Dari Grup Whatsapp ke Ruang Tamu Martin Aleida

Dari Grup Whatsapp ke Ruang Tamu Martin Aleida

Ide Utama

Sastra Bisa Bikin Kritis?

“Sastra itu bisa bikin kritis, bisa juga meninabobokan” kata Wiji Thukul dalam wawancara dengan IDEAS, tabloid terbitan Fakultas Sastra Universitas Jember. Artikel ini dimuat bersama foto sang penyair sedang bertopang dagu, serta sebuah kolom yang berisi kecaman terhadap pembredelan pers mahasiswa di Jakarta.

Dari jawaban-jawabannya, ia enggan terlalu mengglorifikasi daya ubah sastra, tetapi ia teguh dalam keyakinannya bahwa sastra adalah “…bagian dari alat dalam memperjuangkan kondisi yang lebih baik”. 

Lingkar Sastra Tangerang percaya bahwa sastra adalah “pintu”. Kami adalah komunitas yang baru lahir di awal 2026, awalnya kami cuma gemas melihat kurangnya ruang untuk berkumpul dan berdiskusi seputar sastra di Tangerang, khususnya Kabupaten Tangerang. 

Masa iya, setelah commute minimal 3 jam sehari selama 5 hari, kita masih perlu ke ibukota di akhir pekan untuk ngobrol soal sastra? Makanya, kami berdua punya ide bikin kumpul kecil-kecilan saja, terutama untuk teman-teman yang tinggal di Kabupaten Tangerang. 

Sebagai generasi yang lahir setelah reformasi, Dewi tidak mengenal peristiwa-peristiwa seperti 1965 dan 1998 melalui pemberitaan, kajian akademik, apalagi buku pelajaran. Yang pertama kali membuka pemahamannya tentang Orde Baru justru adalah sebuah cerpen bertajuk Rongga yang ditulis oleh Noviana Kusumawardhani. 

Mirip dengan Dewi, Marissa juga pertama kali mengenal topik-topik yang tidak akan pernah dibicarakan di sekolah atau di keluarganya, seperti isu seksualitas dan politik Orde Baru, lewat novel Saman karya Ayu Utami. Meski dibaca di dalam kamar mungil yang ia bagi bersama adik perempuannya, Marissa merasa dunia tiba-tiba lebih luas. 

Karya sastra menjadi “pintu” ke isu sosial-politik yang lebih besar. Sebagai komunitas lokal, Lingkar Sastra Tangerang ingin membuka pintu-pintu tersebut melalui sebuah ruang belajar alternatif yang kami beri nama Belajar Bersama. Edisi perdana Belajar Bersama bertajuk “Membaca Martin Aleida dan Kisah Seputar ‘65”. 

Isu ‘65, meski cukup berat, sengaja dipilih sebagai upaya untuk mendekatkan yang hari-hari ini rasanya berusaha dijauhkan dari orang muda. Sementara itu,  Martin Aleida, meski tak sepopuler sejumlah penulis lain yang juga eks-tapol dan/atau mengangkat tema serupa, dipilih karena konsistensinya mengangkat isu ‘65 dari perspektif para penyintas, termasuk melalui pengalamannya sendiri. 

Salah satu kekuatan cerpen-cerpen Martin Aleida terletak pada bentuknya yang ringkas. Dalam keringkasannya itu pula sang penulis mampu membawa pembaca merasakan kegetiran, kekuatan, kegelisahan, kesedihan, dan apapun yang dirasakan oleh tokoh-tokohnya. Namun, cerita tentang peristiwa kekerasan tentunya akan selalu sarat kekerasan. 

Positionality, atau kesadaran akan posisi, menjadi penting dalam proses kurasi karena kami ingin menghadirkan karya yang tetap jujur terhadap sejarah tanpa membuat pembaca yang baru pertama kali mengenal isu ‘65 merasa kewalahan. Cerpen-cerpen yang dipilih diharapkan menjadi pintu masuk yang mengundang pembaca untuk terus melangkah, bukan membuat mereka berhenti di ambang pintu. 

Menyelami Lima Kisah ‘65

Selama lima minggu, kami mengikuti tokoh “aku” di cerpen Tak Ada Jalan Balik ke Buru yang dalam kesepiannya mencari jalan kembali ke tempat ia dibuang dan dipaksa kerja secara cuma-cuma, serta tokoh Iramani di cerpen Ode untuk Selembar KTP yang begitu terobsesi dengan selembar KTP dan mimpi untuk bisa “terlahir kembali”.

Kami juga mendalami kisah Kresna di cerpen Aku ngenteni tekamu… yang mencari jawaban tentang ibunya ke ibu kota; cerita “aku” dalam Tanah Air yang harus menanggung beban perawatan bagi anak yang kehilangan ayah dan suami yang kehilangan tanah airnya; dan surat “aku” di cerpen Surat Tapol kepada TKW, Cucunya yang menggugat pandangan sang cucu terhadap dirinya.

Cerpen-cerpen ini menunjukan bagaimana peristiwa ‘65 dialami secara berbeda dan membentuk trauma yang hadir dalam beragam bentuk, mulai dari yang terjadi pada eks-tapol, eksil, istri penyintas, generasi kedua, hingga generasi ketiga. Kelimanya diikat oleh benang merah yang sama: kisah-kisah yang intim, dekat, dan personal oleh Martin Aleida.

Selain pemilihan cerpennya, kami juga memikirkan medium dan format yang paling memungkinkan. Kami tahu untuk dapat berkumpul bersama secara fisik selama enam minggu berturut-turut, tentunya akan sulit. Pilihan kami pun jatuh ke Whatsapp Group tertutup, dengan harapan ini akan memudahkan kawan-kawan mengikuti bacaannya dari minggu ke minggu. 

Meskipun digelar secara online, kami ingin kedekatannya tetap terasa, apalagi ketika isu-isu yang dibahas dalam cerpen-cerpen ini bisa sangat personal. Kami memulai dengan perkenalan dan memberikan beberapa house rules untuk memastikan ruang yang tercipta aman untuk tiap orang. Setiap minggu, cerpen pun dibagikan dan teman-teman punya waktu seminggu untuk membaca cerpen dan mengirimkan refleksinya. 

Cerpen Martin Aleida yang biasanya sepanjang 6-8 halaman ternyata cukup ideal untuk dibaca sekali duduk dan sebagian besar mengirimkan refleksinya di kala senggang di akhir pekan. Bagi kami yang juga ikut membaca, ini seperti hadiah yang ditunggu-tunggu setelah seminggu dihimpit tugas dan kesibukan sana sini. 

Kawan-kawan yang bergabung pun datang  dari latar yang beragam. Ada pegawai kantoran, dosen sastra, pekerja NGO, hingga fresh graduate. Keberagaman ini juga tercermin dari cara mereka merespons cerpen-cerpen Martin Aleida. Di satu sisi, ada kawan yang lebih sering menulis kritik sastra dan sudah familiar dengan cara membaca yang terstruktur dan berlensa kritis sehingga menawarkan perspektif yang berbeda. 

Di sisi lain, ada kawan yang benar-benar baru mengenal isu ‘65 maupun kritik sastra. Misalnya adik dari salah satu  peserta yang ternyata setiap minggu diam-diam ikut membaca cerpen dan berdiskusi dengan kakaknya. kemudian ikut berkunjung dan berdiskusi dengan Martin Aleida. Latar belakangnya sebagai mahasiswa non-sosial-humaniora menjadi sosok yang juga ada di bayangan kami ketika memulai kelompok ini. 

Meski berbeda latar belakang dan pengetahuan, kami merasa justru keragaman ini membuat ruang kecil kami lebih kaya. Bentuk refleksi yang dikirimkan juga cukup bebas, bisa berupa tulisan, voice note atau pun video. Setiap minggunya ada pertanyaan pemantik untuk membantu menuliskan refleksinya. Selain itu, kami juga meminta kawan-kawan mengirimkan stiker atau emoji bersama refleksi untuk menggambarkan perasaan saat membaca cerpen Martin Aleida.

Ini membuat mereka yang lebih awam lebih nyaman membagikan refleksinya, tanpa ada tuntutan refleksinya harus berbungkus kritik sastra. Bagi kami berdua, keterhubungan dengan cerita-cerita dan kemudian topiknya justru perlu dimulai lewat rasa, yang harapannya berlanjut ke refleksi. Ini tidak berarti kami anti terhadap “kritik sastra”, yang seringnya menunjukkan kepandaian memakai banyak lensa dalam membedah sebuah karya. Hanya saja, kami merasa lebih akrab dengan “refleksi” yang punya jarak lebih dekat daripada kritik yang berjarak dan penuh tuntutan objektivitas, tanpa rasa. 

Di Ruang Tamu Martin Aleida

Kedekatan inilah yang kemudian kami usahakan di akhir pertemuan. 

Setelah enam minggu membaca dan berefleksi bersama, Dewi memberanikan diri menghubungi Martin Aleida dan merencanakan kunjungan ke ruang tamunya. Kami beruntung. Bukan hanya karena Martin Aleida bermukim tak jauh dari Tangerang dan menyambut hangat ide kami, tetapi juga karena ia membiarkan kami masuk ke ruang-ruang yang begitu personal: ruang fisik tempat ia dan istrinya menghabiskan hari-hari tua dan ruang ingatan tempat ia menyimpan memori-memori tentang masa lalunya. 

Di ruang tamu yang dihiasi figura-figura berisi foto-foto keluarga dan karyanya, kami mendengarkan bagaimana ia menceritakan perjalanan hidupnya dengan penuh api juga penuh kegetiran. Rasanya seperti mengakses arsip-arsip yang begitu hidup. Ia, misalnya, menceritakan bagaimana di tempat ia dulu ditahan, ruangan khusus perempuan dan anak ada persis di sebelah ruang interogasi. 

“Jadi ini ruang interogasi di sini, perempuan dan anak itu di situ,” ujarnya sambil menunjuk ke arah ubin yang terpatri hanya 3-4 meter dari tempatnya duduk. “Ketika ada darah-darah sisa ‘interogasi’, merekalah yang diminta membersihkan!” katanya, mengajak kami membayangkan trauma yang dialami perempuan dan anak mendengarkan bentakan, teriakan, dan siksaan dari balik pintu dan membersihkan sisa-sisa kekejian itu di esok hari.

Rentetan pertanyaan, termasuk yang muncul selama kami membaca dan merefleksikan cerpen-cerpennya, terus bergulir dalam sesi bersama Martin Aleida. Ia sangat terbuka dan mendorong peserta menanyakan apa saja. Bagi yang sudah familiar dengan isu ‘65, banyak sekali nuance-nuance baru yang muncul. Misalnya, kisah bagaimana ia harus mengganti namanya dari Nurlan menjadi Martin Aleida pasca ‘65 banyak tersedia, tetapi kedalaman signifikansi personalnya baru betul-betul terasa saat ia bercerita. 

“Bayangkan… kami harus mengubur nama yang diberikan oleh orang tua kami. Di kampung saya, pemberian nama ada prosesinya tersendiri, lalu kami harus mengganti itu”, katanya. Bagi yang baru mengenal isu ‘65, kunjungan ini harapannya menjadi pintu untuk memahami peristiwa tersebut dari sisi yang lebih personal langsung dari sumber pertama (firsthand). 

Alih-alih mengenalnya semata sebagai rangkaian peristiwa dalam sejarah Indonesia, Martin Aleida mengajak kami melihat langsung bagaimana dampaknya hadir dalam hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan seseorang: nama, keluarga, identitas, dan ingatan. Martin Aleida dan kami tak selalu sepakat dalam semua hal. Misalnya saja soal karya-karya mana dan seperti apa yang bisa disebut sastra “sastra”. Ia cukup bersikeras memisahkan keduanya berdasarkan konvensi-konvensi mapan. 

Sementara bagi kami, definisi sastra semestinya justru perlu lebih demokratis, memberi ruang bagi beragam bentuk pengalaman, suara, dan cara bercerita yang justru mendorong batas-batas yang ada. Namun, kami sepakat dalam banyak hal lainnya, khususnya bahwa sastra, apapun bentuk dan masanya, harus berpihak pada korban.

Dari pengalaman ini, kami semakin yakin bahwa komunitas dan ruang-ruang seperti ini bisa jadi teknologi merawat ingatan dan bahwa ruang belajar alternatif sama pentingnya dengan kelas-kelas bersertifikat. Sastra, bagi kami, menjadi pintu masuk untuk memahami isu-isu sejarah yang terkadang (dibuat) terlalu rumit atau berusaha terlalu objektif. Lewat cerita-cerita personal, ia membuka jalan dengan cara yang intim dan manusiawi. 

Ilustrasi oleh: Ilustrasiin

Artikel ini ditulis oleh Dewi Setiawan dan Marissa Saraswati. Mereka adalah co-founders Lingkar Sastra Tangerang, sebuah ruang belajar berbasis komunitas di Tangerang Raya, dengan karya sastra sebagai mediumnya. Komunitas ini dirancang untuk mengajak lebih banyak orang untuk membaca dan berbagi cerita di Baca Bersama dan mendalami isu-isu sosial melalui karya sastra di Belajar Bersama.

Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan. 

Bagikan
WhatsApp
X
Facebook
LinkedIn
Email
Print

Khusus buatmu