Monumen Pancasila Sakti: Dark Tourism dan Hegemoni Anti-Komunisme 

tujuh jenderal dan burung garuda dalam monumen pancasila sakti

Ide Utama

Pernahkah kamu menonton film  Pengkhianatan G30S/PKI? Kapan pertama kali kamu menontonnya, di mana, dan bersama siapa? 

Saya sudah menonton film itu sejak kelas 4 bangku sekolah dasar. Bermula dari situ, agenda nonton bareng sekelas mulai rutin dilakukan tiap 30 September hingga saya tamat SD. Sampai sekarang, saya ingat persis bahwa narasi penyergapan para Jendral TNI dan penumpasannya ke lubang buaya tersebut turut masuk dalam pembelajaran sejarah resmi versi negara. 

Baru ketika menjadi mahasiswa saya tersadar bahwa sejarah yang selama ini menempel  dalam benak merupakan narasi yang diproduksi negara untuk melegitimasi kekuasaan orde baru dalam menuntaskan paham komunisme. Meminjam istilah Wijaya Herlambang seorang peneliti politik, maksud dari praktik-praktik tersebut lebih tepat disebut sebagai kekerasan budaya melalui film dan sastra, alih-alih melihatnya sebagai pendidikan sejarah bangsa. 

Sekolah dalam konteks ini menjelma jadi institusi yang berfungsi alat kontrol kekuasaan Orde Baru. Dengan dalih untuk mempertahankan ideologi negara dan keamanan bangsa dari ancaman komunisme yang dianggap berbahaya. Meski film dan buku sejarah versi tersebut sudah tidak lagi diajarkan di sekolah, tetapi sisa-sisa doktrinisasi anti-komunis warisan Orde Baru masih tersimpan hari ini. Bahkan ia terwarisi dengan cara yang lebih canggih, yakni menjelma sebagai pariwisata gelap (dark tourism) melalui simbol Monumen Pancasila Sakti. 

Artikel ini hendak melacak bagaimana negara menggunakan Monumen Pancasila Sakti untuk melegitimasi narasi Orde Baru tentang kejahatan Partai Komunis Indonesia (PKI) hari ini melalui pendekatan pariwisata gelap.  

Dark Tourism Tidak Sekadar Mengekspose Kematian 

Sebelum membahas lebih lanjut, alangkah baiknya kita dudukkan pemahaman kita tentang  pariwisata gelap (dark tourism) dalam tulisan ini. 

Secara umum, pariwisata gelap  merupakan istilah umum untuk menggambarkan segala bentuk pariwisata yang berkelindan  dengan kematian, bencana, penderitaan, hingga hal-hal yang berbau tidak menyenangkan. 

Hal ini terjadi melalui dorongan motivasi wisatawan tentang  pembelajaran sejarah, rasa ingin tahu, kewajiban, identitas nasional, alasan sosial, hingga mengenang dan memperingati sesuatu yang terkait dengannya, ketimbang motif keterlibatan pengalaman “gelap” secara harfiah. 

Pariwisata gelap tumbuh dengan mengorkestrasi pengalaman emosional wisatawan secara mendalam, baik ketakutan, kesedihan, kengerian, kekecewaan, dan rasa jijik. Kunjungan pada atraksi-atraksi wisata gelap ini bisa memicu pengalaman dan pengetahuan wisatawan secara positif maupun negatif.

Ingatan-ingatan tentang kekejaman PKI melalui simbol-simbol di Monumen Pancasila Sakti pada gilirannya memproduksi dan mereproduksi sudut pandang baru. Wisata gelap tidak pernah lahir dari ruang netral, ia merupakan ihwal politis. Maka dari itu, pariwisata gelap hendaknya dibaca tentang bagaimana kekuasaan mereproduksi narasi dan cara wisatawan memandang dunia yang baru melalui simbol-simbol, alih-alih terperosok ke dalam definisi sempit yang melulu terhubung dengan kematian dan penderitaan. 

Dalam konteks monumen, saya melihat bahwa negara menggunakan pendekatan wisata gelap untuk menyuburkan status quo, yakni melegitimasi pembantaian dan merawat memori anti-komunisme dengan cara yang lebih halus dan canggih. 

Penetrasi Wacana Anti-Komunis melalui Wisata Monumen Pancasila Sakti 

Sedari awal Rezim Suharto membangun Monumen Pancasila Sakti sudah dengan tujuan politis, yaitu sebagai peringatan terbunuhnya para jendral militer pada tahun 1965 oleh PKI sekaligus melegitimasi pembantaian paham komunisme. Namun hari ini monumen tersebut langgeng tidak hanya bergantung dengan satu cara. Jika dahulu monumen ini hanya menjadi alat kontrol ideologis kekuasaan, kini ia juga berdiri sebagai pariwisata gelap masa lalu yang dibungkus narasi warisan budaya. 

Sumur maut dan rumah penyiksaan merupakan dua ruang utama monumen ini yang menjadi instrumen utama dalam menyalurkan ideologi anti-komunis kepada publik. Ruang sumur maut menampilkan tempat para jenderal disiksa dan dihujani peluru sebelum dijatuhkan ke dalam lubang kecil. 

Agar memberikan nuansa mengerikan dan bumbu-bumbu sadis yang lebih nyata, penggunaan bola lampu merah dan cat merah secara sengaja ditambahkan mengelilingi area sumur. Menurut pihak monumen, ini dilakukan semata-mata sebagai pengingat generasi mendatang betapa kejamnya PKI sang penghianat bangsa. 

Di samping sumur laut, rumah penyiksaan memberikan representasi visual  penyiksaan dengan penambahan darah buatan pada patung jenderal, audio dialog  “penyiksaaan” dari film G30S, dan beberapa patung perempuan yang menggambarkan keterlibatan anggota Gerwani. Demi menambah kepercayaan wisatawan, pihak monumen mempekerjakan sejarawan untuk menyampaikan narasi sejarah versi monumen. Padahal sejarawan ini sebenarnya juga merupakan anggota TNI. 

Pameran-pameran di monumen ini menyajikan informasi dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris, agar dapat menjangkau hegemoninya kepada pengunjung domestik dan  mancanegara. Selain itu, bentuk penyajian pameran maupun tur pun mengarah pada satu narasi tunggal tentang penculikan dan pembunuhan sadis para elit militer Indonesia oleh PKI. Sementara narasi-narasi alternatif tidak mendapatkan tempat sama sekali. 

Monumen ini punya peran sentral dalam merawat ingatan wisatawan, yang mayoritas dikunjungi oleh pelajar SMA, untuk mempertahankan perspektif kepada generasi muda bahwa komunis adalah musuh negara. 

Membaca Ulang Sejarah Bangsa dan Pariwisata Gelap

Sedari awal narasi sejarah versi monumen sudah tidak pernah otentik. Sebab monumen ini lahir sebagai salah satu produk kebudayaan pemerintah Orde Baru untuk melegitimasi  pembantaian 1965-1966 terhadap simpatisan komunis dan mengibliskan paham  komunisme. 

Di konteks hari ini, monumen ini bertahan melalui kerangka dark tourism, yakni mengeksplorasi visual dan audio kekerasan pihak komunis terhadap para jenderal ditambah dengan legitimasi sejarawan bayaran agar mendulang kepercayaan publik. 

Disinilah bahaya laten dari dampak wisata gelap, ketika para wisatawan menerima mentah-mentah dan sama sekali tidak mempertanyakan sosialisasi hegemoni kebudayaan monumen. Karena tanpa adanya pemberian narasi alternatif mengenai peristiwa G30S, para wisatawan akan mudah terjebak ke dalam kesadaran semu. 

Pada akhirnya Monumen Pancasila Sakti bisa sedemikian eksis selama lima puluh tiga tahun karena kekuasaan berhasil beradaptasi dengan arus perubahan zaman. Penguasa berhasrat melanggengkan hegemoni anti-komunisme agar terus relevan sampai hari ini. Dengan menciptakan definisi baru monumen sebagai pariwisata gelap, kekuasaan hendak mengakomodasi berbagai kalangan wisatawan seolah narasi sejarahnya berpihak pada masyarakat. Sementara ada pembantaian satu juta orang terduga komunis tanpa peradilan atas nama keamanan negara. 

Sumber foto: Rappler.com

Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan. 

Bagikan
WhatsApp
X
Facebook
LinkedIn
Email
Print

Khusus buatmu