Ideologi, bagaimanapun, berakhir di kamar mandi.
Perkara Sosialisme dan Kapitalisme
Sejak akhir tahun 2025, program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi isu yang ramai diperbincangkan. Sejumlah persoalan mulai dari kasus keracunan hingga kritik terhadap pemakaian anggaran pendidikan menyita perbincangan publik Indonesia.
Di tengah fenomena tersebut, orang-orang mulai membawa persoalan MBG ke wilayah yang lebih luas, yaitu tentang sistem ekonomi-politik: sosialisme dan kapitalisme. Jika disederhanakan kira-kira akan terdengar begini: Indonesia ini sebenarnya sedang bergerak ke arah yang lebih sosialistik (karena negara hadir langsung dalam penyediaan kebutuhan masyarakat) atau masih berjalan dalam logika kapitalisme (karena penyediaannya dengan menunjuk vendor sehingga mekanisme pasar tetap berlangsung)?
Perbincangan itu membuat saya bertanya-tanya, apakah ada gunanya melihat program yang banyak dikritisi ini dari sudut pandang sosialisme dan kapitaslisme? Sejauh apa manfaatnya?
Barangkali persoalan yang lebih utama bukan terletak pada pertanyaan apakah program ini lebih bersifat sosialistik atau kapitalistik, melainkan bagaimana membuat perbincangan publik ini berhadapan dengan konsekuensi yang lebih konkret.
Untuk memperlihatkan dengan lebih jelas mengenai keterbatasan perbincangan publik tersebut dalam menyelesaikan persoalan, saya akan menggunakan permainan imajinatif dengan menghadirkan Diogenes, seorang filsuf Yunani kuno, di mana ia—karena dikenal provokatif—akan berfungsi sebagai perangkat analitis.
Saya bayangkan ia hadir di tengah perbincangan publik. Dengan sabar, ia akan menunggui semua orang selesai berdebat untuk kemudian menyela dengan pertanyaan: “Oke. Sudah selesai kalian bicara MBG, sosialiame dan kapitalisme? Lalu siapa yang mencuci ompreng (MBG)-nya? Sudah kalian tanya apa kata dia?” Nakal. Saya suka. Saya hampir mau menyebut pemikirannya sebagai “omprengisme”—segera saya urungkan. Bukankah ia mendedikasikan hidupnya untuk mengejek orang-orang yang gemar membuat -isme baru? Bisa-bisa saya dilemparinya dengan tutup ompreng MBG yang konon susah dibuka itu.
Semoga dengan menghadirkan Diogenes dalam adegan imajiner ini kita bisa sampai pada pemahaman bahwa yang terpenting adalah apakah perbincangan publik tadi itu sudah menyentuh persoalan yang jauh lebih penting atau belum? Sebab ketika perbincangan hanya berputar di tingkat teori, manusia yang menjalani konsekuensi konkret dari program tersebut (rakyat kecil) bisa saja luput dari perhatian.
Lalu, apakah ada cara untuk menerjemahkan “pembicaraan besar” seperti yang disinggung di awal ke dalam skala pengalaman manusia yang menjalaninya? Sebenarnya sastra menyediakan ruang bagi hal tersebut.
Sastra kerap kali digunakan untuk menerjemahkan peristiwa besar ke dalam kehidupan kecil dan personal manusia. Misalnya, ketika membicarakan revolusi, penulis fiksi tidak membahas pergantian rezim, tetapi menampilkan seorang ibu yang menunggu kedua anaknya yang tak pernah pulang dari medan perang.
Saya menemukan cara seperti ini digunakan pula oleh Martin Aleida, baik dalam menulis maupun bercerita secara verbal. Pada Sabtu, 27 Juni 2026 lalu, Lingkar Sastra Tangerang mengajak kami menyambangi kediaman beliau sebagai penutup rangkain Belajar Bersama #1.
Sebelum pulang, saya mendengar beliau mengatakan, “Kamar mandi di negara-negara sosialis kalau di-flush kayak air terjun. Kencang sekali!”
Istri Martin yang bernama Sri Sulasmi barangkali sudah hafal dengan cerita flush toilet itu. Perkataannya itu terdengar nyeleneh, tetapi saya justru menemukan hal menarik di sana. Alih-alih membicarakan sosialisme dengan pengamatannya sebagai mantan wartawan (yang biasa berurusan dengan isu-isu besar), ia justru bicara soal pengalamannya menggunakan toilet di negara sosialis.
Cintanya Sri Sulasmi ini juga menggunakan cara yang sama dalam menulis cerpen-cerpennya. Ia tidak menulis tentang sejarah politik Orde Baru; ia menunjukkan bekas roda mesin Orde Baru itu di kulit manusia.
Jejak Roda Mesin Orde Baru
Martin banyak menyinggung Orde Baru dalam cerpennya. Sebutlah “Tak Ada Jalan Balik ke Buru”. Orde Baru tidak hadir lewat teori, melainkan lewat hal-hal sehari-hari seperti tanda ET (Eks Tapol) di KTP, pagar panti jompo yang dikunci pukul tujuh—dan oleh mereka yang pernah hidup di bawah “disiplin” negara dipandang sebagai ingatan bagaimana represi bekerja, kecoak, piring kotor, juga Dik si anjing. Martin tampaknya lebih senang membaca sejarah dari bawah, memperlakukannya sebagai pengalaman.
Dalam cerpen tersebut, ET dapat dibaca sebagai penindas. Dua huruf yang mengubah air muka dan sikap nahkoda kapal yang hendak ditumpangi narator dari hangat menjadi waspada dan menggagalkan keinginan narator untuk balik ke Buru. Perubahan sikap nahkoda setelah membaca dua huruf keramat itu memperlihatkan bagaimana roda mesin masih bekerja melalui administrasi negara.
Dalam “Tak Ada Jalan Balik ke Buru”, narator mengisahkan bagaimana para tapol dilibatkan (secara paksa) dalam produksi pangan. Dengan tangan kosong, mereka berhasil menciptakan swasembada pangan (seperti mukjizat!), dan jasa mereka tak diingat sama sekali. Ini dapat dibaca sebagai kritik kencang (seperti flush toilet di negara sosialis) terhadap logika Orde Baru dan kemajuan pembangunan yang berpijak di atas keringat juga darah orang-orang yang dipandang tak layak masuk narasi kepahlawanan negara.
Kalau ditanya, itu cocoknya masuk kategori yang mana: sosialis atau kapitalis? Jelas-jelas bukan sosialis, tidak cocok. Kapitalis pun tidak. Pulau Buru, tempat pembuangan para tahanan politik 1965, adalah gambaran tentang sebuah bentuk kekuasaan yang tidak muat jika mau dipaksa masuk ke dalam dikotomi itu.
Ada bagian dari cerpen ini di mana saya harus mengatakannya dengan berhati-hati agar tak jatuh sebagai tuduhan karena bagaimanapun, sastra tidak boleh tidak, mestilah berdiri di sisi korban, seperti kata Martin sendiri di sore itu.
Narator mengunci pagar; ia membuat jam malam dan tidak sedikit pun memberi ruang negosiasi. Kalimatnya normatif dan pendek-pendek, “Pintu sudah digrendel. Titik.” Mengingatkan kita pada pola khas instansi tertentu. Apakah Martin sedang mengatakan bahwa tokoh cerpennya jahat? Saya yakin tidak. Justru ada yang menarik dari sana.
Bisa jadi, narator tanpa sadar sedang mengadopsi disiplin yang dulu juga pernah terpaksa dialaminya. Narasi mengisyaratkan bahwa sebegitu lamanya ia tinggal di bawah tekanan, sehingga ketika menjadi pengelola panti, disiplin serupa menjadi alat atur yang barangkali paling masuk akal bagi pikirannya yang sudah terlalu lama dipukul secara keras.
Dalam Black Skin, White Masks, Frantz Fanon menunjukkan bagaimana kolonialisme menghasilkan subjek terjajah yang melihat dunia (bahkan dirinya sendiri) berdasarkan kategori nilai bentukan budaya kolonial. Misalnya, ketika penjajah memandang bahasa Prancis lebih beradab, maka subjek terjajah juga tanpa sadar mulai menginternalisasi cara pandang itu (dan merasa dirinya rendah).
Meskipun Fanon tidak secara langsung mengatakan bahwa orang yang tertindas memandang dengan mata penindasnya, tetapi gagasannya tetap bermanfaat untuk membaca bagaimana sistem penindasan tidak berhenti dengan berakhirnya masa kekuasaan, melainkan meninggalkan jejak, ikut terbawa sebagian (tanpa disadari) dalam cara korban memahami dunia.
Entah kenapa saya selalu kembali kepada Harry Potter sebagai contoh. Di malam ketika Voldemort gagal membunuhnya, sebagian jiwanya tertinggal pada Harry. Anak Itu tidak memilihnya dan tidak menginginkannya. Korban tetap dapat membawa sesuatu dari pelaku tanpa berhenti disebut korban. Sastra dan kita, bisa membicarakan ini sekaligus tetap berpihak pada korban.
Tokoh Surti juga menarik. Narasi menggambarkan bagaimana otaknya digerogoti demensia tetapi tentang episode yang sudah lebih dari setengah abad, ingatannya masih setajam silet (memisahkan pasir dari bulir-bulir beras di penjara Salemba). Surti ingat ketika suaminya ditahan, tapi tak ingat di mana saja ia meletakkan piring kotor di panti.
Orde Baru dalam cerpen ini dihadirkan melalui benda-benda, gestur, dan rutinitas sehari-hari. Hal ini mengubah cara kita memandang sejarah.
Sejarah Masih Hidup Hari Ini
Apa yang dihadirkan dalam cerpen tersebut mengingatkan kita bahwa sejarah bukanlah pengetahuan yang sudah selesai, melainkan orientasi kepada kemungkinan-kemungkinan baru. Kita dapat meminjam gagasan Reinhart Kosselleck perihal perubahan makna revolusi yang bergeser dari gerak siklikal ke linear. Perubahan ini menyebabkan revolusi dipandang sebagai kejadian yang memutus keadaan lama dan membuka kemungkinan.
Di sinilah sastra menjalankan fungsinya dalam menggeser posisi kita sebagai pembaca dari pewaris pengetahuan sejarah menjadi penerus persoalan.
Bahkan ketika peristiwanya sudah selesai secara historis, sejarah memiliki orientasi yang terbuka. Ia masih mewariskan persoalan yang belum selesai itu kepada kita: kebenaran, pengakuan, keadilan. Ia masih mengintervensi kehidupan masa kini.
Untuk semakin memahami bagaimana persoalan sejarah bergerak bersama keseharian manusia, saya ingin menggunakan personifikasi. Sejarah bukan hanya pengetahuan mapan yang tersimpan di rak-rak arsip; ia bisa saja menyelinap ke dalam kebiasaan hidup kita. Bayangkan ia ikut-ikutan duduk di kursi rapat, mengantre bensin, atau menyeruput matcha latte sambil membayangkan slow living.
Dengan memperlakukan sejarah seolah-olah ia adalah seseorang yang ikut menjalani aktivitas bersama kita, saya berusaha membawa orientasi persoalan sejarah itu menjadi semakin jelas.
Manusia tidak mengalami ideologi sebagai ideologi, atau dalam hal ini, Orde Baru sebagai Orde Baru.
Saya tidak bangun tidur lalu tiba-tiba berkata, “Ah, saya betul-betul sedang mengalami sosialisme (atau kapitalisme).” Saya bangun tidur dan berak. Barangkali, kalau sedang ada di negara sosialis, saya akan ketambahan pengalaman, yaitu mengalami flush yang kencangnya macam air terjun. Sesudah itu saya akan berkata, “Benar, Tin! Ini baru negara sosialis!”
Pada akhirnya, semua manifesto meluncur juga ke dalam pipa karena ia baru berarti kalau sudah menyentuh praktik hidup sehari-hari, bukan sekadar pidato. Negara memodali, vendor ditunjuk, sebagian anggaran menguap, dapur-dapur memasak, rakyat makan, dan pada akhirnya kita semua buang air besar.
Karenanya, kalau sudah urusan bicara sosialis versus kapitalis, saya senang sekali mendengarkan Martin Aleida melempar kata-kata yang justru paling berkesan bagi saya di Sabtu itu, sebelum Sri Sulasmi dengan sukacita mengangkat kedua tangan untuk melambai pada kami yang pulang dari rumahnya: “Kamar mandi di negara-negara sosialis kalau di-flush kayak air terjun.”
Kamar mandi, toilet… sesungguhnya adalah ujian akhir negara.
Ilustrasi oleh: Ilustrasiin


