Melapukkan Tembok, Menuai Pelajaran dari Martin Aleida 

Martin Aleida

Ide Utama

Dalam konteks kesusastraan maupun perjalanan sejarah yang dipikul di pundaknya, berbagai cerita telah dibagikan tentang sosok Martin Aleida. Semakin saya mencari tahu tentang dirinya, semakin tenggelam saya pada kenyataan bahwa memori dari dan tentangnya telah kadung menjalar: di atas lembaran kertas maupun layar digital, dalam ruang dialog dari generasi ke generasi. 

Setiap kali ingin mulai menulis, selalu muncul suara kecil di kepala saya: apa lagi yang mau ditulis tentang sosok Martin Aleida? Pikiran saya pun mandek. 

Saya akhirnya sadar: kemandekan ini tidak datang dengan sendirinya. Ia lahir dari keraguan saya sendiri: saya yang masih belajar menulis (apa suara ini cukup sah untuk berbicara tentang sosok yang begitu berarti bagi sejarah?); luapan informasi di layar yang membuat pikiran dan pandangan saya semakin kabur; dan lebih dari itu, kontrol negara untuk meredam memori-memori kekerasan yang tak kunjung diakui. 

Maka, sambil menulis ini saya berpacu dengan tiga fragmen diri sekaligus: perempuan yang kerap mempertanyakan posisinya di ruangan, orang muda yang kian tenggelam dalam pusaran algoritma, dan warga negara yang tumbuh dewasa di bawah manipulasi sejarah. Dan dengan menyelesaikan tulisan ini, saya berarti berusaha untuk melapukkan tembok-tembok itu secara perlahan. 

Ironisnya, keberanian saya untuk menulis tidak lain bersumber dari pertemuan saya dengan Bung Martin. Beberapa minggu lalu, bersama teman-teman dari Lingkar Sastra Tangerang, kami mengunjungi rumah Bung Martin dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengobrol. 

Kunjungan ini dilakukan setelah kami melakukan sesi ‘belajar bersama’, dengan membaca lima cerpen pilihan dan membagikan refleksi kami setiap minggu di grup Whatsapp. Konsepnya: satu minggu, satu cerpen Martin Aleida, satu refleksi pendek. Pertemuan dengan Bung Martin (lewat cerpen maupun saat duduk di ruang tamunya) menyisakan dampak yang begitu personal. 

Semakin saya menyelami sosoknya, semakin saya menemukan cara untuk melapukkan tembok-tembok dalam diri saya sendiri. Tulisan ini adalah catatan dari perjalanan itu: menelusuri sosok Martin Aleida, sembari menuai pelajaran darinya.

Pelapukan Tembok Pertama: Menulis untuk Merawat Rasa dan Keberpihakan

 Konteks sejarah kekerasan Orde Baru memang sudah tidak asing bagi saya. Saya cukup beruntung bisa terpapar dengan teks sejarah ‘alternatif’ yang aksesnya kian terbuka; melalui tulisan-tulisan akademis maupun populer, film-film dokumenter, dan ruang-ruang diskusi publik yang semakin hari semakin menjamur. Namun, menyelaminya lewat karya sastra, khususnya cerpen Aleida memberikan nuansa baru dalam nurani saya. 

Akhirnya, saya teruskan cerpen-cerpen tersebut ke adik saya yang tumbuh di rumpun ilmu yang berbeda. Saya percaya bahwa cerpen-cerpen Aleida dapat jadi undangan yang hangat bagi adik untuk memahami soal 1965 dan akhirnya memupuk keberpihakan pada manusia di dalamnya. 

Diskusi di grup Whatsapp lingkar baca pun saya lanjutkan di rumah. Dan dengan kesadaran baru yang dimiliki adik, saya merasa lebih dekat lagi dengannya. Saya kemudian ajak adik untuk ikut menemui Bung Martin. Adik ikut melontarkan pertanyaan di diskusi hari itu. 

Gairah orang muda yang sedang belajar begitu terpancar dari wajahnya, pertanyaan adik begitu sederhana dan jujur: apa yang mendorong bapak untuk mulai menulis? 

Di umur yang sudah menginjak 82, cara Bung Martin menjawab begitu akrab di telinga kami yang lahir lebih dari setengah abad setelahnya. Ia menolak untuk membiarkan pengalaman hidup yang kian menumpuk menghalangi keterbukaannya untuk berbagi. Jawabannya terhadap pertanyaan adik begitu menyeluruh, kaya akan konteks, mengalir dengan detail, dan akhirnya bermuara pada inti yang begitu menggugah, bahwa ia menulis untuk memihak.  

Dari situ, saya menyadari ada satu hal yang membuat karyanya begitu menyentuh batin; ia bisa menyematkan kekejaman negara tanpa membicarakannya sama sekali. Ia sangat lihai menyisipkan latar belakang sejarah dan memori kolektif pada pengalaman dan isi kepala individu yang begitu spesifik dan personal. 

Tulisannya mampu memberi napas pada manusia-manusia yang dinarasikan hingga melampaui sejarah dan dinamika politik yang membangun pengalaman mereka. Ia bercerita tentang manusia, sebelum ia bercerita tentang 1965. 

Napas yang ia berikan pada tokoh-tokoh di cerpennya (maupun teman-teman yang ia ceritakan), ini lah bentuk keberpihakannya. Lebih dari itu, ia selalu berusaha untuk menulis dan berbicara dengan jujur, dan kejujuran ini utamanya tidak datang dari bukti sejarah otentik maupun referensi-referensi karya yang telah dilahapnya. Ia datang dari kekayaan batin dan pergumulan rohaninya sendiri; dari pengalaman panjangnya menjadi manusia, menjadi teman yang mendengarkan, dan dari posisinya sebagai bagian dari sejarah maupun kehidupan masyarakat hari ini. 

Memahami sosok Martin Aleida akhirnya membawa saya pada satu kesimpulan, bahwa gugahan rasa adalah gerbang utama dari keberpihakan yang bermakna. 

Maka, tembok pertama yang membuat saya mandek untuk menulis mulai lapuk. Di titik ini, saya tidak lagi meragukan keabsahan suara saya, karena ini berasal dari pengalaman hidup, kejujuran nurani dan keberpihakan saya sendiri. Menulis ini dengan yakin dan berani adalah bentuk rasa terima kasih saya atas pertemuan kami hari itu.

Pelapukan Tembok Kedua: Penemuan Akun Facebook dan Oase dalam Pusaran Algoritma 

Rasa senang setelah bertamu ke rumah Bung Martin akhirnya saya awetkan pada unggahan foto di Instagram. Seorang teman kemudian merespons: “Bung Martin semangatnya masih menyala! Ramah merespons pesan di akun Facebook-nya. Sabar ladeni pertanyaan-pertanyaan.” 

Melalui interaksi tersebut, dimulailah babak kedua dalam perjalanan saya mengenali sosok Martin Aleida. Kali ini, melalui presensi digitalnya. 

Saya sudah lama meninggalkan Facebook, dan kini melihatnya bagai artefak dari masa lampau. Namun rasa kepo saya begitu besar hingga akhirnya saya putuskan untuk membuat akun lagi. Di luar dugaan, penemuan akun Facebook Martin Aleida membawa saya ke bagian dunia yang begitu berbeda. 

Artefak masa lampau itu nyatanya begitu ramai dan hidup, dan Bung Martin adalah salah satu pengguna yang benar-benar menghidupinya. Saya telusuri eksistensi digitalnya hingga jam 4 pagi. Jejaknya di Facebook begitu kaya akan data karena ia sudah tiga kali membuat akun. 

Alasannya? Karena akun-akun sebelumnya sudah kelebihan muatan koneksi. Pada akun Facebook pertamanya, postingan terakhir di tahun 2017; kemudian pindah ke akun kedua, terakhir aktif di tahun 2023; dan pada akun terbaru, ia baru mengunggah postingan beberapa jam sebelumnya. 

Nampaknya, penemuan teknologi informasi paling mutakhir abad ini pun tidak cukup untuk menampung gairahnya untuk menulis, berbagi, dan berteman. Lebih dari itu, presensi digitalnya juga menunjukan sisinya yang lebih jujur lagi. Penelusuran iseng malam itu akhirnya membawa saya ke postingan yang diunggah pada 15 April 2017

“Melawan pikun, dalam usia menjelang 74, di samping (bahasa) Perancis dengan merangkak saya juga melatih (bahasa) Belanda. Saya tak tahu manfaatnya, saya juga sejak beberapa tahun lalu belajar biola. Kemarin, ketika berlatih di TIM, bersama tiga anak muda, saya nyaris kolaps, tak tahan berdiri dan nonstop menggesek selama satu jam. Saya tak tahu bagaimana saya akan mati, tulis Multatuli, tetapi ketika di Banten dia sempat melihat seseorang mati terjatuh dari pohon kelapa. Saya bertahan dengan menulis terus. Dan posting di FB saya kerjakan dengan spontanitas, tak pernah dikoreksi lagi. Karena itu tak kenal alinea. Dengan begitu saya merasa bertemu jiwa dengan jiwa bersama teman-teman.” 

Dari postingan tersebut, saya jadi melihat sosoknya yang lebih dalam dan kompleks. Lebih dari seorang sastrawan maupun eks tahanan politik, seorang suami maupun orang tua, ia adalah manusia dengan karunia jiwa yang begitu muda. Dan menjadi muda, bagi saya, tidak pernah menyoal usia. 

Ia adalah keterbukaan yang menolak untuk dilumat zaman. Ia juga bentuk ketegasan yang lahir dari kerelaan untuk terus belajar. Saya merasakan keterbukaan dan ketegasan itu di setiap jejak Bung Martin: lewat tulisannya, cerita lisannya, dan ratusan unggahannya. 

Seseorang yang telah melihat begitu banyak peristiwa dan bertemu berbagai bentuk manusia, namun ketika usianya sudah 74, masih memilih untuk belajar biola bersama orang-orang berusia jauh lebih muda dan kemudian membagikan ceritanya di Facebook. Di malam itu, sembari menelusuri eksistensi digital Bung Martin, saya kemudian mempertanyakan eksistensi diri saya sendiri. 

Pada usia yang baru menginjak 27, saya kerap kalang kabut karena visibilitas (rasa selalu dilihat dan harus melihat) dari luapan informasi hari ini. Di pandangan yang kian kabur ini, kecemasan sehari-hari membuat masa depan kian terasa begitu dekat. Gejolak ini juga sering saya dengar dari teman-teman sebaya. 

Jiwa kami seakan terengah-engah sebelum waktunya. Langkah terasa berat dan was-was, akhirnya takut berekspresi dan sulit untuk menulis. Namun, kalau Bung Martin bisa membagikan status tanpa rasa perlu mengoreksi ulang, tanpa takut dinilai, mungkin cara menghuni ruang hidup pun memang bisa sesederhana itu; bukan dengan rasa was-was, tetapi spontanitas dan kejujuran. 

Dari situ, tembok kedua saya yang dibangun dari kecemasan generasional dan pusaran algoritma ini, sedikit-sedikit melapuk. Seperti Bung Martin, akan saya manfaatkan ruang hidup ini (baik di dalam maupun luar koneksi internet) untuk terus belajar dan bertemu jiwa dengan jiwa. 

Pelapukan Tembok Kita Semua: Memori yang Hidup dan Nir-Tunggal 

Saat mendengarkan Bung Martin bercerita, saya seakan dibawa melompat-lompat menelusuri ingatannya. Perasaan yang muncul ketika mendengarkannya hampir persis seperti apa yang saya rasakan ketika membaca cerpen atau menelusuri dasbor Facebook-nya. 

Caranya berceritanya begitu khas: kronologis tapi tidak linear, mendetail tapi kaya akan konteks latar belakang. Saya kemudian berpikir, mungkin inilah rasanya menelusuri memori yang hidup. Memori yang hidup itu memang tidak statis, arahnya juga tidak mengikuti garis lurus. Mungkin bentuknya spiral, dibentuk dari fragmen-fragmen pengalaman yang bertentangan satu sama lain. 

Sayangnya, memori kolektif bangsa ini tidak pernah dibiarkan tumbuh dari pengalaman orang-orang yang menghidupinya. Sejak awal, ia telah dibentuk oleh teks sejarah resmi yang statis, tunggal, dan didesain khusus sebagai alat kontrol. Alih-alih menjadi medium pembelajaran untuk memaknai masa kini, historiografi Indonesia dijadikan moda untuk mewariskan kebencian dan memperpanjang kekuasaan. 

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa upaya membongkar manipulasi sejarah ini sudah berjalan cukup lama, bahkan sejak saya baru lahir. Ada retakan-retakan kecil yang muncul pada tembok yang begitu keras dan tertanam begitu dalam. 

Namun, hari ini, upaya untuk mengeraskannya kembali muncul secara gamblang; dari pernyataan-pernyataan penuh penyangkalan, sampai proyek penyusunan ulang sejarah itu sendiri. Tetapi, di tengah tarik-menarik itu, pengalaman bertamu ke memori Martin Aleida memberikan saya bentuk retakan yang berbeda. 

Ini membawa kesadaran baru bagi saya: bahwa pelapukan tembok manipulasi yang kokoh ini tidak cukup berhenti pada dekonstruksi teks sejarah dan menguak kebenaran di baliknya. Upaya untuk melawan narasi sejarah resmi, bila melalui kerangka tekstual yang statis, linear, dan tunggal, akan tetap mudah diambil alih dan diputarbalikkan. Oleh karenanya, usaha itu perlu berkelindan dengan perawatan memori yang hidup. 

Memori yang hidup dan kaya rasa itu lebih sulit didistorsi, karena ia lompat-lompat dan tidak punya satu titik yang mudah dibajak. Maka dari itu, saya benar-benar bersyukur bisa menelusuri memori seorang Martin Aleida. 

Ia bukan sekadar pembawa memori, karena memori itu telah menubuh dalam dirinya, menyatu dan terus dirawat dalam setiap keterbukaannya untuk berbagi. Dan memori yang hidup ini, yang menjalar dari dirinya ke begitu banyak tempat lain, bisa terus tumbuh subur bila terus kita rawat dalam ruang-ruang relasional. 

Akhirnya, pelapukan terbesar pada tembok ketiga ini justru datang dari keyakinan yang ia tunjukkan pada kami. Setelah kunjungan saya dengan teman-teman Lingkar Sastra Tangerang pada 27 Juni lalu, ia dengan bangga mengunggah foto kami dan menuliskan perasaannya

“Membanggakan. Di tengah-tengah kabar tentang begitu besarnya jumlah angkatan muda yang kecewa seberat batu, sebagai penumpang kapal yang sedang oleng karena ulah nakhodanya sendiri, ada pelampung yang mengambang. Mereka menyadarkan saya bahwa di tengah-tengah masyarakat yang disuapi dengan sejarah yang sengaja dipalsukan, rupanya di bawah sana terus mekar kesadaran untuk memahami masa lalu dari jeritan hati mereka yang dibungkam, dipersekusi.” 

Bila Bung Martin, di usia 82, duduk di kursi roda, dengan segala pengalaman pahitnya sebagai korban langsung dari penyangkalan sejarah yang tak kunjung usai, masih memilih untuk berdiri tegap dan merawat keyakinan itu, maka saya tidak punya pilihan lain selain melakukan hal yang sama: terus ikut merawat memori yang dihidupinya, menjadi pelampung yang mengambang dan melapukkan tembok itu, sedikit demi sedikit, selama saya bisa.

Ilustrasi oleh: Ilustrasiin

Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan. 

Bagikan
WhatsApp
X
Facebook
LinkedIn
Email
Print

Khusus buatmu