Sebuah Kritik, dalam Empat Babak

kritik

Ide Utama

Di Indonesia, pada tahun 2026, kritik sering dipanggil dengan nama lain. Kritik kini menerima nama panggilan makar, hasutan, propaganda atau adu domba. Pergantian nama itu terjadi bukan semata-mata karena kontennya, tetapi bergantung juga pada individu pengkritiknya. Orang mengkritik si pengkritik, asal institusinya, riwayat keberpihakan politiknya, niat terselubungnya, dan lain-lain sampai-sampai substansi kritiknya terlewati.

Untuk menghargai kritik, barangkali kita perlu narasi yang baru. Seperti kata pepatah terkenal tentang sebelum menghakimi seseorang, kita perlu memahami pengalaman hidup dan kondisi yang membentuk pilihan-pilihannya, kita perlu memberikan empati pada perjalanan sebuah kritik. 

Bagaimana caranya? Meminjam teknik para pembuat fiksi yang mampu meniupkan nyawa ke benda-benda tak hidup, atau biasanya dikenal sebagai anthropomorphism, tulisan ini juga mencoba untuk menceritakan kritik dengan kualitas kemanusiaan. 

Ini mirip seperti cara Seno Gumira Ajidarma menokohkan Paman Gober yang terlalu pelit atau Jose Saramango yang bercerita tentang kursi dengan kualitas kebendaannya yang begitu dekat. Sebagai protagonis, kritik yang bernyawa di tulisan ini mengambil latar Indonesia pada masa sekarang, dengan mencomot sana-sini latar sosial, politik, ekonomi yang ada. 

Dengan demikian, pembaca bisa mengerti bagaimana kritik itu lahir, tumbuh besar, bertahan hidup, dan kemudian mati dengan memudar dari pikiran pencetus dan pendengarnya. 

Makanya, judul tulisan ini terinspirasi dari film terkenal karya Mouly Surya yakni “Marlina, Si Pembunuh Dalam Empat Babak,” karena pembabakan yang padu akan membuat kita mengerti apa saja yang perlu dilalui sebuah kritik di Indonesia.

Babak Pertama: Lahir dalam Kerangka Berpikir Malthusian

Kata seorang Letkol, kritik lahir karena inflasi

Konon, penciptanya bukanlah orang yang biasanya menciptakan kritik, tetapi seseorang yang secara tiba-tiba muncul tanpa latar belakang yang cocok untuk menjadi pengamat. Hal ini menimbulkan kebingungan mengapa orang tuanya ada—sekaligus sebagai konsekuensinya, mengapa ia ada. 

Asal-usul kelahirannya ini menjadi pergunjingan di lingkaran teman-temannya. Temannya, sesama kritik tapi yang kini dianggap pengetahuan atau fakta, lahir dari asal-usul yang jelas, track-record amat-mengamati yang sudah panjang. Ada yang dilahirkan di Inggris ketika penciptanya mengambil beasiswa LPDP, ada yang dari kecil sudah digembleng dalam rumah tangga riset yang terakreditasi, ada yang dibesarkan di lingkungan istana ketika orang tua mereka menjadi staf khusus.

Dibandingkan mereka, ia seperti anak haram. Ia hanya lahir secara mendadak ketika orang tuanya merasakan biaya hidup semakin menghimpit tetapi jalan keluar tidak kunjung tampak. Orang tuanya merasa sendiri di tengah sebuah negara yang menurut para pemimpinnya aman sentosa, gemah ripah, swasembada pangan.

Sebagian orang juga menyesalkan kelahirannya karena eksistensinya seolah membawa kematian. Beberapa orang mulai menyamakan kemunculan ia dan teman-temannya dengan matinya kepakaran, sebuah konsep yang digunakan Tom Nichols untuk menunjukkan bagaimana narasi populis di berbagai tempat mengambil ruang berbicara bagi pakar. Kali ini, konsep yang ditawarkan Nichols digunakan untuk menekankan kalau ia mengambil ruang bagi sesama kritik yang dianggap lebih bermartabat. 

Keberadaannya menjadi sebuah perkara dalam matematika Malthusian: bertambahnya populasi kritik-kritik seperti dirinya akan melebihi daya tampung pikiran manusia Indonesia. Logika ini memberikan justifikasi untuk membatasi kelahiran kritik-kritik seperti dirinya, ketimbang membenahi masalah-masalah yang menyebabkan ia dan teman-temannya lahir prematur. 

Babak Kedua: Berdiam dalam Etika Konstruktif

Lahir dalam kondisi yang tidak diharapkan, sang kritik mencoba untuk membenahi diri. Seorang perempuan yang menyanggul rambut dan sering tersenyum berkata bahwa ia harus memiliki etika, sehingga keberadaannya santun. Barangkali perempuan itu hendak menyinggung teman yang tinggal satu kompleks dengannya yang pernah membuahkan kritik yang begitu tidak santun sampai-sampai rakyat datang dan menjarah barang-barang miliknya dan—bersamaan dengan itu—jabatan yang ia miliki, meskipun tidak lama.

Mengetahui ekspektasi orang-orang di negeri itu, kritik mencoba mencari ajaran yang bisa mengajarinya etika. Sebuah buku tebal mengajari bahwa ia bisa dianggap valid, bukan serangan belaka, jika ia bersifat konstruktif, walaupun mengandung ketidaksetujuan terhadap pembuatan, kebijakan, atau tindakan pemerintah. Berangkat dari nilai konstruktif inilah, ia bisa memilih mau jadi apa: mau jadi pengawasan, mau menjadi koreksi, atau mau menjadi saran.

Ia pun berjanji bahwa dirinya akan konstruktif, demi kepentingan bangsa dan negaranya. Ia akan menghilangkan sentimen pribadi, dendam masa lalu, kebencian pada sistem di negara ini. Dengan begitu, martabatnya sebagai kritik benar akan terangkat.

Namun, bermartabat bukan berarti berguna. Sebaik-baiknya ia bersikap, selengkap-lengkapnya ia menambah asupan data, sebagus-bagusnya pembawaan dirinya ke perbagai diskursus publik, eksistensinya tidak berarti. Terutama oleh Dia-Yang-Paling-Butuh-Mendengarkan, orang yang paling bisa menentukan hidup dan matinya dia pada hari itu. Bahkan teman sejawatnya yang lahir dari keluarga terhormat dan saban hari berdiam di Istana Negara, belum tentu diperhitungkan di hadapan orang nomor satu itu. Sekretaris Dia-Yang-Paling-Butuh-Mendengarkan memfilter teman-teman sejawatnya berdasarkan kebahagiaan: semakin positif mereka pada hari itu, semakin mungkin mereka mendapatkan karpet merah untuk bertemu.

Kalau sudah begitu, buat apa ia dilahirkan? Kritik yang tidak sampai pada yang dituju hanya akan membuatnya pintar sesaat, lenyap kemudian. Ia tidak jadi berbeda dengan pengumuman di halte bis, percakapan antarkaryawan sebelum jam kerja, seruan di padang gurun. 

Lantang, beretika, tapi tidak membekas.

Babak Ketiga: Sembunyi dari Teror yang Tak Tertangani 

Dunia memberikan penghargaan bukan hanya pada yang paling pintar, tetapi juga yang paling berani. Ia melihat bahwa temannya yang secara substansi sama tapi cerdik lebih sering didengarkan. Mereka yang mendekatkan substansi dengan singgungan, mereka yang menyebut nama tapi inisial, mereka yang menimpa teks yang aslinya bodoh, mereka yang memberikan perumpamaan cerdas, mereka yang hadir di forum-forum yang tak terduga. 

Ia tahu bahwa ia harus mengubah strategi jika ingin didengarkan. Makanya ia mengambil rupa dan citra yang lebih nakal. Kehadirannya harus dibuat lebih nyelekit supaya orang-orang paham dan mau mendengarkan. Ia mulai membuat dirinya lebih satir, lebih humoris, lebih menyinggung secara tidak langsung, dan menyerempet kekuasaan hingga ujung jurang.

Kali ini usahanya sedikit berhasil. Publik menaruh atensi padanya, membahasnya di berbagai ruang digital, mengunggah ulang potongan-potongan videonya, dan menyandingkannya dengan kondisi riil buruknya ekonomi, sosial, dan politik.

Sampai pada suatu hari, lepas berdiam di balasan-balasan komentar, seorang anonim memintanya untuk undur diri. Tidak cukup sampai di situ, orang tuanya dibuntuti sampai ke kediamannya dan mendapatkan ancaman akan dibunuh. Belum selesai ia berefleksi, tiba-tiba ia menyadari bahwa forum di mana tadi dirinya mendapatkan atensi sudah hilang, kena suspend.

Setelah merenung lama, ia memutuskan untuk bersembunyi. Itu bukan pilihan kesatria, ia tahu itu. Namun, ia mengingat rekan-rekan sejawatnya yang juga mendapatkan doxxing, kunjungan dari militer, lemparan bom Molotov ke rumah, potongan tubuh hewan mati, kekerasan gender, bukti laporan kepolisian, hukuman penjara, pengrusakan kaca mobil, siraman air keras dan lainnya dan lainnya. 

Kalau sudah terjadi, mereka yang berkuasa selalu gagah-gagahan mengecam. Kata mereka, terror akan disut tuntas dan ia dijaga oleh konstitusi. Namun, bulan-bulan berlalu dan pelaku teror tidak pernah dihukum, ataupun kalau dihukum hanya sebagai sandiwara untuk menutupi yang lain

Ini mungkin harga yang harus dibayar untuk menjadi seorang kritik. Tetapi bagaimana kalau harga itu melebihi apa yang bisa ia bayar?

Babak Keempat: Kamu di Mana Saat Jembatan Dibangun?

Suatu hari, di tempat persembunyian, sang kritik mendengar pidato dari Dia-Yang-Paling-Butuh-Mendengarkan. Orang itu, dengan seragam safari khasnya, mengumpamakan dirinya sedang memiliki niat mulia untuk membangun jembatan yang menghubungkan desa-desa terpencil. Namun, saat semua orang sedang bergotong-royong, ada kritik-kritik seperti dirinya yang asyik bermunculan dan tidak membantu untuk membuat jembatan.

Ia merenung lama tentang ini. Secara sederhana, pidato ini membuat dikotomi antara kritik dan perbuatan, suara dan aksi. Suara seolah hanya membangkitkan sebentar keributan yang nirfaedah dan tidak membawa perubahan nyata. Sementara aksi pastilah upaya produktif untuk menghasilkan sesuatu yang nyata, bisa dipegang. Bagaimanapun metafora ini keluar dari orang yang pernah menciptakan kosakata ‘omon-omon’ untuk merujuk pada mereka yang jago berteori tapi praktiknya nol.

Mungkin pemerintahan ini hanya ingin dirinya bertransformasi, dari sekedar kritik ke perbuatan. Dengan kata lain, ia sebagai kritik diharapkan mati, dan lahir kembali sebagai perbuatan:

Jembatan mau dibangun, baiklah aku ikut (Berperan apa? Punyakah aku keahliannya?), karena masyarakat desa sudah membutuhkannya (Desa yang mana? Yang baru dipotong dana desanya?), segera untuk membuat mereka terhubung dengan perekonomian (Bukannya katanya sudah bagus jika orang desa tidak pakai dolar?). 

Tepat sudah pilihan metafora jembatan ini, karena sifat utama dari jembatan adalah menghubungkan. Proses menghubungkan membutuhkan dua kubu yang berseberangan. Namun, konsekuensi logisnya adalah proses membuat jembatan dimulai dari proses identifikasi atas dua identitas yang berbeda dan saling bertolak belakang: antara desa dan kota, yang tertinggal dan yang maju, yang nasionalis dan antek asing. 

Di perjalanan menuju kematiannya, sedikit lagi naluri kecil sang kritik  menyerukan kecurigaan. Bagaimana jika sebenarnya kita semua sama? Bahwa kritik adalah perbuatan dan perbuatan adalah kritik. Dan jika demikian, distingsi antara mereka yang bekerja dan mereka yang mengkritik adalah hal yang sebenarnya membuat jembatan ini terputus.

Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan. 

Bagikan
WhatsApp
X
Facebook
LinkedIn
Email
Print

Khusus buatmu