Tri Febi Maharani
Ebi adalah bagian dari tim Editorial Anotasi yang fokus pada isu hak asasi manusia, keadilan sosial, dan kekerasan berbasis gender. Ia percaya pengalaman perempuan bersifat politis karena memperlihatkan ketimpangan kuasa dalam keseharian, serta pentingnya menciptakan ruang yang lebih adil dan setara bagi semua.

Tutorial Menjadi Anak yang Baik Agar Ayah Tidak Masuk Neraka

ayah

Ide Utama

“You blocked this person. Tap to unblock.”

“You unblocked this person.”

Dua notifikasi itu mungkin terlihat sepele. Bagiku, keduanya menandai hampir satu bulan ketika aku memilih untuk tidak berbicara dengan Ayah.

Aku memblokir WhatsApp Ayah setelah ia dan Ibu melihat video perkenalanku untuk sebuah fellowship regional. 

Regional, kompetitif, dan aku lolos. 

Seharusnya itu menjadi kabar baik yang kubawa pulang. Tetapi yang dilihat orang tuaku bukan pencapaiannya, melainkan bagian kepalaku—yang merupakan teritori personalku, yang merupakan dan semestinya menjadi ruang otonom bagi diriku sendiri—yang dalam video tersebut tampak tak berkerudung. 

Seolah sehelai kain itu lebih mampu menjelaskan seperti apa seharusnya aku menjadi seorang perempuan dan anak perempuan daripada seluruh pilihan yang sedang kuusahakan untuk membangun hidupku sendiri.

Tidak ada ucapan selamat atau ucapan “We’re proud of you, my beautiful daughter…”

Yang ada adalah kalimat, “Mau jadi perempuan yang kayak gimana kalau kerudung aja nggak dipakai?” Lalu disusul yang lebih berat, “Mau bikin ayahnya masuk neraka, ya?”

Aku ingat marahnya campur aduk dengan bingung. Tidak hanya karena pencapaianku diabaikan, melainkan karena satu pertanyaan yang terus berputar di kepalaku: kenapa nasib seseorang masuk neraka atau tidak, ditanggung jawabkan kepadaku? Sejak kapan keselamatan akhirat ayahku menjadi bebanku untuk dipikul?

Aneh sekaligus wow! Bagaimana mungkin sehelai kain di kepala seorang perempuan begitu menentukan nasib seorang laki-laki, sampai-sampai pilihan atas tubuhku dibaca sebagai sesuatu yang dapat mempertaruhkan keselamatannya?

Belajar Menjadi Anak yang Baik

Sejak kecil, aku mengenal rumah sebagai tempat pertama untuk belajar menjadi anak yang baik. Ada bayangan tentang seperti apa aku seharusnya tumbuh, menjadi anak yang berbakti, perempuan yang solehah, mengenakan kerudung panjang menutupi dada, dan kelak menjadi seseorang yang membawa nama baik keluarga. Pada satu titik, aku bahkan digadang-gadang untuk menjadi pesohor agama. 

Aku bahkan tidak ingat persis umurku saat itu. Mungkin sembilan, mungkin sepuluh (ada bagian dari masa kecilku yang memang tidak lagi bisa kuingat dengan utuh). 

Saat itu, anak-anak lain di sekitarku mulai mengikuti berbagai macam les: Kumon, matematika, bahasa Inggris, musik, renang, dan lain-lain. Aku tidak. Kata Ayah dan Ibu, aku sudah cukup pintar dalam matematika dan bahasa Inggris karena selalu masuk tiga besar di kelas. Dan Ayah Ibu juga terlalu miskin untuk memberikanku les renang atau musik karena pada saat itu adik bungsuku baru lahir.

Alih-alih mengikuti les-les itu, aku justru dimasukkan ke les mengaji qori. Qori adalah seni membaca Al-Qur’an dengan memperhatikan lagu atau irama, suara, dan teknik vokal agar bacaan terdengar indah dan merdu. Di Indonesia, qori atau qoriah juga kerap dipersiapkan untuk mengikuti perlombaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ).

Waktu itu, aku masih terlalu kecil untuk mengatakan tidak. Aku bahkan belum cukup besar untuk memahami bahwa aku punya hak untuk menentukan sendiri apa yang ingin kupelajari.

Sementara Ayah dan Ibu punya bayangan yang cukup jelas tentang siapa sosok yang mereka inginkan dariku. Maka, setiap Rabu malam pukul 19.30, aku pergi ke tempat les qori yang letaknya cukup jauh dari rumah. Ayah mengantarku ke sana, lalu meninggalkanku untuk mengikuti les sendirian.

Aku masih ingat bagaimana groginya aku setiap kali sampai di sana. Hampir semua orang di ruangan itu adalah orang dewasa. Anak-anak bisa dihitung dengan jari. Mereka pun bukan anak-anak yang baru belajar menjadi qori sepertiku. Sebagian sudah punya pengalaman mengikuti kejuaraan qori atau qoriah, bahkan setidaknya di tingkat kabupaten/kota.

Aku? Bisa ngaji dan baca Qur’an sejak kelas 1 SD saja sudah alhamdulillah (Seharusnya, tapi orang tuaku tamak sekali untuk urusan ini).

Aku tidak bisa mengikuti nada yang diajarkan. Aku tidak bisa membuat suaraku terdengar seperti yang mereka harapkan. Aku berkali-kali mengatakan kepada guru mengajiku bahwa aku tidak bisa mencapai nada dan suara semerdu itu.

Sekarang, ketika mengingatnya kembali, aku sering berpikir, mungkin saat itu aku belum tahu bagaimana mengatakan, “Aku tidak mau.”

Aku hanya tahu bagaimana menangis. 

Hft.

Belajar Menjadi Anak yang Membangkang

Lalu sekarang, aku tumbuh, dan mulai menemukan jalan yang berbeda.

Aku membuka kerudung. Aku memilih pekerjaan dan lingkungan yang jauh dari apa yang dibayangkan orang tuaku. Aku mulai membangun kehidupan dengan pilihan-pilihanku sendiri. Tetapi pilihan-pilihan itu tidak selalu dibaca sebagai bagian dari prosesku mengenal diri. Perbedaan itu justru sering dipahami sebagai pembangkangan terhadap keluarga dan nilai-nilai yang mereka yakini.

Karena pilihan-pilihanku tersebut, aku sering sekali disebut anak durhaka. Dan kata-kata yang jika dilontarkan, aduh, malaikat pun sepertinya enggan untuk mengamini karena jahat sekali. Bahkan, ada doa-doa buruk yang diarahkan kepadaku, termasuk yang kudengar setelah video fellowship itu.

Lama-lama, aku tidak hanya belajar bagaimana menghadapi kemarahan mereka. Aku belajar mengantisipasinya.

Aku mulai berpikir dua kali sebelum bercerita. Menimbang apakah pilihan tertentu perlu diketahui. Memikirkan bagaimana sebuah pendapat akan diterima. Di situlah aku mengenal bentuk lain dari pembungkaman: ketika larangan dari luar perlahan menjadi suara di dalam kepala sendiri.

Aku mulai menyensor diriku sendiri.

Keterasingan itu perlahan mengikis banyak hal dalam diriku: karakter, kepribadian, keberanian untuk mencoba, bahkan kesempatan-kesempatan yang mungkin tidak pernah sempat kuambil karena sejak awal aku sudah merasa tidak akan diterima.

Ada masa ketika aku takut memulai sesuatu. Takut mengambil kesempatan. Takut untuk mengikut lomba lagi, takut untuk mendaftar beragam fellowship lagi, atau sekadar menunjukkan diriku kepada orang lain. 

Aku bahkan sempat menonaktifkan Instagram karena tidak berani menunjukkan diriku di media sosial. Aku sampai harus memblokir akun media sosial saudara dan keluargaku, hanya agar punya sedikit ruang untuk menjadi diriku sendiri tanpa merasa sedang diawasi.

Lama-lama, aku sadar bahwa yang paling melelahkan bukan lagi ketika orang lain mengatakan bahwa aku salah. Yang lebih melelahkan adalah ketika aku sudah bisa membayangkan penolakan itu bahkan sebelum mereka mengatakannya.

Dan, mungkin, di situlah aku mulai memahami bahwa kuasa tidak selalu bekerja dengan cara melarang kita secara langsung. Kadang, kuasa bekerja dengan membuat kita belajar melarang diri sendiri.

Dan jawabannya tidak melulu berada di ruang-ruang yang selama ini kita anggap politis. Ia bisa dimulai dari rumah. Dari meja makan. Dari percakapan antara anak dan orang tua. Dari keputusan tentang pakaian apa yang boleh dikenakan, sekolah mana yang harus dipilih, pekerjaan apa yang dianggap baik, sampai jalan hidup seperti apa yang dianggap pantas.

Kita mesti sepakat, dan aku berencana untuk memaksa siapa pun yang tidak bersepakat dengan hal ini, bahwa, rumah seharusnya menjadi tempat pertama kita belajar tentang siapa yang boleh bicara, siapa yang harus mendengar, siapa yang punya keputusan terakhir, dan apa yang terjadi ketika seseorang memilih jalan yang berbeda.

Karena semuanya adalah politik, kan?

Aku jadi bertanya: apakah seseorang bisa benar-benar belajar tentang kebebasan jika sejak kecil ia terbiasa takut pada pilihannya sendiri? Apakah demokrasi bisa tumbuh di ruang publik jika di ruang paling intim dalam hidup kita, perbedaan justru selalu dianggap sebagai pembangkangan?

Kalau di rumah saja kita tidak punya ruang untuk mengatakan, “Aku berbeda,” bagaimana kita belajar menjadi warga negara yang hidup bersama orang-orang yang berbeda?

Mungkin karena itu, pertanyaan tentang “berpolitik” bagiku tidak lagi berhenti pada siapa yang kita pilih atau bagaimana negara membuat keputusan. Ia juga menyentuh pertanyaan yang lebih dekat: apakah di rumah kita diberi kesempatan untuk menjadi manusia yang berbeda?

Sebuah Tutorial

Dengan sisa-sisa keberanian yang kupunya, aku akhirnya membuka blokir itu. Apakah karena semuanya sudah selesai atau semuanya sudah dimaafkan? Tidak juga. Aku membuka blokir WhatsApp Ayah karena aku sadar bahwa memutus komunikasi selamanya bukan yang kuinginkan. Yang kuinginkan hanya ruang untuk tidak terus-menerus diukur dari sehelai kain yang menempel di kepala dan tubuhku.

Dan, tentu saja, aku tidak menganggap pengalaman ini sudah selesai. Sampai sekarang aku masih belajar mengenali mana suara yang benar-benar berasal dari diriku dan mana suara yang terbentuk dari ketakutan akan penolakan.

Tapi setidaknya, dari layar ponsel yang berganti dari blocked menjadi unblocked itu, aku belajar satu hal: bahwa rumah bisa menjadi ruang pertama untuk belajar mendengar dan didengar. Itu bukan berarti  semua orang di dalamnya harus memiliki pendapat yang sama, bisa saja karena orang-orang di dalamnya belajar bahwa seseorang tetap berhak menjadi dirinya sendiri, bahkan ketika pilihannya berbeda.

Mungkin selama ini kita terlalu sering mengajarkan anak bagaimana menjadi anak yang baik. Mereka harus menurut, patuh, menjaga nama baik keluarga, dan tidak membuat orang tua kecewa. Padahal, mungkin ada pelajaran lain yang juga perlu diberikan di rumah: bagaimana berbeda pendapat tanpa harus kehilangan kasih sayang, bagaimana mengatakan tidak tanpa disebut durhaka, dan bagaimana membiarkan seseorang tumbuh menjadi dirinya sendiri tanpa menjadikan pilihan hidupnya sebagai ukuran moral bagi seluruh keluarganya.

Jadi, kalau tulisan ini memang harus menjadi sebuah tutorial, mungkin judulnya tidak sepenuhnya bercanda.

Berikut tutorial menjadi anak yang baik agar ayah tidak masuk neraka.

Langkah pertama: pastikan anakmu mengikuti aturan agama. Kalau anakmu perempuan Muslim, pastikan ia memakai kerudung.

Langkah kedua: pastikan ia memilih jalan hidup yang sesuai dengan keinginanmu.

Langkah ketiga: pastikan ia tidak pernah membantah.

Atau, mungkin kita bisa membuang seluruh tutorial itu.

Sebab, aku dan banyak orang mungkin pernah atau sedang menukar kebebasan dan identitasnya untuk memenuhi ekspektasi dan kebutuhan orang tua, demi menjaga nilai-nilai yang diyakini keluarga, demi dianggap anak yang baik dan solehah, demi menjaga nama baik, dan demi tidak dianggap mengecewakan. 

Tapi, keselamatan seseorang seharusnya tidak diletakkan di atas kepala anak perempuan dalam bentuk sehelai kain, kan? Dan menjadi ayah yang baik semestinya tidak membutuhkan seorang anak untuk kehilangan dirinya sendiri terlebih dahulu.

Untuk kamu yang mungkin pernah ada di posisi yang sama, yang pernah merasa harus memilih antara ruang aman di keluarga atau menjadi dirimu sendiri, aku ingin bilang: kamu tidak sendirian, dan kamu tidak salah karena pernah merasa terjebak di antara keduanya.

Semoga suatu hari kamu tidak lagi harus memilih. Karena seharusnya kamu berhak mendapatkan keduanya, menjadi anak yang baik dan tidak membangkang, sekaligus menjadi dirimu sendiri seutuhnya.

Sumber foto: Matilda (1996)

Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan. 

Bagikan
WhatsApp
X
Facebook
LinkedIn
Email
Print

Khusus buatmu