Kelindan Sastra dan Sejarah dalam Karya Martin Aleida

karya Martin Aleida

Ide Utama

Penulis Martin Aleida percaya kalau “sastra harus berpihak pada korban” dan karya-karyanya selama puluhan tahun menunjukkan komitmen itu. Di tahun 1965, Martin Aleida berprofesi sebagai wartawan di koran Zaman Baru, media Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang terafiliasi dengan PKI. 

Setelah 30 September 1965, Bung Martin ditahan, sebagaimana ribuan orang lain yang dituduh terkait dengan pembunuhan perwira tinggi TNI yang kemudian disebut-sebut sebagai sebuah kudeta yang direncanakan oleh PKI. Selepas 1965, karya sastra dan seni dikontrol, buku pemikiran kiri dilarang dan karya para seniman Lekra hilang dari pembicaraan dan penerbitan. 

Di dunia sastra, gaya penulisan sosialis realis, digantikan oleh gaya sastra yang modernis yang dipopulerkan oleh penulis Amerika dan negara lain yang menjadi kubunya. Di Indonesia masa itu, mayoritas karya sastra nampak apolitis, lebih mengutamakan eksperimen seni ketimbang komitmen pada isu sosial, dan tak mempertanyakan kekerasan yang dialami ribuan orang di masa 1965-1966. 

Wijaya Herlambang menyebut ini sebagai bentuk “kekerasan budaya”, dan Martin Aleida tak luput mengalami kekerasan ini. Ia dilepaskan dari penjara setelah satu tahun dan berjuang melanjutkan karir sebagai penulis baik sebagai wartawan dan penulis sastra. Kejadian itu menyebabkannya tak lagi dapat menulis dengan nama yang dimilikinya sejak lahir. 

Cerpen “Jangan Kembali Lagi, Juli”, terbit tahun 1969, menjadi cerpen pertama yang menggunakan nama pena Martin Aleida. “Bagaimana rasanya tak bisa menggunakan nama yang telah dipilihkan oleh orangtua sendiri,” ungkapnya saat Lingkar Sastra Tangerang bertemu dengannya bulan Juni lalu.

Kelindan Sejarah dan Sastra dalam Memori 1965

Untuk generasi yang besar di era 1990-an, pembunuhan massal 1965-1967 adalah sejarah keji yang sulit dibayangkan. Salah satunya karena kontrol sejarah sepanjang masa Orde Baru. Selama puluhan tahun, sejarah 1965 yang disuguhkan adalah film Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI yang diproduksi dengan dana pemerintah dan ditonton di televisi setiap tahun dalam rangka “peringatan” 30 September. 

Jika tak mengalami langsung, informasi tentang kekerasan 1965 seringkali muncul dalam bentuk desas desus, atau cerita kerabat yang merasakan ketegangan di lingkungannya namun tak bisa menceritakan apa yang sebetulnya terjadi, atau mungkin mereka memilih untuk menyimpan hal ini sendiri. 

Sejarah mengenai peralihan kekuasaan saat itu juga menyisakan banyak pertanyaan. Arsip Surat Perintah 11 Maret yang disebut sebagai pernyataan Sukarno mengalihkan kekuasaan pada Soeharto, misalnya, juga tak pernah ditemukan. Ketika sejarah terasa gelap, maka sastra menjadi tempat untuk mengartikulasikan kebenaran dan mencari keadilan. 

Karena itu, ketika Lingkar Sastra Tangerang mengadakan kegiatan membaca karya Martin Aleida, saya segera mendaftar. Dari bulan April hingga Juni 2026 kami rutin membaca cerpen-cerpen Martin Aleida, mulai dari “Tak Ada Jalan Balik ke Buru”, “Ode untuk Sebuah KTP”, “Aku Ngenteni Tekamu…”, “Tanah Air”, dan “Surat Tapol kepada TKW, Cucunya”. Kami kemudian membahas bagaimana karya-karya ini mencuplik kejadian nyata yang sejarahnya masih tak bisa diakses banyak orang. 

Mengemban prinsipnya mengenai sastra yang berpihak, Martin Aleida menangkap sejarah 1965 bukan dari perspektif tokoh besar negara, namun dari pandangan penyintas dan korban. Ia menghubungkan jurnalisme dan sejarah dengan sastra, menopang narasi dengan fakta dan pengalaman hidup para penyintas 1965 yang ia telah temui dan kumpulkan dengan jeli. 

Di esai ini, saya akan membahas cerpen-cerpen Martin Aleida dan mengutip bagian-bagian dalam cerpen yang menunjukkan persimpangan sejarah dan sastra.

Cerpen “Surat Tapol kepada TKW, Cucunya” menunjukkan kisah seorang laki-laki yang ditahan bersama Pramoedya Ananta Toer. Bung Martin menulis kisah ini dalam bentuk surat yang ditandatangani oleh Tumiso Danuasmoro, seorang guru yang ditahan bersama dengan Pramoedya di Pulau Buru dan menyembunyikan kertas tulisan Pram dalam tasnya dan berpura-pura sakit agar tak digeledah. 

Dalam pertemuan Lingkar Sastra Tangerang, Bung Martin turut menyebutkan potongan-potongan wawancara dan kisah para penyintas yang ia pernah temui dan jadikan karya, mulai dari kisah seorang eksil yang menyakiti diri, para penyintas yang menghabiskan masa hidup di panti, hingga seorang perempuan yang jual tanah dan menggunakan uangnya agar bisa menghilangkan kode ET (Eks-Tapol) di KTP-nya. Kisah-kisah ini dikembangkannya lagi dengan imajinasi hingga menjadi sebuah cerpen. 

Estafet Sejarah Lewat Sastra

Lewat sastra, Bung Martin menggambarkan dunia jungkir balik yang dialami penyintas yang menua dan eksil yang menanti-nanti kapan bisa kembali pulang. Di antara pesan mengenai cinta tanah air, kehilangan jati diri saat dicap PKI oleh status quo, dan dampak dari kekerasan yang terjadi, hampir semua cerpen ini menunjukkan usaha penyintas yang sudah menua yang menceritakan kisah hidupnya kepada generasi yang lebih muda. 

Cerpen-cerpen seakan berfungsi sebagai pesan Martin Aleida untuk kita, generasi yang lebih muda, agar paham sejarah. Di “Tak Ada Jalan Balik ke Buru”, protagonis menyebutkan figur seorang videografer yang kerap datang ke panti jompo tempat ia tinggal. Protagonis yang sudah tua mereka-reka apa yang ada dalam pikiran anak muda ini saat melihat kakek dan nenek penyintas di panti yang semakin tua dan linglung. 

Di “Surat Tapol kepada TKW, Cucunya”, kakek Tumiso  bercerita mengenai cucunya Febri, seorang TKW yang berharap agar Tumiso bercerita dan membukukan pengalamannya. Untuk Febri, kakeknya seharusnya bisa berkarya seperti Anne Frank yang menurut sang keponakan “begitu menukik dan agung menghayati kecemasan, ketakutan, yang memenjarakannya di belakang lemari persembunyian”. 

Kakek Tumiso tak mampu memenuhi harapan cucunya. Ia bersungut, “Tema besar dalam surat-suratmu, yang kau desakkan adalah kemampuan berimajinasi. Aku bukan pengarang. Cuma guru yang dituduhkan memilih jalan terkutuk oleh penguasa”. Pertukaran Tumiso dan Febri menunjukkan jarak antara generasi, sekaligus pengingat agar generasi muda tak mendekati sejarah masa lalu dengan pengharapan dan romantisasi yang merupakan bentukan ide-ide kebebasan Barat.

Bung Martin juga mengisyaratkan jauhnya jarak di antara kedua generasi dalam memandang masa lalu. Ini diperparah dengan minimnya keterbukaan tentang kekerasan yang kemudian menciptakan patahan-patahan antar generasi. Di cerpen “Aku Ngenteni Tekamu…”, tokoh Kresna mencari-cari jasad ibunya yang akhirnya diketahui dikubur di sebuah kuburan massal di sebuah hutan karet. 

Di cerita, kuburan ini baru diketahui keberadaannya lewat pengakuan seorang sopir yang mengemudikan truk pembawa para korban. Kresna bahkan lama tak mengetahui nama ibu kandungnya yang juga seorang sinden itu. Ia harus mengumpulkan informasi dan baru menemukan nama ibunya di antara nama sejumlah korban di kuburan massal di Pati. 

Harapan terakhirnya, ia mampu mencapai kuburan itu. “Saya hanya ingin Ibu saya. Walau itu sekadar tulang-belulang”, pungkas Kresna. Ia mewakili generasi muda yang berusaha memahami dan mengungkap sejarah, sementara jurang antara generasi diperburuk oleh tidak adanya akuntabilitas dan pertanggungjawaban atas kekerasan yang menimpa para korban pembunuhan massal. Menggapai kebenaran adalah keniscayaan, namun cerpen ini mempertegas bahwa kebenaran perlu terus dikejar, biarpun yang bisa dicapai tinggal tulang belulang. 

Generasi Berbeda, Tekanan yang Sama

Para penyintas dan generasi muda yang diajak memahami sejarah juga kerap berkonflik karena tekanan berbeda yang dialami kedua generasi. Di cerpen “Ode untuk Sebuah KTP”, Iramani lama ditahan di Pelatungan karena suaminya memimpin sebuah surat kabar. 

Ia mengeluarkan uang hasil jual tanah demi menghilangkan status ET (Eks-Tahanan Politik) dari KTP-nya–sebuah status yang membuat Iramani dan anak-anaknya  “tidak ada, walaupun ada”. Menghapus kode ET adalah usaha terakhirnya untuk “menemukan harga diriku kembali”. 

Sang anak, Tatiana, memarahi ibunya karena untuknya uang itu akan lebih berarti jika dijadikan modal berjualan, biaya pendidikan, dan usaha toko kakak-kakaknya. “Ibu telah melakukan sesuatu yang tidak perlu. Sesuatu yang percuma…,” ujarnya. 

Iramani dan Tatiana mewakili dua generasi yang ditekan status quo dengan cara berbeda-beda. Kesulitan ekonomi memaksa Tatiana untuk tak melihat ke belakang karena keperluan bertahan hidup di masa sekarang. Tekanan yang sama menimpa Febri, cucu Tumiso yang bekerja di Timur Tengah. 

Kita patut bertanya apakah TKW akan memilih kerja di tempat lain jika ada peluang kerja baik di negaranya sendiri? Dengan kata lain, baik Febri dan Tumiso dipindah paksa dari satu tempat ke tempat lain hingga keduanya mencari-cari kebebasan dengan cara yang berbeda-beda. Mereka mungkin berselisih tentang bagaimana mengingat masa lalu, namun mereka sama-sama ditekan dan menjadi korban. 

Karya Martin Aleida menunjukkan usaha mengingat masa lalu tepat ketika masyarakat masa kini dipaksa melupa, baik lewat kontrol narasi sejarah ataupun tekanan masa modern yang tak kalah jahat dengan keberingasan masa lalu. 

Sastra sering dituding hanya memiliki fungsi menghibur semata dan kisahnya tak bisa disandingkan dengan arsip, yang sesungguhnya juga memiliki biasnya sendiri. Martin Aleida secara tak langsung menampik anggapan ini dengan menunjukkan bahwa sastra punya peran besar sebagai ruang untuk mengingat, mengejar kebenaran hingga sedekat mungkin, memantik empati, dan membantu kita memahami permasalahan masa kini.

Ilustrasi oleh: Ilustrasiin

Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan. 

Bagikan
WhatsApp
X
Facebook
LinkedIn
Email
Print

Khusus buatmu