bangunan, sopir angkutan umum, pedagang kaki lima, asisten rumah tangga, bapak-bapak yang pulang lembur. Dangdut tidak sedang meminta pengakuan.
Hidupnya musik dangdut tidak bergantung pada apakah ia disebut di jurnal musikologi, dikurasi oleh kritikus, atau diundang ke festival-festival yang fotonya bagus untuk pencitraan. Dangdut hidup di lokasi-lokasi yang lebih sederhana: di mobil sayur pasar subuh, di warung makan siang pinggir jalan, di hajatan sore hari, di pos ronda para penjaga keamanan yang ingin tetap terjaga tengah malam. Ia cuma hidup, karena memang dibutuhkan di sana.
Musik jazz juga faktanya tidak lahir dari ruang yang mewah. Ia tumbuh dari komunitas kulit hitam di New Orleans, dari bar, jalanan, prosesi pemakaman, tempat-tempat yang tidak dianggap terhormat. Ia adalah satu dari banyaknya bentuk sebuah perlawanan, spiritualitas, dan ruang katarsis bagi masyarakat yang ditindas oleh rasisme sistemik.
Namun, ada ironi besar dalam perjalanan jazz sebelum ia sampai ke ruang-ruang eksklusif kita. Eksklusivitas jazz hari ini sebenarnya lahir dari sejarah perampasan. Ketika industri musik kulit putih di Barat melihat potensi komersial jazz, mereka mulai melakukan domestikasi. Hak asal jazz sebagai musik perlawanan akar rumput direbut melalui proses whitewashing, dibersihkan dari “kekumuhan” rasialnya, dikemas ulang oleh musisi dan produser kulit putih, lalu dipromosikan ke gedung-gedung konser megah sebagai musik yang “serius” dan “beradab”. Komunitas kulit hitam yang melahirkan musik jazz justru kerap disingkirkan dari keuntungan ekonomi dan pengakuan intelektualnya. Jazz sengaja dicabut dari akarnya demi menaikkan kelas sosialnya di mata dunia.
Maka, ketika jazz sampai ke Indonesia, ia masuk lewat pintu yang sudah terlanjur “dibersihkan” itu. Jazz yang sampai ke tangan kita adalah jazz versi festival, jazz versi gedung konser, jazz versi piringan hitam yang diputar di rumah-rumah kalangan terdidik. Jazz segera dibaca sebagai modern, intelektual, kosmopolitan. Wajah aslinya, jazz yang lahir di bar, jalanan, dan prosesi pemakaman, tetap tinggal di New Orleans, hanya sebagai catatan sejarah.
Selera sebagai Penanda Kelas
Sosiolog Pierre Bourdieu dalam bukunya Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste pernah menulis bahwa selera bukan sepenuhnya urusan pribadi yang netral. Selera juga bisa jadi cara orang menunjukkan dari kelas mana ia berasal atau kelas mana yang ingin ia masuki. Teori itu tidak nyaman dibaca karena terasa terlalu dekat dengan kita. Ia menjelaskan kenapa sesuatu yang dulu biasa terdengar bebas dari rumah tetangga bisa tiba-tiba menjadi rahasia kecil begitu masuk ke pergaulan kelas menengah urban.
Belakangan, dangdut seperti ditemukan ulang oleh anak muda urban. Feel Koplo dan Club Dangdut Racun mengolah ulang kendang koplo dengan estetika elektronik yang lebih cocok untuk pesta-pesta anak Jakarta Selatan. Kemudian, yang ramai belakangan ini adalah hipdut, perpaduan antara musik hip-hop dan dangdut. Lagu “Garam & Madu (Sakit Dadaku)” dari Tenxi, Naykilla, dan Jemsii viral di TikTok pada akhir 2024, hingga menembus ratusan juta views di YouTube dan masuk ke playlist anak-anak kuliahan. Sebelumnya sudah ada NDX A.K.A. dari Yogyakarta yang menggabungkan rap berbahasa Jawa dengan campursari dan koplo. Namun, harus diakui bahwa pada masanya, karya mereka belum dirangkul oleh kelas menengah urban dengan kehangatan yang sama.
Tentu hal-hal tersebut menyenangkan. Tapi ada pertanyaan yang susah dihindari: apakah dangdut baru boleh dianggap menarik setelah melewati filter selera kelas menengah? Apakah ia baru sah ketika dibawakan dengan gitar yang lebih pelan dan visual yang lebih minimalis? Kalau iya, yang terjadi mungkin bukan penerimaan yang tulus, mungkin itu hanya sebuah bentuk apropriasi yang lebih sopan.
Permintaan Maaf yang Tidak Perlu
Ketika dangdut terdengar dari jalanan di depan rumah, kalimat yang sering muncul berbunyi, “Maaf ya, sedang ada hajatan”, seolah dangdut adalah gangguan yang perlu dimaklumi sebelum bisa diterima. Tidak ada musik lain yang harus membuka diri dengan permintaan maaf seperti itu.
Penerimaan yang lebih jujur bisa dimulai dari hal yang kecil. Tidak minta maaf ketika dangdut terdengar di pesta keluarga. Tidak menertawakan orang yang berjoget seolah itu selera rendah. Tidak terburu-buru memberi catatan, “tapi ini dangdut yang bagus, kok, aransemennya beda”, hanya supaya terdengar aman di telinga teman-teman yang merasa lebih berkelas.
Banyak orang tumbuh dari rumah yang berisik, dari tetangga yang punya speaker besar, dari hajatan yang menutup jalan. Tidak semuanya harus dibersihkan dulu agar layak diceritakan.
Festival jazz di kampus dan rasa bangga terhadapnya tidak perlu dibuang. Tapi kita perlu menantang diri kita sendiri, adakah rasa malu yang ikut menempel ketika dangdut masuk ke cerita yang sama? Rasa malu yang membuat seseorang merasa perlu memilih antara cukup urban dengan jazz, atau terlalu kampung dengan dangdut.
Ada musik yang dipelajari lewat tiket festival, dan ada musik yang diwariskan lewat suara tetangga. Yang pertama datang lewat keputusan sadar untuk membayar dan hadir di ruang yang memang dirancang untuk pertunjukan, dengan kursi dan jadwal yang ditentukan. Yang satu lagi datang lewat dinding rumah, lewat hajatan tetangga, lewat speaker mobil sayur yang melintas saat subuh, tanpa pernah kita pilih, tanpa pernah meminta izin.
Keduanya bisa tinggal di tubuh yang sama. Jazz pernah membuat sebuah kampus terasa lebih bergengsi. Namun, jauh sebelum itu, dangdut sudah menjadi bagian dari kehidupan banyak orang dan menghidupkan banyak rumah. Untuk sesuatu yang sedekat itu dengan kehidupan, rasanya tidak ada alasan untuk kita meminta maaf.


